Akhirnya orang-orang Liga Primer Indonesia (LPI) dan pendukungnya mulai bicara, bukan saja tenang & jernih, tapi juga di jalur yang tepat. Nada geram sudah redam. Hujatan yang sampai akhir turnamen AFF masih diarahkan ke PSSI sebagai lembaga sudah tidak terdengar. Kalaupun masih ada, hujatan lebih terarah ke bandit-bandit pembajak PSSI.
Tumbuhnya kesadaran bahwa menghujat PSSI adalah salah sasaran terbilang sangat cepat dan subur di masyarakat. Ini mengharukan, membanggakan, sekaligus membuktikan bahwa masyarakat tidak bodoh. Masyarakat hanya butuh masukan yang bisa mengingatkan niat dan tujuan awal yaitu menyelamatkan persepakbolaan di Indonesia. Bukan mau melumat PSSI sebagai lembaga. Menyenangkannya lagi, pengurus LPI begitu terampil menghadapi ancaman FIFA yang kena hasut oknum-oknum PSSI. Dengan tenang LPI mensyukuri adanya ancaman sanksi dari badan dunia itu dan malah membalik situasinya menjadi pintu masuk untuk bertemu pejabat-pejabat FIFA. Kalau ini terjadi, bukan mustahil meweknya oknum PSSI ke FIFA akan menjadi bumerang bagi Nurdin Halid cs. Hal lain yang perlu dicatat dari masa pra-LPI ini adalah keluarnya pernyataan dari pengurus LPI maupun komentar masyarakat yang amat demokratis. Silakan PSSI menggelar Liga Supernya dan LPI berjalan sendiri dengan kompetisinya. Jangan saling ganggu. Biar masyarakat nanti yang menilai & memilih tontonan mana yang mereka suka - tentu saja boleh tidak suka dua-duanya. Ini berbeda dari sikap oknum PSSI maupun pendukungnya yang mengadu ke polisi supaya melarang LPI, mewek ke FIFA, sampai berunjukrasa di rumah pelopor LPI, Arifin Panigoro. Sikap yang terang-benderang untuk memaksakan kehendak. Sampai titik ini tampak bahwa oknum-oknum PSSI sedang menuai badai. Baik karena ulah otoriternya sendiri maupun oleh kepungan masyarakat serta lembaga-lembaga publik macam KPK, ICW, maupun Panja UU Keterbukaan Informasi di DPR. Sedangkan LPI, terus melaju menanam benih-benih harapan di masyarakat akan kembali hadirnya olahraga bolasepak di Indonesia yang hampir 1/4 abad lamanya menjadi hiburan yang menyedihkan - ibarat acara hiburan musik di televisi tapi lagu-lagunya tentang patah hati melulu. Terwujud atau tidaknya harapan itu sangat bergantung pada dukungan dan peranserta masyarakat. Tak bisa dipungkiri, di tengah menguatnya suara untuk menyelamatkan persepakbolaan nasional lewat LPI memang terselip juga harapan masyarakat agar PSSI sebagai lembaga milik rakyat ikut terselamatkan. Apa pun yang sejauh ini tersaji dalam "drama LPI" yang pasti drama itu memberi gambaran tentang sikap masyarakat terhadap nasib persepakbolaan Indonesia. Tentang cara masyarakat bersikap terhadap Merah-Putih dan lambang Garuda. Bergelora tapi juga sejuk, tertib, kendati Firman Utina dkk gagal meraih Piala AFF 2010. Sebaliknya, justru aparat keamanan pemerintahlah yang menimbulkan suasana genting dengan pengamanan berlebihan hanya karena presiden & rombongan ikut nonton. Prinsip bernegara yang selalu memakai pendekatan keamanan seperti ini sudah harus mulai diobati. Sebab, kalau tidak, bisa muncul kolam-kolam renang untuk menampung air pemadam kebakaran seperti ketakutan yang diderita si Ketua DPR, Marzuki Alie. Lebih penting dari sekedar gambaran, "drama LPI" sebenarnya memberi pelajaran tentang mengelola kesumpekan hidup masyarakat. Persoalannya, maukah orang-orang terpelajar di pemerintahan belajar dari sini. Bahwa rakyat ingin Negara & Bangsa Indonesia selamat tanpa bermaksud menghancurkan pemerintahan Indonesia. Cukup oknum-oknumnya saja yang disepak keluar. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
