Pak Donard, buliah tanyo ciek.Kemunduran iko kemunduran apo yang dimaksud
intinyo.

Salam,
Dody, JKT
On May 26, 2014 12:17 PM, "Donard Games" <[email protected]> wrote:

> Palanta RN yth.
>
> Berikut tulisan saya tentang Islam dan Minangkabau dimuat di Padang
> Ekspres Sabtu lalu. Ini tulisan sederhana membahas masalah klasik dan masih
> begitu  banyak pertanyaan yang belum terjawab. Saya juga membuat ini salah
> satunya berdasarkan tulisan yg disampaikan oleh uda ANB sebelumnya tentang
> seberapa Islami kita, beberapa waktu yg lalu.
>
>
> Salam,
>
> Donard, 34
>
>
>
>
> *                                        Kejayaan Islam dari Minang? *
>
>
>
> Pengalaman saya mengikuti Simposium Muafakat Minang di Port Dickson, April
> 2014, mengingatkan saya kembali pada cita-cita ideal hubungan Islam dan
> Minangkabau. Islam dianggap jawaban sempurna untuk semua permasalahan dan
> orang Minang memiliki segenap apa yang dibutuhkan untuk menjadi bagian
> terdepan dalam membangun peradaban baru yang lebih Islami. Muchtar Naim
> menyebutnya “Dunia Melayu Dunia Islam”. Mungkinkah itu terjadi? Pertanyaan
> yang lebih tepat adalah sejauh mana situasi saat ini memberi kepercayaan
> diri bahwa cita-cita demikian akan tercapai?
>
>             Suatu penelitian penting tentang keberagamaan atau lebih
> tepatnya keIslam-an dari Dessy Kurnia Sari (2014) menjadi sangat penting
> untuk dikaji lebih lanjut. Dalam penelitiannya, berdasarkan survei 400
> responden orang Minang ditemukan bahwa saat ini bahwa saat ini orang Minang
> dalam beragama berada pada level moderat. Artinya, mereka memandang agama
> cukup penting, tapi tidak sangat penting dibandingkan dengan beberapa hal
> lain dalam kehidupan. Tentu penelitian ini tidak berlaku secara umum karena
> jumlah responden dan lain-lain, tapi paling tidak ini memberikan suatu
> gambaran bagi kita.  Orang Minang tetap beridentitas Islam, tetapi,
> misalnya, mereka tidak segan-segan memilih partai-partai yang bukan partai
> Islam. Ketaatan menjalankan ritual seperti shalat tetap terjaga, tapi tidak
> sangat kuat memengaruhi keputusan terutama dalam bermuamalah. Dalam contoh
> ekstremnya, orang tidak segan-segan menyuap dan korupsi meskipun mereka
> tetap shalat dan berhaji.
>
>             Penelitian saya (2014) juga memberikan pesan yang kuat bahwa
> ada  kecenderungan orang Minang saat ini untuk lebih mengedepankan
> karakter individualis yang berujung pada kehilangan kepercayaan terhadap
> orang lain. Ini menjadi sangat penting, misalnya, dalam dunia yang
> membutuhkan kepercayaan dan kepastian seperti dalam dunia bisnis. Orang
> Minang selama ini dikenal sebagai suku bangsa perantau yang menjadikan
> bisnis atau dagang sebagai bagian dari identitas dirinya. Dengan modal
> seadanya, perantau membutuhkan modal sosial yang kuat untuk dapat bertahan.
> Kekurangan kepercayaan pada orang lain adalah cermin kekurangpercayaan pada
> nilai-nilai kejujuran dan keteguhan memegang amanah. Bukankah ini yang
> menjadi identitas Nabi Besar Muhammad SAW-*al-amin*?
>
>
>
>
>
> *Lalu Apa?*
>
> Taufik Abdullah pernah memberitahu saya bahwa justru di era reformasi ini
> orang Minang mengalami kemunduran. Di saat semua orang bebas berekspresi
> dan di lain pihak saat ini terbentuk raja-raja kecil karena otonomi daerah
> yang kebablasan, orang Minang sepertinya cenderung jalan di tempat. Pada
> suatu masa, ranah Minang adalah pusat pendidikan di tanah air. Saat ini,
> kita boleh ragu bahwa anak-anak kita terbiasa berlaku curang dalam ujian.
> Belum lagi kejahatan-kejahatan yang menimbulkan rasa tidak aman sekaligus
> pertanda merosotnya akhlak dan martabat orang Minang. Lalu, apa yang mesti
> dilakukan?
>
> Penelitian Sari (2014) yang telah saya sampaikan sebelumnya, sebenarnya
> telah memberi petunjuk yang nyata. Untuk mendekati mereka yang moderat,
> pendekatan yang dilakukan semestinya berbeda. Ada hal yang selama in
> terlalu lama kita biarkan tanpa ada perlawanan yang berarti. Ini tentang
> penerimaan konsep adat basandi sara’ dan sara’ basandi kitabullah dalam
> tataran simbolik. Ia ibarat mantra yang sering diulang-ulang dan justru
> kehilangan makna karena kealpaan dalam menerapkan nilai-nilai luhur
> kitabullah dalam tataran praktis. Sudah saatnya kita tidak lagi menjawab
> semua persoalan dengan retorika; dan di saat bersamaan mengabaikan inti
> penyelesaian masalah yang sebenarnya.
>
> Kampanye untuk pelaksanaan ibadah ritual seperti shalat,puasa, dan mengaji
> Alqur’an harus tetap jalan. Namun itu hanya efektif bila dilakukanbersamaan
> dan selaras dengan pengamalan nilai-nilai Islam yang mewajibkan pemerangan
> kemiskinan, peningkatan layanan publik, adanya rasa aman dalam masyarakat,
> dan sikap tanpa mendua anti korupsi. Pesan tulisan ini senada dengan riset
> yang dilakukan Rehman dan Askari (2010) yang menelaah tentang “seberapa
> Islami sebenarnya negara-negara Islam (mayoritas penduduknya Islam)?
> Berdasarkan indeks yang mereka ciptakan, Indonesia berada di peringkat 138
> dari 208 negara. Kita kurang Islami ketimbang Malaysia (38), Kuwait (48),
> Bahrain (64), dan Brunei (65). Tapi, mereka semua juga kurang Islami
> dibandingkan dengan Islandia (4), Irlandia (3), Luxemburg (2), dan Selandia
> Baru (1). Para peneliti ini menekankan penilaian mereka berdasarkan
> nilai-nilai yang terkandung dalam Islam, yaitu keadilan dalam segenap aspek
> kehidupan (politik, ekonomi, dan lain-lain), minimnya korupsi,
> transparansi, dan adanya kebebasan dalam menentukan pilihan.
>
> Irfan Amalee (204) menanggapi hasil riset Rehman dan Askari dengan kembali
> pada kesimpulan lama dari Rasyid Ridha bahwa umat Islam Islam mundur
> karena meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan
> ajarannya. Kalau boleh ditambahkan, saat ini umat Islam mundur karena
> menjalankan agamanya setengah-setengah sementara mereka tahu mereka telah
> menggenggam nilai-nilai luhur Islam. Lalu, apakah kemajuan Barat adalah
> murni karena mereka meninggalkan agama? Bisa jadi iya, tapi mungkin saja
> ini lebih karena Barat menjadi Islami manakala mereka cenderung pada
> nilai-nilai keadilan dan kepastian hukum yang dituntut dalam Islam.
> Sementara, dalam aspek lain, atas nama kebebasan,  mereka melangkah
> terlampau jauh. Selandia Baru yang berada di peringkat satu adalah negara
> yang mengizinkan pernikahan sesama jenis yang mana itu jelas-jelas tidak
> Islami.
>
> Kembali ke pertanyaan awal, apakah kejayaan Islam bisa berasal salah
> satunya dari Ranah Minang, itu dapat dijawab oleh orang Minang sendiri.
> Mampukah kita menjadi suri tauladan yang paripurna; yang mampu menjalankan
> keadilan dimana dan kapan saja? Mampukah kita memilih pemimpin-pemimpin
> bukan karena sanak saudara atau popularitas, tapi karena akhlak dan
> kompetensi yang dimilikinya? Mampukah pemimpin-pemimpin di Minangkabau
> menangkap intisari ajaran Islam dan mengamalkannya bahkan jika saat ini
> situasinya tidak ideal untuk itu? Mampukah kita menilai sesuatu bukan
> karena kepentingan dan kenikmatan sesaat atau kepentingan diri sendri tapi
> berdasarkan kemaslahatan bersama, kepentingan yang lebih besar, dan lebih
> daripada itu dengan mengharap ridha Allah? Wallahu a'lam.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke