Saluut untuk Cys.
Indak banyak proposal, tapi langsung karajo dan sukses.
Semoga kito-kito tiru pulo program sarupo iko.

Wass
mak Ban
akan jarang kalapau.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



> Subject: 
>           [RantauNet.Com] Khitanan Masal
>      Date: 
>           Tue, 19 Aug 2003 13:41:23 +0700
>      From: 
>           "Cysca" <[EMAIL PROTECTED]>
>  Reply-To: 
>           [EMAIL PROTECTED]
>        To: 
>           "Rantaunet" <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> 
> 
> 
> Mamak2, Amak2, Sanak2 :
>  
> Bulan Juli lalu, saya mudik ke Matur.
> Salah satu acaranya adalah mengadakan khitanan massal, selain menghadiri Batagak 
> Penghulu (akan saya
> ceritakan dalam email berikut).
> Ide ini datang begitu saja ketika saya sedang mengendarai mobil di sekitar Jakarta 
> Selatan.
> Karena mendapat restu, maka segeralah dibuat persiapannya (jujur saja pengetahuan 
> saya nol besar akan hal
> ini). Cukup terburu2 karena 10 hari kemudian saya sudah harus berada di atas pesawat 
> menuju Padang. Walhasil
> kami tidak sempat mengumpulkan uang sebanyak2nya karena tidak sempat menghubungi 
> para donatur yg
> potensial sebenarnya.
>  
> 2 hari setelah SLJJ ke pihak Wali Nagari dan salah satu Kepsek MDA di sana, datang 
> laporan ke sini, bahwa
> peminatnya sudah mencapai di atas 50 anak!!
> Wah, kita minta batasi hingga 50 saja. (Dari 3 nagari di Matua dibuat jatah peserta: 
> 20 hilir, 20 mudik, 10 parit
> panjang)
>  
> 3 hari menjelang hari H, saya turun ke lapangan, mengunjungi Wali Nagari Matua 
> Mudiak, beliau 'memaksa' untuk
> tetap bisa mengkhitankan 43 anak di nagarinya.
> Untungnya di Matua Hilir, karena Walinya adalah contact person kami, maka beliau 
> sudah bisa antisipasi dan
> menseleksi hingga hanya sekitar 20 an saja. 
>  
> Pada hari H, tanggal 7 Juli 2003, hari Senin, berdatanganlah para peserta dan 
> pengantarnya (ada orang tua, ada
> pula Wali Jorongnya) ke rumah keluarga kami untuk dilakukan pendaftaran dan 
> pembagian nasi kotak.
> Terjadi kericuhan pada saat pendaftaran, karena ada yg tiba2 saja membawa 11 orang 
> (6 diantaranya tidak
> terdaftar) untuk disunat.  Ada pula yg orang tuanya berjuang keras untuk 
> mengusahakan anaknya agar bisa disunat
> (ketika sudah 2 kali suntik bius, anak tersebut malahan kabur!).
> Walhasil, kami menaikkan target menjadi 100 anak saja, tetapi dengan berat hati 25 
> anak terakhir tidak dapat
> kain sarung.
>  
> Acara dihadiri oleh Wali Nagari Matur Hilir, Camat, Kepala Puskes, Sesepuh Matur yg 
> datang dari rantau, dan
> Utusan Bupati (kami memang melaporkan hal ini hingga ke pihak Bupati dan Sekda Agam) 
> yg menyumbang kami
> sekitar Rp.400 ribu.
> Pelaksanaan khitanan dilakukan di Puskesmas, mulai dari jam 11 hingga jam 3 sore, 
> dengan melibatkan 18 orang
> tim medis (3 orang diantaranya adalah dokter dan tim dari Puskes Koto Tuo).
> total yg disunat ternyata 92 anak saja, yg lainnya kabur ketakutan.
>  
> Dari segi biaya, kami dikenakan sebesar Rp.25.000,- per anak (exclude honor tim 
> medis).  Bayangkan jika
> mereka harus melaksanakan secara pribadi, biayanya mencapai sekitar Rp.75.000,- 
> hingga Rp.80.000,-.
>  
> Ternyata kegiatan ini baru sekali diadakan di kampung kami.  
> Maka dari itu mereka surprise, dan malahan ketika membujuk kami untuk bisa menyunati 
> anaknya, mereka
> mengatakan 'tidak perlu mendapat kain sarung asalkan anak kami bisa disunat'. Ada 
> pula yg mengatakan 'tanpa
> acara ini, kami tidak sanggup menyunati anak kami'.
> Dan lain sebagainya.
> Beda benar dengan di Jakarta, si peserta masih bisa memilih, ikut sunatan masal yg 
> mana ya yg 'angpau'nya lebih
> banyak!
>  
> Modal pengetahuan dan materi mengenai sunat menyunat, kami awali dengan nol besar. 
> Kami hanya yakin saja
> untuk melakukan suatu yg baik pastilah ditunjuki jalannya oleh Allah SWT.
> Itu makanya kami tidak sanggup memberi mereka angpau, tetapi hanya kain sarung dan 
> makan nasi kotak. 
> Sebagian peserta yg sulit kendaraan memang kami antarkan pulang ke rumah mereka.
>  
> Pesan yg saya tangkap dari mereka memang membuat hati saya miris : meskipun khitanan 
> diwajibkan oleh agama,
> dan mereka tahu akan hal itu, tetapi mereka memang tidak sanggup melakukannya untuk 
> anak2 mereka.
>  
> fyi, Matur memang nagari termiskin ke 4 di Sumbar.
> Penduduknya mayoritas menjadi petani pekerja (bukan pemilik sawah!).  Asal muasalnya 
> mereka adalah
> 'Amtenaar' (=pegawai), sehingga survivalnya kurang tampak dan tidak banyak yg 
> berbakat menjadi pedagang.
> Kebanyakan memang menantikan wesel dari kota.
>  
> Wassalam,
> Cysca
>  
>

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke