--- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
>
> 
> Harus diakui gardner salahsatu yang berhasil memetakan lokasi 
> 'cerdas' & lokasi 'pintar'. 
> 
> Dari doeloe, cerdas itu hasil "kunyahan" informasi & data 
> oleh sekujur tubuh yang kemudian disetujui sebagai kuda-kuda 
> untuk bereaksi maupun sebagai titik-berdiri untuk beraksi. 
> Singkatnya, hasil pergulatan mind; body; & soul. 


aspek ini memang sulit (tanpa perlu imbuhan "sering-kali")
untuk diukur, karena kecenderungannya bersifat kualitatif dan
jadi "ter-samarkan" lewat istilah semacam "insting" or intuisi.

menjadi lebih repot atau "ter-singkirkan secara subjektif" ketika
ada kebutuhan yg harus meng-kuantitatifkan seperti berupa nilai
tertentu atau tuntutan skor (semacam i.q, ranking) tanpa sarana
semacam "interview" (misalnya, salah satu pembeda bobot penilaian
antara sistem toefl dgn ielts yg menghadirkan interview dan essay),
diperparah lagi ketika sang penguji "gak sabaran" atau "cetek" ;o)
penguji ginian biasanyapun menganggap beatles identik koes plus.

> Sedangkan 'pintar', lebih kepada hasil konsentrasi pikiran pada 
> masalah yang tersaji tanpa harus melibatkan soul, body, bahkan 
> juga mind, karena targetnya cuma memproduksi 'thought'.


apa mau dikata, parameter kurikulum sekolah umumnya berikut ujian
(di luar tuduhan "projek") masih mengacu kepada standard "pintar". 
 
> Dalam bermusik misalnya, kang peno a.k.a Braga Stone bisa dikata 
> cerdas karena dalam keadaan gelap gulita bisa menghibur orang 
> dengan sesuatu yang bermain di jiwanya pada lokasi yang tepat 
> (Jl. Braga) - dengan faktor yang berbeda barangkali setaralah dia 
> sama beethoven.. (nggak terlalu salah juga kalau orang bilang 
> 'cerdas' itu berkaitan dengan bakat). Sementara, yang bermusik 
> dengan 'pintar' ya semua grup replika dari Indonesia... yang 
> sudah barang tentu mereka semua lebih "cerdas" dari Duran Duran 
> atau pemusik tekno lainnya, hahaha! 


ada yg bilang, musisi indonesia sebetulnya punya aset besar yg
gak kalah dgn internasional, setidaknya "lebih jago" meniru dan
sanggup tampil lebih bagus dari aslinya. bisa jadi benar, ketika
beberapa bakat muda terasa sia2 ketika 100% dapat meniru seluruh
partitur dream theater. baru mati kutu ketika harus memainkan
karya standard yes, karena steve howe sendiri jarang mengulang
partitur yg sama terutama di saat konser hehee

tapi harus adil dan diakui, musisi indonesia memang punya bakat
dan kecerdasan mumpuni seperti gerombolan krakatau (maka kenapa
mereka "tega nendang" indra lesmana), atau majid hasan di discus.
sayangnya peluang dan reputasi ini gak sebanding hukum komersil,
berarti perlu mark up pula pada sang apresiator + industrinya.


> Cerdas sering juga diukur dengan permainan catur. Maksudnya, 
> pecatur yang menang melulu biasanya disebut cerdas. Padahal, 
> pecatur yang cerdas nggak selalu butuh kemenangan, apalagi 
> dengan segala cara - melahap pion pake menteri misalnya. 


asli sepakat .. terkadang pep sanggup mengambil resiko kalah
namun dapat menganalisa dan membuat formula baru bagi formasi
defender terutama kiper yg selalu jadi titik sentral terlemah.
siapa sih yg sanggup mengatakan bahwa alves bahkan pique adalah
defender murni dlm format 4 - 3 - 3 dalam dinamika taka-tiki?

gak heran sejak mou, wenger hingga "ad interim" di matteo gak
malu mengakui sistem parking bus atau ultra defensif 4 - 5 - 1
untuk menahan alves dan adriano di kiri sbg penyerang bayangan,
hasil yg butuh banyak kekalahan dan waktu panjang menahan aib.
kecerdasan pep baru bisa dipatahkan lewat kecerdasan pula lewat
pengorbanan jangka panjang, dan bisa dipastikan hanya temporary
belaka karena salah satu ciri utama cerdas adalah gak statis.


> Nah, salahsatu pelajaran tentang 'cerdas' lewat film catur 
> yang berkesan adalah Searching for Bobby Fisher. Banyak 
> pergulatan pikiran (dan batin) di sana. Antara lain ketika sang 
> bocah yang diam-diam berbakat main catur (tapi juga suka 
> permainan lain seperti bocah kebanyakan) coba diarahkan sang 
> ayah untuk jadi pecatur yang baik & benar dengan memanggil 
> guru catur yang akademik, 
> 
> http://www.youtube.com/watch?v=gwXzOVu0x-U
> 
> Tetapi hasil pergulatan mind, body, & soul si bocah memberinya 
> sikap yang jelas, 
> http://www.youtube.com/watch?v=k9pFp6iRVM0
> 
> Cantiknya lagi, film ini nggak melupakan reaksi cerdas 
> seorang bocah terhadap 'kegembiraan',
> http://www.youtube.com/watch?v=sSV2IFNgqI4


thanks buat referensi dan link-nya .. donlod dulu ah.
aneh, kok aku bisa terliwatkan film ginian yag hehee

http://endyonisius.blogspot.com/2010/07/phenomenon.html

http://www.youtube.com/watch?v=FfyTSjsBSXQ


> --- "liver_duke" <endyonisius@> wrote:
> 
> > bidang saya bukanlah kejiwaan. tapi kalau tetap merajuk pada
> > artikelnya howard gardner yg berpesan mengenai kecerdasan alami
> > yg dilahirkan, maka contoh kasus si sandi kecil ini gak masuk
> > kategori sbg kecerdasan majemuk (multiple intelligence).
> > 
> > ada yg disebut dgn social intelligence, secara awam diterjemahkan
> > sbg kecerdasan dalam menyerap tiap aspek dari lingkungan sekitar
> > terutama pengaruh dari orang lain, mirip kecerdasan inter-personal
> > atau kemampuan interaksi (people intelligence) menurut gardner.
> > 
> > upaya pemilahan ini sekaligus dapat sbg pembenaran bahwa telah
> > terdapat perbedaan makna antara "cerdas" (internal) dgn "pintar"
> > (tinjauan eksternal), seperti melalui contoh sandi di bawah ini.
> > pintar merokok karena lingkungan dan penilaian lingkungannya, gak
> > berarti ia telah cerdas untuk merokok karena pola pikir sendiri.
> > namun kecerdasan inter-personal seorang sandi yg dibesarkan pada
> > lingkungan bengkel, contohnya, dipastikan sanggup mengakselerasi
> > kepintarannya kelak untuk menciptakan mesin super irit, atau
> > kemampuan sosial kalo gak kejebak di kampung proletar ini ;o) 
> > 
> > 
> > --- Musik hari Ini <musikhariini@> wrote:
> >
> > > Bisa jadi seperti itu Duke,Contoh nya si Sandi kecil ini
> > > 
> > > Kalau saja "Campur tangan Orang lain" dilingkungan sekitar
> > > Mengerti sedikit saja tentang Nilai2 baik anak ini pasti
> > > luar biasa
> > > 
> > > Saya kira kalau Sandi tinggal dilingkungan bengkel mobil
> > > pasti dia bakalan bisa menciptakan mesin2 super Irit bahan
> > > bakar,atau menjadi Master Catur tersohor kalau bapak nya
> > > hobby maen catur atau Jadi Politikus ulung kalau bapaknya
> > > pengurus RT/RW atau Menjadi jendral kalau bapak nya dines
> > > Tentara Bisa juga jadi musikus yang hebat kalau emaknya sering
> > > bersenandung Anak luar biasa seperti ini pasti sangat mudah
> > > menerima pelajaran
> > > Jangan kan bersekolah Di umbar saja pasti jadi anak genius
> > > 
> > > http://youtu.be/1IsEiW_f-7s
> > > 
> > > 
> > > ________________________________
> > >  From: liver_duke <endyonisius@>
> > >  
> > > > cerdas biasanya karena berfikir, tetapi blum tentu pintar.
> > > > pintar biasanya ada campur tangan dari penilaian orang lain,
> > > > meski orang lain itupun belum tentu cerdas dan berfikir ;o)
> > > > 
> > > > --- "ajeg" <ajegilelu@> wrote:
> > > >
> > > > > Menarik.
> > > > > 
> > > > > Malas di kelas tapi bandel 
> > > > > itu menunjukkan anak berpikir 
> > > > >
> > > > > :) 
> > > > > 
> > > > > --- "liver_duke" <endyonisius@> wrote:
> > > > > 
> > > > > > http://endyonisius.blogspot.com/2012/04/kecerdasan-majemuk.html
> > > >
> > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke