Dahoeloe kita punya putra putra Arab yang patriot dan cinta Tanah Air bersama ini, sekarang kita punya warga Arab yang hanya nysusahin orang: Rizieq, Baashir..
Dahoeloe kita punya pahlwan pahlawan yang menggabung dari Hadramaut, kini kita punya habib habib yang kayak usus buntu bagi bangsa ini... --- In [email protected], "masdimas62" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam, > > Cerita yang mengharukan. Indonesia lebih banyak lagi tokoh seperti > almarhum, di tengah figur-figur keturunan Arab yang menjelma sebagai > Islam radikal, merusak dan mencemari Indonesia dan merongrong NKRI. > > Sekadar bertanya: Apakah Anies Baswedan, Rektor Universtas > Paramadina, salahsatu cendekiawan dunia, adalah putra beliau? > > > Wassalam, > > > Dimas. > > --- In [email protected], Nugroho Dewanto <ndewanto@> wrote: > > > > Seorang Nasionalis Berdarah Arab > > > > Abdurrahman Baswedan gigih menumbuhkan nasionalisme keturunan Arab > di > > Indonesia. Piawai sebagai diplomat, pergaulan dia amat luas, > melintasi > > berbagai kalangan. Lahir pada 9 September 1908, riwayat pejuang > kemerdekaan > > itu kini genap satu abad. > > > > *** > > > > Yogyakarta, akhir 1970-an. A.R. Baswedan, yang sudah menapak usia > senja, > > terkena stroke di rumahnya di kawasan Taman Yuwono. Kondisi pejuang > > kemerdekaan itu agak mengkhawatirkan. Di Gereja Katolik Kota Baru- - > salah > > satu gereja tertua dan terbesar di kota pelajar itu--Romo Dick > Hartoko SJ > > sedang bersiap memimpin misa bagi umatnya. > > > > Mendengar kabar geringnya A.R. Baswedan, Romo Dick spontan meminta > jemaat > > gereja ikut mendoakan kesembuhan tokoh Islam itu. "Peristiwa itu > membuat > > Yogyakarta gempar," ujar Samhari Baswedan, anak bungsu A.R. > Baswedan. > > Ketika itu, ayah Samhari adalah Ketua Dewan Dakwah Islamiyah > Indonesia > > Yogyakarta. Adapun Romo Dick Hartoko merupakan tokoh Katolik > terkemuka di > > kota itu. "Warna" mereka berlainan. Namun keduanya berkawan akrab. > > > > "Hubungan pribadi mereka baik sekali," Samhari menambahkan. > Keduanya kerap > > saling kunjung. Dalam berdiskusi, mereka tak selalu sepaham tapi > tetap > > saling menghormati pendapat masing-masing. > > > > Selain dengan Romo Dick Hartoko, A.R. Baswedan berkarib dengan Yap > Kie > > Tong, dokter mata terkenal di Yogyakarta pada masa itu. Dia pun > akrab > > dengan Dr Johan Syahruzad, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal > Partai > > Sosialis Indonesia. > > > > Lahir di Kampung Ampel, Surabaya, riwayat pejuang kemerdekaan itu > kini > > genap berusia 100 tahun. Bernama lengkap Abdurrahman Baswedan, dia > dikenal > > mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Saat usianya masih 20-an > tahun, dia > > sudah gigih mendorong tumbuhnya semangat persatuan komunitas > Hadramaut > > (Yaman) di Nusantara. Ketika itu, mereka terpecah di antara > keturunan > > Sayyid, Gabili, Syekh, dan rakyat biasa. > > > > Baswedan muda kemudian mengarahkan persatuan keturunan Arab untuk > mendukung > > kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Dia mendirikan wadah > > Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Arab > > Indonesia. Dan dia bergaul akrab dengan tokoh-tokoh nasional, > antara lain > > Dr Sutomo. > > > > Secara tegas Baswedan menyatakan tanah air keturunan Arab bukanlah > > Hadramaut, melainkan Indonesia. Dia juga menyebut keturunan Arab > sebagai > > bagian dari bangsa Indonesia. Sikap itu sesungguhnya "menurunkan > derajat" > > komunitas tersebut--yang oleh Belanda dimasukkan ke kelompok Timur > Asing. > > > > Dalam mars Partai Arab Indonesia yang dikarangnya bersama Umar > Baraja, > > tergambarlah nasionalisme para pemuda keturunan Hadramaut. Ini > salah satu > > baitnya: > > > > Indonesia! Semboyan Persatuanku > > Indonesia! Tanah Tumpah Darahku > > Persatuan! Arab Indonesia > > Makin lama makin bercahaya > > Kita tetap setia > > > > Untuk menunjukkan keindonesiaannya, dalam beberapa pertemuan, A.R. > Baswedan > > tak sungkan mengenakan surjan Jawa--tindakan itu mulanya dianggap > tak > > lazim, tapi lama-kelamaan bisa diterima oleh komunitas Arab > Indonesia. Dia > > juga pernah terjun menjadi wartawan, bergabung dengan harian Sin > Tit Po, > > yang propergerakan nasional. Di sana, dia berkawan akrab dan banyak > belajar > > tentang jurnalisme dari Liem Koen Hian, pemimpin harian tersebut. > > > > Di masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan memutuskan bergerak di > bawah > > tanah. Dia menggabungkan diri dengan kelompok pemuda di sekitar > Sutan > > Sjahrir. Pekerjaan mereka memantau radio siaran luar negeri-- tugas > yang > > berisiko tinggi karena semua radio disegel tentara Jepang. > > > > Suatu ketika, dia tepergok Kempetai--polisi rahasia Jepang-- sedang > menyimak > > radio luar negeri. Mereka menggelandangnya ke markas. Dia divonis > mati. > > Eksekusi akan dilakukan esok siangnya. Pagi harinya, dia dijemur di > > pekarangan bersama sejumlah tawanan lain. > > > > Di saat genting itu datang Mr Singgih dari Jakarta. Dia anggota > Pusat > > Tenaga Rakyat yang dipimpin Soekarno. Melihat Baswedan, Mr Singgih > segera > > menghampiri dan meminta polisi Jepang membebaskannya. "Mr Singgih > berdalih > > Bapak adalah anak buahnya," tutur Samhari. Nyawa A.R. Baswedan bisa > > diselamatkan. > > > > Setelah proklamasi dikumandangkan, Partai Arab Indonesia > membubarkan diri. > > Anggota-anggotanya menyebar ke berbagai partai. Hamid Algadri, > misalnya, > > masuk Partai Sosialis Indonesia. Abdulah Baraba memilih Partai > Komunis > > Indonesia. Yuslam Badres bergabung ke Partai Nasional Indonesia. > > Abdurrahman Shihab--ayah Quraish Shihab dan Alwi Shihab-- > menggabungkan diri > > ke Masyumi. > > > > A.R. Baswedan ketika itu masih memilih jalan independen. Dia > diangkat > > Perdana Menteri Sjahrir sebagai Menteri Muda Penerangan. Pada 1947, > dia > > ikut rombongan Menteri Luar Negeri Agus Salim berkunjung ke Kairo, > Mesir. > > Mereka berdiplomasi agar dunia internasional mengakui kemerdekaan > Indonesia. > > > > Tiga tahun kemudian, tokoh yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, > dan Arab > > itu bergabung dengan Masyumi. Selain kagum atas kejujuran Mohamad > > Natsir--pemimpin Masyumi--dia menegaskan tindakannya didorong oleh > > keinginan memperkuat orientasi nasionalistis partai itu. > > > > Tatkala Masyumi dibubarkan pemerintah Orde Lama dan tak boleh > > direhabilitasi oleh pemerintah Orde Baru, Baswedan memilih bergerak > di > > jalur budaya. Dia mendirikan Badan Koordinasi Kebudayaan Islam > Yogyakarta > > dan menjadi pelindung Teater Muslim. Mereka mementaskan drama Iblis > tentang > > kisah Nabi Ibrahim, yang waktu itu tergolong kontroversial. > > > > Seniman Yogyakarta seperti Arifin C. Noer, Abdurrahman Saleh, > Taufiq > > Effendi, dan Chaerul Umam adalah kawan-kawannya. Dia ikut membantu > ketika > > Rendra mementaskan Kasidah Barzanji. "Rumahnya terbuka untuk semua > orang. > > Dia seperti orang tua kami," kata Syu'bah Asa, yang ketika itu > aktif > > berteater di Yogyakarta. > > > > Di pengujung hidupnya, A.R. Baswedan bersahabat dengan Romo > Mangunwijaya. > > Dengan gayeng keduanya kerap mendiskusikan masalah Irak-Iran, > > Palestina-Israel, dan korupsi di dalam negeri. Pada 1986, A.R. > Baswedan > > menutup mata di Jakarta. Tiga hari setelah kematiannya, Romo Mangun > > bertakziyah. "Beliau rawuh dari Yogyakarta dan ikut memberikan > tausiyah," > > ujar Samhari. > > > > Nugroho Dewanto > > (Majalah Tempo, Senin 8 September 2008) > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > >

