> "rezameutia" <rezameutia@...> wrote: > pecundang tolol seperti anda ini > mikirnya cuman jaminan sosial yang > aduhai di negeri belanda. anda > adalah pengangguran sialan yang cuman > menyusahkan negeri belanda seperti > layaknya imigran rms cukimai yang > yang gak pernah kerja dan tentu saja > selalu mengharapkan jaminan sosial > yang aduhai dari negeri belanda.
Dulu semuanya kerajaan tidak ada negara seperti yang kita kenal sekarang ini. Rakyat wajib menjamin kesejahteraan raja dan keluarganya turun temurun baik melalui pajak maupun pungutan2 mendadak diluar pajak dikala raja membutuhkan. Rakyat yang tidak mampu tetap dipaksa membayar pajak baik melalui kerja paksa sebagai budak atau kekayaan berupa tanah dan rumahnya disita. Sekarang sebaliknya, kewajiban negaralah untuk mensejahterakan rakyatnya. Rakyat berkewajiban membayar pajak untuk digunakan negara dalam mensejahterakan rakyatnya. Rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran pajak bahkan mendapat tunjangan negara. Kewajiban negara dalam mensejahterakan rakyatnya antara lain adalah membuka lapangan pekerjaan atau memberi pekerjaan kepada rakyatnya, menjamin orang2 tua dan orang2 cacat, menjamin kehidupan anak2 dibawah 18 tahun dengan bebas naik bus, makanan gratis disekolah, sekolah gratis, pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis dlsb. Jadi baik itu RMS ataupun siapapun yang anda caci maki, kalo memang pengangguran, cacat, senior citizen (orang tua), atau anak2, maka mendapat tunjangan negara bukanlah hal yang salah dan malah merupakan HAK yang wajib dituntut dari negara. Jadi salah kalo anda caci maki, itu artinya anda yang dungu, negara disana lebih tahu apakah seseorang patut mendapat tunjangan atau tidak dan itu bukanlah belas kasihan melainkan hak. > indonesia merupakan negara ekonomi > terbesar di dunia adalah fakta bahwa > jika orang mau bekerja pasti akan > bisa survive. Anda harus kasih definisi dulu apa yang anda maksudkan "ekonomi", karena menurut saya, "ekonomi" adalah kegiatan yang terkait dua hal yaitu "produksi" dan "pemasaran". Populasi penduduk di Indonesia memang nomor 4 didunia, seharusnya memang merupakan "pasar" yang terbesar nomor 4 didunia. Tapi celakanya, tidak demikian kenyataannya, jumlah rakyat yang banyak tapi miskin tidak punya daya beli, dan sama sekali tidak produktif karena penekanan pemerintah RI bukanlah produksi atau pemasaran melainkan "keimanan" yaitu Islam. Sekolah2 agama Islam dibuka dengan biaya pemerintah secara berlebihan dimana tidak ada lapangan kerja bagi semua lulusannya. Ini jelas kontra produktif, karena pengeluaran yang besar tanpa sama sekali ada pemasukan. Syariah Islam melarang menarik pajak dari muslimin, sehingga pajak negara ditarik dari non-muslim yang digunakan untuk pembangunan mesjid, sekolah agama Islam, dan sisanya dikorupsi dengan berbagai cara baik dengan pura2 membangun project atau dengan berbagai penggelapan dan money laundering. Muslimin menolak membayar pajak karena sudah membayar zakat, infak, maupun sodaqah yang kesemuanya bukan masuk ke negara melainkan digunakan untuk orang2 miskin sementara standard kemiskinan tidak jelas dalam alquran. Hanya beberapa hadis yang menggambarkan orang miskin itu menggoreng batu. Jadi semiskin apapun orang itu kalo belum menggoreng batu, tetap harus bayar zakat, infak dan sodaqah. Jadi anda salah besar, Indonesia bukan negara ekonomi terbesar didunia bahkan dibandingkan negara2 kecil lainnya, ekonomi Indonesia berada dibawahnya, yaitu dibawah Singapore, dibawah Hongkong, dibawah Malaysia. Sesuai yang saya definisikan bahwa "ekonomi" adalah kegiatan produksi dan pemasaran, ternyata ke-dua2nya sangat rendah dan lemah. Pengangguran tinggi artinya produksi rendah, angka kemiskinan yang tinggi artinya pemasaran yang rendah. Ny. Muslim binti Muskitawati. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
