Setuju... apa iya banyak sodara yg kelaparan, kena musibah, kecelkaan 
masih bisa bahagia. Itu kan prinsip yg ngak pas "being happy is your 
choise". Bener2 hilang rasa sosial padahal manusia adalah mahluk 
sosial.

Harusnya kita selalu menyisakan waktu untuk merenung. Apa kah hari 
ini kita ada memkan hak orang lain. Apakah ada yg kena musibah tapi 
kita pura2 ngak tau, apakah ada tetangga kita yg anaknya putus 
sekolah tapi kita belaga pilon. Mustinya. Hubungan horisontal adalah 
dengan berani mengorbankan sebagian yg kita sayangi, yaitu harta 
untuk meringankan beban sesama. Semua agama menyuruh kita untuk spt 
itu loh.... sama pasti perintahnya... adalah dosa besar jika ada 
tetangga kelaparan, putus sekolah, dst.... 

Apa kita bisa happy jika hubungan vertikal juga ngak atau kurang 
baik. Jika orang yg sudah baik hubungan horisontal n vertikal baru 
deh boleh ngeklaim paling bahagia di dunia....

idealnya sih geto... tapi apa ada sih orang yg mau? Kebanyakan baksos 
cuma rame acaranya. Yg kebantu mah cuma sedikit....





--- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Setuju sekali, mbak. 
> 
> Bhakti sosial adalah IBADAH. Solidaritas sosial adalah kata kunci 
> untuk mensejahterakan setiap negeri, juga negeri ini. Kita 
menangis, 
> selama banyak saudara yang meneteskan airmata, tak tahu bagaimana 
> menyusui anak, tak tahu bagaimana menyekolahkan anak, tak tahu 
> bagaimana membayar sewa kontrakan.
> 
> Dan selama 9ang 10 % memiliki kekayaan 90 % sebuah bangsa, seperti 
> yang digambarkan tulisan yang diposting mbak Liona, tak ada alasan 
> untuk sudah merasa bahagia..
> 
> Setuju mas Agus?
> 
> Salam manusiawi
> 
> Danardono
> 
> 
> --- In [email protected], "Lina Dahlan" <linadahlan@> wrote:
> >
> > Mas Agus,
> > Bagaimana kita bisa menikmati hidup kalo masih ada sodara yang 
mati 
> > kelaparan, mati karena gizi buruk di daerah yang katanya 
merupakan 
> > lumbung pangan ?
> > 
> > Entahlah, saya kalo ingat ini, masih saja ingin menangis. 
Alangkah 
> > berdosanya kita sebagai tetangga (jauh), membiarkan tetangga 
(jauh) 
> > mati kelaparan. Bukankan ada hadist Nabi SAW yang mencela 
perbuatan 
> > ini?
> > 
> > Apa yang bisa kita perbuat, mas Agus? Menikmati hidup kita saja?
> > Kita lapar, kita bisa makan. Bagaimana mereka lapar? Tidak ada yg 
> bs 
> > dimakan. Mereka makan daun-daunan yang diramu menjadi jamu.
> > Kita lelah, kita bisa istirahat. Bagaimana mereka lelah? Tidak 
ada 
> > uang masuk!.
> > 
> > Dalam sholat, kita kadang kala membaca surat Al-Maa'uun:
> > 
> > 1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 
> > 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, 
> > 3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. 
> > 4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,  
> > 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,  
> > 6. orang-orang yang berbuat riya
> > 7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna
> > 
> > Inilah yang dituntut kpd orang-orang yang mendirikan sholat.
> > Bagaimana ini tidak mengundang murka Allah. "Kamu sholat tapi 
kamu 
> > lalai, riya', enggan menolong dengan hartamu, tidak menganjurkan 
> > memberi makan org miskin, menghardik anak yatim. Kamu telah 
> > mendustakan agamamu"
> > 
> > Semoga dengan sholat, mata hati menjadi terbuka utk menolong 
sesama.
> > 
> > wassalam,
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" 
> > <rm_danardono@> wrote:
> > >
> > > --- In [email protected], "agussyafii" <agussyafii@> 
wrote:
> > > >
> > > > Cara Mudah Menikmati Hidup
> > > > 
> > > > Cara mudah menikmati hidup yang perlu anda lakukan,
> > > > Sholatlah. Perhatikanlah yang sulit menjadi mudah.
> > > > Jika anda lapar, makanlah
> > > > Jika anda lelah, istirahatlah.
> > > > 
> > > > Jika tidak ada yang rusak, kenapa mesti repot memperbaiki.
> > > > Sampai anda menyadari bahwa diri anda sekarang
> > > > sedang menikmati hidup.
> > > > 
> > > > 
> > > > Wassalam,
> > > > Agussyafii
> > > 
> > > Bagaimana dengan saudara saudara kita di Porong, para pemulung 
> dan 
> > > yang terancam banjir di tepi sungai (Ciliwung, bengawan Solo, 
> > dsb)? 
> > > Seperti mbak Lina tulis, bukankah yang sedap yang hadir di 
> > pernikahan 
> > > Prayogo? 90% manusia di negeri ini sih nggak dilibatkan dalam 
> > hidup 
> > > yang indah...menikmati? boro boro..
> > > 
> > > betul nggak?
> > >
> >
>


Kirim email ke