Yang patut dihargai dari Mega adalah kepatuhannya pada konsensus melebihi kepercayaannya kepada 50% + 1. Ini dibuktikan ketika dia bersedia menjadi wapres walau partainya adalah pemenang pemilu (1999).
Tapi dia juga bisa sangat keras untuk mempertahankan prinsip. Ini terbukti ketika dia bersama ketum PKB berjuang habis-habisan mempertahankan Mukadimah saat amandemen. Sulit dibayangkan apa jadinya Indonesia kalau Mukadimah sampai ikut diobrak-abrik. Lalu, di era dialah peran politik perempuan dibangun secara formal konstitusional. Sekalipun terpaksa dimulai dengan "mensyaratkan" kuota 30%. Soal neng eh oneng, memang terasa agak dipaksakan. Cukup mengkhawatirkan kalau nanti menang. Bisa-bisa disetir teten yang punya misi lain. Tradisi penumpang gelap seperti ini adalah PR rakyat untuk menghentikannya. Tapi, untuk kepentingan ibukota (dengan jokowinya), kemenangan oneng tentu sangat berarti. ps. "JT" di posting sebelah itu "jokotingkir" bukan? --- "suryana" <gsuryana@...> wrote: > Mbak Mega itu pada dasarnya bukan politikus, sekali waktu aku dan > teman² ku ( 3 orang ) ngobrol dengan Wiranto ketika belum membuat > Hanura ( di DPP Hanura aku diberi jabatan Ketua bidang Budaya dan > Spiritual, jelas aku bilang Spiritual tidak cocok ada di struktur > partai, akhirnya ditiadakan ), > Wiranto sedikit cerita mengenai Mbak Mega, termasuk kecewa lah > ketika menerima tamu negara malah ngobrolnya bukan masalah negara. > > Dan aku mendengarnya tidak heran, karena bila aku di posisi Mbak > Mega pun akan melakukan hal yg sama, lha banyak mentri yg lebih > mampu ngapain ngobrol yg sebenarnya jatah mentri ?. > > Sampai saat ini di luar Indonesia, posisi Mbak Mega masih > diperhitungkan, bukan sebagai Ketum maupun putri BK, melainkan > sebagai sosok yg bisa menggerakan kader dibawah setiap saat, > berbeda dengan yg lainnya, semisal PKS ( bisa dibilang partai kader > ), maka bobot dan jumlah massa jauh banget. > > Dan sampai saat ini bila situasi kawasan Korea memanas maka Mbak > Mega yg pasti datang, dan dalam hal ini memang dikarenakan sosok > putri BK yg mampu menjembatani komunikasi 2 Korea dan 1 RRC. > > Demikian juga dengan negara negara di Amerika Latin, sosok Mega > masih di tokoh kan, dan sering di undang, termasuk ketika > pelantikan Obama pun orang pertama yg di undang dari Indonesia > adalah Mbak Mega. > > Semua pimpinan negara negara lain menghargai Mbak Mega karena mampu > mengelola partai wong cilik dengan tingkat kekerasan yg sangat > minim, berbeda jauh dibandingkan dengan ketum partainya orang lain. > Sayangnya situasi dan posisi demikian malah menyuburkan kader > penjilat, sedang kader asli lebih memilih diluar struktur. > > Bila BK adalah politikus, negarawan, teknokrat dan orator, maka > Mbak Mega hanya negarawan dan orator ( biarpun bila pidato masih > enak Guruh yg bicara ). > > Image Mbak Mega yg " membuat " kecewa memang tidak sedikit, karena > selama ini istilah negarawan masih bersatu dengan politikus, bila > sudah mampu memisahkan status negarawan dan politikus maka akan > lebih mudah mencerna apa maunya Mbak Mega, dan itu sebabnya wong > cilik rela berhujan dan berpanas hanya sekedar menunggu Mbak Mega > pidato, pidato dengan bahasa sederhana. > > > ----- Original Message ----- > From: "ajeg" <ajegilelu@...> > > > Setuju, rustri makhluk yang terlalu halus untuk > > perpolitikan Indonesia. Tetapi masyarakat di pedesaan > > memang butuh sentuhan-sentuhan halus seperti itu. > > Maksudnya, sentuhan yang bebas dari politiking. Mustinya > > dia nggak perlu malu untuk kembali ke kabupaten. Kecuali > > dia sudah paham trik-trik politik(ing). > > > > Setuju juga, garin harusnya "berpolitik" lewat jalurnya > > sendiri. Sama seperti pak kumis yang mulai pikir-pikir > > untuk "memprovoke" lewat jalur lain. > > > > Inilah yang paling aneh dari reformasi dalam konteks > > parpol, kalau tidak bisa dibilang kemunduran. Mereka tidak > > serius melahirkan pemimpin dari kadernya sendiri. Artinya, > > pengkaderan di dalam partai, semua partai, memang terbengkalai. > > > > Lalu, reformasi justru menyuburkan feodalisme partai. > > Ketika harus mencalonkan RI-1 semua partai pasti > > mencalonkan ketumnya. Malah Partai Golkar yang sejak > > belum jadi partai di masa Orba (masih 'golongan') yang > > tidak pernah mencalonkan ketumnya sampai dengan pilpres 2004. > > Baru untuk 2014 mereka kepingin mencalonkan ketumnya. > > > > Akibatnya, terjadilah "kecelakaan sejarah" yaitu munculnya > > ketum PDIP sebagai Presiden RI (ini sekalian menanggapi > > kekecewaan arra thd itawagem). Andai saja dia yang saat itu > > sedang berkibar sebagai korban penzaliman Orba (kasus Medan, > > Sukolilo, Kemang, Kudatuli dll) tetap memosisikan diri > > sebagai negarawati, ibu bangsa, tentu pamornya tidak > > seburuk seperti sekarang, seperti yang dikhawatirkan Guntur > > dan PNI mania. > > > > Siapa yang tidak mendengarkan suara ega saat itu (yang > > masih pendiam), baik sebagai perempuan yang dizalimi maupun > > sebagai anak Soekarno. Nyaris nggak ada yang nggak pasang > > kuping setiapkali dia bicara. Kawan maupun lawan. > > > > Tapi begitu dia (akhirnya) masuk lingkar kekuasaan dengan > > masih membawa gaya bicara yang terlalu polos, tidak taktis, > > untuk ukuran politik level nasional, habislah segalanya. > > Apalagi, faktanya, di Indonesia ada begitu banyak perempuan > > yang tidak seperti itu caranya menanggapi persoalan. > > > > Jelas dia masih terlalu demam panggung, seperti diakuinya > > sendiri suatu sore di teras kolam renang rumahnya walau > > cepat-cepat dibungkus handuk: "ya bolehlah.. masak boleh dong.. > > namanya juga manusia." Bisa becanda juga dia sebetulnya. > > > > Buat arra, waktu pidato di Aceh itu rasanya dia belum presiden, > > tapi memang sudah pejabat negara (wapres). > > > > > > --- "suryana" <gsuryana@> wrote: > > > > > Iya Rusti akan maju di Pilgub tanpa bendera PDI-Perjuangan. > > > Entah calon dari PDI-Perjuangan siapa, sepertinya Ganjar Pranowo > > > lagi serius akan maju bila mendapat dukungan partai. > > > Yg pasti Bibit Waluyo yg maju dengan bendera PDI-Perjuangan > > > pindah gawang ke partai lain dan selama menjabat jadi Gubernur > > > belum kelihatan hasil yg jelas berguna utk masyarakat Jateng. > > > Garin bila melihat peta politik Jateng sewajarnya tidak maju > > > dengan Rusti, karena Jateng kandang merah. > > > Rusti bila keluar dari partai maka perolehan suara bisa menurun. > > > Hanya Rusti terlalu yakin bahwa pilgub lalu hasil kerja Rusti, > > > lupa bahwa peranan kader dibawah sangat menentukan utk wilayah > > > Jateng, berbeda dengan Jakarta yg memang tidak ada wilayah a, > > > b, c, adalah daerah partai tertentu, maklum masyarakatnya sudah > > > tidak mau di setir partai. > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
