--- "liver_duke" <endyonisius@...> wrote: > > --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > Pendidikan yang mengutamakan rasionalitas begini > > memang cuma membutuhkan nalaritas. Sehingga orang > > boleh megar lobang hidungnya bila dapat nilai > > tinggi, tapi dilarang kuncup, sedih, kecewa, > > apalagi sakit hati bila nilainya jeblok. Sebab, > > nilai jeblok itu toh didapat dari pengukuran yang > > (katanya) sahih. Ada angkanya, ada hitungannya, > > bahkan lengkap dengan bilangan pembaginya :) > > Visual. Konkrit. Kasat mata. Obyektif. Logis. > > tadinya paragraf ini mo kubandingkan dgn kisah totto-chan alias > tetsuko kuroyanagi (bukan nama bassist casiopea), termasuk perihal > inspirasi bagaimana me-menej kegagalan atau kesedihan. tapi rasanya > topik ini akan dapat berkembang kompleks saat akan dibawa ke ranah > di luar institusi semacam lembaga pendidikan formal. bahwa sebuah > sistem memang butuh aturan dan standard, protab termasuk spek.
Manggut-manggut paham kalo ada kekhawatiran topik berkembang liar. Betul, resikonya bisa jadi seperti itu, liar bahkan amburadul. Untungnya kita adalah penduduk kampung prol yang gape manfaatin topik-topik liar untuk miara nalar, hehe.. Tapi gini, ukuran, standar, protap, dan segala tetek- bengek koordinat itu tetep perlu. Sangat perlu, pun di luar pendidikan formal bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ya, perlu, untuk menuntun pikiran berjalan runut, langkah demi langkah, tertib, urut, sebelum seluruh langkah itu terangkai jadi satu "perjalanan". Awalnya pastilah tertatih-tatih. Ibarat bocah belajar lurusin kaki dengan jurus ap-chagi, sambil menyiapkan aremagi sebagai serum untuk menepis tendangan lawan. Setelah gerakan sodok-tangkis itu enak & benar, barulah dirangkai menjadi tarian pomsae, agar kelak bisa berdansa kyoruki sebagai bekal kalau-kalau pasangan kita nantangin duwel, dengan atau tanpa seprei, ehe.. Atau yang rada entengan, sebagai bekal kalau-kalau terpaksa adu jotos di bar maupun behind the bars, haha.. Tanpa kedisiplinan berpikir runut, sudah pasti gerakan bakal salah dan tarian jadi asal-asalan. Kalo udah begini biasanya begitu disentak orang bisanya ya cuma nunduk sambil belagak bersihin kuku. Tak ada dansa. Tanpa berpikir urut, sekalipun rajin mengulang alif, ba, ta, tetap saja dia nggak mampu memahami rangkaiannya. Alias, berdansa seorang diri dan mewek sekenceng-kencengnya begitu digampar orang di dasar laut sana :) Pendeknya, sesuatu yang 'besar' pasti tersusun dari detil yang rinci, akurat, dan kadang njelimet. Numpak Audi seri apa pun nggak bakal asoy kalau ulir sekrup-sekrupnya slek semua. > > maka ketika sebuah sistem sedang dipertanyakan bahkan digugat, > dapat berpotensi "kelowongan" bahkan chaos, sesuatu yg paradoks > terkadang gak mendidik dan butuh kompensasi njelimet + mahal. > walau bakal jadi "lahan asik" tersendiri bagi .. sorry to say, > semacam opportunities atau makelar atas nama "pejuang" hehee "Pejuang" itu urusan orang-orang yang ngasih julukan/gelar, bukan urusan si oportunis yang minta dikata-katain "pejuang". Dalam dunia arsitektur misalnya, seorang arsitek bekerja bukan "karena orang lain" dan "untuk dirinya", melainkan karena dia punya mata untuk melihat; punya kuping untuk mendengar; dan punya pikiran untuk membaca / memahami, sehingga sistem yang dia rancang & bangun akan menghindari kelowongan yang berpotensi chaos. Kedisiplinan sang arsitek melatih unsur-unsur berpikir itu menjadikan buah karyanya berguna untuk orang lain. Minimal inspiratif. Kalau sistem pendidikan melahirkan banyak oportunis, maka jelas arsiteknya bekerja "karena orang lain" atau "untuk dirinya". Bukan karena dirinya melihat, mendengar, dan berpikir tentang kemajuan. (mulai njelimet & chaos?) > > entah kenapa mata pelajaran tak terukur semakin digerus, semacam > menulis halus, ensamble seni, sport .. hanya nilai pelengkap. Itu karena tuntutan pendidikan yang sok rasional, obyektif, dan logis. Sistemnya betul-betul menutup peran emosional sebagai penyeimbang. Hasilnya, koruptor yang terbukti secara obyektif & logis hanya menerima (tidak menodong), cuma dihukum sebagai 'penerima'. Sebaliknya, nenek renta yang memungut 3 butir kakao dari tanah diperlakukan dan dihukum laksana maling hanya karena secara obyektif & logis dia terbukti mengambil yang bukan miliknya. Rasa keadilan telah diobrak-abrik lewat pendidikan. > > korban tuntutan kurikulum, atau kewajiban buku paket? Korban pemahaman yang salah (bukan keliru) tentang kurikulum dan pendidikan. Mungkin 1-2 generasi ke depan baru muncul angkatan yang menyadari perlunya mempelajari lagi pemikiran- pemikiran founding fathers & mothers. Terutama Ki Hadjar Dewantara (bukan Hadjar yang ntu) bahwa yang dibutuhkan bangsa ini bukan pakaian bermerk kondang jahitan London, Paris, NY, tapi pakaian yang enak disandang & cocok di badan. Bukan soal keren-kerenan atau trend-trend-an, tapi soal nyaman nggak kita dengan sistem yang kita pakai. > > beberapa mantan guruku saat pertemuan reuni atau ada beberapa yg > kebetulan sering ketemu di lapangan badminton (ini kisah beberapa > tahun lalu), hanya bisa menarik nafas dan mengalihkan topik saat > pembicaraan mulai spesifik mengarah ke sini .. serasa zombie ;o) Ya gimana... mereka bak perawan di sarang penyamun. Tak berdaya - tapi guru ilmu hayat gua beneran perawan cantik penculik pangeran, daya tariknya kuenceng rek! huaha! > > tuh kan, muncul zombie hehee .. > guru zombie kencing berdiri, murid zombie kencing berlari > yg penting dapat point dan koin .. status fungsional tea Guru zombie kencing berdiri, guru cantik cekikikan terkencing-kencing. Murid bengal.. ngencingin guru zombie. > > hmm .. tugas or-tu dan lingkungan .. sementara mereka sendiripun > sudah dijebak jadi zombie. mulai dari kedua orang tua yg dipaksa > keluar rumah subuh dan baru pulang bareng ke rumah larut malam, > seminggu 5 hari dan sisa hari buat hybernate atau ngurus tanaman. Menyediakan (bukan menyisakan) waktu untuk bocah itu asyik kok. Bukan isepan jempol soal waktu berkualitas; 10-5 menit yang berkualitas lebih baik ketimbang kuantitas berjam-jam. Ajak bocah rebahan bareng atau libatkan dalam acara lihat kebunku, pasti asyik! Kesediaan untuk ini ada di ortu, bukan di anak-anak. Mereka bahkan nggak perlu tau penyusupan ortu ke dalam waktu mereka. Tapi untuk "ruang", ortu nggak boleh nyelinap apalagi ndobrak. Tunggu "ijin masuk" dari mereka. Kasih mereka kesempatan untuk menata "ruang"nya. Ortu cukup kendaliin waktunya. Bakal berasa manfaatnya ketika bocah memasuki periode rebellion atau kudu pisah kota. Misalnya, antara lain, ortu akan merasa ada gunanya ketika bocah menelepon untuk sekedar menyapa. > > toh nyatanya manusia semacam lennon hingga cobain hanya semakin > bagus untuk pajangan sejarah, semakin langka dan susah digapai. > apa berarti manusia sekarang (termasuk para murid) semakin gak > punya waktu selain belajar dan bekerja? lah itu genk motor, cs? Ortu mana yang nggak miris denger bocah lennon menyapa bo-nyoknya lewat "Mother", mother, you had me, but.. father, you left me, but... Sampai-sampai sebagai bocah dia harus berbagi, children, don't do what i have done.. Kalau bocah-bocah di rumah sampe nyapa begini barangkali tergoda juga untuk timbang-timbang cobain-way... :( > > aset dan kearifan ginian emang masih eksist dan bejibun, terutama > pada wilayah urban atau yg jauh dari "pusat standard global", meski > dgn label yg dibuat eksotis (seperti gk yakin) seperti "tradisi". > artinya, nyaris dalam segala aspek seolah dipaksa gk lagi punya > ruang mandiri utk hakekat jati diri termasuk harga dirinya lagi. > apa boleh buat, dunia kudu berputar berikut "genre" globalisasi > dan bang toyib-pun serasa semangkin jarang pulang saja hehee Dengan kebiasaan kasih "ruang", kemandirian bisa tumbuh lebat. Hebatnya masyarakat musik tradisional, mereka sanggup membangun ruangnya sendiri. Liat dombret, tarling, campursari, sampai orkes keliling di sepanjang Pantura. Mereka nggak peduli popularitas nasional apalagi int'nal. Disebut artis kampung pun mereka bangga karena punya dunia yang bisa dihidupinya. Acara-acara di kampung jadi nggak hidup tanpa mereka. > > > > Di lapangan bola, berumput apa enggak, anak-anak Latin & > > Afrika tergolong pesepakbola cerdas. Sebaliknya, anak-anak > > Eropa, semakin ke utara cuma semakin pintar. Mereka > > umumnya melihat sepakbola sebagai masalah yang harus di > > atasi secara efisien, yaitu dengan mencetak gol sebanyak > > mungkin. Sedangkan anak-anak Latin & Afrika memandang > > sepakbola ibarat kanvas yang perlu mereka pulas dengan > > warna-warni yang efektif :) > > > sip, ini pendalaman baru buatku walau secara filosofis gak asing. > setidaknya dapat semakin membedakan pemahaman antara messi dgn > ronaldo walau keduanya kuanggap mewakili passion + goal yg sama. > mungkin "ibarat kanvas" beginilah yg bikin pep memerlukan pause. Poinnya adalah bagaimana kedua tipe memanfaatkan waktu pada ruang yang sama, dan itulah demokratis. Eropa utara, karena cuma 'pintar', coba atasi kendala bermain bola dengan ngulik latihan, latihan, latihan, dan latihan, untuk mencapai tahap 'terbiasa' dengan bola. Sedangkan Asia, Afrika, Latin, adalah golongan masyarakat yang terbiasa hidup dengan kebiasaan, bukan berkat latihan. > > > > wow, wow, wow, > > jangan bilang kelewatan yang ini jugak.. > > > > http://images.kompas.com/photos/album/82351 > > > sejujurnya .. lewat tuh, faktor eselon membuat pilihanku jadi > semakin terbatas. maka itu hanya bisa "kulampiaskan" lewat contoh > seperti di atas terutama saat melihat aura foto opung howe dkk. Terus terang rada anyep. Gregetnya beda dengan heboh pertama awal 2ribuan waktu rencana main di main stadium GBK dan heboh kedua waktu rencana konser di tenis indoor. Entah, mungkin karena pengaruh lokasi yang eksklusif, karena hilangnya wakeman dan terutama anderson, karena udah pada tua, atau kombinasi dari semua itu. Yang pasti howe jadi satu-satunya juruselamat yang bikin yakin ini beneran Yes tea lewat gitarannya di And You And I. > > bocoran nih .. waktu awal nerima dvd acoustic ini dan langsung > dibuka dgn chit-chat nostalgia yg sudah cukup merinding, kemudian > mengalun nada luar biasa sederhana namun berdampak menggetarkan. > liriknya berusaha menenteramkan hati anderson ketika saat itu > sedang panas melihat kemunafikan dan persaingan di gerejanya. > lantas dicampur aroma romantis termasuk brewok anderson berikut > sepuhnya howe yg harus duduk, mak'e sempet bingung saat mergokin > mataku yg mendadak berasa sembab dibuat kwartet ini hehee > > cold summer listening .. > hot colour melting the anger to stone > i still remember the dream there > i still remember the time you said goodbye > did we really tell lies .. > did we really count to one hundred > > http://www.youtube.com/watch?v=JKw8SqqeCJ0 > > jangan yg versi "standard" ini yah, udah bosen dan terlampau > menguras stamina jaman baheula .. juga gak ada wakeman-nya sih. > > http://www.youtube.com/watch?v=QyRjRc0Aqfo&feature=fvwrel > > sementara versi ini, buat warming up atau show off ajah. > ujung2nya jadi balik ke cerdasnya "yes" lagi deh ;o) > > http://www.youtube.com/watch?v=ARMDBo86Jdo Yeah, emak-emak emang suka gitu, bingung kalo liat pujaan hatinya lagi deket sama hal-hal distance, apalagi yang long, hehe.. Buat anderson (dalam wwcrnya), mereka (Yes) memang tell lies about friendship & brotherhood. Maunya nggak percaya karena dia masih terestrial, bukan / belum celestial travellers macam bonzo.... Jadi ya silakan deh, anderson & wakeman terusin ini, "i will be there," said my friend of a distant life disambung yang ini, http://www.youtube.com/watch?v=m1I4Q6Px_78 - panjang juga posting kali ini yak? ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
