KOMPAS.com — Dideklarasikannya Republik Sudan Selatan di Juba, Sabtu 
(9/7/2011), menambah panjang cerita kegagalan negara Arab modern. Berkobarnya 
revolusi Arab saat ini juga ditengarai akibat gagalnya negara Arab modern.

Negara Arab modern yang dimaksud adalah negara yang terbentuk pasca-era 
kolonial di Mesir, Tunisia, Suriah, Irak, Aljazair, Sudan, Maroko, Libya, dan 
Lebanon.

Dulu, bangsa Arab berkorban besar dengan darah dan air mata untuk meraih 
kemerdekaan dari kolonial Barat. Aljazair, contohnya, harus merelakan sejuta 
rakyat negeri itu tewas untuk meraih kemerdekaan dari Perancis.

Mesir terseok-seok untuk mengusir kaum penjajah sepenuhnya dari negeri itu. 
Klimaks dari perjuangan rakyat Mesir adalah Perang Suez tahun 1956 melawan 
Inggris, Perancis, dan Israel. Perang Suez yang merenggut nyawa puluhan ribu 
rakyat Mesir itu berkobar menyusul keputusan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser 
menasionalisasi Terusan Suez dan mengusir Inggris dari terusan tersebut.

Di Libya, seorang perwira muda bernama Moammar Khadafy harus melakukan kudeta 
pada 1 September 1969 untuk mengakhiri sistem monarki yang memberi izin 
bercokolnya pangkalan-pangkalan asing di Libya. Jauh sebelum Khadafy, pemimpin 
perjuangan Libya, Omar Mukhtar, tewas di tiang gantungan lantaran melawan 
penjajahan Italia di negerinya.

Raja Maroko Muhammad V dan pemimpin kemerdekaan Tunisia, Habib Burguiba, harus 
rela dibuang dan hidup di pengasingan selama bertahun-tahun sebagai harga yang 
harus dibayar dalam perjuangan meraih kemerdekaan negeri mereka dari penjajahan 
Perancis.

Pascakemerdekaan, tokoh-tokoh itu, seperti Habib Burguibah, Raja Muhammad V, 
Gamal Abdel Nasser, dan Moammar Khadafy, berjanji menegakkan keadilan dan 
kebebasan di negerinya masing-masing sesuai dengan aspirasi rakyatnya.

Akan tetapi, janji tinggal janji. Bukan keadilan dan kebebasan yang terwujud di 
dunia Arab, melainkan kehidupan tirani dan berbagai bentuk ketimpangan yang 
terjadi.

Para pemimpin Arab itu gagal total dalam membangun kehidupan bernegara dan 
berbangsa sesuai dengan aspirasi rakyatnya ketika berjuang meraih kemerdekaan 
dari kolonial. Rakyat di jazirah Arab yang akhirnya harus memikul penderitaan 
luar biasa akibat para pemimpin mereka mengkhianati janjinya.

Gerakan revolusi Arab yang digalang kaum muda saat ini merupakan puncak dari 
aksi pemberontakan bangsa Arab melawan tirani para pemimpin mereka.

Kasus Sudan tak jauh berbeda dari negara Arab lain. Rakyat Sudan di bagian 
selatan bangkit melawan pemerintah pusat di Khartoum sejak tahun 1955 karena 
mereka merasa diperlakukan tidak adil atau dianggap sebagai warga kelas dua.

Pasca-kemerdekaan dari Inggris tahun 1956 yang berhasil menggabungkan Sudan 
Utara dan Selatan, pemerintah pusat Khartoum, seperti halnya pemerintah Arab 
lain, menjelma menjadi pemerintah diktator. Mereka mengabaikan prinsip 
pluralisme dan tidak mengakui prinsip kewarganegaraan yang menetapkan 
kesetaraan semua warga di hadapan negara.

Rakyat Sudan Selatan mengorbankan jiwa ratusan ribu penduduk mereka yang tewas 
dan luka-luka dalam perjuangan meraih kebebasan dari pemerintah pusat Khartoum 
selama lima dekade.

Cerita negara-negara Barat pun, khususnya AS, di Sudan dan dunia Arab lain tak 
jauh berbeda. Semula Barat bersekongkol dengan para pemimpin diktator Arab 
tersebut. Hal ini disebabkan beberapa faktor, seperti ingin terjaminnya 
keamanan Israel dan aliran minyak Arab ke Barat. Namun, Barat kini 
berbondong-bondong mendukung revolusi Arab.

Dulu, Barat juga sempat bermain mata dengan pemerintah pusat Khartoum, tetapi 
belakangan mendukung kuat pemisahan Sudan Selatan dari Utara.  (Musthafa Abd 
Rahman dari Kairo, Mesir)



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke