--- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > --- "liver_duke" <endyonisius@> wrote: > > > > > > apa mau dikata, parameter kurikulum sekolah umumnya berikut > > ujian (di luar tuduhan "projek") masih mengacu kepada standard > > "pintar". > > > Itu "kelebihan" dari pendidikan sekolahan, selalu butuh ukuran > untuk menilai posisi 'adab' seseorang secara angka. Tinggi- > rendahnya nilai dijadikan penanda seberapa beradabnya dia di > matpel ini dan berapa di matpel itu.
"adab" yg membuat bunuh diri masal, termasuk "nyontek legal" secara nasional. walau gak berlaku di semua sekolahan sih ;o) > Pendidikan yang mengutamakan rasionalitas begini memang cuma > membutuhkan nalaritas. Sehingga orang boleh megar lobang hidungnya > bila dapat nilai tinggi, tapi dilarang kuncup, sedih, kecewa, > apalagi sakit hati bila nilainya jeblok. Sebab, nilai jeblok itu > toh didapat dari pengukuran yang (katanya) sahih. Ada angkanya, > ada hitungannya, bahkan lengkap dengan bilangan pembaginya :) > Visual. Konkrit. Kasat mata. Obyektif. Logis. tadinya paragraf ini mo kubandingkan dgn kisah totto-chan alias tetsuko kuroyanagi (bukan nama bassist casiopea), termasuk perihal inspirasi bagaimana me-menej kegagalan atau kesedihan. tapi rasanya topik ini akan dapat berkembang kompleks saat akan dibawa ke ranah di luar institusi semacam lembaga pendidikan formal. bahwa sebuah sistem memang butuh aturan dan standard, protab termasuk spek. maka ketika sebuah sistem sedang dipertanyakan bahkan digugat, dapat berpotensi "kelowongan" bahkan chaos, sesuatu yg paradoks terkadang gak mendidik dan butuh kompensasi njelimet + mahal. walau bakal jadi "lahan asik" tersendiri bagi .. sorry to say, semacam opportunities atau makelar atas nama "pejuang" hehee > Padahal, sistem penilaian yang rasional ini dengan sendirinya > mengobrak-abrik pertumbuhan emosional si ternilai yang diizinkan > girang tapi dilarang sedih dst. Kemanusiaan si ternilai jadi > tidak sempurna karena cuma dibolehkan bergembira (di bawah sorot > tajam para killer) tanpa boleh berkenalan dengan rasa sedih, > boro-boro lagi digembleng untuk mengatasinya. entah kenapa mata pelajaran tak terukur semakin digerus, semacam menulis halus, ensamble seni, sport .. hanya nilai pelengkap. > Iya kalau nilainya merata atau beda-beda tipis di semua matpel, > tentu dia bisa megar di semua lubang. Lha kalo nilainya grunjalan > naik-turun di sana-sini, mosok nggak boleh sedih sambil girang? > Atau, kalau ancur di semua matpel, mosok langsung tentrem > dijejelin nasehat: "makanya belajaarrr!!!" korban tuntutan kurikulum, atau kewajiban buku paket? > Enggaklah. beberapa mantan guruku saat pertemuan reuni atau ada beberapa yg kebetulan sering ketemu di lapangan badminton (ini kisah beberapa tahun lalu), hanya bisa menarik nafas dan mengalihkan topik saat pembicaraan mulai spesifik mengarah ke sini .. serasa zombie ;o) > Suka atau enggak, sistem sekolahan yang nguber 'pintar' ini > sejak 1950an disadari mengandung resiko melahirkan big-generator > alias robot-robot berdaging, manusia-manusia kardus, sampai > zombie-zombie. Dan, sejak berjayanya kapitalisme di era '80an, > resiko itu sudah berubah jadi konsekuensi. tuh kan, muncul zombie hehee .. guru zombie kencing berdiri, murid zombie kencing berlari yg penting dapat point dan koin .. status fungsional tea > Macam-macam kritik tentang hitamnya pendidikan formal ini sudah > dilempar, termasuk oleh lennon, alice cooper, waters dsb. Tapi > para cukong memang nggak punya hati yang bisa mereka berikan, > sehingga pelajaran kesenian, olahraga, bahkan agama pun dijadikan > instrumen untuk mematikan keseimbangan. Tugas ortu / lingkungan > keluargalah untuk mengisi kekosongan ini. hmm .. tugas or-tu dan lingkungan .. sementara mereka sendiripun sudah dijebak jadi zombie. mulai dari kedua orang tua yg dipaksa keluar rumah subuh dan baru pulang bareng ke rumah larut malam, seminggu 5 hari dan sisa hari buat hybernate atau ngurus tanaman. toh nyatanya manusia semacam lennon hingga cobain hanya semakin bagus untuk pajangan sejarah, semakin langka dan susah digapai. apa berarti manusia sekarang (termasuk para murid) semakin gak punya waktu selain belajar dan bekerja? lah itu genk motor, cs? > > ada yg bilang, musisi indonesia sebetulnya punya aset besar yg > > gak kalah dgn internasional, setidaknya "lebih jago" meniru dan > > sanggup tampil lebih bagus dari aslinya. bisa jadi benar, ketika > > beberapa bakat muda terasa sia2 ketika 100% dapat meniru seluruh > > partitur dream theater. baru mati kutu ketika harus memainkan > > karya standard yes, karena steve howe sendiri jarang mengulang > > partitur yg sama terutama di saat konser hehee > > > Untuk jenis pop modern, lebih luas lagi diatonik, musisi Indonesia > masih paling luwes se-Asia. Sangat adaptif. Terbukti beberapa > replika memang lebih disiplin ketukan & cengkok, atau sekalian > nyeleneh seperti The Cangcuters tea. Norak, tapi emangnya Jagger > enggak? Sedangkan untuk genre tradisional / etnik / pentatonik, > kecerdasan musisi dari Sabang-Merauke nggak ada duanya di dunia. > Bayangin, bikin pantun aja orang butuh kekayaan batin. Apalagi > itu pantun dilagukan. Lebih-lebih lagi pantun jenaka - cilakanya > di pantura modern jadi banyak penggemar pantun jorok. aset dan kearifan ginian emang masih eksist dan bejibun, terutama pada wilayah urban atau yg jauh dari "pusat standard global", meski dgn label yg dibuat eksotis (seperti gk yakin) seperti "tradisi". artinya, nyaris dalam segala aspek seolah dipaksa gk lagi punya ruang mandiri utk hakekat jati diri termasuk harga dirinya lagi. apa boleh buat, dunia kudu berputar berikut "genre" globalisasi dan bang toyib-pun serasa semangkin jarang pulang saja hehee > > gak heran sejak mou, wenger hingga "ad interim" di matteo gak > > malu mengakui sistem parking bus atau ultra defensif 4 - 5 - 1 > > untuk menahan alves dan adriano di kiri sbg penyerang bayangan, > > hasil yg butuh banyak kekalahan dan waktu panjang menahan aib. > > kecerdasan pep baru bisa dipatahkan lewat kecerdasan pula lewat > > pengorbanan jangka panjang, dan bisa dipastikan hanya temporary > > belaka karena salah satu ciri utama cerdas adalah gak statis. > > > Di lapangan bola, berumput apa enggak, anak-anak Latin & Afrika > tergolong pesepakbola cerdas. Sebaliknya, anak-anak Eropa, semakin > ke utara cuma semakin pintar. Mereka umumnya melihat sepakbola > sebagai masalah yang harus di atasi secara efisien, yaitu dengan > mencetak gol sebanyak mungkin. Sedangkan anak-anak Latin & Afrika > memandang sepakbola ibarat kanvas yang perlu mereka pulas dengan > warna-warni yang efektif :) sip, ini pendalaman baru buatku walau secara filosofis gak asing. setidaknya dapat semakin membedakan pemahaman antara messi dgn ronaldo walau keduanya kuanggap mewakili passion + goal yg sama. mungkin "ibarat kanvas" beginilah yg bikin pep memerlukan pause. > > > Nah, salahsatu pelajaran tentang 'cerdas' lewat film catur > > > yang berkesan adalah Searching for Bobby Fisher. Banyak > > > pergulatan pikiran (dan batin) di sana. Antara lain ketika sang > > > bocah yang diam-diam berbakat main catur (tapi juga suka > > > permainan lain seperti bocah kebanyakan) coba diarahkan sang > > > ayah untuk jadi pecatur yang baik & benar dengan memanggil > > > guru catur yang akademik, > > > > > > http://www.youtube.com/watch?v=gwXzOVu0x-U > > > > > > Tetapi hasil pergulatan mind, body, & soul si bocah memberinya > > > sikap yang jelas, > > > http://www.youtube.com/watch?v=k9pFp6iRVM0 > > > > > > Cantiknya lagi, film ini nggak melupakan reaksi cerdas > > > seorang bocah terhadap 'kegembiraan', > > > http://www.youtube.com/watch?v=sSV2IFNgqI4 > > > > > > thanks buat referensi dan link-nya .. donlod dulu ah. > > aneh, kok aku bisa terliwatkan film ginian yag hehee > > > > http://endyonisius.blogspot.com/2010/07/phenomenon.html > > > > http://www.youtube.com/watch?v=FfyTSjsBSXQ > > > wow, wow, wow, > jangan bilang kelewatan yang ini jugak.. > > http://images.kompas.com/photos/album/82351 sejujurnya .. lewat tuh, faktor eselon membuat pilihanku jadi semakin terbatas. maka itu hanya bisa "kulampiaskan" lewat contoh seperti di atas terutama saat melihat aura foto opung howe dkk. bocoran nih .. waktu awal nerima dvd acoustic ini dan langsung dibuka dgn chit-chat nostalgia yg sudah cukup merinding, kemudian mengalun nada luar biasa sederhana namun berdampak menggetarkan. liriknya berusaha menenteramkan hati anderson ketika saat itu sedang panas melihat kemunafikan dan persaingan di gerejanya. lantas dicampur aroma romantis termasuk brewok anderson berikut sepuhnya howe yg harus duduk, mak'e sempet bingung saat mergokin mataku yg mendadak berasa sembab dibuat kwartet ini hehee cold summer listening .. hot colour melting the anger to stone i still remember the dream there i still remember the time you said goodbye did we really tell lies .. did we really count to one hundred http://www.youtube.com/watch?v=JKw8SqqeCJ0 jangan yg versi "standard" ini yah, udah bosen dan terlampau menguras stamina jaman baheula .. juga gak ada wakeman-nya sih. http://www.youtube.com/watch?v=QyRjRc0Aqfo&feature=fvwrel sementara versi ini, buat warming up atau show off ajah. ujung2nya jadi balik ke cerdasnya "yes" lagi deh ;o) http://www.youtube.com/watch?v=ARMDBo86Jdo ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
