Uni Evy dan Dunsanak palanta RN

Ya saya termasuk kawan Uni Evy jugakan di dunia Maya :-)

Jika pribadi saya jauh dari berkecil hati dan insya Allah saya bersyukur apapun 
yang saya dapat di NKRI sebagai orang minang yang merantau mulai tamat SMA 
dengan segala suka dukanya dan segala sesuatu memang saya merantau terutama 
memasuki dunia kerja dimulai dari NOL

Kalaupun saya sedikit katakanlah "emosional" menanggapi atas "gugatan" NKRI pak 
MN itu tidak lebih tidak kurang karena saya melihat kondisi lansung betapa 
memang terutama sejak era Otonomi ini saya tidak atau belum bisa merasa yakin 
jika apa yang di bilang beliau Pak MN kebentuk Federal "kerjasama dan persatuan 
lebih kuat"

Alhamdulillah Pak MN boleh dikatakan sangat sempurna sekali perjalanan hidupnya 
merantau dan mendidik anaknya menjadi "orang" di negara yang berbentuk NKRI ini 
bolehlah dikatakan beliau berada pada "zona nyaman"

Kita orang minang yang merantau ke seluruh penjuru Nusantara (NKRI) ini 
berbagai profesi , tingkat pendidikan dan berusaha mencari nafkah di daerah 
orang lain di NKRI baik dalam usaha produk, barang dan jasa disektor formal 
(birokrasi, PNS, Militer) , Swasta dan non formal (manggaleh dll)

Ada yang memicu saya memang jika mengkritisi wacana atau orasi "menggugat NKRI" 
pak MN tsb.

Jika kita lihat sekarang di akar rumput (grass root) sejak otonomi tsb memang 
sentimen kedaerahan cukup tinggi dalam arti jika ada hal-hal yang sepele bisa 
melebar dan berkobar menjadi konflik horizontal dan vertikal berbau SARA

Kalau kita bisa membaca dan menyimak nama organisasi-organisasi kedaerahan 
seperti "Gasak Libas, Palak, Laskar ini itu, lalu diembel-embeli nama binatang 
buas seperti Harimau, Macan dll" itu bagi saya sebuah peringatan bagi (orang 
minang) yang merantau kesuatu daerah kira2 saya terjemahkan nama2 organisasi 
kedaerahan tsb adalah ;

"Hati-hati kalian merantau ke daerah kami,ini daerah kami dengan segala 
kekayaan SDA nya...dst dst"

Mau faktanya

ini saya alami sendiri dan sudah menjadi berita nasional di daerah kutai Barat 
bagaimana hanya masalah sepele saja awalnya di SPBU ada kesalahan pahaman 
anatara putra daerah dengan pendatang (perantau tapi non minang) akhirnya 
melebar kemana-kemana yang berakibat tindakan anarkhis, pembakaran kantong2 
ekonomi ditingkat masy terutama di pasar tradisional dan berlanjut tindakan 
sweeping yang membuat perantau ketakutan dan mencari perlindungan dan terpaksa 
beberapa karyawan kami suku tertentu karena perusahaan saya punya helikopter 
beberapa unit melakukan evakuasi dan ada beberapa toko/kedai orang awak  yang 
merantau ikut terbakar dan kena sweeping.

Pertanyaan apakah kawan dunia maya merasa yakin jika Federal akan lebih baik 
terutama ditingkat akar rumput jika dikaitkan orang minang yang Merantau begitu 
banyak jumlahnya di NKRI ini.

Tapi kalau Pak MN mengkritisi ketimpangan sosial, sistim kekuasaan yang korup 
dll itu masih dalam hal2 yang normatif saja, saya pikir ya itu tadi beliau dan 
klga di NKRI ini berada posisi "Zona nyaman" atas segala kesuksesan beliau , 
apa tidak mencoba sedikit "manenggang" orang2 minang yang merantau di NKRI 
terutama yang masih jauh dari zona nyaman hidup mencari nafkah, mau dikemanakan 
orang minang yang merantau ini kelak jika Federal dan diusir oleh suku lain 
karena sentimen kesukuan dan mereka memahami Federal itu secara awam.

Lalu Pak MN dari pandangan beliau begitu sinis dan cendrung benci pada 
sistim-sistim Kapitalis, seolah-seolah semua seakan runtuh di NKRI yang buruk 
ini (pakai istilah Pak Zul) dan mau tidak mau kita harus akui (mudah2an Pak MN 
mengakui juga) apapun barang2, produk dan jasa yang kita gunakan sehari-hari 
(80 persen tidak akan lari)  memang diciptakan dengan mengadop sistim kapitalis 
(secara ekonomi ya) tidak banyak sektor-sektor usaha seperti kondisi ideal yang 
dipikirkan Pak MN (diatas kertas) yang mandiri berdiri diatas diri sendiri 
yaitu Koperasi atau bank-bank (pro)kerakyatan.

Seperti kata Akmal apa aplikasi dari Pak MN jika Pak MN memang melakukan sebuah 
gerakan (aksi) paling tidak ada contoh "gugatan atau pandangan beliau" dia yang 
menjadi pemicu bagi masyarakat lain semisal beliau membuat koperasi kerakyatan, 
mengandal apa yang ada bangsa ini tabu memakai produk yang diciptakan oleh 
sistim kapitalis dan lain sebagainya seperti dicontohkan oleh tokoh intelektual 
Bangladesh (Bank Rakyat itu) saya lupa namanya ? Atau mungkin yang lebih 
revolusioner ya seperti Mahatma Gandhi ..dan berdampak begitu hebat bagi sebuah 
perubahan dimana rakyat semua lapisan terutama ditingkat bawah kearah yang 
lebih sejahtera boleh lah beliau jika saya mengutip sebuah judul lagu Iwan 
Falls dikatakan "Manusia 1/2 Dewa" (mohon disikapi sebuah metafora saja)


Demikian banyak maaf

Salam-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Evy Nizhamul <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 15 Jan 2013 17:53:30 
To: [email protected]<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Meuthia Naim<[email protected]>; Elvira Naim<[email protected]>; 
Emil Pk<[email protected]>; Amelia Indrajaya<[email protected]>
Subject: Bls: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU
 DITINJAU KEMBALI


Kawan kawan di dunia maya,
(meminjam istilah sebutan pak MN :D) 

Mengutip QS A Rahman : ' Nikmat mana lagi kah yang engkau dustakan '? 

Semoga cerita pak MN ini tidak membuat yang lain berkecil hati. Semua fungsi 
dan peran kita sudah dalam takdir Allah. 
Karena itu, Jadikan diri untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang 
diberikan Allah SWT kepada kita.

Saya kutip sketsa perjalanan dari buku Kunang-kunang ~ Sketsa Perjalanan : 

Jikalau ber-angan menjadi matahari 
Bersiaplah menyinari bumi dengan segala ikhtiar
Jikalau ber-angan menjadi jadi bulan atau bintang
Bersiaplah menyinari  malam yang gelap

Jika kau tak pernah jadi matahari
Berusahalah menjadi bulan 
Ketika kau tak mampu menjadi bulan
Berusahalah menjadi bintang

Ketika kau tak menjadi matahari, bulan dan atau bintang 
Jadilah  kau seekor kunang-kunang
Kunang-kunang tak mampu menyinari yang lain 
Namun dapat menyinari dirimu sendiri



Selamat buat pak Mochtar atas perjalanan hidupnya yang indah.

Wassalam,

3vy Nizhamul
(Tanah Merah, Pomalaa, Kolaka)





________________________________
Dari: Mochtar Naim <[email protected]>
Kepada: rantaunet rantaunet rantaunet <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]> 
Cc: Meuthia Naim <[email protected]>; Elvira Naim 
<[email protected]>; Emil Pk <[email protected]>; Amelia Indrajaya 
<[email protected]> 
Dikirim: Selasa, 15 Januari 2013 21:35
Judul: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM - MERANTAU SEPANJANG MASA, MERANTAU DITINJAU 
KEMBALI





Kawan2 di Dunia Maya,

Naskah berikut yang semula saya persiapkan untuk dibacakam sebagai Orasi pada 
upacara 80 Tahun
Mochtar Naim di Aula Gubernuran, hari Kamis tgl 10 Januari 2013 yl, ternyata 
tidak jadi dibacakan. 
Saya jadinya menyampaikan Orasi saya secara lisan-spontan seperti diharapkan 
oleh Panitia. 

Silahkan baca bagi yang berminat...



MERANTAU SEPANJANG MASA,
MERANTAU DITINJAU KEMBALI
Mochtar Naim

Orasi yang disampaikan pada Acara
80 Tahun Mochtar Naim,
Kamis, 10 Januari 2013,
Di Aula Gubernuran Pemda Sumatera Barat, Padang.

I
E MPAT PULUH TAHUN sudah sejak
saya menyampaikan Disertasi mengenai “Merantau: Minangkabau Voluntary
Migration” di University of Singapore Dept of Sociology (1973). Terjemahannya
ke dalam Bahasa Indonesia oleh sahabat saya: Ansari dan Rustam St Rumah Tinggi
(alm): Merantau: Pola Migrasi Suku
Minangkabau diterbitkan oleh Gadjah Mada Univ Press, tahun 1979, dan Edisi
ke II nya tahun 1984. Sementara Edisi ke III nya dengan Penerbit Rajawali, 
terbit baru kemarin ini, bertepatan dengan hari maulid-natal ke 80 penulis 
sendiri, 25
Desember 2012 yl, yang juga dirayakan oleh seluruh dunia Masehi.         
            Kuliah-kuliah
di bidang Sosiologi untuk tingkat PhD sudah saya selesaikan sebelumnya di New
York University, New York, sambil mengajar Bahasa Indonesia di universitas yang
sama dan bekerja di Perwakilan Indonesia ke PBB, dsb, di mana saya sempat
bermukim selama 8 tahun, dan isteri, Asma, 6 tahun, di kota metropolitan NY itu,
ketika Indonesia sedang bergolak karena pemberontakan PRRI dan Permesta. 
            Sebelum
ke New York, selama dua tahun, saya merantau ke Kanada, ke kota Montreal yang
berbahasa dobel, Inggeris dan Perancis, melanjutkan studi tentang Islam untuk
Master di Institute of Islamic Studies, McGill Univ. Dan itupun langsung tancap
dari Yogya dengan mutar-mutar dulu di Baghdad, Kairo dan beberapa kota di
Eropa. Dengan hanya sebuah surat rekomendasi dari Buya Hamka yang waktu itu
adalah profesor Tasawuf dan Sejarah Islam di PTAIN saya berangkat ke Kanada 
tanpa
mengepit gelar Drsnya dalam bidang Studi Islam di PTAIN ataupun bidang studi 
ekonomi
di UII, di Yogya. Saya begitu tamat dari SMA Negeri Birugo di Bukittinggi th
1951, langsung tancap ke Yogya memasuki Univ Gadjah Mada Fakultas HESP (Hukum,
Ekonomi, Sosial dan Politik), dan dapat beasiswa dari Kemdikbud. Di PTAIN pun
sesudah itu saya juga dapat beasiswa, semua karena nilai baik yang saya bawa
dari SMA Negeri Birugo Bukittinggi. Namun UGM kemudian saya tinggalkan dan saya
konsentrasi ke studi Islam dan Ekonomi. Saya memerlukan setahun lagi di tingkat
doktoral untuk mendapatkan gelar Drs di kedua sekolah tinggi tersebut. 

         Selama
8 tahun di negeri Paman Sam itu, sayapun sempat menete ke sana ke mari. Saya
sempat setahun, sebelum ke New York, jadi asisten peneliti di Yale University,
di bawah Prof Karl Pelzer yang ahli ekonomi geografi perkebunan di Sumatera
Timur, dan Prof Isidore Dyen, ahli bahasa-bahasa Malayo-Polinesia. Lalu jadi
pengajar Bahasa Indonesia sebagai instruktur dan native speaker di Cornell 
Univ, dan di SUNY Oswego College, NY
State, di tepi danau Ontario, sebagai profesor tamu. 
            Sebagai
oleh-oleh untuk dibawa pulang dari rantau Amerika itu, kami mendapatkan dua
anak belahan jiwa: Amelia Indrayeni (1965) dan Emil Hasan (1966), yang sekarang
juga sudah jadi orang, dengan masing-masing punya 4 anak. Yang tertua dari anak
Amelia, cucu pertama kami, Affan Rizki, 23 tahun, bahkan sudah menamatkan studi
Ekonomi Internasionalnya di Univ Tilburg, Negeri Belanda. Anak kami yang
ketiga, Elvira Endajelita, hasil satu-satunya dari ranah kampung halaman
sendiri, setelah pulang kembali ke sarang, lahir di Padang, ketika sedang 
kasak-kusuknya
menyiapkan Seminar Kebudayaan Minangkabau di Batu Sangkar, tahun 1970. Sebagai
oleh-oleh anak terakhir, bungsu, untuk dibawa pulang dari rantau Singapura, 
Meuthia
Alvernia, lahir di rumah sakit Mount Alvernia, Singapura tahun 1972, ketika
juga bersihening menyiapkan disertasi Merantau itu. Kemana orang tua ke sana
juga anak-anak, sehingga merekapun menjadi pengembara dunia ke berbagai penjuru
benua. Ke empat-empatnya lulusan ITB yang dua di antaranya sekarang juga
mengikuti jejak Dad-nya mengambil gelar Dr, satu yang tua di UI dan satu lagi
yang bungsu, sudah hampir selesai, di Griffith U, Brisbane, negara ‘Kang Guru,’
Australia. Sedang Masternya, Amelia dapatkan di  Univ of Colorado, Boulder, AS; 
Elvira di
National Univ of Singapore dan Meuthia di Univ of Leeds, England. Meuthia
ditemani oleh anak satu-satunya, sibiran tulang, Ismail Halim Suyudi, 10 tahun,
lahir di Leeds, England, bersekolah di Brisbane, Australia. Emil, anak
laki-laki kami satu-satunya, walau tidak melanjutkan tapi punya kedudukan cukup
mantap di perusahaan minyak Chevron di Balik Papan, dan aktif sebagai ustadz
menyuarakan gerakan Khilafah ke masa depan, di bawah bendera Hizbut Tahrir. 
            Belum
pula dengan suami-suami dan isteri dari anak-anak kami yang adalah
menantu-menantu kami. Mereka tanpa kecuali juga punya pendidikan yang baik.
Suami Amelia, Indrajaya Putera Januar –kami besanan dengan Pak Ir Yanuar Muin--,
lulusan ITB, PhD di Univ of Colorado di Boulder, USA; isteri Emil, Nina Rosalina
Rusli Dahlan, sarjana Bahasa Jepang – kami besanan dengan Rusli Dahlan SH, kawan
sekuliah Asma di UII Yogya, orang Banuhampu juga; Ir. Eri Rusli, suami Elvira,
insinyur metalurgi dari UI, orang Kubang Putiah, Banuhampu; dan Yudi Suyudi,
satu2nya menantu non-Minang dari Sunda, lulusan ITB dan Master di bidang 
Environment
dari Leeds Univ, England, bersama dengan Meuthia. Semua, juga tanpa kecuali,
suka berlanglang-buana manca-negara dan merantau ke mana-mana. Dan perangai ini
juga menurun ke cucu-cucu yang juga sudah ikut merayap di dunia ini ke
mana-mana ke mancanegara.

LIHAT SELANJUTNYA DI ATTACHMENT!
II
-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/                          

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/




-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke