Assalamu'alaikum Wr..Wb

FILSAFAT ADAT
ALAM MINANGKABAU

Pengertian

Untuk mengenal adat dalam suatu daerah atau suku
bangsa diperlukan falsafah kebudayaan dari bangsa itu
sendiri. Karena dari falsafah itulah terbentuk alam
pikiran dan pandangan hidup sosial dari bangsa itu.

 Falsafah Minangkabau disebutkan dengan falsafah Samo
atau sama, bermakna persamaan, kesamaan dan
kebersamaan antara individu, antara kaum dan antara
desa. Dan ada yang mengatakan sikap sosiologis orang
Minangkabau adalah egaliter. Oleh karena itu orang
Minangkabau tidak merasa orang lain lebih tinggi dari
dirinya sendiri.
 

Falsafah alam Minangkabau meletakkan setiap manusia
atau orang dalam status yang sama, seperti kata
pepatah:

Tagak samo tinggi
Duduak samo randah

Setiap manusia mempunyai fungsi dan peranan yang
berbeda-beda menurut harkat dan martabatnya
masing-masing. Seperti dikatakan orang Minangkabau:

Nan buto paambuih lasuang
Nan pakak palapeh badia
Nan lumpuah paunyi rumah
Nan binguang disuruah-suruah
Nan cadiak lawan barundiang 
Malu yang harus dihindari

Merasakan diri kurang berharga merupakan kesia-siaan,
merasa diri paling tinggi merupakan kegilaan, akan
tetapi harga diri yang jatuh merupakan aib yang
memalukan. Tingkah laku yang merupakan aib bukan pada
moral saja, tetapi etiket juga meletakkan harga diri
seseorang rendah dari orang lain. Terutama pada
lingkungan di sekitarnya, baik keluarga maupun
kerabatnya sendiri.

Merendahkan harga diri yang tidak dapat dimaafkan
antara lain mengemis, yang meminta belas kasihan. Rasa
malu atau aib yang diderita itu akan melibatkan
seluruh kerabat dan lingkungan masyarakatnya sendiri,
karena seolah-olah tidak mampu menghiraukan dan
melindungi kerabatnya sendiri atau warga masyarakatnya
sendiri.

Untuk menjaga agar tidak seorangpun kena lumpur aib
itu, harus pandai menyimpannya dari mata orang lain,
seperti petuah:

Mamakan habih-habih
Manyuruak hilang-hilang 
Adakalanya rasa malu itu datang karena harga diri
dijatuhkan orang lain dengan cara penghinaan. Pituah
mengajarkan agar mereka melakukan pembalasan.
Sebagaimana dikatakan orang Minang Musuah indak
dicari, basuo pantang dielakkan, tabujua lalu
tabalintang patah. Jikalau yang memberi hinaan itu
lebih kuat untuk dilawan, maka ada pameo yang
mengatakan tak lalu dandang dek aia, di gurun
ditunjuakan juo (tidak dapat lewat sampan di air, di
gurun di lewatkan juga), yang artinya kalau tidak
dapat membalas dengan cara biasa, maka balaslah dengan
cara tidak biasa.

Satitiak Jadikan Lauik

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam alam Minangkabau,
semua yang berlaku baik itu adat kehidupan sosial
masyarakatnya berguru kepada alam yang terbentang
luas.

Seperti pepatah Minangkabau satitiak jadikan lauik,
ini artinya adalah suatu hal yang kita dapati walaupun
sedikit, namun harus dikembangkan. Seperti ilmu yang
kita peroleh walaupun cuma sedikit, tetap kita
kembangkan pada masyarakat.

Sakapa Digunungkan

Pepatah ini memiliki arti yang luas. Maksudnya disini,
barang sesuatu yang diperoleh baik dari jerih payah
sendiri maupun dari pemberian orang lain walaupun
sedikit, tetap harus disyukuri dan kita anggap sebagai
nikmat yang besar.

Alam Takambang Jadi Guru

Orang Minangkabau menamakan tanah airnya Alam
Minangkabau. Alam bagi mereka adalah segala-galanya,
bukan hanya sebagai tempat lahir dan tempat mati,
tempat hidup dan berkembang, melainkan juga mempunyai
makna fisiologi, seperti yang diungkapkan dalam
mamangannya Alam Takambang Jadi Guru. Oleh karena itu,
ajaran dan pandangan hidup mereka dinukilkan dalam
pepatah, petitih, mamangan serta lainnya. Mengambil
ungkapan dalam bentuk, sifat dan kehidupan alam
seperti:   

Panakik pisau sirauik
ambiak galah batang lintabuang
silodang ambiak ka niru
nan satitiak jadikan lauik
nan sakapa jadikan gunuang
alam takambang jadi guru 
Ketentuan-ketentuan alam yang disusun menjadi pepatah
atau petitih digambarkan dalam berbagai bentuk dan
corak, ada yang dinyatakan secara langsung dan ada
yang tidak. Seperti yang dimaksud dalam gurindam
berikut:

Malangkah di ujuang padang
Basilek di ujuang karih
Kato salalu baumpamo
Rundingan nan banyak bamisalan 
Untuk lebih jelasnya bahwa alam takambang jadi guru
merupakan sumber pengetahuan bagi orang Minangkabau
dapat dilihat pada kata mufakat yang menjadi titik
tolak bagi setiap usaha untuk mencapai tujuan yang
baik dalam terlaksananya aturan adat.

Yang merupakan sumber dari kata mufakat dari ketentang
alam ialah:

Bulek aia kapambuluah
Bulek kato dek mufakat
Bulek baru digolekkan
Tipih baru dilayangkan 
Berdasarkan kenyataan, adat Minangkabau berpedoman
kepada ketentuan alam dan firman Allah S.W.T yang
terdapat dalam Al-Qur'anul Karim tentang mempelajari
alam itu bagi orang-orang yang berfikir. Maka,
masuknya agama Islam di Minangkabau bukanlah
menghancurkan adatnya, tapi menyempurnakan adat
Minangkabau, karena orang Minangkabau mengatakan:

Alam Takambang Jadi Guru. 


Wassalam
Ronal Chandra



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Sign up for SBC Yahoo! Dial - First Month Free
http://sbc.yahoo.com

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke