AslmWrWb

Tulisan yang bermanfaat, di tengah heboh Prahara JKxJK...:)

Kita tau, tidak ada satupun nubuat Nabi tentang orang Minang atau bangsa
Minang akan menjadi pusat kejayaan islam.
Ada hadist tentang keutamaan Syam dan juga Yaman, sehingga kalaupun saat
ini mereka bergolak lebih parah dari Minang, mereka masih bisa berharap
kejayaan Islam akan muncul dari mereka
Sama juga dgn bangsa Turki, dan bahkan Persia (hadistnya kalau gak salah
"seandainya kebenaran ada di bintang ...(lupa namanya). maka orang Persia
akan menggapainya ke sana). Silahkan yg ahli hadist memverifikasinya...;)

Jadi untuk Minang, cuman tinggal syarat2 umum tuk jadi pusat kejayaan Islam
(khairu Ummah)
 yg berlaku tuk semua bangsa dari Maroko sampai nusantara. Atau mudah2an
ada muncul mujaddid dari Minang yg muncul tiap 100 tahun.

Btw, kata ustadz Nouman ali Khan di ICNA convention Sabtu kemaren. kata
Ummah itu satu akar kata dgn Imam (Pemimpin), Amam (di depan) dan Ummun
(Ibu).

Wassalam
fitr
lk/39/baltimore MD
lagi ikut acara ICNA (Islamic Circle of North America) convention


2014-05-26 1:16 GMT-04:00 Donard Games <[email protected]>:

> Palanta RN yth.
>
> Berikut tulisan saya tentang Islam dan Minangkabau dimuat di Padang
> Ekspres Sabtu lalu. Ini tulisan sederhana membahas masalah klasik dan masih
> begitu  banyak pertanyaan yang belum terjawab. Saya juga membuat ini salah
> satunya berdasarkan tulisan yg disampaikan oleh uda ANB sebelumnya tentang
> seberapa Islami kita, beberapa waktu yg lalu.
>
>
> Salam,
>
> Donard, 34
>
>
>
>
> *                                        Kejayaan Islam dari Minang? *
>
>
>
> Pengalaman saya mengikuti Simposium Muafakat Minang di Port Dickson, April
> 2014, mengingatkan saya kembali pada cita-cita ideal hubungan Islam dan
> Minangkabau. Islam dianggap jawaban sempurna untuk semua permasalahan dan
> orang Minang memiliki segenap apa yang dibutuhkan untuk menjadi bagian
> terdepan dalam membangun peradaban baru yang lebih Islami. Muchtar Naim
> menyebutnya “Dunia Melayu Dunia Islam”. Mungkinkah itu terjadi? Pertanyaan
> yang lebih tepat adalah sejauh mana situasi saat ini memberi kepercayaan
> diri bahwa cita-cita demikian akan tercapai?
>
>             Suatu penelitian penting tentang keberagamaan atau lebih
> tepatnya keIslam-an dari Dessy Kurnia Sari (2014) menjadi sangat penting
> untuk dikaji lebih lanjut. Dalam penelitiannya, berdasarkan survei 400
> responden orang Minang ditemukan bahwa saat ini bahwa saat ini orang Minang
> dalam beragama berada pada level moderat. Artinya, mereka memandang agama
> cukup penting, tapi tidak sangat penting dibandingkan dengan beberapa hal
> lain dalam kehidupan. Tentu penelitian ini tidak berlaku secara umum karena
> jumlah responden dan lain-lain, tapi paling tidak ini memberikan suatu
> gambaran bagi kita.  Orang Minang tetap beridentitas Islam, tetapi,
> misalnya, mereka tidak segan-segan memilih partai-partai yang bukan partai
> Islam. Ketaatan menjalankan ritual seperti shalat tetap terjaga, tapi tidak
> sangat kuat memengaruhi keputusan terutama dalam bermuamalah. Dalam contoh
> ekstremnya, orang tidak segan-segan menyuap dan korupsi meskipun mereka
> tetap shalat dan berhaji.
>
>             Penelitian saya (2014) juga memberikan pesan yang kuat bahwa
> ada  kecenderungan orang Minang saat ini untuk lebih mengedepankan
> karakter individualis yang berujung pada kehilangan kepercayaan terhadap
> orang lain. Ini menjadi sangat penting, misalnya, dalam dunia yang
> membutuhkan kepercayaan dan kepastian seperti dalam dunia bisnis. Orang
> Minang selama ini dikenal sebagai suku bangsa perantau yang menjadikan
> bisnis atau dagang sebagai bagian dari identitas dirinya. Dengan modal
> seadanya, perantau membutuhkan modal sosial yang kuat untuk dapat bertahan.
> Kekurangan kepercayaan pada orang lain adalah cermin kekurangpercayaan pada
> nilai-nilai kejujuran dan keteguhan memegang amanah. Bukankah ini yang
> menjadi identitas Nabi Besar Muhammad SAW-*al-amin*?
>
>
>
>
>
> *Lalu Apa?*
>
> Taufik Abdullah pernah memberitahu saya bahwa justru di era reformasi ini
> orang Minang mengalami kemunduran. Di saat semua orang bebas berekspresi
> dan di lain pihak saat ini terbentuk raja-raja kecil karena otonomi daerah
> yang kebablasan, orang Minang sepertinya cenderung jalan di tempat. Pada
> suatu masa, ranah Minang adalah pusat pendidikan di tanah air. Saat ini,
> kita boleh ragu bahwa anak-anak kita terbiasa berlaku curang dalam ujian.
> Belum lagi kejahatan-kejahatan yang menimbulkan rasa tidak aman sekaligus
> pertanda merosotnya akhlak dan martabat orang Minang. Lalu, apa yang mesti
> dilakukan?
>
> Penelitian Sari (2014) yang telah saya sampaikan sebelumnya, sebenarnya
> telah memberi petunjuk yang nyata. Untuk mendekati mereka yang moderat,
> pendekatan yang dilakukan semestinya berbeda. Ada hal yang selama in
> terlalu lama kita biarkan tanpa ada perlawanan yang berarti. Ini tentang
> penerimaan konsep adat basandi sara’ dan sara’ basandi kitabullah dalam
> tataran simbolik. Ia ibarat mantra yang sering diulang-ulang dan justru
> kehilangan makna karena kealpaan dalam menerapkan nilai-nilai luhur
> kitabullah dalam tataran praktis. Sudah saatnya kita tidak lagi menjawab
> semua persoalan dengan retorika; dan di saat bersamaan mengabaikan inti
> penyelesaian masalah yang sebenarnya.
>
> Kampanye untuk pelaksanaan ibadah ritual seperti shalat,puasa, dan mengaji
> Alqur’an harus tetap jalan. Namun itu hanya efektif bila dilakukanbersamaan
> dan selaras dengan pengamalan nilai-nilai Islam yang mewajibkan pemerangan
> kemiskinan, peningkatan layanan publik, adanya rasa aman dalam masyarakat,
> dan sikap tanpa mendua anti korupsi. Pesan tulisan ini senada dengan riset
> yang dilakukan Rehman dan Askari (2010) yang menelaah tentang “seberapa
> Islami sebenarnya negara-negara Islam (mayoritas penduduknya Islam)?
> Berdasarkan indeks yang mereka ciptakan, Indonesia berada di peringkat 138
> dari 208 negara. Kita kurang Islami ketimbang Malaysia (38), Kuwait (48),
> Bahrain (64), dan Brunei (65). Tapi, mereka semua juga kurang Islami
> dibandingkan dengan Islandia (4), Irlandia (3), Luxemburg (2), dan Selandia
> Baru (1). Para peneliti ini menekankan penilaian mereka berdasarkan
> nilai-nilai yang terkandung dalam Islam, yaitu keadilan dalam segenap aspek
> kehidupan (politik, ekonomi, dan lain-lain), minimnya korupsi,
> transparansi, dan adanya kebebasan dalam menentukan pilihan.
>
> Irfan Amalee (204) menanggapi hasil riset Rehman dan Askari dengan kembali
> pada kesimpulan lama dari Rasyid Ridha bahwa umat Islam Islam mundur
> karena meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan
> ajarannya. Kalau boleh ditambahkan, saat ini umat Islam mundur karena
> menjalankan agamanya setengah-setengah sementara mereka tahu mereka telah
> menggenggam nilai-nilai luhur Islam. Lalu, apakah kemajuan Barat adalah
> murni karena mereka meninggalkan agama? Bisa jadi iya, tapi mungkin saja
> ini lebih karena Barat menjadi Islami manakala mereka cenderung pada
> nilai-nilai keadilan dan kepastian hukum yang dituntut dalam Islam.
> Sementara, dalam aspek lain, atas nama kebebasan,  mereka melangkah
> terlampau jauh. Selandia Baru yang berada di peringkat satu adalah negara
> yang mengizinkan pernikahan sesama jenis yang mana itu jelas-jelas tidak
> Islami.
>
> Kembali ke pertanyaan awal, apakah kejayaan Islam bisa berasal salah
> satunya dari Ranah Minang, itu dapat dijawab oleh orang Minang sendiri.
> Mampukah kita menjadi suri tauladan yang paripurna; yang mampu menjalankan
> keadilan dimana dan kapan saja? Mampukah kita memilih pemimpin-pemimpin
> bukan karena sanak saudara atau popularitas, tapi karena akhlak dan
> kompetensi yang dimilikinya? Mampukah pemimpin-pemimpin di Minangkabau
> menangkap intisari ajaran Islam dan mengamalkannya bahkan jika saat ini
> situasinya tidak ideal untuk itu? Mampukah kita menilai sesuatu bukan
> karena kepentingan dan kenikmatan sesaat atau kepentingan diri sendri tapi
> berdasarkan kemaslahatan bersama, kepentingan yang lebih besar, dan lebih
> daripada itu dengan mengharap ridha Allah? Wallahu a'lam.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke