Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati; (Nakan Akmal, terima kasih atas posting beritanya)
Menurut hemat saya, apa yang dilakukan Walikota Padang tersebut, yakni membongkar bangunan liar—apa lagi yang digunakan untuk tempat berbuat mesum—yang berpotensi besar sebagai sumber penyakit yang berhubungan dengan hubungan seks termasuk HIV-Aids—merupakan sesuatu yang sudah semestinya. Tetapi kalau dengan cara seperti itu Pak Wali akan melakukan apa yang disebutnya sebagai “memberantas maksiat”, kayaknya jauh panggang dari api alias hasilnya kecil sekali. Pertama, pelacuran itu sendiri, yang konon usianya sama dengan umur peradaban manusia, bukan masalah yang sederhana. Seorang kolega saya di PERFORM, sewaktu program tersebut masih bernama CLEAN Urban di Malang, yang sebelumnya pernah melakukan penelitian mengenai bisnis seks ini selama tiga tahun, pernah menceritakan kepada saya betapa rumit dan luasnya mata rantau bisnis ini serta eksternalitasnya, dan bagaimana sulitnya bagi perempuan-perempuan yang sudah masuk ke dalamnya—suka, setengah suka atau terpaksa/dijebak—untuk keluar, kecuali kalau sudah tua atau tidak laku jual lagi. Kedua sikap Walikota Padang tersebut mencerminkan sikap pemimpin—maaf— tanpa visi plus defisit kepemimpinan, adakalanya defisit perasaan kemanisiaan pula yang berfikir, bahwa berbagai masalah dapat diatasi di hilir. Bandingkan dengan yang dilakukan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam mengurangi tempat pelacuran di kotanya. Tetapi berbeda dengan sebagian besar koleganya, seperti dilaporkan majalah Tempo edisi Minggu, 9 Desember 2012 (“Bukan Bupati Biasa”) [1], perempuan walikota itu tidak memilih cara gampang untuk menggusur mereka. Misalnya ia melakukannya dengan turun langsung, mengajari pekerja seks itu berbagai keterampilan. Setelah siap mereka dikembalikan ke daerah asal dengan modal Rp3 juta. Walikota juga menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar lokalisasi yang kecipratan rezeki. Dengan pendekatan seperti ini, ia berhasil menutup 22 tempat pelacuran di Kremil, Tambaksari. Menurut berita terakhir, dengan pendekatan seperti ini Walikota akan menutup lokalisasi Dolly yang terkenal itu. Tentu tidak sukar menduga, bahwa apa yang dilakukan Walikota Surabaya itu pekerjaan yang penuh rintangan dan tantangan. Para germo diberitakan memprotes keras, sementara sejumlah PSK tersebut kembali lagi ke Surabaya dan menggeluti profesi semula. Sekalipun demikian banyak yang bisa dipelajari dari kebijakan Walikota Surabaya tersebut . Yang terpenting, kemaksiatan, salah satunya pelacuran, hanya bisa dikurangi, Namun tidak dapat dibasmi sama sekali. Untuk itupun perlu usaha terus menerus tanpa henti, dengan strategi yang tepat pula, dan harus dimulai dari hulu. Dan Walikota Surabaya, minus kekurangan di sana sini, tanpa pernyataan “gagah-gagahan” sudah berhasil melaksanakannya dengan baik. Seperti saya tulis sebelum ini, tidak ada jalan pintas ke Surga, Tidak ada “panacea”, obat tunggal yang mujarab mengobati semua penyakit. WaLlâhu a‘lam bi as-sawâb Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok Lihat juga: http://www.tempo.co/read/flashgrafis/2012/12/13/508/Bukan-Bupati-Biasa === [R@ntau-Net] Walkot Padang Robohkan Pondok Maksiat Wed Mar 20, 2013 5:13 am (PDT) . Posted by: "Akmal Nasery Basral" http://www.hidayatullah.com/read/27768/20/03/2013/walikota-padang-robohkan-p ondok-maksiat.html Walikota Padang Robohkan Pondok Maksiat Walikota Fauzi Bahar memimpin penggulingan pondok maksiat di Bukit Lampu (foto: Humas Pemprov) <http://ads.hidayatullah.com/bmhsip/> Rabu, 20 Maret 2013 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
