Assalamualaikum ww

Hebat jugak yaa gebrakan-nya Cys, dari JKT to Matur with sunek massal

Di Pku lain lagi caranya sebuah partai terbilang besar dan banyak duit
berlogo matoari biru juga melaksanakan sunat massal ke beberapa daerah
pinggiran, mereka datang lengkap dengan atribut yang dilukis cantik sepenuh
dinding mobil ambulan-nya dan 4 sedan putih berisi dokter dan para medis
dikawal mobil hardtop putih bagaikan PJR

Kelihatan para parpol mulai bersaing merebut hati rakyat, Alhamdulillah,
lumayan rakyat badarai mendapat kesempatan disenangkan  dalam kesempitan
yang mendera

Mari kita sambut gembira gebrakan serupa, dan mudah2an para parpol lain juga
ber-lomba2 membelanjakan duitnya menyenangkan dan merebut hati
rakyat......... agiah taruih 

Oh yaa Cys, "kami" yang Cys maksudkan itu apa? Paguyuban anak2 muda Matur
atau basos lainnya

wasalam
abp
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> Subject: 
>           [RantauNet.Com] Khitanan Masal
>      From: 
>           "Cysca" <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> Mamak2, Amak2, Sanak2 :
>  
> Bulan Juli lalu, saya mudik ke Matur.
> Salah satu acaranya adalah mengadakan khitanan massal, selain menghadiri
Batagak Penghulu (akan saya
> ceritakan dalam email berikut).
> Ide ini datang begitu saja ketika saya sedang mengendarai mobil di sekitar
Jakarta Selatan.
> Karena mendapat restu, maka segeralah dibuat persiapannya (jujur saja
pengetahuan saya nol besar akan hal
> ini). Cukup terburu2 karena 10 hari kemudian saya sudah harus berada di
atas pesawat menuju Padang. Walhasil
> kami tidak sempat mengumpulkan uang sebanyak2nya karena tidak sempat
menghubungi para donatur yg
> potensial sebenarnya.
>  
> 2 hari setelah SLJJ ke pihak Wali Nagari dan salah satu Kepsek MDA di
sana, datang laporan ke sini, bahwa
> peminatnya sudah mencapai di atas 50 anak!!
> Wah, kita minta batasi hingga 50 saja. (Dari 3 nagari di Matua dibuat
jatah peserta: 20 hilir, 20 mudik, 10 parit
> panjang)
>  
> 3 hari menjelang hari H, saya turun ke lapangan, mengunjungi Wali Nagari
Matua Mudiak, beliau 'memaksa' untuk
> tetap bisa mengkhitankan 43 anak di nagarinya.
> Untungnya di Matua Hilir, karena Walinya adalah contact person kami, maka
beliau sudah bisa antisipasi dan
> menseleksi hingga hanya sekitar 20 an saja. 
>  
> Pada hari H, tanggal 7 Juli 2003, hari Senin, berdatanganlah para peserta
dan pengantarnya (ada orang tua, ada
> pula Wali Jorongnya) ke rumah keluarga kami untuk dilakukan pendaftaran
dan pembagian nasi kotak.
> Terjadi kericuhan pada saat pendaftaran, karena ada yg tiba2 saja membawa
11 orang (6 diantaranya tidak
> terdaftar) untuk disunat.  Ada pula yg orang tuanya berjuang keras untuk
mengusahakan anaknya agar bisa disunat
> (ketika sudah 2 kali suntik bius, anak tersebut malahan kabur!).
> Walhasil, kami menaikkan target menjadi 100 anak saja, tetapi dengan berat
hati 25 anak terakhir tidak dapat
> kain sarung.
>  
> Acara dihadiri oleh Wali Nagari Matur Hilir, Camat, Kepala Puskes, Sesepuh
Matur yg datang dari rantau, dan
> Utusan Bupati (kami memang melaporkan hal ini hingga ke pihak Bupati dan
Sekda Agam) yg menyumbang kami
> sekitar Rp.400 ribu.
> Pelaksanaan khitanan dilakukan di Puskesmas, mulai dari jam 11 hingga jam
3 sore, dengan melibatkan 18 orang
> tim medis (3 orang diantaranya adalah dokter dan tim dari Puskes Koto
Tuo).
> total yg disunat ternyata 92 anak saja, yg lainnya kabur ketakutan.
>  
> Dari segi biaya, kami dikenakan sebesar Rp.25.000,- per anak (exclude
honor tim medis).  Bayangkan jika
> mereka harus melaksanakan secara pribadi, biayanya mencapai sekitar
Rp.75.000,- hingga Rp.80.000,-.
>  
> Ternyata kegiatan ini baru sekali diadakan di kampung kami.  
> Maka dari itu mereka surprise, dan malahan ketika membujuk kami untuk bisa
menyunati anaknya, mereka
> mengatakan 'tidak perlu mendapat kain sarung asalkan anak kami bisa
disunat'. Ada pula yg mengatakan 'tanpa
> acara ini, kami tidak sanggup menyunati anak kami'.
> Dan lain sebagainya.
> Beda benar dengan di Jakarta, si peserta masih bisa memilih, ikut sunatan
masal yg mana ya yg 'angpau'nya lebih
> banyak!
>  
> Modal pengetahuan dan materi mengenai sunat menyunat, kami awali dengan
nol besar. Kami hanya yakin saja
> untuk melakukan suatu yg baik pastilah ditunjuki jalannya oleh Allah SWT.
> Itu makanya kami tidak sanggup memberi mereka angpau, tetapi hanya kain
sarung dan makan nasi kotak. 
> Sebagian peserta yg sulit kendaraan memang kami antarkan pulang ke rumah
mereka.
>  
> Pesan yg saya tangkap dari mereka memang membuat hati saya miris :
meskipun khitanan diwajibkan oleh agama,
> dan mereka tahu akan hal itu, tetapi mereka memang tidak sanggup
melakukannya untuk anak2 mereka.
>  
> fyi, Matur memang nagari termiskin ke 4 di Sumbar.
> Penduduknya mayoritas menjadi petani pekerja (bukan pemilik sawah!).  Asal
muasalnya mereka adalah
> 'Amtenaar' (=pegawai), sehingga survivalnya kurang tampak dan tidak banyak
yg berbakat menjadi pedagang.
> Kebanyakan memang menantikan wesel dari kota.
>  
> Wassalam,
> Cysca

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke