Bunda yang ambo hormati,
Sebenarnya tinggi penghormatan saya terhadap Bunda yang telah memberikan
banyak perhatian dan pengorbanan untuk masyarakat selama ini. Hanya beberapa
pemikiran yang mengusik perhatian saya, sehingga tentunya saya coba ingatkan,
begitu perhatian dan penghormatan saya kepada Bunda.
Kasus Bunda sama dengan Umi saya, sebagai wanita karier, sehingga saya
memahami juga. Sedikit kita bahas kisah Bunda itu. Saya kurang tahu posisi
Bunda dalam perundingan / perhelatan tersebut, apakah sebagai bundo kanduang
ataukah sebagai sumandan. Bila sebagai bundo kanduang, tidak pada tempatnya
saat itu Bunda berada di dapur, dan itu sepenuhnya tugas para sumandan.
Satu-dua bundo kanduang yang lain dapat menjadi pengawas ataupun penghubung dan
sekali-kali dapat membantu.
Dalam perhelatan yang besar, tugas di dapur malah menjadi tugas urang
sumando; dan alamat tidak akan makan orang seperundingan bila tidak
berbaik-baik dengan urang sumando. Setelah itu jatah kepala kambing pun menjadi
hak mereka pula.
Dalam suatu acara adat kita harus mengetahui posisi kita pada saat itu,
sehingga dapat pula bersikap dengan benar. Tidak boleh bersikap mentang-mentang
dalam posisi itu, sesuatu yang sering saya lihat dari orang-orang rantau.
Pernah seorang pengusaha sukses dari rantau datang dalam suatu perundingan di
rumah gadang. Tanpa segan-segan dia mengambil posisi duduk di pangkal, padahal
dia urang sumando berdasarkan posisi suku. Pada waktu penghidangan tidak pula
mau dia berdiri tegak. Rasa-rasanya semua hadirin adalah orang-orang
bawahannya. Jadilah selama perundingan dia habis disindir dalam berbalas kato.
Saya pernah menceritakan tentang Buya saya almarhum di milis ini, walaupun
pada masa itu beliau berpangkat tinggi dan berpengetahuan yang luas, tidak
segan beliau berprilaku seharusnya dalam suatu perundingan. Segala pangkat,
jabatan, gelar, dll beliau simpan dulu di kaki anak tangga sebelum masuk ke
ruang perundingan. Penghormatan beliau terhadap sistem adat ini justru
menimbulkan rasa segan dari para ninik mamak, sehingga selalu beliau disambut
oleh ninik mamak untuk didudukkan di samping mereka. "Buya itu bukan sekedar
sumando ninik mamak, tapi tamu kehormatan juga bagi kami". Begitupun Buya masih
menolak dengan halus dan menempatkan diri untuk duduk di jajaran urang sumando.
Ketika tugas sumando sudah sampai, tidak segan juga beliau turun tangan,
walaupun tidak sepenuhnya sekedar sampai pada batas ukuran.
Mungkin ini catatan saya untuk orang rantau, banyak yang telah memperoleh
keberhasilan sehingga memandang rendah norma dan aturan yang ada di kampung.
Gadangnyo nak mintak dianjuang. Nafsu nan pantang bakarandahan. Pernah seorang
wakil penghulu yang melapor kepada saya, bila beliau baru dimarahi sewaktu
mengantarkan undangan kepada seorang rantau yang baru pulang ke kampung,
gara-gara nama beliau tidak dicantumkan secara lengkap dalam undangan. "Tahu
tidak kamu, nama saya itu ada doktorandus dan em es ce-nya. Kamu pikir gampang
dapetin itu, dan berapa biayanya."
Dengan demikian dalam bermasyarakat di Minangkabau memang kita harus
mengetahui posisi kita terlebih dahulu. Aturan adat ini telah mengatur
sedemikian rupa adab kita dalam bermasyarakat. Inilah yang disebut hubungan
persemendaan.
Posisi bundo kanduang itu ada dalam setiap hirarki kemasyarakatan, mulai dari
rumah tangga hingga ke balairungsari. Jadi telah ada strukturnya. Saya
mempertanyakan bila benar cerita tentang KAN itu, sudah pada tempatnya
dipertanyakan salingkah nagari.
Kalau memang Bunda ingin meningkatkan lagi peran perempuan ini, banyak peran
lain dalam kemasyarakatan dan ekonomi yang dapat ditekuni. Silahkan saja Bunda
menghimbau kepada yang muda-muda, mudah-mudahan dapat mencontoh ketauladanan
Bunda dalam mengharungi kehidupan ini.
Saya memiliki catatan tersendiri terhadap orang maupun tokoh yang berbahasa
negatif dalam menilai suatu kondisi atau suatu sistem nilai kemasyarakatan.
Saya memang memiliki agenda pada hari itu, sehingga berhalangan hadir. Saya
kira itu pertemuan silaturrahmi. Tapi kalau itu pertemuan untuk menyelesaikan
permasalahan, kok ya tidak kelihatan ya? Lain waktu diusahakan hadir, termasuk
saya ingin juga mengundang ke dangau saya.
Wassalam.
Hayatun Nismah Rumzy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu Alaikum W. W.
Nanda Datuk Endang dan sidang RN nan bunda hormati,
Kasus bunda pribadi berbeda dengan perempuan Minang yang tinggal di Minang
karena bunda meninggalkan kampung halaman semenjak umur 12 tahun. Bunda
berkiprah dirantau, berkarir tanpa dikungkung oleh adat. Bunda merasa
benar-benar bersyukur dapat menggunakan segala kemampuan bunda dan kebolehan
bunda ditempat kerja dan dimasyarakat. Bunda mendapatkan kesempatan yang sangat
berharga ini. Bunda berjuang untuk mendapatkan persamaan hak (bukan emansipasi
ini ada bedanya). Jadilah bunda ini perantau yang yang pulang dari rantau yang
2 kali setahun. Bunda tak punya mamak (adik atau kakak laki-laki dari mak
bunda) jadi jadi laki-laki yang ada ditipak bunda itu umurnya dibawah bunda
semua.
Dikampuang diwaktu mupakaik diadakan, para perempuan didapur hanya untuk
menyiapkan makanan. Setelah para alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tu
ka "manyungkah" (ini kata kasar sekali yang tak pernah ada sekarang lagi)
mereka menanyakan apo alah siap nan dibalakang? Mako sibuklah para perempuan
itu untuk menghidang.
Didalam buku "Adat Minangkabau Pola dan tujuan hidup orang Minang ado nan
disabuik 4 jinih unsurnya terdiri dari niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama,
dan bundo kanduang baru disertakan didalam KAN ada unsur bundo kanduang. Tetapi
kalau KAN rapat maka para bundo kanduang tidak hadir menjadi desision maker.
Baiak dirumah gadang atau di balai adat tidak ado perempuan Minang nan duduak
tagak samo randah dan duduak samo tinggi samo alim ulama, cadiak pandai, dan
niniak mamak tadi.
Nanda Hanifah kita bukan membicarakan kasus tapi peranan bundo kanduang
secara keseluruhan. Sekarang ditiap nagari, kecamatan, kabupaten dan propinsi
ada bundo kanduangnya. Peranan sekarang yang hanya menjadi penghias nagari,
manjunjuang jamba harus lebih ditingkatkan menjadi para decision maker.
Bunda mempunyai beberapa buku tt Adat Minang dan bunda tak menemukan distu
bukupun pemberdayaan perempuan Minang hanya lebih banyak wanita Minang tsb.
diperdayakan kaum laki-laki Minang.
Buku ADAT MINAGKABAU Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang karangan Amir M.
S. bagus sekali untuk referensi kita orang Minang. Jadi sebelum kita berdebat
dan berdiskusi diharapkan kita semua mempunyai buku2 yang dibawah ini:
Islam dan Adat Minangkabau karangan buya Hamka.
Masih ada Harapan karangan DR. Saafroedin Bahar. (Buku No. 1 dan No. 2
hampir sama isinya yaitu mengatakan kekurangan adat Minang secara keseluruhan).
Alam Takambang Jadi Guru A. A. Navis
Minangkabau yang Gelisah Rangkuman dari Mupakai Bandung oleh bp. Chaidir N,
Latief
Dari Pemberontakan ke Inetgrasi oleh Audrey Kahin
Tambo Alam Minagkabau H. Datoek Toeah
Jadi ambo ingin manambah koleksi ambo jo buku karangan Amir MS iko dimano
bisa ambo dapekkan.
Pertemuan (kopi darat) yang lah tajadi kapatangko iyo sabana manuntaskan
sagalo permasalahan yang lah awak bicarakan diforum RN.
Sayang sakali angku Azmi indak basuo dan kalau basuo mungkin duo garis
sejajar tu indak sejajar lai tapi akan batamu disatu titiak persamaan.
Juga sayang Dt Endang tak bisa hadir karena pertemuan tersebut telah
merumuskan beberapa hal yang menjadi silang selisih.
Wassalam
Hayatun Nismah Rumzy (68+)
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---