APBD yang disedot klub-klub sepakbola profesional memang tidak termaafkan. Sama seperti tidak termaafkannya utang a/n rakyat yang menggelontor ke anak & kroni Soeharto tempohari. Itu sebabnya suasana masyarakat menyambut kelahiran LPI nyaris mirip suasana reformasi '98 yaitu, berkembangnya harapan tentang tata-kelola yang tertib. Masyarakat masih percaya, hanya dengan pengelolaan yang tertib orang bisa menikmati kehidupan yang bersih, lancar, nyaman, sejahtera.
Bedanya, kalau reformasi '98 bangkrut karena orang lengah terhadap tujuan awal, LPI (sejauh ini) sepertinya cukup terbuka untuk menyadari posisinya di tengah situasi masyarakat, luapan kemarahan publik terhadap PSSI bisa terarah hanya kepada oknum-oknum pengurusnya. Ini salahsatu poin penting dari "gebrakan LPI" kalau dibandingkan dengan reformasi '98 (moga-moga LPI nggak keberatan dibilang menggebrak) -- ahli-ahli sosiologi & manajemen barangkali perlu meneliti apa betul manajemen LPI begitu hebat sampai bisa mempengaruhi pemikiran & perasaan publik untuk tidak ngawur atau sebenarnya ini alamiah saja, sekedar fenomena bertemunya sejumlah harapan yang sama dengan kekuatan yang punya kemampuan berdiri di depan sebagai penyambung lidah. Sementara para ahli bekerja, kita nikmati saja pemandangan sedap yang sedang berlangsung. Di sana-sini masyarakat seperti mendapat panggung untuk mempertontonkan kebolehannya sebagai pecinta tata-tertib & gotongroyong yang penuh damai. Yang tulus, dan bukan yang transaksional. Marah, ya marah yang tulus karena terarah untuk kebaikan. Bukan marah yang dibayar lengkap dengan ongkos bikin poster, kaos, & ikat kepala. Beli tiket tanda masuk, ya ikhlas antri berjam-jam dan pulang dengan tertib kalau kehabisan karcis. Bukan saling sikut berebut kursi seperti di pilkada. Pendeknya, ini tontonan singkat yang sangat bernilai. Di sana muncul watak sesungguhnya dari orang Indonesia. Wajah asli bangsa Indonesia yang belakangan sering digugat gelar keramah-tamahannya. Wajah & watak yang harusnya dirawat serta dijaga para pemangku kebijakan publik melalui pendidikan politik. Ironis. Partai-partai yang harusnya bertugas untuk itu (memberi pendidikan politik) malah sibuk memeras rakyat lewat aneka undang-undang & peraturan. Sedangkan sepakbola yang cuma seuntai cabang dari kebudayaan rakyat (olahraga) justru bisa menginspirasi orang banyak untuk menjaga ketertiban & martabat sebagaimana mestinya. Sebuah pelajaran politik yang luarbiasa tentang berdaulatnya rakyat. Tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan masyarakat sendiri! Kalau harus berbentuk perwakilan, jelas LPI itulah perwakilan rakyat. Atau, gumam tetangga in bed sambil sumringah semalam, karena LPI sudah berbentuk PT maka dari kacamata manajemen mutakhir, LPI adalah perusahaan yang melaksanakan CSR bahkan sebelum dia berproduksi. Layak dapat bintang! :) Yang pasti, gelombang hikmat kebijaksanaan masyarakat ini juga bikin KPK & ICW bergairah memeriksa keuangan PSSI yang dalam asuhan Nurdin Halid menghapus pasal laporan keuangan dari AD/ART PSSI. Kita tunggu saja, semoga ini sekaligus menjadi titik bangkitnya keberanian KPK setelah setahun lebih mengkeret dipelototi SBY lantaran menjara sang besan. --- "rezameutia" <rezameu...@...> wrote: > > lpi didukung oleh 4 mantan juara liga, persebaya surabaya, psm > makassar, persema malang, dan juara bertahan liga persibo > bojonegoro. diharapkan lpi bisa membawa sepakbola indonesia lebih > maju karena sesuai dengan prinsip profesionalisme. > > ketergantungan klub kepada apbd sudah harus dihilangkan karena > alokasi budget apbd seharusnya diperuntukkan kesehatan, pendidikan, > pembangunan infrastruktur dan kepentingan umum lainnya. > > nurdin 'si kontet' halid seharusnya melihat prinsip pendiri pssi > soeratin bahwa pssi didirikan untuk mempersatukan anak muda > indonesia, bukannya malahan memecah belah menjadi rival yang > bermusuhan seperti sekarang ini. > > > --- "ajeg" <ajegil...@...> wrote: > > > Akhirnya orang-orang Liga Primer Indonesia (LPI) dan > > pendukungnya mulai bicara, bukan saja tenang & jernih, tapi > > juga di jalur yang tepat. Nada geram sudah redam. Hujatan > > yang sampai akhir turnamen AFF masih diarahkan ke PSSI > > sebagai lembaga sudah tidak terdengar. Kalaupun masih ada, > > hujatan lebih terarah ke bandit-bandit pembajak PSSI. > > > > Tumbuhnya kesadaran bahwa menghujat PSSI adalah salah > > sasaran terbilang sangat cepat dan subur di masyarakat. Ini > > mengharukan, membanggakan, sekaligus membuktikan bahwa > > masyarakat tidak bodoh. Masyarakat hanya butuh masukan yang > > bisa mengingatkan niat dan tujuan awal yaitu menyelamatkan > > persepakbolaan di Indonesia. Bukan mau melumat PSSI sebagai > > lembaga. > > > > Menyenangkannya lagi, pengurus LPI begitu terampil menghadapi > > ancaman FIFA yang kena hasut oknum-oknum PSSI. Dengan tenang > > LPI mensyukuri adanya ancaman sanksi dari badan dunia itu dan > > malah membalik situasinya menjadi pintu masuk untuk bertemu > > pejabat-pejabat FIFA. Kalau ini terjadi, bukan mustahil meweknya > > oknum PSSI ke FIFA akan menjadi bumerang bagi Nurdin Halid cs. > > > > Hal lain yang perlu dicatat dari masa pra-LPI ini adalah > > keluarnya pernyataan dari pengurus LPI maupun komentar > > masyarakat yang amat demokratis. Silakan PSSI menggelar Liga > > Supernya dan LPI berjalan sendiri dengan kompetisinya. Jangan > > saling ganggu. Biar masyarakat nanti yang menilai & memilih > > tontonan mana yang mereka suka - tentu saja boleh tidak suka > > dua-duanya. > > > > Ini berbeda dari sikap oknum PSSI maupun pendukungnya yang > > mengadu ke polisi supaya melarang LPI, mewek ke FIFA, sampai > > berunjukrasa di rumah pelopor LPI, Arifin Panigoro. Sikap > > yang terang-benderang untuk memaksakan kehendak. > > > > Sampai titik ini tampak bahwa oknum-oknum PSSI sedang menuai > > badai. Baik karena ulah otoriternya sendiri maupun oleh > > kepungan masyarakat serta lembaga-lembaga publik macam KPK, > > ICW, maupun Panja UU Keterbukaan Informasi di DPR. Sedangkan > > LPI, terus melaju menanam benih-benih harapan di masyarakat > > akan kembali hadirnya olahraga bolasepak di Indonesia > > yang hampir 1/4 abad lamanya menjadi hiburan yang menyedihkan - > > ibarat acara hiburan musik di televisi tapi lagu-lagunya > > tentang patah hati melulu. > > > > Terwujud atau tidaknya harapan itu sangat bergantung pada > > dukungan dan peranserta masyarakat. Tak bisa dipungkiri, > > di tengah menguatnya suara untuk menyelamatkan persepakbolaan > > nasional lewat LPI memang terselip juga harapan masyarakat > > agar PSSI sebagai lembaga milik rakyat ikut terselamatkan. > > > > Apa pun yang sejauh ini tersaji dalam "drama LPI" yang pasti > > drama itu memberi gambaran tentang sikap masyarakat terhadap > > nasib persepakbolaan Indonesia. Tentang cara masyarakat > > bersikap terhadap Merah-Putih dan lambang Garuda. Bergelora > > tapi juga sejuk, tertib, kendati Firman Utina dkk gagal meraih > > Piala AFF 2010. Sebaliknya, justru aparat keamanan pemerintahlah > > yang menimbulkan suasana genting dengan pengamanan berlebihan > > hanya karena presiden & rombongan ikut nonton. > > > > Prinsip bernegara yang selalu memakai pendekatan keamanan > > seperti ini sudah harus mulai diobati. Sebab, kalau tidak, bisa > > muncul kolam-kolam renang untuk menampung air pemadam kebakaran > > seperti ketakutan yang diderita si Ketua DPR, Marzuki Alie. > > > > Lebih penting dari sekedar gambaran, "drama LPI" sebenarnya > > memberi pelajaran tentang mengelola kesumpekan hidup masyarakat. > > Persoalannya, maukah orang-orang terpelajar di pemerintahan > > belajar dari sini. Bahwa rakyat ingin Negara & Bangsa Indonesia > > selamat tanpa bermaksud menghancurkan pemerintahan Indonesia. > > Cukup oknum-oknumnya saja yang disepak keluar. > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
