sikap mengeneralisir seperti ini membahayakan. sikap yang kau tunjukkan ini sama saja artinya harga diri kau dengan baasir dan rizq. di negeri ini jumlah habib, qabilah, ataupun arab biasa dari keturunan hadramaut, jauh lebih banyak yang baik ketimbang jumlah yang kau sebutkan, bung! di sini saya ingin daftarkan nama2 mereka yang hidup dan berjuang untuk negara ini agar pola pikir kau terbuka dalam melihat persoalan. dari kalangan alawy atau habib ada: -quraisy shihab, -alwi shihab (yang mantan menlu) -alwi shihab (yang menulis banyak tentang batavia masalalu yang besar sumbangsihnya untuk pengembangan dan pelestarian budaya betawi) -fahmi alatas (pemusik) -hamid alqadri (salahsatu perumus undang2 dasar pancasila) -idrus bin salim aljufri di palu, pendiri madrasah alkhairat dan cabangnya ribuan di indonesia timur -ali alhabsyi kwitang, ulama betawi yang banyak mendidik kader2 bangsa utamanya kyai2 di jakarta - raden saleh (habib saleh bin awal bin yahya) bapak senirupa modern indonesia -syech assegaf di solo yang punya forum jumat legi, sebuah forum agama dan pengentasan kemiskinan di solo dan punya kerja2 sosial dengan anggota ribuan orang. dst, jika saya sebutkan masih banyak lagi dari kalangan syeh/qabilah -anies baswedan yang orang paramadina itu -abdullah bin abdun malang, pendiri madrasah daruttauhid malang yang banyak mencetak para ulama -amang rahman jubair (pelukis-penyair) surabaya dst yang masih banyak lagi ada baiknya kalau bung membaca buku yang ditulis oleh van den berg yang berjudul hadramaut dan koloni arab di indonesia, agar mata dan pikiran anda tidak sempit seperti ini, agar sikap-sikap yang makin bikin runyam kondisi sosial politik dan ekonomi indonesia seperti yang anda tunjukkan ini tidak lagi terjadi. salam, fahmi faqih --- On Mon, 9/8/08, phyllobates.terribilis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: phyllobates.terribilis <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [ppiindia] Re: Seorang Nasionalis Berdarah Arab To: [email protected] Date: Monday, September 8, 2008, 4:42 AM Dahoeloe kita punya putra putra Arab yang patriot dan cinta Tanah Air bersama ini, sekarang kita punya warga Arab yang hanya nysusahin orang: Rizieq, Baashir.. Dahoeloe kita punya pahlwan pahlawan yang menggabung dari Hadramaut, kini kita punya habib habib yang kayak usus buntu bagi bangsa ini... --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "masdimas62" <masdimas62@ ...> wrote: > > Salam, > > Cerita yang mengharukan. Indonesia lebih banyak lagi tokoh seperti > almarhum, di tengah figur-figur keturunan Arab yang menjelma sebagai > Islam radikal, merusak dan mencemari Indonesia dan merongrong NKRI. > > Sekadar bertanya: Apakah Anies Baswedan, Rektor Universtas > Paramadina, salahsatu cendekiawan dunia, adalah putra beliau? > > > Wassalam, > > > Dimas. > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Nugroho Dewanto <ndewanto@> wrote: > > > > Seorang Nasionalis Berdarah Arab > > > > Abdurrahman Baswedan gigih menumbuhkan nasionalisme keturunan Arab > di > > Indonesia. Piawai sebagai diplomat, pergaulan dia amat luas, > melintasi > > berbagai kalangan. Lahir pada 9 September 1908, riwayat pejuang > kemerdekaan > > itu kini genap satu abad. > > > > *** > > > > Yogyakarta, akhir 1970-an. A.R. Baswedan, yang sudah menapak usia > senja, > > terkena stroke di rumahnya di kawasan Taman Yuwono. Kondisi pejuang > > kemerdekaan itu agak mengkhawatirkan. Di Gereja Katolik Kota Baru- - > salah > > satu gereja tertua dan terbesar di kota pelajar itu--Romo Dick > Hartoko SJ > > sedang bersiap memimpin misa bagi umatnya. > > > > Mendengar kabar geringnya A.R. Baswedan, Romo Dick spontan meminta > jemaat > > gereja ikut mendoakan kesembuhan tokoh Islam itu. "Peristiwa itu > membuat > > Yogyakarta gempar," ujar Samhari Baswedan, anak bungsu A.R. > Baswedan. > > Ketika itu, ayah Samhari adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah > Indonesia > > Yogyakarta. Adapun Romo Dick Hartoko merupakan tokoh Katolik > terkemuka di > > kota itu. "Warna" mereka berlainan. Namun keduanya berkawan akrab. > > > > "Hubungan pribadi mereka baik sekali," Samhari menambahkan. > Keduanya kerap > > saling kunjung. Dalam berdiskusi, mereka tak selalu sepaham tapi > tetap > > saling menghormati pendapat masing-masing. > > > > Selain dengan Romo Dick Hartoko, A.R. Baswedan berkarib dengan Yap > Kie > > Tong, dokter mata terkenal di Yogyakarta pada masa itu. Dia pun > akrab > > dengan Dr Johan Syahruzad, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal > Partai > > Sosialis Indonesia. > > > > Lahir di Kampung Ampel, Surabaya, riwayat pejuang kemerdekaan itu > kini > > genap berusia 100 tahun. Bernama lengkap Abdurrahman Baswedan, dia > dikenal > > mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Saat usianya masih 20-an > tahun, dia > > sudah gigih mendorong tumbuhnya semangat persatuan komunitas > Hadramaut > > (Yaman) di Nusantara. Ketika itu, mereka terpecah di antara > keturunan > > Sayyid, Gabili, Syekh, dan rakyat biasa. > > > > Baswedan muda kemudian mengarahkan persatuan keturunan Arab untuk > mendukung > > kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Dia mendirikan wadah > > Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Arab > > Indonesia. Dan dia bergaul akrab dengan tokoh-tokoh nasional, > antara lain > > Dr Sutomo. > > > > Secara tegas Baswedan menyatakan tanah air keturunan Arab bukanlah > > Hadramaut, melainkan Indonesia. Dia juga menyebut keturunan Arab > sebagai > > bagian dari bangsa Indonesia. Sikap itu sesungguhnya "menurunkan > derajat" > > komunitas tersebut--yang oleh Belanda dimasukkan ke kelompok Timur > Asing. > > > > Dalam mars Partai Arab Indonesia yang dikarangnya bersama Umar > Baraja, > > tergambarlah nasionalisme para pemuda keturunan Hadramaut. Ini > salah satu > > baitnya: > > > > Indonesia! Semboyan Persatuanku > > Indonesia! Tanah Tumpah Darahku > > Persatuan! Arab Indonesia > > Makin lama makin bercahaya > > Kita tetap setia > > > > Untuk menunjukkan keindonesiaannya, dalam beberapa pertemuan, A.R. > Baswedan > > tak sungkan mengenakan surjan Jawa--tindakan itu mulanya dianggap > tak > > lazim, tapi lama-kelamaan bisa diterima oleh komunitas Arab > Indonesia. Dia > > juga pernah terjun menjadi wartawan, bergabung dengan harian Sin > Tit Po, > > yang propergerakan nasional. Di sana, dia berkawan akrab dan banyak > belajar > > tentang jurnalisme dari Liem Koen Hian, pemimpin harian tersebut. > > > > Di masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan memutuskan bergerak di > bawah > > tanah. Dia menggabungkan diri dengan kelompok pemuda di sekitar > Sutan > > Sjahrir. Pekerjaan mereka memantau radio siaran luar negeri-- tugas > yang > > berisiko tinggi karena semua radio disegel tentara Jepang. > > > > Suatu ketika, dia tepergok Kempetai--polisi rahasia Jepang-- sedang > menyimak > > radio luar negeri. Mereka menggelandangnya ke markas. Dia divonis > mati. > > Eksekusi akan dilakukan esok siangnya. Pagi harinya, dia dijemur di > > pekarangan bersama sejumlah tawanan lain. > > > > Di saat genting itu datang Mr Singgih dari Jakarta. Dia anggota > Pusat > > Tenaga Rakyat yang dipimpin Soekarno. Melihat Baswedan, Mr Singgih > segera > > menghampiri dan meminta polisi Jepang membebaskannya. "Mr Singgih > berdalih > > Bapak adalah anak buahnya," tutur Samhari. Nyawa A.R. Baswedan bisa > > diselamatkan. > > > > Setelah proklamasi dikumandangkan, Partai Arab Indonesia > membubarkan diri. > > Anggota-anggotanya menyebar ke berbagai partai. Hamid Algadri, > misalnya, > > masuk Partai Sosialis Indonesia. Abdulah Baraba memilih Partai > Komunis > > Indonesia. Yuslam Badres bergabung ke Partai Nasional Indonesia. > > Abdurrahman Shihab--ayah Quraish Shihab dan Alwi Shihab-- > menggabungkan diri > > ke Masyumi. > > > > A.R. Baswedan ketika itu masih memilih jalan independen. Dia > diangkat > > Perdana Menteri Sjahrir sebagai Menteri Muda Penerangan. Pada 1947, > dia > > ikut rombongan Menteri Luar Negeri Agus Salim berkunjung ke Kairo, > Mesir. > > Mereka berdiplomasi agar dunia internasional mengakui kemerdekaan > Indonesia. > > > > Tiga tahun kemudian, tokoh yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, > dan Arab > > itu bergabung dengan Masyumi. Selain kagum atas kejujuran Mohamad > > Natsir--pemimpin Masyumi--dia menegaskan tindakannya didorong oleh > > keinginan memperkuat orientasi nasionalistis partai itu. > > > > Tatkala Masyumi dibubarkan pemerintah Orde Lama dan tak boleh > > direhabilitasi oleh pemerintah Orde Baru, Baswedan memilih bergerak > di > > jalur budaya. Dia mendirikan Badan Koordinasi Kebudayaan Islam > Yogyakarta > > dan menjadi pelindung Teater Muslim. Mereka mementaskan drama Iblis > tentang > > kisah Nabi Ibrahim, yang waktu itu tergolong kontroversial. > > > > Seniman Yogyakarta seperti Arifin C. Noer, Abdurrahman Saleh, > Taufiq > > Effendi, dan Chaerul Umam adalah kawan-kawannya. Dia ikut membantu > ketika > > Rendra mementaskan Kasidah Barzanji. "Rumahnya terbuka untuk semua > orang. > > Dia seperti orang tua kami," kata Syu'bah Asa, yang ketika itu > aktif > > berteater di Yogyakarta. > > > > Di pengujung hidupnya, A.R. Baswedan bersahabat dengan Romo > Mangunwijaya. > > Dengan gayeng keduanya kerap mendiskusikan masalah Irak-Iran, > > Palestina-Israel, dan korupsi di dalam negeri. Pada 1986, A.R. > Baswedan > > menutup mata di Jakarta. Tiga hari setelah kematiannya, Romo Mangun > > bertakziyah. "Beliau rawuh dari Yogyakarta dan ikut memberikan > tausiyah," > > ujar Samhari. > > > > Nugroho Dewanto > > (Majalah Tempo, Senin 8 September 2008) > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

