Mas Tata :

Siapa, yang bilang Kwarnas harus ngatur sekolah,( " Kata anda dulu, 
Kwarnas
mana bisa ngatur sekolah." )

Saya berpendapat :
Dan yang paling penting adanya PERATURAN KWARNAS
> YANG MELARANG PEMAKAIAN
> SERAGAM PRAMUKA DISEKOLAH KECUALI PADA ACARA
> KEPRAMUKAAN.( Supaya orang tua
> murid tidak dibebani - keharusan - membeli seragam
> Pramuka - padahal anaknya
> tidak aktif di GP

Karena banyak masyarakat - yg saya tahu disekeliling kampung, dimana 
orang
tua saya tinggal - sering merasa keberetan kalau anaknya setiap hari 
sabtu
harus pakai seragam GP, belum jumat pakai baju muslim, terus hari 
apa lagi
harus seragam Olah Raga - Sedangkan untuk, membeli seragam sekolah & 
bukupun
mereka sudah repot

Tapi kalau sekolah tetap mewajibkan, ( ini lucu : karena sekolah 
sudah bisa
mewajibkan seragam organisasi diluar kewenangannya )
KWARNAS mau bisa apa ?( selain mohon - sambil berlutut kalau perlu - 
kepada
departement yg ngurus sekolah ) karena itulah kenyataan di negeri 
tercinta,
paling tidak KWARNAS sudah peduli pada orang tua yg kurang mampu

====
Hendro :

Mas ,
Kalau Kwarnas bikin aturan (PP?) soal pemakaian seragam itu 
memangnya mengatur siapa ? Konon jajaran gugus depan dan Kwartir-
kwartir.
Faktanya adalah bahwa yang menentukan Pramuka ada tiada, jalan atau 
tidaknya,, kenyataannya adalah sekolah dan jajaran di atasnya.
Artinya sia-sia saja bikin aturan karena nggak akan jalan.
Masalahnya lagi seragam Pramuka sudah jadi pakaian siswa hari-hari 
tertentu dan seperti yang pernah saya bilang (dan anda tentang juga 
dalam email ini) yang harus disalahkan ya harus Kwartir Nasional. 
Siapa lagi ?

Sama cerobohnya dengan membiarkan orang-orang yang belum mengucapkan 
janji Pramukanya memakai seragam. Di rombongan visitor Jambore Dunia 
kemaren saja ada beberapa orang yang baru pakai seragam Pramuka di 
kegiatan ini tanpa dilantik. 
Kwartir Nasional layak dimarahi karena tidak mampu menjaga 
kehormatan pemakaian seragam. Dulu saya baru berseragam Pramuka di 
hari pelantikan saya. Dan tanda-tandanya baru disematkan di seragam 
saya saat saya dilantik. Dengan demikian pakaian seragam menjadi 
punya makna yang dalam bagi saya bila dipakai.
Hal ini yang sekarang tidak dihayati banyak orang.
Masalahnya banyak orang yang senang dengan kuantitas bukan kualitas. 
Pembelaannya selalu sederhana. Mulai dulu dari seragam, pembinaannya 
mengikuti kemudian. Paradigma yang salah, karena yang justru kita 
mulai dari pembinaannya dulu baru seragamnya dipakai. Ekstrimnya 
sampai ke hal yang diungkap di lagu. " Bukan karena bajunya, aku 
jadi Pramuka."
Celakanya ,memang sekarang Kwartir-kwartir pun banyak diisi dengan 
orang yang mendahulukan pemakaian seragam. Tahun 1997 saya menyesali 
kenapa saya mengikuti orang-orang yang menghalangi saya menentang 
keinginan Kakwarcab yang ingin mewajibkan siswa sekolah pakai 
pakaian seragam di hari tertentu, melalui instruksi Walikota. 
Hasilnya, Gerakan Pramuka tidak jadi membaik malah makin terpuruk.

==

Mas Tata :
Soal Pengakap mau seribu macam seragam itu urusan mereka
- Dan jangan lupa ekonomi mereka sudah jauh lebih baik dari pada RI –
==

Hendro :
Lho, pakaian PDUB saja jelas terinspirasi oleh seragam Pengakap.
Masalahnya memang Gerakan Pramuka melingkupi Sabang hingga Merauke,
Ada kelompok yang bahkan untuk bisa punya seragam saja sudah 
kesulitan luar biasa.  Tapi beda dengan fenomena kota besar. Justru 
pakaian seragam bisa jadi daya tarik. 
Teman-teman saya yang terlibat dalam pelatihan Pasukan Kawal Panji 
bahkan sudah lama mencita-citakan adanya PDU. Bentuknya dengan 
pemakaian jas. Kwarnas sendiri pernah bikin PDU ini di salah satu 
peringatan Hari Pramuka, dengan kemeja putih dan "dasi " dengan jas.
Jadi saya kira ini bukan apakah ini urusan Gerakan Pramuka atau 
urusan Persekutuan Pengakap Malaysia, tapi sesuatu yang perlu 
diperhatikan dan direspon segera.
===

Mas Tata :
" Masa dasi pakai lambang kitri. Jelek banget dan tidak punya 
makna. "

Saya kira ucapan ini tidak bijak keluar dari seorang pelatih ! 
wujudnya
saja belum ketahuan sudah bisa katagorik " itu jelek banget dan 
tidak punya
makna"
Saya jadi ingat anak saya ( ketika seumur siaga) waktu mau dikasih "
Surabi", belum saja dicicipi sudah bilang tidak enak.

Tahukah anda bahwa ada dasi yang penuh dengan lambang kepanduan 
dunia (
walaupun bukan dasi seragam resmi) - , dan yang menjual - bukan toko 
sebelah,
tapi kedainya pandu dunia

Soal bagus - jeleknya - logo GP di dasi tinggal bagaimana caranya 
supaya
bagus, dan soal makna apa bedahya dengan di krah baju atau di saku - 
di topi -
di peci - di baret - diikat pinggang - ditanda jabatan andalan - dan
dibanyak lagi.
Dan kalau anda benar benar " positif thinking" anda bisa mengerti 
maksud
yang sebenarnya,
Supaya di dasi itu ada " trade mark" nya GP, dan tidak setiap orang 
bisa
membikin tanpa membayar " hak cipta" kepada GP

=====
Hendro :
Wah saya mah tidak keberatan disatukategorikan dengan siaga. Namun 
tidak perlu juga mengkategorikan saya tidak pantas sebagai Pelatih. 
Apa bedanya, toh Mas berpikir juga kategorial. Pendapat saya 
merupakan pandangan pribadi saya bukan pendapat para Pelatih. Memang 
seorang Pelatih harus bicara apa ? Saya justru bicara dari hal yang 
paling mendasar.

Ingat setangan/pita leher Pramuka itu khas karena kita bisa jadi 
satu-satunya NSO yang menggunakan warna bendera negaranya untuk 
warna setangan/pita leher dengan segenap maknanya. Makna yang 
dikandung pernah saya tulis di tulisan lain.
Dengan demikian secara kategorial, saya bisa bilang penerapan kitri 
di setangan /pita leher JELEK karena merusak makna yang melekat pada 
pita/setangan leher tersebut.

Maaf jika kita berbeda pendapat.

Kalau ada dasi yang penuh dengan lambang mau dibaut ya silakan-
silakan saja. Tapi Mas sendiri bilang itu bukan yang resmi. Jadi 
silakan dibuat saja, kalau Mas yang buat, izinkan saya minta satu. 
Soal hak cipta, royalti dan penegakan hukumnya saya kira itu cerita 
lain, dan tidak usah diselesaikan dengan memasang kitri di 
pita/setangan leher.

===
Mas Tata :

Soal setengan leher pa-pi sama( modelnya ) , mengingat kepada BP & 
nyonya.(
BS /GG) -
tapi kalaupun tetap pakai pita leher karena unik, mungkin benar 
karena di GP
ini banyak yang unik !
===

Hendro :

Kalau  kita mengamati foto Lady Olave, termasuk foto resmi sebagai 
Chief of Girl Guides, saya tidak menemukan bahwa beliau pernah 
menggunakan setangan leher yang modelnya sama dengan yang dipakai BP.
Demikian tanggapan saya terhadap pernyataan Mas.
Semoga diterima dengan baik.

Hendro Prakoso


Kirim email ke