anies merupakan cucu ar baswedan.
dia anak rasyid baswedan.
nama lengkapnya anies rasyid baswedan.


At 08:10 AM 9/8/2008 +0000, masdimas62 wrote:

>Salam,
>
>Cerita yang mengharukan. Indonesia lebih banyak lagi tokoh seperti
>almarhum, di tengah figur-figur keturunan Arab yang menjelma sebagai
>Islam radikal, merusak dan mencemari Indonesia dan merongrong NKRI.
>
>Sekadar bertanya: Apakah Anies Baswedan, Rektor Universtas
>Paramadina, salahsatu cendekiawan dunia, adalah putra beliau?
>
>Wassalam,
>
>Dimas.
>
>--- In <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com>[email protected], 
>Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Seorang Nasionalis Berdarah Arab
> >
> > Abdurrahman Baswedan gigih menumbuhkan nasionalisme keturunan Arab
>di
> > Indonesia. Piawai sebagai diplomat, pergaulan dia amat luas,
>melintasi
> > berbagai kalangan. Lahir pada 9 September 1908, riwayat pejuang
>kemerdekaan
> > itu kini genap satu abad.
> >
> > ***
> >
> > Yogyakarta, akhir 1970-an. A.R. Baswedan, yang sudah menapak usia
>senja,
> > terkena stroke di rumahnya di kawasan Taman Yuwono. Kondisi pejuang
> > kemerdekaan itu agak mengkhawatirkan. Di Gereja Katolik Kota Baru--
>salah
> > satu gereja tertua dan terbesar di kota pelajar itu--Romo Dick
>Hartoko SJ
> > sedang bersiap memimpin misa bagi umatnya.
> >
> > Mendengar kabar geringnya A.R. Baswedan, Romo Dick spontan meminta
>jemaat
> > gereja ikut mendoakan kesembuhan tokoh Islam itu. "Peristiwa itu
>membuat
> > Yogyakarta gempar," ujar Samhari Baswedan, anak bungsu A.R.
>Baswedan.
> > Ketika itu, ayah Samhari adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah
>Indonesia
> > Yogyakarta. Adapun Romo Dick Hartoko merupakan tokoh Katolik
>terkemuka di
> > kota itu. "Warna" mereka berlainan. Namun keduanya berkawan akrab.
> >
> > "Hubungan pribadi mereka baik sekali," Samhari menambahkan.
>Keduanya kerap
> > saling kunjung. Dalam berdiskusi, mereka tak selalu sepaham tapi
>tetap
> > saling menghormati pendapat masing-masing.
> >
> > Selain dengan Romo Dick Hartoko, A.R. Baswedan berkarib dengan Yap
>Kie
> > Tong, dokter mata terkenal di Yogyakarta pada masa itu. Dia pun
>akrab
> > dengan Dr Johan Syahruzad, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal
>Partai
> > Sosialis Indonesia.
> >
> > Lahir di Kampung Ampel, Surabaya, riwayat pejuang kemerdekaan itu
>kini
> > genap berusia 100 tahun. Bernama lengkap Abdurrahman Baswedan, dia
>dikenal
> > mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Saat usianya masih 20-an
>tahun, dia
> > sudah gigih mendorong tumbuhnya semangat persatuan komunitas
>Hadramaut
> > (Yaman) di Nusantara. Ketika itu, mereka terpecah di antara
>keturunan
> > Sayyid, Gabili, Syekh, dan rakyat biasa.
> >
> > Baswedan muda kemudian mengarahkan persatuan keturunan Arab untuk
>mendukung
> > kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Dia mendirikan wadah
> > Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Arab
> > Indonesia. Dan dia bergaul akrab dengan tokoh-tokoh nasional,
>antara lain
> > Dr Sutomo.
> >
> > Secara tegas Baswedan menyatakan tanah air keturunan Arab bukanlah
> > Hadramaut, melainkan Indonesia. Dia juga menyebut keturunan Arab
>sebagai
> > bagian dari bangsa Indonesia. Sikap itu sesungguhnya "menurunkan
>derajat"
> > komunitas tersebut--yang oleh Belanda dimasukkan ke kelompok Timur
>Asing.
> >
> > Dalam mars Partai Arab Indonesia yang dikarangnya bersama Umar
>Baraja,
> > tergambarlah nasionalisme para pemuda keturunan Hadramaut. Ini
>salah satu
> > baitnya:
> >
> > Indonesia! Semboyan Persatuanku
> > Indonesia! Tanah Tumpah Darahku
> > Persatuan! Arab Indonesia
> > Makin lama makin bercahaya
> > Kita tetap setia
> >
> > Untuk menunjukkan keindonesiaannya, dalam beberapa pertemuan, A.R.
>Baswedan
> > tak sungkan mengenakan surjan Jawa--tindakan itu mulanya dianggap
>tak
> > lazim, tapi lama-kelamaan bisa diterima oleh komunitas Arab
>Indonesia. Dia
> > juga pernah terjun menjadi wartawan, bergabung dengan harian Sin
>Tit Po,
> > yang propergerakan nasional. Di sana, dia berkawan akrab dan banyak
>belajar
> > tentang jurnalisme dari Liem Koen Hian, pemimpin harian tersebut.
> >
> > Di masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan memutuskan bergerak di
>bawah
> > tanah. Dia menggabungkan diri dengan kelompok pemuda di sekitar
>Sutan
> > Sjahrir. Pekerjaan mereka memantau radio siaran luar negeri--tugas
>yang
> > berisiko tinggi karena semua radio disegel tentara Jepang.
> >
> > Suatu ketika, dia tepergok Kempetai--polisi rahasia Jepang--sedang
>menyimak
> > radio luar negeri. Mereka menggelandangnya ke markas. Dia divonis
>mati.
> > Eksekusi akan dilakukan esok siangnya. Pagi harinya, dia dijemur di
> > pekarangan bersama sejumlah tawanan lain.
> >
> > Di saat genting itu datang Mr Singgih dari Jakarta. Dia anggota
>Pusat
> > Tenaga Rakyat yang dipimpin Soekarno. Melihat Baswedan, Mr Singgih
>segera
> > menghampiri dan meminta polisi Jepang membebaskannya. "Mr Singgih
>berdalih
> > Bapak adalah anak buahnya," tutur Samhari. Nyawa A.R. Baswedan bisa
> > diselamatkan.
> >
> > Setelah proklamasi dikumandangkan, Partai Arab Indonesia
>membubarkan diri.
> > Anggota-anggotanya menyebar ke berbagai partai. Hamid Algadri,
>misalnya,
> > masuk Partai Sosialis Indonesia. Abdulah Baraba memilih Partai
>Komunis
> > Indonesia. Yuslam Badres bergabung ke Partai Nasional Indonesia.
> > Abdurrahman Shihab--ayah Quraish Shihab dan Alwi Shihab--
>menggabungkan diri
> > ke Masyumi.
> >
> > A.R. Baswedan ketika itu masih memilih jalan independen. Dia
>diangkat
> > Perdana Menteri Sjahrir sebagai Menteri Muda Penerangan. Pada 1947,
>dia
> > ikut rombongan Menteri Luar Negeri Agus Salim berkunjung ke Kairo,
>Mesir.
> > Mereka berdiplomasi agar dunia internasional mengakui kemerdekaan
>Indonesia.
> >
> > Tiga tahun kemudian, tokoh yang fasih berbahasa Inggris, Belanda,
>dan Arab
> > itu bergabung dengan Masyumi. Selain kagum atas kejujuran Mohamad
> > Natsir--pemimpin Masyumi--dia menegaskan tindakannya didorong oleh
> > keinginan memperkuat orientasi nasionalistis partai itu.
> >
> > Tatkala Masyumi dibubarkan pemerintah Orde Lama dan tak boleh
> > direhabilitasi oleh pemerintah Orde Baru, Baswedan memilih bergerak
>di
> > jalur budaya. Dia mendirikan Badan Koordinasi Kebudayaan Islam
>Yogyakarta
> > dan menjadi pelindung Teater Muslim. Mereka mementaskan drama Iblis
>tentang
> > kisah Nabi Ibrahim, yang waktu itu tergolong kontroversial.
> >
> > Seniman Yogyakarta seperti Arifin C. Noer, Abdurrahman Saleh,
>Taufiq
> > Effendi, dan Chaerul Umam adalah kawan-kawannya. Dia ikut membantu
>ketika
> > Rendra mementaskan Kasidah Barzanji. "Rumahnya terbuka untuk semua
>orang.
> > Dia seperti orang tua kami," kata Syu'bah Asa, yang ketika itu
>aktif
> > berteater di Yogyakarta.
> >
> > Di pengujung hidupnya, A.R. Baswedan bersahabat dengan Romo
>Mangunwijaya.
> > Dengan gayeng keduanya kerap mendiskusikan masalah Irak-Iran,
> > Palestina-Israel, dan korupsi di dalam negeri. Pada 1986, A.R.
>Baswedan
> > menutup mata di Jakarta. Tiga hari setelah kematiannya, Romo Mangun
> > bertakziyah. "Beliau rawuh dari Yogyakarta dan ikut memberikan
>tausiyah,"
> > ujar Samhari.
> >
> > Nugroho Dewanto
> > (Majalah Tempo, Senin 8 September 2008)
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke