Mamak2, Amak2, Sanak2 :
 
Bulan Juli lalu, saya mudik ke Matur.
Salah satu acaranya adalah mengadakan khitanan massal, selain menghadiri Batagak Penghulu (akan saya ceritakan dalam email berikut).
Ide ini datang begitu saja ketika saya sedang mengendarai mobil di sekitar Jakarta Selatan.
Karena mendapat restu, maka segeralah dibuat persiapannya (jujur saja pengetahuan saya nol besar akan hal ini). Cukup terburu2 karena 10 hari kemudian saya sudah harus berada di atas pesawat menuju Padang. Walhasil kami tidak sempat mengumpulkan uang sebanyak2nya karena tidak sempat menghubungi para donatur yg potensial sebenarnya.
 
2 hari setelah SLJJ ke pihak Wali Nagari dan salah satu Kepsek MDA di sana, datang laporan ke sini, bahwa peminatnya sudah mencapai di atas 50 anak!!
Wah, kita minta batasi hingga 50 saja. (Dari 3 nagari di Matua dibuat jatah peserta: 20 hilir, 20 mudik, 10 parit panjang)
 
3 hari menjelang hari H, saya turun ke lapangan, mengunjungi Wali Nagari Matua Mudiak, beliau 'memaksa' untuk tetap bisa mengkhitankan 43 anak di nagarinya.
Untungnya di Matua Hilir, karena Walinya adalah contact person kami, maka beliau sudah bisa antisipasi dan menseleksi hingga hanya sekitar 20 an saja.
 
Pada hari H, tanggal 7 Juli 2003, hari Senin, berdatanganlah para peserta dan pengantarnya (ada orang tua, ada pula Wali Jorongnya) ke rumah keluarga kami untuk dilakukan pendaftaran dan pembagian nasi kotak.
Terjadi kericuhan pada saat pendaftaran, karena ada yg tiba2 saja membawa 11 orang (6 diantaranya tidak terdaftar) untuk disunat.  Ada pula yg orang tuanya berjuang keras untuk mengusahakan anaknya agar bisa disunat (ketika sudah 2 kali suntik bius, anak tersebut malahan kabur!).
Walhasil, kami menaikkan target menjadi 100 anak saja, tetapi dengan berat hati 25 anak terakhir tidak dapat kain sarung.
 
Acara dihadiri oleh Wali Nagari Matur Hilir, Camat, Kepala Puskes, Sesepuh Matur yg datang dari rantau, dan Utusan Bupati (kami memang melaporkan hal ini hingga ke pihak Bupati dan Sekda Agam) yg menyumbang kami sekitar Rp.400 ribu.
Pelaksanaan khitanan dilakukan di Puskesmas, mulai dari jam 11 hingga jam 3 sore, dengan melibatkan 18 orang tim medis (3 orang diantaranya adalah dokter dan tim dari Puskes Koto Tuo).
total yg disunat ternyata 92 anak saja, yg lainnya kabur ketakutan.
 
Dari segi biaya, kami dikenakan sebesar Rp.25.000,- per anak (exclude honor tim medis).  Bayangkan jika mereka harus melaksanakan secara pribadi, biayanya mencapai sekitar Rp.75.000,- hingga Rp.80.000,-.
 
Ternyata kegiatan ini baru sekali diadakan di kampung kami. 
Maka dari itu mereka surprise, dan malahan ketika membujuk kami untuk bisa menyunati anaknya, mereka mengatakan 'tidak perlu mendapat kain sarung asalkan anak kami bisa disunat'. Ada pula yg mengatakan 'tanpa acara ini, kami tidak sanggup menyunati anak kami'.
Dan lain sebagainya.
Beda benar dengan di Jakarta, si peserta masih bisa memilih, ikut sunatan masal yg mana ya yg 'angpau'nya lebih banyak!
 
Modal pengetahuan dan materi mengenai sunat menyunat, kami awali dengan nol besar. Kami hanya yakin saja untuk melakukan suatu yg baik pastilah ditunjuki jalannya oleh Allah SWT.
Itu makanya kami tidak sanggup memberi mereka angpau, tetapi hanya kain sarung dan makan nasi kotak.  Sebagian peserta yg sulit kendaraan memang kami antarkan pulang ke rumah mereka.
 
Pesan yg saya tangkap dari mereka memang membuat hati saya miris : meskipun khitanan diwajibkan oleh agama, dan mereka tahu akan hal itu, tetapi mereka memang tidak sanggup melakukannya untuk anak2 mereka.
 
fyi, Matur memang nagari termiskin ke 4 di Sumbar.
Penduduknya mayoritas menjadi petani pekerja (bukan pemilik sawah!).  Asal muasalnya mereka adalah 'Amtenaar' (=pegawai), sehingga survivalnya kurang tampak dan tidak banyak yg berbakat menjadi pedagang. Kebanyakan memang menantikan wesel dari kota.
 
Wassalam,
Cysca
 
 
 
 
 
 
 

Kirim email ke