|
Bug Hanggoro,
Baru saja salah satu Tap MPR 2001 dalam Sidang Tahunan MPR
menetapkan Visi Indonesia Tahun 2020. Kalau visi itu yang bung harapkan, silakan
dibaca, dicerna, dipahami. Sudah beredar di toko-toko buku. Tanya saja "Ada
Tap-tap MPR hasil ST Tahun 2001, nggak, Mbak/Mas?" Visi itu seakan membonceng
yang dibuat Malaysia, lebih dri sepuluh tahun yang lalu.
Saya sendiri sudah mengedit/menulis sebuah buku "Skenario
Masyarakat Sipil Indonesia Tahun 2010", bukan visi, tetapi prediksi.
Tetapi, sebetulnya, visi itu ada di benak seluruh penduduk.
Ada di benak pengungsi, anak-anak terlantar, anak-anak sekolah, anak-anak kita.
Ndak perlu melihat ke dokumen sejarah, pasti malas deh membacanya. Karena visi
itu menyangkut masa depan, tanyakan kepada pemilik masa depan, anak-anak
Ina.
salam,
ijp
----- Original Message -----
Sent: Thursday, December 27, 2001 5:21
PM
Subject: Re: [indonesia_damai] Refleksi
Akhir Tahun
Bung Indra, saya dapat merasakan betapa gundahnya Anda
sebagai anak bangsa, tapi moga2 saya tidak salah mengambil kesimpulan,
bahwa terus terang di dalam tulisan refleksi Anda ini, saya juga tidak
menemukan "visi yang tegas"
Beberapa bulan lalu, saya membolak-balik
UUD 45, baik yang lama maupun yang sudah di amandemen (sampai2 takut
buku satu salah ketik akhirnya saya beli buku UUD 45 itu lagi dari penerbit
yang berbeda)... lagi2 saya tidak menemukan "visi yang tegas" bangsa
kita ini?!?!?
Kalau Anda atau anggota milis kurang yakin
dengan pendapat saya, cobalah buka UUD 45 kita, dan tanyakan: "hendak
menjadi negeri seperti apakah Indonesia ini di tengah pergaulan
global?"
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pendiri bangsa
ini, terus terang saya tidak melihat adanya visi yang tegas dan kuat agar
Indonesia kelak menjadi negeri yang (meminjam istilah presiden dalam
Nuzulul Qur'an di Istiqlal lalu) "mandiri dan berkarakter" diantara
bangsa2 dunia.
Pernah suatu saat terbetik di hati saya untuk
protes kepada para budayawan dan guru bangsa yang pernah ada di
Indonesia untuk menagih "ajaran" yang bisa memberi spirit dan pencerahan
yang dapat dipakai oleh seluruh komponen bangsa ini guna memajukan
Indonesia. Tapi protes itu batal saya lakukan ketika budayawan
maupun guru bangsa kita ternyata juga ikut terpuruk dalam hiruk pikuk
yang absurd. Maaf! (kalau kurang percaya coba baca karya sastra
paling populer saat ini yang bahkan disanjung Pramoedya, SAMAN, karya
mbak Ayu Utami. Saya yakin, dengan konsep novel itu, mbak Ayu Utami tidak
mampu menjawab pertanyaan saya, 'apakah beda antara tangan dengan alat
kelamin'. Tapi saya yakin, beliau mampu
merasakan bedanya).
Absurd! Sekali lagi, maaf!
Kadang saya
juga menunggu sebuah buku karya guru bangsa kita yang tidak usah teralu
tebal, tapi yang cukup mengandung wejangan yang lumayang komrehensif dan
tidak loncat2.. tidak usah seperti karya Thomas Paine yang berhasil memberi
spirit dan karakter kepada Thomas Jefferson sehingga membentuk
karakter demokratis bangsa Amerika, tapi sayang... hal itu juga nggak
muncul2...
Akhirnya, entah karena putus asa atau sekedar penyaluran
hobby, saya dan kawan2 membuat sebuah lagu dengan lirik seperti
ini:
NEGERIKU SURGAKU (Jakarta, 26 Februari 2001)
Kelam sepi
malam merindukan keagungan Negeri embun pagi smoga 'kan segera
datang Wahai air mata menjadilah pucuk ilalang Sambut sinar mentari
pancarkan kedamaian
Indonesiaku Negeriku Surgaku Sebar senyum
manismu wahai bangsaku Kikis kedengkian songsong kecerahan Himpitan
cobaan jadikan berlian
Cahya bintang-bintang ajarkan
keutamaan Gelombang lautan ajarkan ketekunan Badai dan bencana ajarkan
kerendah-hatian Rintik-rintik hujan ajarkan syukur
Tuhan
Indonesiaku Negeriku Surgaku Kumbang-kumbang lantunkan
nyanyian madu Jabat erat dalam tarian rembulan Sejuk nan menawan bagi
yang ada
Hanggono
|