Apa'an menggeneralisr? kalimat yang mana?  Ana katakan: "> kini kita 
punya habib habib yang kayak usus buntu bagi bangsa ini...". Salah?

Ana juga katakan: 

"> Dahoeloe kita punya putra putra Arab yang patriot dan cinta Tanah 
Air"  dan 

"> Dahoeloe kita punya pahlwan pahlawan yang menggabung dari 
Hadramaut,"  Ini kan tanggapan postif? kok sewot?

Apakah ana katakan, " tak ada orang dari Hadramaut yang bermanfaat"? 
Tidak kan? baca dulu baik baik, baru semprot..

Dan, intinya, bung, dahoeloe, tokoh tokoh nasional seperti pak 
Baswedan meng Indonesia-kan diri mereka. Mereka menghimbau kaum Arab 
untuk berintegrasi dan mendukung perjuangan nasional. Yang jelek, 
kalau terbalik: Meng-Arab-kan Indonesia, ini ana tentang habis 
habisan..

Ana



>

--- In [email protected], fahmi faqih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> sikap mengeneralisir seperti ini membahayakan. sikap yang kau 
tunjukkan ini sama saja artinya harga diri kau dengan baasir dan 
rizq. di negeri ini jumlah habib, qabilah, ataupun arab biasa dari 
keturunan hadramaut, jauh lebih banyak yang baik ketimbang jumlah 
yang kau sebutkan, bung!
>  
> di sini saya ingin daftarkan nama2 mereka yang hidup dan berjuang 
untuk negara ini agar pola pikir kau terbuka dalam melihat persoalan. 
>  
> dari kalangan alawy atau habib ada: 
>  
> -quraisy shihab, 
> -alwi shihab (yang mantan menlu)
> -alwi shihab (yang menulis banyak tentang batavia masalalu yang 
besar sumbangsihnya untuk pengembangan dan pelestarian budaya betawi)
> -fahmi alatas (pemusik)
> -hamid alqadri (salahsatu perumus undang2 dasar pancasila)
> -idrus bin salim aljufri di palu, pendiri madrasah alkhairat dan 
cabangnya ribuan di indonesia timur
> -ali alhabsyi kwitang, ulama betawi yang banyak mendidik kader2 
bangsa utamanya kyai2 di jakarta
> - raden saleh (habib saleh bin awal bin yahya) bapak senirupa 
modern indonesia
> -syech assegaf di solo yang punya forum jumat legi, sebuah forum 
agama dan pengentasan kemiskinan di solo dan punya kerja2 sosial 
dengan anggota ribuan orang. dst, jika saya sebutkan masih banyak lagi
>  
> dari kalangan syeh/qabilah
>  
> -anies baswedan yang orang paramadina itu
> -abdullah bin abdun malang, pendiri madrasah daruttauhid malang 
yang banyak mencetak para ulama
> -amang rahman jubair (pelukis-penyair) surabaya
>  dst yang masih banyak lagi
>  
> ada baiknya kalau bung membaca buku yang ditulis oleh van den berg 
yang berjudul hadramaut dan koloni arab di indonesia, agar mata dan 
pikiran anda tidak sempit seperti ini, agar sikap-sikap yang makin 
bikin runyam kondisi sosial politik dan ekonomi indonesia seperti 
yang anda tunjukkan ini tidak lagi terjadi.
>  
> salam,
> fahmi faqih
> --- On Mon, 9/8/08, phyllobates.terribilis 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: phyllobates.terribilis <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [ppiindia] Re: Seorang Nasionalis Berdarah Arab
> To: [email protected]
> Date: Monday, September 8, 2008, 4:42 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Dahoeloe kita punya putra putra Arab yang patriot dan cinta Tanah 
Air 
> bersama ini, sekarang kita punya warga Arab yang hanya nysusahin 
> orang: Rizieq, Baashir..
> 
> Dahoeloe kita punya pahlwan pahlawan yang menggabung dari 
Hadramaut, 
> kini kita punya habib habib yang kayak usus buntu bagi bangsa ini...
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "masdimas62" <masdimas62@ ...> 
wrote:
> >
> > Salam,
> > 
> > Cerita yang mengharukan. Indonesia lebih banyak lagi tokoh 
seperti 
> > almarhum, di tengah figur-figur keturunan Arab yang menjelma 
> sebagai 
> > Islam radikal, merusak dan mencemari Indonesia dan merongrong 
NKRI.
> > 
> > Sekadar bertanya: Apakah Anies Baswedan, Rektor Universtas 
> > Paramadina, salahsatu cendekiawan dunia, adalah putra beliau?
> > 
> > 
> > Wassalam,
> > 
> > 
> > Dimas. 
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Nugroho Dewanto <ndewanto@> 
wrote:
> > >
> > > Seorang Nasionalis Berdarah Arab
> > > 
> > > Abdurrahman Baswedan gigih menumbuhkan nasionalisme keturunan 
> Arab 
> > di 
> > > Indonesia. Piawai sebagai diplomat, pergaulan dia amat luas, 
> > melintasi 
> > > berbagai kalangan. Lahir pada 9 September 1908, riwayat pejuang 
> > kemerdekaan 
> > > itu kini genap satu abad.
> > > 
> > > ***
> > > 
> > > Yogyakarta, akhir 1970-an. A.R. Baswedan, yang sudah menapak 
usia 
> > senja, 
> > > terkena stroke di rumahnya di kawasan Taman Yuwono. Kondisi 
> pejuang 
> > > kemerdekaan itu agak mengkhawatirkan. Di Gereja Katolik Kota 
Baru-
> -
> > salah 
> > > satu gereja tertua dan terbesar di kota pelajar itu--Romo Dick 
> > Hartoko SJ 
> > > sedang bersiap memimpin misa bagi umatnya.
> > > 
> > > Mendengar kabar geringnya A.R. Baswedan, Romo Dick spontan 
> meminta 
> > jemaat 
> > > gereja ikut mendoakan kesembuhan tokoh Islam itu. "Peristiwa 
itu 
> > membuat 
> > > Yogyakarta gempar," ujar Samhari Baswedan, anak bungsu A.R. 
> > Baswedan. 
> > > Ketika itu, ayah Samhari adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah 
> > Indonesia 
> > > Yogyakarta. Adapun Romo Dick Hartoko merupakan tokoh Katolik 
> > terkemuka di 
> > > kota itu. "Warna" mereka berlainan. Namun keduanya berkawan 
akrab.
> > > 
> > > "Hubungan pribadi mereka baik sekali," Samhari menambahkan. 
> > Keduanya kerap 
> > > saling kunjung. Dalam berdiskusi, mereka tak selalu sepaham 
tapi 
> > tetap 
> > > saling menghormati pendapat masing-masing.
> > > 
> > > Selain dengan Romo Dick Hartoko, A.R. Baswedan berkarib dengan 
> Yap 
> > Kie 
> > > Tong, dokter mata terkenal di Yogyakarta pada masa itu. Dia pun 
> > akrab 
> > > dengan Dr Johan Syahruzad, yang pernah menjadi Sekretaris 
> Jenderal 
> > Partai 
> > > Sosialis Indonesia.
> > > 
> > > Lahir di Kampung Ampel, Surabaya, riwayat pejuang kemerdekaan 
itu 
> > kini 
> > > genap berusia 100 tahun. Bernama lengkap Abdurrahman Baswedan, 
> dia 
> > dikenal 
> > > mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Saat usianya masih 20-
an 
> > tahun, dia 
> > > sudah gigih mendorong tumbuhnya semangat persatuan komunitas 
> > Hadramaut 
> > > (Yaman) di Nusantara. Ketika itu, mereka terpecah di antara 
> > keturunan 
> > > Sayyid, Gabili, Syekh, dan rakyat biasa.
> > > 
> > > Baswedan muda kemudian mengarahkan persatuan keturunan Arab 
untuk 
> > mendukung 
> > > kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Dia mendirikan 
> wadah 
> > > Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai 
> Arab 
> > > Indonesia. Dan dia bergaul akrab dengan tokoh-tokoh nasional, 
> > antara lain 
> > > Dr Sutomo.
> > > 
> > > Secara tegas Baswedan menyatakan tanah air keturunan Arab 
> bukanlah 
> > > Hadramaut, melainkan Indonesia. Dia juga menyebut keturunan 
Arab 
> > sebagai 
> > > bagian dari bangsa Indonesia. Sikap itu 
sesungguhnya "menurunkan 
> > derajat" 
> > > komunitas tersebut--yang oleh Belanda dimasukkan ke kelompok 
> Timur 
> > Asing.
> > > 
> > > Dalam mars Partai Arab Indonesia yang dikarangnya bersama Umar 
> > Baraja, 
> > > tergambarlah nasionalisme para pemuda keturunan Hadramaut. Ini 
> > salah satu 
> > > baitnya:
> > > 
> > > Indonesia! Semboyan Persatuanku
> > > Indonesia! Tanah Tumpah Darahku
> > > Persatuan! Arab Indonesia
> > > Makin lama makin bercahaya
> > > Kita tetap setia
> > > 
> > > Untuk menunjukkan keindonesiaannya, dalam beberapa pertemuan, 
> A.R. 
> > Baswedan 
> > > tak sungkan mengenakan surjan Jawa--tindakan itu mulanya 
dianggap 
> > tak 
> > > lazim, tapi lama-kelamaan bisa diterima oleh komunitas Arab 
> > Indonesia. Dia 
> > > juga pernah terjun menjadi wartawan, bergabung dengan harian 
Sin 
> > Tit Po, 
> > > yang propergerakan nasional. Di sana, dia berkawan akrab dan 
> banyak 
> > belajar 
> > > tentang jurnalisme dari Liem Koen Hian, pemimpin harian 
tersebut.
> > > 
> > > Di masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan memutuskan bergerak di 
> > bawah 
> > > tanah. Dia menggabungkan diri dengan kelompok pemuda di sekitar 
> > Sutan 
> > > Sjahrir. Pekerjaan mereka memantau radio siaran luar negeri--
> tugas 
> > yang 
> > > berisiko tinggi karena semua radio disegel tentara Jepang.
> > > 
> > > Suatu ketika, dia tepergok Kempetai--polisi rahasia Jepang--
> sedang 
> > menyimak 
> > > radio luar negeri. Mereka menggelandangnya ke markas. Dia 
divonis 
> > mati. 
> > > Eksekusi akan dilakukan esok siangnya. Pagi harinya, dia 
dijemur 
> di 
> > > pekarangan bersama sejumlah tawanan lain.
> > > 
> > > Di saat genting itu datang Mr Singgih dari Jakarta. Dia anggota 
> > Pusat 
> > > Tenaga Rakyat yang dipimpin Soekarno. Melihat Baswedan, Mr 
> Singgih 
> > segera 
> > > menghampiri dan meminta polisi Jepang membebaskannya. "Mr 
Singgih 
> > berdalih 
> > > Bapak adalah anak buahnya," tutur Samhari. Nyawa A.R. Baswedan 
> bisa 
> > > diselamatkan.
> > > 
> > > Setelah proklamasi dikumandangkan, Partai Arab Indonesia 
> > membubarkan diri. 
> > > Anggota-anggotanya menyebar ke berbagai partai. Hamid Algadri, 
> > misalnya, 
> > > masuk Partai Sosialis Indonesia. Abdulah Baraba memilih Partai 
> > Komunis 
> > > Indonesia. Yuslam Badres bergabung ke Partai Nasional 
Indonesia. 
> > > Abdurrahman Shihab--ayah Quraish Shihab dan Alwi Shihab--
> > menggabungkan diri 
> > > ke Masyumi.
> > > 
> > > A.R. Baswedan ketika itu masih memilih jalan independen. Dia 
> > diangkat 
> > > Perdana Menteri Sjahrir sebagai Menteri Muda Penerangan. Pada 
> 1947, 
> > dia 
> > > ikut rombongan Menteri Luar Negeri Agus Salim berkunjung ke 
> Kairo, 
> > Mesir. 
> > > Mereka berdiplomasi agar dunia internasional mengakui 
kemerdekaan 
> > Indonesia.
> > > 
> > > Tiga tahun kemudian, tokoh yang fasih berbahasa Inggris, 
Belanda, 
> > dan Arab 
> > > itu bergabung dengan Masyumi. Selain kagum atas kejujuran 
Mohamad 
> > > Natsir--pemimpin Masyumi--dia menegaskan tindakannya didorong 
> oleh 
> > > keinginan memperkuat orientasi nasionalistis partai itu.
> > > 
> > > Tatkala Masyumi dibubarkan pemerintah Orde Lama dan tak boleh 
> > > direhabilitasi oleh pemerintah Orde Baru, Baswedan memilih 
> bergerak 
> > di 
> > > jalur budaya. Dia mendirikan Badan Koordinasi Kebudayaan Islam 
> > Yogyakarta 
> > > dan menjadi pelindung Teater Muslim. Mereka mementaskan drama 
> Iblis 
> > tentang 
> > > kisah Nabi Ibrahim, yang waktu itu tergolong kontroversial.
> > > 
> > > Seniman Yogyakarta seperti Arifin C. Noer, Abdurrahman Saleh, 
> > Taufiq 
> > > Effendi, dan Chaerul Umam adalah kawan-kawannya. Dia ikut 
> membantu 
> > ketika 
> > > Rendra mementaskan Kasidah Barzanji. "Rumahnya terbuka untuk 
> semua 
> > orang. 
> > > Dia seperti orang tua kami," kata Syu'bah Asa, yang ketika itu 
> > aktif 
> > > berteater di Yogyakarta.
> > > 
> > > Di pengujung hidupnya, A.R. Baswedan bersahabat dengan Romo 
> > Mangunwijaya. 
> > > Dengan gayeng keduanya kerap mendiskusikan masalah Irak-Iran, 
> > > Palestina-Israel, dan korupsi di dalam negeri. Pada 1986, A.R. 
> > Baswedan 
> > > menutup mata di Jakarta. Tiga hari setelah kematiannya, Romo 
> Mangun 
> > > bertakziyah. "Beliau rawuh dari Yogyakarta dan ikut memberikan 
> > tausiyah," 
> > > ujar Samhari.
> > > 
> > > Nugroho Dewanto
> > > (Majalah Tempo, Senin 8 September 2008)
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> >
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke