Tawang, Terus terang! Taik kucing dengan peranan liga Arab dalam kemerdekaan Indonesia. Kibulan belaka!
Hal yang paling sederhan sekali ialah kalau mereka itu begitu mengerti dan mebela kemerdkeaan Indonesia, maka tentu sekali tidak melakukan pekerja Indonesia sebagai budak. Kamu angkat pembelaan Arab, karena sekarang banyak kritik terhadap kebudayaan Arab seperti apa yang dialami oleh TKW kita. kamu disumbat petro dollar boleh saja, tetapi jangan menjadi pembela penipuan dan penindasan. Wassa ----- Original Message ----- From: Tawangalun To: [email protected] Sent: Wednesday, December 08, 2010 12:58 PM Subject: [proletar] Re: Sultan Jogya Yang Pertama Mengakui Republik Indonesia !!! La si Kebenaran kok langsung nyaplok beolnya Mus Mus,coba baca ini dulu,yg th 1953 itu terjadinya Republik Mesir hasil gamal Abd.nasser ngecup,sebelum itu sudah Mesir negara merdeka . Peranan Liga Arab dalam Pengakuan Kedaulatan Indonesia Liga Arab adalah badan perwakilan dari tujuh negara-negara Arab, yaitu: Mesir, Irak, Syiria, Libanon, Saudi Arabia, Transyordania, dan Yaman. Sebelumnya bernama "Kongres Pan Arab". Liga Arab dipimpin oleh seorang Direktorat Jenderal yang dibantu oleh seorang Sekretaris Jenderal. Dewan Liga Arab terdiri dari Departemen Politik, Ekonomi, dan Sosial. Setiap Departemen mempunyai panitia yang terdiri dari wakil-wakil ketujuh negara tersebut. Panitia-panitia itu berkewajiban mempelajari masalah-masalah dunia Arab dan menyiapkan usul-usul yang kemudian dibicarakan dalam Dewan Liga Arab. Setiap keputusan yang diambil oleh Dewan Liga Arab itu bersifat mengikat semua negara anggota.[6] Hubungan Indonesia (lebih tepat dikatakan pemuda/mahasiswa Indonesia) dengan Liga Arab telah dimulai semenjak masih bernama "Kongres Pan Arab" ketika Ismail Banda dan Mohammad Zein Hassan diutus pada tanggal 6 September 1944 dengan membawa dan menyampaikan tuntutan sebagai berikut: 1. Pengakuan atas kemerdekaan Indonesia 2. Jaminan kesatuan Indonesia seperti sebelum pendudukan asing dengan tidak dibagi-bagi 3. Ikut serta Indonesia dalam menentukan soal-soal perdamaian sesudah perang.[7] Bila berbicara tentang simpati negara-negara Arab memang tidak dapat dilepaskan dari peran para pemuda Indonesia yang ada di Timur Tengah. Mereka adalah orang-orang yang terus mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia sehingga perjuangan bangsa ini untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dapat terdengar kabarnya di sana (karena situasi zaman saat itu yang sistem informasinya tidak seperti sekarang. Pemuda-pemuda Indonesia yang berada di sana juga sudah mulai mendapat kesempatan untuk berhubungan secara langsung dengan para pemimpin negara yang tergabung dalam Liga Arab. Hal ini tentu saja amat menguntungkan Indonesia karena akses diplomasi tidak lagi melalui perantara yang bisa jadi kontraproduktif terhadap perjuangan. Sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Liga Arab sudah berdiri dan bermarkas di Kairo, Mesir. Sekretaris Jenderal Liga Arab saat itu adalah Abdul Rahman Azzam Pasya. Di kota-kota pusat perlawanan di bawah tanah (seperti Kairo, Mekkah, dan Baghdad) telah berdiri panitia-panitia pembela kemerdekaan Indonsia. Bahkan di Mesir, panitia khusus tersebut didirikan oleh pemimpin-pemimpin Mesir dan Arab yang berada di Kairo. Panitia khusus itu dinamakan "Panitia Pembela Indonesia" yang diketuai oleh Jenderal Saleh Harb Pasya. Selain itu, hal penting yang juga harus dicatat adalah dukungan kepada Indonesia secara resmi untuk pertama kalinya dari Liga Arab dalam sidangnya pada tanggal 8 April 1946 yang dengan suara bulat menghasilkan keputusan sebagai berikut: Majelis Liga Arab telah memutuskan menyatakan simpatinya terhadap perjuangan rakyat Indonesia dan dukungannya pada tuntutan-tuntutan nasionalnya. Majelis telah menugaskan kepada Sekretaris Jenderalnya supaya menyampaikan putusan tersebut kepada pemerintah Indonesia.[8] Sejak saat itu, gerakan bangsa Arab dan negara-negara timur tengah dalam mendukung kemerdekaan Indonesia semakin meluas. Hal itu juga dibuktikan dengan kebijakan negara-negara Arab secara langsung. Ditambah lagi dengan rencana pertemuan Dewan Menteri Luar Negeri Liga Arab pada tanggal 31 Oktober yang secara khusus akan membicarakan soal pengakuan terhadap RI. Melihat perkembangan tersebut, Belanda dan Sekutu melakukan berbagai langkah untuk menghalangi upaya tersebut. Langkah yang mereka tempuh antara lain adalah:[9] menempatkan Salim Alatas (seorang Arab-Indonesia) sebagai Atase pada kedutaan Belanda di Kairo yang bertugas untuk menyebarkan tuduhan bahwa RI anti-Arab dan anti-Islam. ; mengirim misi diplomatik ke Timur tengah yang dipimpin oleh Sultan Hamid Al Kadiri; mengirim misi haji ke Mekah dengan singgah di negara-negara Arab; melakukan propaganda dengan menyebarluaskan berita tentang persetujuan RI di bawah Ratu dan mengulang berita itu setiap hari. Akhirnya, sidang Menteri-menteri Luar Negeri Liga Arab pada tanggal 18 Nopember1946 menghasilkan sebuah keputusan yang amat penting yakni mengamanatkan kepada negara-negara Arab anggotanya agar mengakui Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Keputusan itu secara implicit merupakan pengakuan langsung negara-negara anggota Liga Arab. Maka dengan surat No. 3128 tanggal 4 Muharram 1366 yang bertepatan dengan 28 Nopember 1946, Sekjen Liga Arab menyampaikan keputusan itu kepada Pemerintah RI yang pada sat yang sama juga disampaikan kepada Kedutaan Belanda di Kairo.[10] Sekjen Liga Arab langsung ditugaskan untuk mengirimkan surat itu secara langsung kepada Pemerintah RI. Akan tetapi, melihat kondisi dan situasi yang ada, Sekjen Liga Arab meminta bantuan kepada Konsul Jenderal Mesir di Bombay, Muhammad Abdul Mun'im untuk melakukan misi rahasia menyampaikan secara langsung surat keputusan tersebut. Akhirnya, Abdul Mun'im tiba di Yogyakarta pada tanggal 13 Maret 1947 dengan membawa surat tersebut.[11] Surat itu langsung diberikanya kepada Pemerintah Indonesia. Kejadian tersebut memiliki arti yang sangat penting bagi pengakuan kedaulatan Indonesia. Setelah diterimanya surat tersebut, Indonesia melakukan berbagai misi diplomatik secara resmi di Timur Tengah, khususnya negara-negara Liga Arab. BAB V Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir tahun 1947: Tonggak bersejarah Diplomasi RI Setelah diterimanya surat keputusan Liga Arab tersebut, Indonesia melakukan misi diplomatik ke negara-negara anggota Liga Arab untuk menindaklanjuti proses yang ada. Misi diplomatik tersebut dipimpin oleh Menteri Muda Luar Negeri H. Agus Salim yang sampai di Mesir pada tanggal 19 April 1947 beserta utusan lainnya yaitu Abdulrahman Basewedan (Menteri Muda Penerangan), Mr. Nazir Pamuncak (Pegawai Tinggi Kementrian Luar Negeri), dan H. Muhammad Rasyidi (Sekjen Kementrian Agama). Sebelumnya, Mayor Jenderal Abdulkadi (Perwira Tinggi Kementrian Pertahanan) telah sampai terlebih dahulu pada tanggal 5 April 1947. [12] Misi diplomatik delegasi RI ke Mesir melakukan bergabai kunjungan kehormatan. Kunjungan kehormatan pertama kali adalah dengan mendatangi Sekjen Liga Arab Abdulrahman Azzam Pasya. Selain itu, delegasi Indonesia bertemu dengan bebagai tokoh yang mendukung kemerdekaan dan pengakuan kedaulatan RI. Berbagai perundingan diplomatik terus dilakukan oleh delegasi Indonesia. Pengakuan secara de facto dan de jure oleh negara-negara Arab belum cukup bai Indonesia. Indonesia membutuhkan langkah lebih maju dengan melakukan perjanjian persahabatn atau hubungan diplomatik secara resmi dengan berbagai negara. Hal itulah yang diupayakan oleh delegasi Indonesia. Maka pada tanggal 10 Juni 1947 disepakati Perjanjian Persahabatan antara Indonesia dengan Mesir yang ditandatangani oleh H. Agus Salim (Menteri Muda Luar Nugeri RI) dan Mahmud Fahmi Nokrasyi (Perdana Menteri Mesir sekaligus merangkap Menteri Luar Negeri). Perjanijian Persahabatan ini amat berarti karena menjadikan Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto dan de jure sekaligus negara pertama yang mengadakan Perjanijian Persahabatan, Persetujuan Hubungan Diplomatik dan Konsuler dan Perdagangan, serta negara pertama tempat perwakilan RI dibuka. Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir merupakan batu loncatan RI dalam upaya pengakuan kedaulatan. Setelah mengadakan perjanjian tersebut, delegasi Indonesia terus melakukan misi diplomatiknya ke negara-negara Arab lainnya. Negara-negara yang dihubungi secara resmi dalam upaya hubungan diplomatik oleh delegasi Indonesia antara lain adalah Suriah, Transyordania, Irak, Libanon, Saudi Arabia, Yaman, dan Afghanistan. Negara-negara yang mengakui secara resmi kemerdekaan dan kedaulatan RI antara lain yaitu Suriah (bahkan menandatangani Perjanjian Persahabatan), Irak, Libanon, Saudi Arabia, Yaman, dan Afghanistan.[13] Tidak semua negara-negara anggota Liga Arab itu melakukan perjanjian persahabatan bahkan untuk sekedar mengakui secara resmi kemerdekaan dan kedaulatan RI karena mereka setiap negara juga masih berkutat pada permasalahannya masing-masing. Akan tetapi, berbagai dukungan, pengakuan, perjanjian persahabatan, bahkan membuka perwakilan resmi negar menjadikan hal yang amat berarti bagi Indonesia yang mengharapkan dukungan resmi negara lain bagi kemerdekaan dan kedaulatan. Shalom, Tawangalun. Jadi Islam Arab lebih cepet ngakoni kemerdekaan RI dari pada negara penjunjung HAM Eropah,ini fakta bahwa Islam itu apik. --- In [email protected], "sikebenaran" <sikebena...@...> wrote: > > > Ketauan Tawang goblok :) > > Cerita tentang Mesir yg ngakui Indonesia itu hanya dongengan Masyumi :) > > Libanon sendiri tidak bisa dikatakan negara Muhammedan, Presiden di Libanon harus Kristen :) > > Sejarah Libanon menyatakan tegas bahwa Muhammedan Arab adalah pendatang jadi hanya orang asli Libanon yg Kristen yg dapat jadi Presiden :) > > > --- In [email protected], "sunny" <ambon@> wrote: > > > > Tawang, > > > > Jangan mengulangi kebohongan dengan ceirta kosul di Mesir. > > > > Wass > > > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: Tawangalun > > To: [email protected] > > Sent: Tuesday, December 07, 2010 9:50 PM > > Subject: [proletar] Re: Sultan Jogya Yang Pertama Mengakui Republik Indonesia !!! > > > > > > > > Tentunya yg amat diperlukan itu pengakuan dari negara lain ,la ternyata RI itu kepotangan budi dg Mesir Islam ,dialah negara pertama yg ngakoni RI,disusul Lebanon yo muslim lagi.Negara2 penjunjung HAM malah telat.Jadi Islam itu apik. > > > > Shalom, > > Tawangalun. > > > > --- In [email protected], "muskitawati" <muskitawati@> wrote: > > > > > > Sultan Jogya Yang Pertama Mengakui Republik Indonesia !!! > > > > > > Jogya itu kerajaan tertua di Indonesia, lebih tua dari umur republik ini. Jadi kerajaan Jogya bukanlah dibentuk diciptakan oleh pemerintah Indonesia, justru sebaliknya, pemerintah Indonesia ini dibentuk dan didukung oleh sultan Jogya melalui berbagai perundingan2 Internasional sehingga mendapatkan pengakuan Internasional. > > > > > > Bukan pemerintah Mesir yang pertama memberikan pengakuannya kepada kemerdekaan Indonesia, melainkan Kerajaan Jogya dibawah sri baginda rajanya. > > > > > > Dizaman Penjajahan, negeri Belanda menjadikan Indonesia sebagai negara bagian dari kerajaannya, sementara Belanda memperlakukan kerajaan Jogya sebagai aliansi kerajaan Belanda, diwaktu itu belum ada yang namanya Republik Indonesia. Tanpa adanya kerajaan Jogya, tidak akan pernah lahir yang namanya Republik Indonesia. > > > > > > > Holy Uncle <holyuncle@> wrote: > > > > ***Rakyat miskin ? Maksudnya rakyat > > > > tidak semiskin sekarang di era > > > > sebelum pemerintahan SBY ? > > > > > > Maksudnya dulu itu semua bisa korupsi bukan cuma pejabat tinggi yang duduk diatas saja, tapi gembel dan warteg juga bisa korupsi menyogok petugas pemda untuk membuka usaha yang ilegal. > > > > > > Tapi sekarang cuma yang diatas yang boleh korupsi, yang dibawah malah dicekik dengan legalisasi pajak warteg sementara tetap wajib menyogok petugas pemda-nya. > > > > > > > ***Yang selalu mengaku pembela > > > > demokrasi, kenapa isu Pemilihan > > > > Gubernur/ Wagub DIY dijadikan > > > > topik melecehkan SBY, presiden > > > > RI pilihan rakyat ? > > > > > > Sebenarnya bukan SBY yang dilecehkan melainkan SBY yang melecehkan sri Sultan Jogya sebagai pemilik tunggal tanahnya mau dirampas hak2nya melalui sandiwara pemilu Gubernur/Wagub. > > > > > > Coba anda bayangin kalo anda yang jadi pemilik tanah yang luas, kemudian hak kepemilikan anda dirampas melalui pemilihan gembel2 disekitarnya untuk menggantikan jadi pemilik tanah yang milik anda itu. > > > > > > Sebetulnya, Jogya itu dinamakan daerah istimewa, bukan dinamakan propinsi. Hanya dalam perhitungan budget apbn saja Jogya disamakan dengan propinsi. Jogya itu adalah kesultanan yang sudah berdiri jauh sebelum lahirnya RI !!! Sebagai sultan, raja Jogya berhak mengangkat dan memberhentikan Gubernur, karena fungsi gubernur hanyalah fungsi adminstratif yang terkait dengan pemerintah pusatnya. Sebaliknya sebagai Sultan, maka Jogya itu adalah daerah istimewa yang berada dibawah kekuasaan administratif kepala daerahnya yaitu sri baginda sendiri. > > > > > > Secara internal, Jogya adalah kesultanan bukan propinsi, tapi secara external dianggap propinsi yang diistimewakan otonominya sama seperti negara bagian seperti kekuasaan raja2 di Malaysia. > > > > > > Raja itu adalah tuan tanah, dan hak pemilikan tanah itu dilindungi UU negara, jadi salah kalo menguasai tanah milik raja untuk dikuasakan kepada pejabat yang bukan pilihan Raja tapi dikuasakan kepada rakyat penyewanya yang dipilih atas biaya Jakarta. > > > > > > Ny. Muslim binti Muskitawati. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
