--- "liver_duke" <endyonisius@...> wrote: > > --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > Sedangkan 'pintar', lebih kepada hasil konsentrasi pikiran pada > > masalah yang tersaji tanpa harus melibatkan soul, body, bahkan > > juga mind, karena targetnya cuma memproduksi 'thought'. > > apa mau dikata, parameter kurikulum sekolah umumnya berikut ujian > (di luar tuduhan "projek") masih mengacu kepada standard "pintar".
Itu "kelebihan" dari pendidikan sekolahan, selalu butuh ukuran untuk menilai posisi 'adab' seseorang secara angka. Tinggi- rendahnya nilai dijadikan penanda seberapa beradabnya dia di matpel ini dan berapa di matpel itu. Pendidikan yang mengutamakan rasionalitas begini memang cuma membutuhkan nalaritas. Sehingga orang boleh megar lobang hidungnya bila dapat nilai tinggi, tapi dilarang kuncup, sedih, kecewa, apalagi sakit hati bila nilainya jeblok. Sebab, nilai jeblok itu toh didapat dari pengukuran yang (katanya) sahih. Ada angkanya, ada hitungannya, bahkan lengkap dengan bilangan pembaginya :) Visual. Konkrit. Kasat mata. Obyektif. Logis. Padahal, sistem penilaian yang rasional ini dengan sendirinya mengobrak-abrik pertumbuhan emosional si ternilai yang diizinkan girang tapi dilarang sedih dst. Kemanusiaan si ternilai jadi tidak sempurna karena cuma dibolehkan bergembira (di bawah sorot tajam para killer) tanpa boleh berkenalan dengan rasa sedih, boro-boro lagi digembleng untuk mengatasinya. Iya kalau nilainya merata atau beda-beda tipis di semua matpel, tentu dia bisa megar di semua lubang. Lha kalo nilainya grunjalan naik-turun di sana-sini, mosok nggak boleh sedih sambil girang? Atau, kalau ancur di semua matpel, mosok langsung tentrem dijejelin nasehat: "makanya belajaarrr!!!" Enggaklah. Suka atau enggak, sistem sekolahan yang nguber 'pintar' ini sejak 1950an disadari mengandung resiko melahirkan big-generator alias robot-robot berdaging, manusia-manusia kardus, sampai zombie-zombie. Dan, sejak berjayanya kapitalisme di era '80an, resiko itu sudah berubah jadi konsekuensi. Macam-macam kritik tentang hitamnya pendidikan formal ini sudah dilempar, termasuk oleh lennon, alice cooper, waters dsb. Tapi para cukong memang nggak punya hati yang bisa mereka berikan, sehingga pelajaran kesenian, olahraga, bahkan agama pun dijadikan instrumen untuk mematikan keseimbangan. Tugas ortu / lingkungan keluargalah untuk mengisi kekosongan ini. > > ada yg bilang, musisi indonesia sebetulnya punya aset besar yg > gak kalah dgn internasional, setidaknya "lebih jago" meniru dan > sanggup tampil lebih bagus dari aslinya. bisa jadi benar, ketika > beberapa bakat muda terasa sia2 ketika 100% dapat meniru seluruh > partitur dream theater. baru mati kutu ketika harus memainkan > karya standard yes, karena steve howe sendiri jarang mengulang > partitur yg sama terutama di saat konser hehee Untuk jenis pop modern, lebih luas lagi diatonik, musisi Indonesia masih paling luwes se-Asia. Sangat adaptif. Terbukti beberapa replika memang lebih disiplin ketukan & cengkok, atau sekalian nyeleneh seperti The Cangcuters tea. Norak, tapi emangnya Jagger enggak? Sedangkan untuk genre tradisional / etnik / pentatonik, kecerdasan musisi dari Sabang-Merauke nggak ada duanya di dunia. Bayangin, bikin pantun aja orang butuh kekayaan batin. Apalagi itu pantun dilagukan. Lebih-lebih lagi pantun jenaka - cilakanya di pantura modern jadi banyak penggemar pantun jorok. > > gak heran sejak mou, wenger hingga "ad interim" di matteo gak > malu mengakui sistem parking bus atau ultra defensif 4 - 5 - 1 > untuk menahan alves dan adriano di kiri sbg penyerang bayangan, > hasil yg butuh banyak kekalahan dan waktu panjang menahan aib. > kecerdasan pep baru bisa dipatahkan lewat kecerdasan pula lewat > pengorbanan jangka panjang, dan bisa dipastikan hanya temporary > belaka karena salah satu ciri utama cerdas adalah gak statis. Di lapangan bola, berumput apa enggak, anak-anak Latin & Afrika tergolong pesepakbola cerdas. Sebaliknya, anak-anak Eropa, semakin ke utara cuma semakin pintar. Mereka umumnya melihat sepakbola sebagai masalah yang harus di atasi secara efisien, yaitu dengan mencetak gol sebanyak mungkin. Sedangkan anak-anak Latin & Afrika memandang sepakbola ibarat kanvas yang perlu mereka pulas dengan warna-warni yang efektif :) > > > Nah, salahsatu pelajaran tentang 'cerdas' lewat film catur > > yang berkesan adalah Searching for Bobby Fisher. Banyak > > pergulatan pikiran (dan batin) di sana. Antara lain ketika sang > > bocah yang diam-diam berbakat main catur (tapi juga suka > > permainan lain seperti bocah kebanyakan) coba diarahkan sang > > ayah untuk jadi pecatur yang baik & benar dengan memanggil > > guru catur yang akademik, > > > > http://www.youtube.com/watch?v=gwXzOVu0x-U > > > > Tetapi hasil pergulatan mind, body, & soul si bocah memberinya > > sikap yang jelas, > > http://www.youtube.com/watch?v=k9pFp6iRVM0 > > > > Cantiknya lagi, film ini nggak melupakan reaksi cerdas > > seorang bocah terhadap 'kegembiraan', > > http://www.youtube.com/watch?v=sSV2IFNgqI4 > > > thanks buat referensi dan link-nya .. donlod dulu ah. > aneh, kok aku bisa terliwatkan film ginian yag hehee > > http://endyonisius.blogspot.com/2010/07/phenomenon.html > > http://www.youtube.com/watch?v=FfyTSjsBSXQ wow, wow, wow, jangan bilang kelewatan yang ini jugak.. http://images.kompas.com/photos/album/82351 ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
