---------- Original Message ---------------------------------- From: "SBN" <[EMAIL PROTECTED]> Reply-To: [EMAIL PROTECTED] Date: Tue, 2 Sep 2003 23:47:39 +0700
>Assalamu'alaikum wr. wb. > . Contoh konkrit pembahasan yang dimulai oleh Cak Nur, Ulil dll belum apa-apa langsung di-kafir-kan. Masalah mendasar memang membebaskan kembali ummat Islam dalam berfikir, dimulai dengan memanusiakan manusia seperti yang benarkan. > >Salam, > >SBN ------------------- Mamanda SBN, iko ambo postingkan artikel ttg bahaya pemikiran Cak Nur, Ulil dll. Silahkan di kaji benar salahnyo... -------------------- "Mereka Merampas Wewenang Allah" Dr. Daud Rasyid, MA, Gencarnya kampanye sekularisasi oleh para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) melalui berbagai media mengundang keresahan sejumlah ulama dan cendekiawan muslim. Apalagi, isu-isu yang dihasung gerakan ini berhadapan secara diametral dengan derasnya tuntutan Islam untuk menerapkan syariat Islam di segala lini kehidupan. Menurut mereka, konsep negara sekuler lebih unggul daripada konsep negara Islam yang dianggapnya sekadar angan-angan. Melihat gejala itu, sebagai seorang da'i dan akademisi muslim, DR. Daud Rasyid tak tinggal diam. Apalagi pada awal 1990-an, lulusan Cairo University ini pernah tampil secara terbuka menantang gagasan sekularisasi Cak Nur yang dianggapnya sebagai mata rantai tak terpisahkan dengan arus pemikiran JIL. "Sasaran mereka adalah memandulkan umat Islam," tandas dosen Pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung itu kepada wartawan SABILI Yogi W Utomo, M. Nurkholis Ridwan dan Misbah yang mewawancarainya di lobi kampus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, Jakarta. Berikut petikannya: Pandangan Anda terhadap JIL? Sebetulnya, JIL hanyalah kelanjutan dari pemikiran-pemikiran kontroversial sebelumnya yaitu ide sekularisasi yang dihasung Nurcholis Madjid pada tahun 1970-an. Hanya sekadar ganti kulit, tetapi isi dan muatan sama saja. Saya tidak melihat pengaruh mereka besar di masyarakat. Karena yang bisa menangkap arus pemikiran mereka hanya kalangan tertentu saja. Sementara kebanyakan masyarakat kita tidak mau disibukkan dengan pemikiran yang rumit dalam beragama. Istilah "Islam Liberal" sendiri sesungguhnya penuh kerancuan. Kita tidak mungkin menggabungkan kata Islam dengan liberalisme. Sebab keduanya adalah ideologi. Tidak mungkin orang mengatakan "Saya seorang muslim yang baik tetapi juga seorang protestan yang taat." Ketika mereka sudah menyatakan liberal, maka secara tidak langsung sudah menolak Islam. Karena sejak mereka menyatakan Islam berarti telah mengikat diri dengan akidah dan syariat. Makanya, tak bisa lagi bersikap liberal. Saya yakin di kalangan kiai dan pesantren sendiri ide mereka tidak akan laku, walau banyak aktivis JIL yang berasal dari generasi NU. Pemikiran di pesantren sudah punya frame tersendiri, yaitu Ahlussunnah wal Jamaah yang telah terbangun ratusan tahun. Kalau pun sekarang terkesan "Islam Liberal" itu laku, saya kira karena terlalu dibesar-besarkan oleh media. Terlalu di-blow up oleh media cetak, radio, TV, dan sebagainya. Perbedaannya dengan sekularisasi Cak Nur? Isu yang dihadapi mereka memang berbeda konteksnya. Dulu isu yang dihadapi Cak Nur adalah tentang negara Islam. Sekarang, yang dihadapi JIL adalah semangat dan gerakan umat untuk menerapkan syariat Islam. Padahal, di Mesir pola pemikiran seperti ini sudah muncul sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Ketika belajar di sana sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya mengikuti polemik seperti ini di media massa. Saat itu, kelompok sekuler seperti Said Asnawi dan Faraj Faudah dengan gigih menolak penerapan syariat yang sudah menjadi tuntutan 80 persen masyarakat Mesir melalui referendum. Kenapa mereka begitu berambisi menghadang penerapan syariat Islam? Mereka memang membuat suatu jaringan ide yang skalanya internasional. Setiap wilayah mengembangkan idenya sendiri, sesuai dengan kasus-kasus yang mereka hadapi. Kini, di Indonesia, masyarakat sudah mulai memahami bahwa syariat Islam ini harus diterapkan dalam tatanan kehidupan yang lebih luas. Tidak hanya sekadar menyentuh persoalan-persoalan ibadah, tetapi meliputi transaksi bisnis, kodifikasi hukum perdata maupun pidana dan sebagainya. Apalagi dalam konteks otonomi daerah. Tuntutan penerapan syariat Islam di sejumlah daerah dan provinsi sudah sangat mengental. Karena itu, menurut saya, mereka ini sebetulnya orang-orang yang ketakutan. Mengapa takut? Karena mereka mempunyai asumsi yang salah tentang syariat. Menurut mereka, kalau syariat diterapkan, maka tidak akan ada kebebasan sama sekali. Manusia akan dikungkung dan dipenjara, sehingga tidak ada ruang untuk menggunakan akalnya. Mereka sudah jerat oleh sebuah ghazwul fikri (invasi pemikiran, red)dari Barat yang jelas-jelas memusuhi Islam. Seakan, kalangan yang memperjuangkan tegaknya syariat itu identik dengan fundamentalis. Sedangkan setiap fundamentalisme identik dengan terorisme. Mereka tidak bisa lagi berpikir jernih. Paradigma berpikirnya sudah menggunakan frame Barat. Bisa jadi, mereka adalah agen-agen Barat dengan menggunakan bahasa dan kultur lokal. Karena itu tak mutahil mereka mendapatkan dukungan finansial dari Barat. Bahaya ghazwul fikri tersebut? Ide itu sendiri sudah sangat berbahaya karena mencoba mengandangkan Islam hanya dalam batas ibadah ritual saja. Padahal, syariat Islam bukan hanya menyangkut shalat dan puasa saja, tapi mencakup semua aspek kehidupan manusia. Mereka mengebiri aspek-aspek syariat yang lain seperti konsep politik dan ekonomi. Sasaran akhirnya, mereka ingin memandulkan Islam. Bisa saya katakan, mereka ingin menghilangkan fungsi Allah SWT. Dalam pandangan mereka, Allah hanyalah sekadar pencipta alam. Jadi fungsi Allah, menurut mereka, kini sudah berakhir. Sedangkan untuk mengatur alam semesta ini, Allah sudah tidak punya kekuasaan lagi. Urusan ini diserahkan sepenuhnya kepada manusia. Manusialah yang menentukan aturan kehidupan yang bersifat duniawi. Jadi, mereka telah merampas wewenang Allah SWT dalam menetapkan aturan. Begitulah paradigma berpikir orang-orang "Islam Liberal" dan gerakan sekularisasi lainnya. Ide-ide sekularisasi itu biasanya dikemas rapi. Kiat untuk menyingkapnya? Umat Islam harus kembali kepada sumber atau referensi yang orisinal. Pasalnya, kalangan "Islam Liberal" itu tidak mau menggunakan referensi-referensi agama secara benar. Mereka mengutarakan argumentasi lebih banyak dengan menggunakan logika-logika dangkal. Makanya, ide-ide mereka itu tak akan laku di pasaran. Sebaliknya, kerinduan masyarakat terhadap syariat makin lama makin tinggi. Buktinya, ekonomi Islam makin dirindukan, perbankan Islam makin dikejar dan hijab makin lama makin membudaya. Namun, pertarungan itu akan tetap ada. Kenapa mereka menuduh kalangan "Islam Militan" sebagai musuh inklusivisme, pluralisme, demokrasi? Paradigma berpikir mereka betul-betul Western style. Tidak muncul dari kajian ilmiah yang historis dan sumber-sumber yang otentik. Apa yang dianggap Barat sebagai demokrasi, itulah yang mereka sebut demokrasi. Apa yang dianggap Barat sebagai ekstremisme, mereka menilai ekstremisme pula. Mereka terbius oleh tesis Fukuyama dalam bukunya "The End of History" atau Nihaayat al-Taarikh. Menurutnya pertarungan peradaban kini telah berakhir dan dimenangkan oleh Barat. Semua bangsa, mau tidak mau harus tunduk pada dominasi Barat, termasuk dalam memahami berbagai terminologi mereka yang sesungguhnya sangat bias dan menyesatkan. Tapi, bukankah mereka sering memakai argumen sejarah Islam? Yang saya maksudkan, adalah sejarah keilmuan Islam. Kalau merujuk keilmuan Islam, ide-ide mereka itu sama sekali tidak ditemukan landasan sejarahnya. Ada manipulasi? Jelas! Bahkan yang mereka tawarkan adalah manipulasi terhadap sejarah Islam yang otentik. Kalangan "Islam Liberal" menganggap negara Islam hanya utopia (khayalan, red). Kenapa? Ini merupakan contoh keawaman mereka menelaah fakta-fakta sejarah. Sejumlah ahli sepakat bahwa Rasulullah telah membangun sebuah negara ril. Lebih luas lagi di masa Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah. Kata mereka, negara Madinah itu terlalu sederhana karena belum menunjukkan kehidupan yang plural. Benarkah? Lagi-lagi, mereka tidak membaca sejarah! Siapa komponen warga negara di Madinah saat itu. Di sana ada orang-orang beriman, Yahudi, Nashara, dan orang-orang musyrik. Salah satu penggagas Islam Liberal, Ulil Abshar mengatakan, negara sekuler itu lebih baik dari negara Islam ala fundamentalis karena mampu menyatukan energi kesalihan dan energi kemaksiatan sekaligus. Komentar Anda? Dia perlu buktikan dulu sebelum bisa mengklaim negara seperti itu lebih baik. Negara mana yang dia contohkan lebih baik itu? Apakah Amerika yang sekarang mengalami krisis kemanusiaan? Atau Eropa yang lebih mengutamakan memberi makan anjing daripada manusia. Manusia terlunta-lunta di bawah jembatan. Di musim dingin orang biasa menemukan mayat manusia di bawah kolong jembatan. Masih kata Ulil, AS lebih mencerminkan negara Islam, karena lebih demokratis? Bagaimana mungkin Amerika itu demokratis? Sampai sekarang perbedaan warna kulit hitam dan putih masih tetap kental di masyarakat Amerika. Belum lagi kita berbicara tentang politik luar negeri Amerika terhadap bangsa-bangsa lain. Apakah itu mencerminkan negara yang demokratis? Saya kira, itu jelas penilaian yang sangat dangkal. Menurut kalangan "Islam Liberal", jika syariat Islam diterapkan di sebuah negara, maka korban pertama adalah perempuan. Pendapat Anda? Lihatlah sosok masyarakat Islam pertama, yaitu masyarakat zaman sahabat. Ketika itu masyarakat menemukan kebebasan dan keadilan yang sesungguhnya. Memang ada pembagian peran antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan fitrahnya. Justru kalau kita memperlakukan laki-laki sebagai perempuan atau sebaliknya, maka sama saja dengan memperkosa HAM. Menurut mereka, esensi jilbab adalah kehormatan. Perempuan tak perlu mengenakan jilbab selama bisa menjaga kehormatannya. Tanggapan Anda? Justru kehormatan adalah salah satu efek langsung dari memakai jilbab. Perempuan yang tidak mengindahkan aturan formal-syariat, tidak akan memiliki kehormatan di hadapan Allah SWT. Mereka membangkang perintah-Nya. Apakah orang bisa menjadi takwa jika tidak puasa? Bagaimana mungkin wanita bisa terhormat tanpa memakai jilbab. Dalam bahasa filsafat, esensi segala sesuatu justru menyatu dengan eksistensinya.Tak mungkin ada jasad tanpa ruh dan sebaliknya. Keindahan-keindahan Islam itu tidak akan lahir tanpa menjalankan syariat. Bagaimana umat Islam harus merespon pemikiran dan kiprah JIL? Ide-ide mereka tidak boleh dibiarkan berkembang. Harus dihadapi dan di-counter. Kalau dibiarkan, dia ibarat kuman yang akan menjalar ke sana ke mari. Para ulama bertanggung jawab membersihkan pemikiran umat dari virus-virus mereka ini. Jangan sebaliknya, dianggap sebagai ide baru untuk kepentingan umat, bangsa, dan negara. Kalau mereka bermain dalam tataran media, maka counter-nya harus dalam tataran yang sama agar ada keseimbangan. Saya lihat para aktivis JIL tidak memiliki background keislaman yang kuat. Background Islam mereka lemah. Tapi, banyak di antara mereka lulusan pesantren? Mungkin mereka masih berada pada fase pencarian. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa mereka sudah mengalami suatu proses berpikir lalu keluar dengan satu kesimpulan bahwa inilah konsep yang terakhir. Perlukah dibuat sebuah forum khusus? Saya dengar teman-teman sudah merintisnya. Setiap upaya untuk menyimpangkan Islam akan berhadapan dengan upaya lain yang ingin membela kemurniannya. Itu sudah sunnatullah. Jangan mereka merasa tidak akan mendapatkan tantangan. JIL akan menerbitkan terjemahan al-Qur'an edisi kritis yang menampung gagasan liberal. Pendapat Anda? Inilah yang bisa kita sebut sebagai radikalisme pemikiran mereka. Bila mereka sudah sampai ke taraf memperkosa ayat-ayat al-Qur'an, memberikan interpretasi semaunya, akan berhadapan dengan arus yang lebih besar. Para ulama dan umat arus bawah tidak akan tinggal diam. Mereka akan menolak keras rencana tersebut. Karenanya, saya berharap agar mereka mengkaji ulang ide itu. ---------- RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

