Salam, Cerita yang mengharukan. Indonesia lebih banyak lagi tokoh seperti almarhum, di tengah figur-figur keturunan Arab yang menjelma sebagai Islam radikal, merusak dan mencemari Indonesia dan merongrong NKRI.
Sekadar bertanya: Apakah Anies Baswedan, Rektor Universtas Paramadina, salahsatu cendekiawan dunia, adalah putra beliau? Wassalam, Dimas. --- In [email protected], Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Seorang Nasionalis Berdarah Arab > > Abdurrahman Baswedan gigih menumbuhkan nasionalisme keturunan Arab di > Indonesia. Piawai sebagai diplomat, pergaulan dia amat luas, melintasi > berbagai kalangan. Lahir pada 9 September 1908, riwayat pejuang kemerdekaan > itu kini genap satu abad. > > *** > > Yogyakarta, akhir 1970-an. A.R. Baswedan, yang sudah menapak usia senja, > terkena stroke di rumahnya di kawasan Taman Yuwono. Kondisi pejuang > kemerdekaan itu agak mengkhawatirkan. Di Gereja Katolik Kota Baru-- salah > satu gereja tertua dan terbesar di kota pelajar itu--Romo Dick Hartoko SJ > sedang bersiap memimpin misa bagi umatnya. > > Mendengar kabar geringnya A.R. Baswedan, Romo Dick spontan meminta jemaat > gereja ikut mendoakan kesembuhan tokoh Islam itu. "Peristiwa itu membuat > Yogyakarta gempar," ujar Samhari Baswedan, anak bungsu A.R. Baswedan. > Ketika itu, ayah Samhari adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia > Yogyakarta. Adapun Romo Dick Hartoko merupakan tokoh Katolik terkemuka di > kota itu. "Warna" mereka berlainan. Namun keduanya berkawan akrab. > > "Hubungan pribadi mereka baik sekali," Samhari menambahkan. Keduanya kerap > saling kunjung. Dalam berdiskusi, mereka tak selalu sepaham tapi tetap > saling menghormati pendapat masing-masing. > > Selain dengan Romo Dick Hartoko, A.R. Baswedan berkarib dengan Yap Kie > Tong, dokter mata terkenal di Yogyakarta pada masa itu. Dia pun akrab > dengan Dr Johan Syahruzad, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Partai > Sosialis Indonesia. > > Lahir di Kampung Ampel, Surabaya, riwayat pejuang kemerdekaan itu kini > genap berusia 100 tahun. Bernama lengkap Abdurrahman Baswedan, dia dikenal > mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Saat usianya masih 20-an tahun, dia > sudah gigih mendorong tumbuhnya semangat persatuan komunitas Hadramaut > (Yaman) di Nusantara. Ketika itu, mereka terpecah di antara keturunan > Sayyid, Gabili, Syekh, dan rakyat biasa. > > Baswedan muda kemudian mengarahkan persatuan keturunan Arab untuk mendukung > kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Dia mendirikan wadah > Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Arab > Indonesia. Dan dia bergaul akrab dengan tokoh-tokoh nasional, antara lain > Dr Sutomo. > > Secara tegas Baswedan menyatakan tanah air keturunan Arab bukanlah > Hadramaut, melainkan Indonesia. Dia juga menyebut keturunan Arab sebagai > bagian dari bangsa Indonesia. Sikap itu sesungguhnya "menurunkan derajat" > komunitas tersebut--yang oleh Belanda dimasukkan ke kelompok Timur Asing. > > Dalam mars Partai Arab Indonesia yang dikarangnya bersama Umar Baraja, > tergambarlah nasionalisme para pemuda keturunan Hadramaut. Ini salah satu > baitnya: > > Indonesia! Semboyan Persatuanku > Indonesia! Tanah Tumpah Darahku > Persatuan! Arab Indonesia > Makin lama makin bercahaya > Kita tetap setia > > Untuk menunjukkan keindonesiaannya, dalam beberapa pertemuan, A.R. Baswedan > tak sungkan mengenakan surjan Jawa--tindakan itu mulanya dianggap tak > lazim, tapi lama-kelamaan bisa diterima oleh komunitas Arab Indonesia. Dia > juga pernah terjun menjadi wartawan, bergabung dengan harian Sin Tit Po, > yang propergerakan nasional. Di sana, dia berkawan akrab dan banyak belajar > tentang jurnalisme dari Liem Koen Hian, pemimpin harian tersebut. > > Di masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan memutuskan bergerak di bawah > tanah. Dia menggabungkan diri dengan kelompok pemuda di sekitar Sutan > Sjahrir. Pekerjaan mereka memantau radio siaran luar negeri--tugas yang > berisiko tinggi karena semua radio disegel tentara Jepang. > > Suatu ketika, dia tepergok Kempetai--polisi rahasia Jepang--sedang menyimak > radio luar negeri. Mereka menggelandangnya ke markas. Dia divonis mati. > Eksekusi akan dilakukan esok siangnya. Pagi harinya, dia dijemur di > pekarangan bersama sejumlah tawanan lain. > > Di saat genting itu datang Mr Singgih dari Jakarta. Dia anggota Pusat > Tenaga Rakyat yang dipimpin Soekarno. Melihat Baswedan, Mr Singgih segera > menghampiri dan meminta polisi Jepang membebaskannya. "Mr Singgih berdalih > Bapak adalah anak buahnya," tutur Samhari. Nyawa A.R. Baswedan bisa > diselamatkan. > > Setelah proklamasi dikumandangkan, Partai Arab Indonesia membubarkan diri. > Anggota-anggotanya menyebar ke berbagai partai. Hamid Algadri, misalnya, > masuk Partai Sosialis Indonesia. Abdulah Baraba memilih Partai Komunis > Indonesia. Yuslam Badres bergabung ke Partai Nasional Indonesia. > Abdurrahman Shihab--ayah Quraish Shihab dan Alwi Shihab-- menggabungkan diri > ke Masyumi. > > A.R. Baswedan ketika itu masih memilih jalan independen. Dia diangkat > Perdana Menteri Sjahrir sebagai Menteri Muda Penerangan. Pada 1947, dia > ikut rombongan Menteri Luar Negeri Agus Salim berkunjung ke Kairo, Mesir. > Mereka berdiplomasi agar dunia internasional mengakui kemerdekaan Indonesia. > > Tiga tahun kemudian, tokoh yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, dan Arab > itu bergabung dengan Masyumi. Selain kagum atas kejujuran Mohamad > Natsir--pemimpin Masyumi--dia menegaskan tindakannya didorong oleh > keinginan memperkuat orientasi nasionalistis partai itu. > > Tatkala Masyumi dibubarkan pemerintah Orde Lama dan tak boleh > direhabilitasi oleh pemerintah Orde Baru, Baswedan memilih bergerak di > jalur budaya. Dia mendirikan Badan Koordinasi Kebudayaan Islam Yogyakarta > dan menjadi pelindung Teater Muslim. Mereka mementaskan drama Iblis tentang > kisah Nabi Ibrahim, yang waktu itu tergolong kontroversial. > > Seniman Yogyakarta seperti Arifin C. Noer, Abdurrahman Saleh, Taufiq > Effendi, dan Chaerul Umam adalah kawan-kawannya. Dia ikut membantu ketika > Rendra mementaskan Kasidah Barzanji. "Rumahnya terbuka untuk semua orang. > Dia seperti orang tua kami," kata Syu'bah Asa, yang ketika itu aktif > berteater di Yogyakarta. > > Di pengujung hidupnya, A.R. Baswedan bersahabat dengan Romo Mangunwijaya. > Dengan gayeng keduanya kerap mendiskusikan masalah Irak-Iran, > Palestina-Israel, dan korupsi di dalam negeri. Pada 1986, A.R. Baswedan > menutup mata di Jakarta. Tiga hari setelah kematiannya, Romo Mangun > bertakziyah. "Beliau rawuh dari Yogyakarta dan ikut memberikan tausiyah," > ujar Samhari. > > Nugroho Dewanto > (Majalah Tempo, Senin 8 September 2008) > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

