Kalau saya mah, nanggapin rubah atau tidaknya seragam pramuka, tergantung
dengan kondisi ekonominya , soalnya anggota yang ada didaerah mah, jangankan
ganti seragam yang baru, seragam yang lama saja sulit untuk dilengkapi,
kadangkalanya atasnya coklat, bawahnya warna seragam sekolah, atribut gak
lengkap (alasannya gak ada uang untuk beli seragam pramuka), kondisi ini
diperparah dengan keluarnya kebijakan baru kwarnas yang tidak pro
anggotannya!!! mengeluarkan baju PDU yang SKnya keluar setelah 4 bulan mereka
pake (prinsip : pake dulu, aturan belakangan), dengan kebijakan tersebut,
kakak-kakak kita di kwarnas menjadi kaum "Elitis" baru!
[EMAIL PROTECTED] wrote: Sdr Hendro ini kalau bikin tanggapan, baca
dulu yg bener
Siapa, yang bilang Kwarnas harus ngatur sekolah,( " Kata anda dulu, Kwarnas
mana bisa ngatur sekolah." )
Saya berpendapat :
Dan yang paling penting adanya PERATURAN KWARNAS
> YANG MELARANG PEMAKAIAN
> SERAGAM PRAMUKA DISEKOLAH KECUALI PADA ACARA
> KEPRAMUKAAN.( Supaya orang tua
> murid tidak dibebani - keharusan - membeli seragam
> Pramuka - padahal anaknya
> tidak aktif di GP
Karena banyak masyarakat - yg saya tahu disekeliling kampung, dimana orang
tua saya tinggal - sering merasa keberetan kalau anaknya setiap hari sabtu
harus pakai seragam GP, belum jumat pakai baju muslim, terus hari apa lagi
harus seragam Olah Raga - Sedangkan untuk, membeli seragam sekolah & bukupun
mereka sudah repot
Tapi kalau sekolah tetap mewajibkan, ( ini lucu : karena sekolah sudah bisa
mewajibkan seragam organisasi diluar kewenangannya )
KWARNAS mau bisa apa ?( selain mohon - sambil berlutut kalau perlu - kepada
departement yg ngurus sekolah ) karena itulah kenyataan di negeri tercinta,
paling tidak KWARNAS sudah peduli pada orang tua yg kurang mampu
Soal Pengakap mau seribu macam seragam itu urusan mereka
- Dan jangan lupa ekonomi mereka sudah jauh lebih baik dari pada RI -
" Masa dasi pakai lambang kitri. Jelek banget dan tidak
punya makna. "
Saya kira ucapan ini tidak bijak keluar dari seorang pelatih ! wujudnya
saja belum ketahuan sudah bisa katagorik " itu jelek banget dan tidak punya
makna"
Saya jadi ingat anak saya ( ketika seumur siaga) waktu mau dikasih "
Surabi", belum saja dicicipi sudah bilang tidak enak.
Tahukah anda bahwa ada dasi yang penuh dengan lambang kepanduan dunia (
walaupun bukan dasi seragam resmi) - , dan yang menjual - bukan toko sebelah,
tapi kedainya pandu dunia
Soal bagus - jeleknya - logo GP di dasi tinggal bagaimana caranya supaya
bagus, dan soal makna apa bedahya dengan di krah baju atau di saku - di topi -
di peci - di baret - diikat pinggang - ditanda jabatan andalan - dan
dibanyak lagi.
Dan kalau anda benar benar " positif thinking" anda bisa mengerti maksud
yang sebenarnya,
Supaya di dasi itu ada " trade mark" nya GP, dan tidak setiap orang bisa
membikin tanpa membayar " hak cipta" kepada GP
Soal setengan leher pa-pi sama( modelnya ) , mengingat kepada BP & nyonya.(
BS /GG) -
tapi kalaupun tetap pakai pita leher karena unik, mungkin benar karena di GP
ini banyak yang unik !
Setengan leher PUTRA PUTRI SAMA, ( maaf kalau
> salah: saya belum melihat
> PITA LEHER DI KEPANDUAN MANAPUN DI DUNIA ) dengan
> logo GP - supaya bisa
> didaftar hak ciptanya - tidak setiap orang bisa
> bikin tanpa ijin Pramuka dan
> membayar hak ciptanya , JUGA BAGI ATRIBUT ATRIBUT
> LAINNYA.
Semuanya itu hanya pendapat saya untuk GP, dan pada pendapat pendapat
lainnya walaupun saya tidak sependapat, saya tetap menyampaikan rasa hormat
saya,
dan bersyukur karena masih banyak yg peduli terhadap GP.
Terima kasih
Salam
Tata
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]