Palanta RN yth.
Berikut tulisan saya tentang Islam dan Minangkabau dimuat di Padang Ekspres
Sabtu lalu. Ini tulisan sederhana membahas masalah klasik dan masih begitu
banyak pertanyaan yang belum terjawab. Saya juga membuat ini salah satunya
berdasarkan tulisan yg disampaikan oleh uda ANB sebelumnya tentang seberapa
Islami kita, beberapa waktu yg lalu.
Salam,
Donard, 34
* Kejayaan Islam dari Minang? *
Pengalaman saya mengikuti Simposium Muafakat Minang di Port Dickson, April
2014, mengingatkan saya kembali pada cita-cita ideal hubungan Islam dan
Minangkabau. Islam dianggap jawaban sempurna untuk semua permasalahan dan
orang Minang memiliki segenap apa yang dibutuhkan untuk menjadi bagian
terdepan dalam membangun peradaban baru yang lebih Islami. Muchtar Naim
menyebutnya “Dunia Melayu Dunia Islam”. Mungkinkah itu terjadi? Pertanyaan
yang lebih tepat adalah sejauh mana situasi saat ini memberi kepercayaan
diri bahwa cita-cita demikian akan tercapai?
Suatu penelitian penting tentang keberagamaan atau lebih
tepatnya keIslam-an dari Dessy Kurnia Sari (2014) menjadi sangat penting
untuk dikaji lebih lanjut. Dalam penelitiannya, berdasarkan survei 400
responden orang Minang ditemukan bahwa saat ini bahwa saat ini orang Minang
dalam beragama berada pada level moderat. Artinya, mereka memandang agama
cukup penting, tapi tidak sangat penting dibandingkan dengan beberapa hal
lain dalam kehidupan. Tentu penelitian ini tidak berlaku secara umum karena
jumlah responden dan lain-lain, tapi paling tidak ini memberikan suatu
gambaran bagi kita. Orang Minang tetap beridentitas Islam, tetapi,
misalnya, mereka tidak segan-segan memilih partai-partai yang bukan partai
Islam. Ketaatan menjalankan ritual seperti shalat tetap terjaga, tapi tidak
sangat kuat memengaruhi keputusan terutama dalam bermuamalah. Dalam contoh
ekstremnya, orang tidak segan-segan menyuap dan korupsi meskipun mereka
tetap shalat dan berhaji.
Penelitian saya (2014) juga memberikan pesan yang kuat bahwa
ada kecenderungan orang Minang saat ini untuk lebih mengedepankan karakter
individualis yang berujung pada kehilangan kepercayaan terhadap orang lain.
Ini menjadi sangat penting, misalnya, dalam dunia yang membutuhkan
kepercayaan dan kepastian seperti dalam dunia bisnis. Orang Minang selama
ini dikenal sebagai suku bangsa perantau yang menjadikan bisnis atau dagang
sebagai bagian dari identitas dirinya. Dengan modal seadanya, perantau
membutuhkan modal sosial yang kuat untuk dapat bertahan. Kekurangan
kepercayaan pada orang lain adalah cermin kekurangpercayaan pada
nilai-nilai kejujuran dan keteguhan memegang amanah. Bukankah ini yang
menjadi identitas Nabi Besar Muhammad SAW-*al-amin*?
*Lalu Apa?*
Taufik Abdullah pernah memberitahu saya bahwa justru di era reformasi ini
orang Minang mengalami kemunduran. Di saat semua orang bebas berekspresi
dan di lain pihak saat ini terbentuk raja-raja kecil karena otonomi daerah
yang kebablasan, orang Minang sepertinya cenderung jalan di tempat. Pada
suatu masa, ranah Minang adalah pusat pendidikan di tanah air. Saat ini,
kita boleh ragu bahwa anak-anak kita terbiasa berlaku curang dalam ujian.
Belum lagi kejahatan-kejahatan yang menimbulkan rasa tidak aman sekaligus
pertanda merosotnya akhlak dan martabat orang Minang. Lalu, apa yang mesti
dilakukan?
Penelitian Sari (2014) yang telah saya sampaikan sebelumnya, sebenarnya
telah memberi petunjuk yang nyata. Untuk mendekati mereka yang moderat,
pendekatan yang dilakukan semestinya berbeda. Ada hal yang selama in
terlalu lama kita biarkan tanpa ada perlawanan yang berarti. Ini tentang
penerimaan konsep adat basandi sara’ dan sara’ basandi kitabullah dalam
tataran simbolik. Ia ibarat mantra yang sering diulang-ulang dan justru
kehilangan makna karena kealpaan dalam menerapkan nilai-nilai luhur
kitabullah dalam tataran praktis. Sudah saatnya kita tidak lagi menjawab
semua persoalan dengan retorika; dan di saat bersamaan mengabaikan inti
penyelesaian masalah yang sebenarnya.
Kampanye untuk pelaksanaan ibadah ritual seperti shalat,puasa, dan mengaji
Alqur’an harus tetap jalan. Namun itu hanya efektif bila dilakukanbersamaan
dan selaras dengan pengamalan nilai-nilai Islam yang mewajibkan pemerangan
kemiskinan, peningkatan layanan publik, adanya rasa aman dalam masyarakat,
dan sikap tanpa mendua anti korupsi. Pesan tulisan ini senada dengan riset
yang dilakukan Rehman dan Askari (2010) yang menelaah tentang “seberapa
Islami sebenarnya negara-negara Islam (mayoritas penduduknya Islam)?
Berdasarkan indeks yang mereka ciptakan, Indonesia berada di peringkat 138
dari 208 negara. Kita kurang Islami ketimbang Malaysia (38), Kuwait (48),
Bahrain (64), dan Brunei (65). Tapi, mereka semua juga kurang Islami
dibandingkan dengan Islandia (4), Irlandia (3), Luxemburg (2), dan Selandia
Baru (1). Para peneliti ini menekankan penilaian mereka berdasarkan
nilai-nilai yang terkandung dalam Islam, yaitu keadilan dalam segenap aspek
kehidupan (politik, ekonomi, dan lain-lain), minimnya korupsi,
transparansi, dan adanya kebebasan dalam menentukan pilihan.
Irfan Amalee (204) menanggapi hasil riset Rehman dan Askari dengan kembali
pada kesimpulan lama dari Rasyid Ridha bahwa umat Islam Islam mundur karena
meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan ajarannya.
Kalau boleh ditambahkan, saat ini umat Islam mundur karena menjalankan
agamanya setengah-setengah sementara mereka tahu mereka telah menggenggam
nilai-nilai luhur Islam. Lalu, apakah kemajuan Barat adalah murni karena
mereka meninggalkan agama? Bisa jadi iya, tapi mungkin saja ini lebih
karena Barat menjadi Islami manakala mereka cenderung pada nilai-nilai
keadilan dan kepastian hukum yang dituntut dalam Islam. Sementara, dalam
aspek lain, atas nama kebebasan, mereka melangkah terlampau jauh. Selandia
Baru yang berada di peringkat satu adalah negara yang mengizinkan
pernikahan sesama jenis yang mana itu jelas-jelas tidak Islami.
Kembali ke pertanyaan awal, apakah kejayaan Islam bisa berasal salah
satunya dari Ranah Minang, itu dapat dijawab oleh orang Minang sendiri.
Mampukah kita menjadi suri tauladan yang paripurna; yang mampu menjalankan
keadilan dimana dan kapan saja? Mampukah kita memilih pemimpin-pemimpin
bukan karena sanak saudara atau popularitas, tapi karena akhlak dan
kompetensi yang dimilikinya? Mampukah pemimpin-pemimpin di Minangkabau
menangkap intisari ajaran Islam dan mengamalkannya bahkan jika saat ini
situasinya tidak ideal untuk itu? Mampukah kita menilai sesuatu bukan
karena kepentingan dan kenikmatan sesaat atau kepentingan diri sendri tapi
berdasarkan kemaslahatan bersama, kepentingan yang lebih besar, dan lebih
daripada itu dengan mengharap ridha Allah? Wallahu a'lam.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.