Assalamualaikum,w,w. 
Dunsanak sa palanta RN nan ambo hormati. Mancaliak dan mambaco ulasan terhadap 
berita "Walkot Padang Robohkan Pondok Maksiat" baik dari segi positif maupun 
dari segi negatifnyo dapek manambah wawasan kito tentang bagaimano sulitnyo 
memberantas "Panyakik Masyarakat" ko nan konon kabanyo usianyo samo jo umua 
peradaban manusia. 
Tetapi harusnyo tindakan responsif dan progresif pak Walkot jo jajarannyo ko 
harusnyo mandapek dukungan dari kito warga RN ko dengan caro memberikan masukan 
nan positif dan mendesak walkot dan jajarannyo tetap selalu secaro rutin dan 
berkesinambungan memberantas praktek prostitusi ko dengan bakarajo samo dengan 
LKAAM Sumbar dan para Alim Ulama kito. Tungku tigo sajarangan ko harus bahu 
membahu memberantasnyo tanpa harus bertindak sendiri2. 
Kito urang rantau ko sdh maraso sangat malu dengan berita2 maksiat dan 
perkosaan sarato kriminalitas sadis nan semangkin banyak memenuhi pemberitaan 
di TV maupun media cetak Nasional. 
Kito harok Pak Gubernur harus mengambil sikap dalam hal pemberantasan panyakik 
masyarakat ko. Kito nan di RN ko tetap mendorong agar tingkek kriminalitas di 
kampuang kito tidak terus maningkek. Malu kito !

Sekian saketek ulasan dari ambo nan alah lamo indak ikuik nimbrung di palanta 
RN ko.

Mohon maaf kok ambo salah ...

Wassalam.
HM Dt.Marah Bangso (56-)
Masih di Bumi Sriwijaya.
HMDTMB
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Darwin Bahar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 21 Mar 2013 04:39:26 
To: Palanta Rantaunet<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: Re: [R@ntau-Net] Walkot Padang Robohkan Pondok Maksiat

Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati;

(Nakan Akmal,  terima kasih atas posting beritanya)

Menurut hemat saya, apa yang dilakukan Walikota Padang tersebut, yakni
membongkar bangunan liar—apa lagi yang digunakan untuk tempat berbuat
mesum—yang berpotensi besar sebagai sumber penyakit yang berhubungan dengan
hubungan seks termasuk HIV-Aids—merupakan sesuatu yang  sudah semestinya.
Tetapi kalau dengan  cara seperti itu Pak Wali akan melakukan apa yang
disebutnya sebagai  “memberantas maksiat”, kayaknya jauh panggang dari api
alias hasilnya kecil sekali.

Pertama, pelacuran itu sendiri, yang konon usianya sama dengan umur
peradaban manusia, bukan masalah yang sederhana. Seorang kolega saya di
PERFORM, sewaktu program tersebut masih bernama CLEAN Urban di Malang, yang
sebelumnya pernah melakukan penelitian mengenai bisnis seks ini selama tiga
tahun, pernah menceritakan kepada saya betapa rumit dan luasnya mata rantau
bisnis ini serta eksternalitasnya, dan bagaimana sulitnya bagi
perempuan-perempuan yang sudah masuk ke dalamnya—suka, setengah suka atau
terpaksa/dijebak—untuk keluar, kecuali kalau sudah tua atau tidak laku jual
lagi.

Kedua sikap Walikota Padang tersebut mencerminkan sikap pemimpin—maaf— tanpa
visi plus defisit kepemimpinan, adakalanya defisit perasaan kemanisiaan pula
yang berfikir, bahwa berbagai masalah dapat diatasi di hilir.

Bandingkan dengan yang dilakukan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini
dalam mengurangi tempat pelacuran di kotanya.

Tetapi berbeda dengan sebagian besar koleganya, seperti dilaporkan majalah
Tempo edisi Minggu, 9 Desember 2012 (“Bukan Bupati Biasa”) [1],  perempuan
walikota itu  tidak memilih cara gampang untuk menggusur mereka. Misalnya ia
melakukannya dengan turun langsung, mengajari pekerja seks itu berbagai
keterampilan. Setelah siap mereka dikembalikan ke daerah asal dengan modal
Rp3 juta. Walikota juga menciptakan  lapangan kerja bagi warga sekitar
lokalisasi yang kecipratan rezeki. Dengan pendekatan seperti ini, ia
berhasil menutup 22 tempat pelacuran di Kremil, Tambaksari.

Menurut berita terakhir, dengan pendekatan seperti ini Walikota akan menutup
lokalisasi Dolly yang terkenal itu. 

Tentu tidak sukar menduga, bahwa apa yang dilakukan  Walikota Surabaya itu
pekerjaan  yang penuh rintangan dan tantangan. Para germo diberitakan
memprotes keras, sementara sejumlah PSK tersebut kembali lagi ke Surabaya
dan menggeluti profesi semula. Sekalipun  demikian banyak yang bisa
dipelajari dari kebijakan Walikota Surabaya tersebut .

Yang terpenting, kemaksiatan, salah satunya  pelacuran, hanya bisa
dikurangi, Namun tidak dapat dibasmi sama sekali. Untuk itupun perlu usaha
terus menerus tanpa henti, dengan strategi yang tepat pula, dan harus
dimulai dari hulu. Dan Walikota Surabaya, minus kekurangan di sana sini,
tanpa pernyataan “gagah-gagahan” sudah berhasil melaksanakannya dengan baik.


Seperti saya tulis sebelum ini, tidak ada jalan pintas ke Surga, Tidak ada
“panacea”, obat tunggal yang mujarab mengobati semua penyakit. 

WaLlâhu a‘lam bi as-sawâb

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok


Lihat juga:
http://www.tempo.co/read/flashgrafis/2012/12/13/508/Bukan-Bupati-Biasa

===

[R@ntau-Net] Walkot Padang Robohkan Pondok Maksiat 
Wed Mar 20, 2013 5:13 am (PDT) . Posted by: 
"Akmal Nasery Basral" 

http://www.hidayatullah.com/read/27768/20/03/2013/walikota-padang-robohkan-p
ondok-maksiat.html

Walikota Padang Robohkan Pondok Maksiat 
Walikota Fauzi Bahar memimpin penggulingan pondok maksiat di Bukit Lampu
(foto: Humas Pemprov) <http://ads.hidayatullah.com/bmhsip/>

Rabu, 20 Maret 2013

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke