La si Kebenaran kok langsung nyaplok beolnya Mus Mus,coba baca ini dulu,yg th 
1953 itu terjadinya Republik Mesir hasil gamal Abd.nasser ngecup,sebelum itu 
sudah Mesir negara merdeka .

Peranan Liga Arab dalam Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Liga Arab adalah badan perwakilan dari tujuh negara-negara Arab, yaitu: Mesir, 
Irak, Syiria, Libanon, Saudi Arabia, Transyordania, dan Yaman. Sebelumnya 
bernama "Kongres Pan Arab". Liga Arab dipimpin oleh seorang Direktorat Jenderal 
yang dibantu oleh seorang Sekretaris Jenderal. Dewan Liga Arab terdiri dari 
Departemen Politik, Ekonomi, dan Sosial. Setiap Departemen mempunyai panitia 
yang terdiri dari wakil-wakil ketujuh negara tersebut. Panitia-panitia itu 
berkewajiban mempelajari masalah-masalah dunia Arab dan menyiapkan usul-usul 
yang kemudian dibicarakan dalam Dewan Liga Arab. Setiap keputusan yang diambil 
oleh Dewan Liga Arab itu bersifat mengikat semua negara anggota.[6]

Hubungan Indonesia (lebih tepat dikatakan pemuda/mahasiswa Indonesia) dengan 
Liga Arab telah dimulai semenjak masih bernama "Kongres Pan Arab" ketika Ismail 
Banda dan Mohammad Zein Hassan diutus pada tanggal 6 September 1944 dengan 
membawa dan menyampaikan tuntutan sebagai berikut:

   1. Pengakuan atas kemerdekaan Indonesia
   2. Jaminan kesatuan Indonesia seperti sebelum pendudukan asing dengan tidak 
dibagi-bagi
   3. Ikut serta Indonesia dalam menentukan soal-soal perdamaian sesudah 
perang.[7]

Bila berbicara tentang simpati negara-negara Arab memang tidak dapat dilepaskan 
dari peran para pemuda Indonesia yang ada di Timur Tengah. Mereka adalah 
orang-orang yang terus mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia sehingga 
perjuangan bangsa ini untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dapat terdengar 
kabarnya di sana (karena situasi zaman saat itu yang sistem informasinya tidak 
seperti sekarang. Pemuda-pemuda Indonesia yang berada di sana juga sudah mulai 
mendapat kesempatan untuk berhubungan secara langsung dengan para pemimpin 
negara yang tergabung dalam Liga Arab. Hal ini tentu saja amat menguntungkan 
Indonesia karena akses diplomasi tidak lagi melalui perantara yang bisa jadi 
kontraproduktif  terhadap perjuangan.

Sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Liga 
Arab sudah berdiri dan bermarkas di Kairo, Mesir. Sekretaris Jenderal Liga Arab 
saat itu adalah Abdul Rahman Azzam Pasya. Di kota-kota pusat perlawanan di 
bawah tanah (seperti Kairo, Mekkah, dan Baghdad) telah berdiri panitia-panitia 
pembela kemerdekaan Indonsia. Bahkan di Mesir, panitia khusus tersebut 
didirikan oleh pemimpin-pemimpin Mesir dan Arab yang berada di Kairo. Panitia 
khusus itu dinamakan "Panitia Pembela Indonesia" yang diketuai oleh Jenderal 
Saleh Harb Pasya. Selain itu, hal penting yang juga harus dicatat adalah 
dukungan kepada Indonesia secara resmi untuk pertama kalinya dari Liga Arab 
dalam sidangnya pada tanggal 8 April 1946 yang dengan suara bulat menghasilkan 
keputusan sebagai berikut:

Majelis Liga Arab telah memutuskan menyatakan simpatinya terhadap perjuangan 
rakyat Indonesia dan dukungannya pada tuntutan-tuntutan nasionalnya. Majelis 
telah menugaskan kepada Sekretaris Jenderalnya supaya menyampaikan putusan 
tersebut kepada pemerintah Indonesia.[8]

Sejak saat itu, gerakan bangsa Arab dan negara-negara timur tengah dalam 
mendukung kemerdekaan Indonesia semakin meluas. Hal itu juga dibuktikan dengan 
kebijakan negara-negara Arab secara langsung. Ditambah lagi dengan rencana 
pertemuan Dewan Menteri Luar Negeri Liga Arab pada tanggal 31 Oktober yang 
secara khusus akan membicarakan soal pengakuan terhadap RI. Melihat 
perkembangan tersebut, Belanda dan Sekutu melakukan berbagai langkah untuk 
menghalangi upaya tersebut. Langkah yang mereka tempuh antara lain adalah:[9] 
menempatkan Salim Alatas (seorang Arab-Indonesia) sebagai Atase pada kedutaan 
Belanda di Kairo yang bertugas untuk menyebarkan tuduhan bahwa RI anti-Arab dan 
anti-Islam. ; mengirim misi diplomatik ke Timur tengah yang dipimpin oleh 
Sultan Hamid Al Kadiri; mengirim misi haji ke Mekah dengan singgah di 
negara-negara Arab; melakukan propaganda dengan menyebarluaskan berita tentang 
persetujuan RI di bawah Ratu dan mengulang berita itu setiap hari.

Akhirnya, sidang Menteri-menteri Luar Negeri Liga Arab pada tanggal 18 
Nopember1946 menghasilkan sebuah keputusan yang amat penting yakni 
mengamanatkan kepada negara-negara Arab anggotanya agar mengakui Republik 
Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Keputusan itu secara 
implicit merupakan pengakuan langsung negara-negara anggota Liga Arab. Maka 
dengan surat No. 3128 tanggal 4 Muharram 1366 yang bertepatan dengan 28 
Nopember 1946, Sekjen Liga Arab menyampaikan keputusan itu kepada Pemerintah RI 
yang pada sat yang sama juga disampaikan kepada Kedutaan Belanda di Kairo.[10] 
Sekjen Liga Arab langsung ditugaskan untuk mengirimkan surat itu secara 
langsung kepada Pemerintah RI. Akan tetapi, melihat kondisi dan situasi yang 
ada, Sekjen Liga Arab meminta bantuan kepada Konsul Jenderal Mesir di Bombay, 
Muhammad Abdul Mun'im untuk melakukan misi rahasia menyampaikan secara langsung 
surat keputusan tersebut. Akhirnya, Abdul Mun'im tiba di Yogyakarta pada 
tanggal 13 Maret 1947 dengan membawa surat tersebut.[11] Surat itu langsung 
diberikanya kepada Pemerintah Indonesia. Kejadian tersebut memiliki arti yang 
sangat penting bagi pengakuan kedaulatan Indonesia. Setelah diterimanya surat 
tersebut, Indonesia melakukan berbagai misi diplomatik secara resmi di Timur 
Tengah, khususnya negara-negara Liga Arab.

BAB V

Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir tahun 1947:

Tonggak bersejarah Diplomasi RI

Setelah diterimanya surat keputusan Liga Arab tersebut, Indonesia melakukan 
misi diplomatik ke negara-negara anggota Liga Arab untuk menindaklanjuti proses 
yang ada. Misi diplomatik tersebut dipimpin oleh Menteri Muda Luar Negeri H. 
Agus Salim yang sampai di Mesir pada tanggal 19 April 1947 beserta utusan 
lainnya yaitu Abdulrahman Basewedan (Menteri Muda Penerangan), Mr. Nazir 
Pamuncak (Pegawai Tinggi Kementrian Luar Negeri), dan H. Muhammad Rasyidi 
(Sekjen Kementrian Agama). Sebelumnya, Mayor Jenderal Abdulkadi (Perwira Tinggi 
Kementrian Pertahanan) telah sampai terlebih dahulu pada tanggal 5 April 1947. 
[12] Misi diplomatik delegasi RI ke Mesir melakukan bergabai kunjungan 
kehormatan. Kunjungan kehormatan pertama kali adalah dengan mendatangi Sekjen 
Liga Arab Abdulrahman Azzam Pasya. Selain itu, delegasi Indonesia bertemu 
dengan bebagai tokoh yang mendukung kemerdekaan dan pengakuan kedaulatan RI. 
Berbagai perundingan diplomatik terus dilakukan oleh delegasi Indonesia. 
Pengakuan secara de facto dan de jure oleh negara-negara Arab belum cukup bai 
Indonesia. Indonesia membutuhkan langkah lebih maju dengan melakukan perjanjian 
persahabatn atau hubungan diplomatik secara resmi dengan berbagai negara. Hal 
itulah yang diupayakan oleh delegasi Indonesia. Maka pada tanggal 10 Juni 1947 
disepakati Perjanjian Persahabatan antara Indonesia dengan Mesir yang 
ditandatangani oleh H. Agus Salim (Menteri Muda Luar Nugeri RI) dan Mahmud 
Fahmi Nokrasyi (Perdana Menteri Mesir sekaligus merangkap Menteri Luar Negeri). 
Perjanijian Persahabatan ini amat berarti karena menjadikan Mesir sebagai 
negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto dan de jure 
sekaligus negara pertama yang mengadakan Perjanijian Persahabatan, Persetujuan 
Hubungan Diplomatik dan Konsuler dan Perdagangan, serta negara pertama tempat 
perwakilan RI dibuka.

Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir merupakan batu loncatan RI dalam upaya 
pengakuan kedaulatan. Setelah mengadakan perjanjian tersebut, delegasi 
Indonesia terus melakukan misi diplomatiknya ke negara-negara Arab lainnya. 
Negara-negara yang dihubungi secara resmi dalam upaya hubungan diplomatik oleh 
delegasi Indonesia antara lain adalah Suriah, Transyordania, Irak, Libanon, 
Saudi Arabia, Yaman, dan Afghanistan. Negara-negara yang mengakui secara resmi 
kemerdekaan dan kedaulatan RI antara lain yaitu Suriah (bahkan menandatangani 
Perjanjian Persahabatan), Irak, Libanon, Saudi Arabia, Yaman, dan 
Afghanistan.[13] Tidak semua negara-negara anggota Liga Arab itu melakukan 
perjanjian persahabatan bahkan untuk sekedar mengakui secara resmi kemerdekaan 
dan kedaulatan RI karena mereka setiap negara juga masih berkutat pada 
permasalahannya masing-masing. Akan tetapi, berbagai dukungan, pengakuan, 
perjanjian persahabatan, bahkan membuka perwakilan resmi negar menjadikan hal 
yang amat berarti bagi Indonesia yang mengharapkan dukungan resmi negara lain 
bagi kemerdekaan dan kedaulatan.

Shalom,
Tawangalun.
Jadi Islam Arab lebih cepet ngakoni kemerdekaan RI dari pada negara penjunjung 
HAM Eropah,ini fakta bahwa Islam itu apik.

--- In [email protected], "sikebenaran" <sikebena...@...> wrote:
>
> 
> Ketauan Tawang goblok :)
> 
> Cerita tentang Mesir yg ngakui Indonesia itu hanya dongengan Masyumi :)
> 
> Libanon sendiri tidak bisa dikatakan negara Muhammedan, Presiden di Libanon 
> harus Kristen :)
> 
> Sejarah Libanon menyatakan tegas bahwa Muhammedan Arab adalah pendatang jadi 
> hanya orang asli Libanon yg Kristen yg dapat jadi Presiden :)
> 
> 
> --- In [email protected], "sunny" <ambon@> wrote:
> >
> > Tawang,
> > 
> > Jangan mengulangi kebohongan dengan ceirta kosul di Mesir. 
> > 
> > Wass
> > 
> > 
> > 
> >   ----- Original Message ----- 
> >   From: Tawangalun 
> >   To: [email protected] 
> >   Sent: Tuesday, December 07, 2010 9:50 PM
> >   Subject: [proletar] Re: Sultan Jogya Yang Pertama Mengakui Republik 
> > Indonesia !!!
> > 
> > 
> >     
> >   Tentunya yg amat diperlukan itu pengakuan dari negara lain ,la ternyata 
> > RI itu kepotangan budi dg Mesir Islam ,dialah negara pertama yg ngakoni 
> > RI,disusul Lebanon yo muslim lagi.Negara2 penjunjung HAM malah telat.Jadi 
> > Islam itu apik.
> > 
> >   Shalom,
> >   Tawangalun.
> > 
> >   --- In [email protected], "muskitawati" <muskitawati@> wrote:
> >   >
> >   > Sultan Jogya Yang Pertama Mengakui Republik Indonesia !!!
> >   > 
> >   > Jogya itu kerajaan tertua di Indonesia, lebih tua dari umur republik 
> > ini. Jadi kerajaan Jogya bukanlah dibentuk diciptakan oleh pemerintah 
> > Indonesia, justru sebaliknya, pemerintah Indonesia ini dibentuk dan 
> > didukung oleh sultan Jogya melalui berbagai perundingan2 Internasional 
> > sehingga mendapatkan pengakuan Internasional.
> >   > 
> >   > Bukan pemerintah Mesir yang pertama memberikan pengakuannya kepada 
> > kemerdekaan Indonesia, melainkan Kerajaan Jogya dibawah sri baginda rajanya.
> >   > 
> >   > Dizaman Penjajahan, negeri Belanda menjadikan Indonesia sebagai negara 
> > bagian dari kerajaannya, sementara Belanda memperlakukan kerajaan Jogya 
> > sebagai aliansi kerajaan Belanda, diwaktu itu belum ada yang namanya 
> > Republik Indonesia. Tanpa adanya kerajaan Jogya, tidak akan pernah lahir 
> > yang namanya Republik Indonesia.
> >   > 
> >   > > Holy Uncle <holyuncle@> wrote:
> >   > > ***Rakyat miskin ? Maksudnya rakyat
> >   > > tidak semiskin sekarang di era
> >   > > sebelum pemerintahan SBY ? 
> >   > 
> >   > Maksudnya dulu itu semua bisa korupsi bukan cuma pejabat tinggi yang 
> > duduk diatas saja, tapi gembel dan warteg juga bisa korupsi menyogok 
> > petugas pemda untuk membuka usaha yang ilegal.
> >   > 
> >   > Tapi sekarang cuma yang diatas yang boleh korupsi, yang dibawah malah 
> > dicekik dengan legalisasi pajak warteg sementara tetap wajib menyogok 
> > petugas pemda-nya.
> >   > 
> >   > > ***Yang selalu mengaku pembela
> >   > > demokrasi, kenapa isu Pemilihan
> >   > > Gubernur/ Wagub DIY dijadikan
> >   > > topik melecehkan SBY, presiden
> >   > > RI pilihan rakyat ?
> >   > 
> >   > Sebenarnya bukan SBY yang dilecehkan melainkan SBY yang melecehkan sri 
> > Sultan Jogya sebagai pemilik tunggal tanahnya mau dirampas hak2nya melalui 
> > sandiwara pemilu Gubernur/Wagub.
> >   > 
> >   > Coba anda bayangin kalo anda yang jadi pemilik tanah yang luas, 
> > kemudian hak kepemilikan anda dirampas melalui pemilihan gembel2 
> > disekitarnya untuk menggantikan jadi pemilik tanah yang milik anda itu.
> >   > 
> >   > Sebetulnya, Jogya itu dinamakan daerah istimewa, bukan dinamakan 
> > propinsi. Hanya dalam perhitungan budget apbn saja Jogya disamakan dengan 
> > propinsi. Jogya itu adalah kesultanan yang sudah berdiri jauh sebelum 
> > lahirnya RI !!! Sebagai sultan, raja Jogya berhak mengangkat dan 
> > memberhentikan Gubernur, karena fungsi gubernur hanyalah fungsi 
> > adminstratif yang terkait dengan pemerintah pusatnya. Sebaliknya sebagai 
> > Sultan, maka Jogya itu adalah daerah istimewa yang berada dibawah kekuasaan 
> > administratif kepala daerahnya yaitu sri baginda sendiri.
> >   > 
> >   > Secara internal, Jogya adalah kesultanan bukan propinsi, tapi secara 
> > external dianggap propinsi yang diistimewakan otonominya sama seperti 
> > negara bagian seperti kekuasaan raja2 di Malaysia.
> >   > 
> >   > Raja itu adalah tuan tanah, dan hak pemilikan tanah itu dilindungi UU 
> > negara, jadi salah kalo menguasai tanah milik raja untuk dikuasakan kepada 
> > pejabat yang bukan pilihan Raja tapi dikuasakan kepada rakyat penyewanya 
> > yang dipilih atas biaya Jakarta.
> >   > 
> >   > Ny. Muslim binti Muskitawati.
> >   >
> > 
> > 
> > 
> >   
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke