Pak Dody, masalah klasik, Pak. Kalau  manuruik ambo kemunduran akhlak atau 
paling indak akhlak kito indak terlembagakan.  Kito sabananyo indak kalah Jo 
Barat, tapi kito indak sadar. Barat kurang nilai agamo tapi ado etik yg 
dilembagakan. Patang hp ambo hilang, tapi karano ambo labiah yakin pasti ado 
urang malapor ka satpam, ambo tanang2 samo. ternyato iyo hp Tu Lah di satpam.

 Ambo sangat acok ka RS indak mambayia karena asuransi malakek kasado urang dan 
dilayani sangaik ramah. Dek awak Lah ambo cubo layanan askes Tu tambah sakik 
kapalo ambo dulu.  

Kalau Lah ancak layanan RS pemerintah, Tu Lah patando kito maju, ndak mundur.

Salam,
Donard

-----Original Message-----
From: "Dody Osmon" <[email protected]>
Sent: ‎26/‎05/‎2014 10:44 PM
To: "Rantaunet" <[email protected]>
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kejayaan Islam dari Minang?

Pak Donard, buliah tanyo ciek.Kemunduran iko kemunduran apo yang dimaksud 
intinyo.
Salam,
Dody, JKT
On May 26, 2014 12:17 PM, "Donard Games" <[email protected]> wrote:

Palanta RN yth.
Berikut tulisan saya tentang Islam dan Minangkabau dimuat di Padang Ekspres 
Sabtu lalu. Ini tulisan sederhana membahas masalah klasik dan masih begitu  
banyak pertanyaan yang belum terjawab. Saya juga membuat ini salah satunya 
berdasarkan tulisan yg disampaikan oleh uda ANB sebelumnya tentang seberapa 
Islami kita, beberapa waktu yg lalu.



Salam,
Donard, 34

            

                                        Kejayaan Islam dari Minang? 
 
Pengalaman saya mengikuti Simposium Muafakat Minang di Port Dickson, April 
2014, mengingatkan saya kembali pada cita-cita ideal hubungan Islam dan 
Minangkabau. Islam dianggap jawaban sempurna untuk semua permasalahan dan orang 
Minang memiliki segenap apa yang dibutuhkan untuk menjadi bagian terdepan dalam 
membangun peradaban baru yang lebih Islami. Muchtar Naim menyebutnya “Dunia 
Melayu Dunia Islam”. Mungkinkah itu terjadi? Pertanyaan yang lebih tepat adalah 
sejauh mana situasi saat ini memberi kepercayaan diri bahwa cita-cita demikian 
akan tercapai?
            Suatu penelitian penting tentang keberagamaan atau lebih tepatnya 
keIslam-an dari Dessy Kurnia Sari (2014) menjadi sangat penting untuk dikaji 
lebih lanjut. Dalam penelitiannya, berdasarkan survei 400 responden orang 
Minang ditemukan bahwa saat ini bahwa saat ini orang Minang dalam beragama 
berada pada level moderat. Artinya, mereka memandang agama cukup penting, tapi 
tidak sangat penting dibandingkan dengan beberapa hal lain dalam kehidupan. 
Tentu penelitian ini tidak berlaku secara umum karena jumlah responden dan 
lain-lain, tapi paling tidak ini memberikan suatu gambaran bagi kita.  Orang 
Minang tetap beridentitas Islam, tetapi, misalnya, mereka tidak segan-segan 
memilih partai-partai yang bukan partai Islam. Ketaatan menjalankan ritual 
seperti shalat tetap terjaga, tapi tidak sangat kuat memengaruhi keputusan 
terutama dalam bermuamalah. Dalam contoh ekstremnya, orang tidak segan-segan 
menyuap dan korupsi meskipun mereka tetap shalat dan berhaji. 
            Penelitian saya (2014) juga memberikan pesan yang kuat bahwa ada  
kecenderungan orang Minang saat ini untuk lebih mengedepankan karakter 
individualis yang berujung pada kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Ini 
menjadi sangat penting, misalnya, dalam dunia yang membutuhkan kepercayaan dan 
kepastian seperti dalam dunia bisnis. Orang Minang selama ini dikenal sebagai 
suku bangsa perantau yang menjadikan bisnis atau dagang sebagai bagian dari 
identitas dirinya. Dengan modal seadanya, perantau membutuhkan modal sosial 
yang kuat untuk dapat bertahan. Kekurangan kepercayaan pada orang lain adalah 
cermin kekurangpercayaan pada nilai-nilai kejujuran dan keteguhan memegang 
amanah. Bukankah ini yang menjadi identitas Nabi Besar Muhammad SAW-al-amin?
 
 
Lalu Apa?
Taufik Abdullah pernah memberitahu saya bahwa justru di era reformasi ini orang 
Minang mengalami kemunduran. Di saat semua orang bebas berekspresi dan di lain 
pihak saat ini terbentuk raja-raja kecil karena otonomi daerah yang kebablasan, 
orang Minang sepertinya cenderung jalan di tempat. Pada suatu masa, ranah 
Minang adalah pusat pendidikan di tanah air. Saat ini, kita boleh ragu bahwa 
anak-anak kita terbiasa berlaku curang dalam ujian. Belum lagi 
kejahatan-kejahatan yang menimbulkan rasa tidak aman sekaligus pertanda 
merosotnya akhlak dan martabat orang Minang. Lalu, apa yang mesti dilakukan? 
Penelitian Sari (2014) yang telah saya sampaikan sebelumnya, sebenarnya telah 
memberi petunjuk yang nyata. Untuk mendekati mereka yang moderat, pendekatan 
yang dilakukan semestinya berbeda. Ada hal yang selama in terlalu lama kita 
biarkan tanpa ada perlawanan yang berarti. Ini tentang penerimaan konsep adat 
basandi sara’ dan sara’ basandi kitabullah dalam tataran simbolik. Ia ibarat 
mantra yang sering diulang-ulang dan justru kehilangan makna karena kealpaan 
dalam menerapkan nilai-nilai luhur kitabullah dalam tataran praktis. Sudah 
saatnya kita tidak lagi menjawab semua persoalan dengan retorika; dan di saat 
bersamaan mengabaikan inti penyelesaian masalah yang sebenarnya.
Kampanye untuk pelaksanaan ibadah ritual seperti shalat,puasa, dan mengaji 
Alqur’an harus tetap jalan. Namun itu hanya efektif bila dilakukanbersamaan dan 
selaras dengan pengamalan nilai-nilai Islam yang mewajibkan pemerangan 
kemiskinan, peningkatan layanan publik, adanya rasa aman dalam masyarakat, dan 
sikap tanpa mendua anti korupsi. Pesan tulisan ini senada dengan riset yang 
dilakukan Rehman dan Askari (2010) yang menelaah tentang “seberapa Islami 
sebenarnya negara-negara Islam (mayoritas penduduknya Islam)? Berdasarkan 
indeks yang mereka ciptakan, Indonesia berada di peringkat 138 dari 208 negara. 
Kita kurang Islami ketimbang Malaysia (38), Kuwait (48), Bahrain (64), dan 
Brunei (65). Tapi, mereka semua juga kurang Islami dibandingkan dengan Islandia 
(4), Irlandia (3), Luxemburg (2), dan Selandia Baru (1). Para peneliti ini 
menekankan penilaian mereka berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam 
Islam, yaitu keadilan dalam segenap aspek kehidupan (politik, ekonomi, dan 
lain-lain), minimnya korupsi, transparansi, dan adanya kebebasan dalam 
menentukan pilihan.
Irfan Amalee (204) menanggapi hasil riset Rehman dan Askari dengan kembali pada 
kesimpulan lama dari Rasyid Ridha bahwa umat Islam Islam mundur karena 
meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan ajarannya. 
Kalau boleh ditambahkan, saat ini umat Islam mundur karena menjalankan agamanya 
setengah-setengah sementara mereka tahu mereka telah menggenggam nilai-nilai 
luhur Islam. Lalu, apakah kemajuan Barat adalah murni karena mereka 
meninggalkan agama? Bisa jadi iya, tapi mungkin saja ini lebih karena Barat 
menjadi Islami manakala mereka cenderung pada nilai-nilai keadilan dan 
kepastian hukum yang dituntut dalam Islam. Sementara, dalam aspek lain, atas 
nama kebebasan,  mereka melangkah terlampau jauh. Selandia Baru yang berada di 
peringkat satu adalah negara yang mengizinkan pernikahan sesama jenis yang mana 
itu jelas-jelas tidak Islami.
Kembali ke pertanyaan awal, apakah kejayaan Islam bisa berasal salah satunya 
dari Ranah Minang, itu dapat dijawab oleh orang Minang sendiri. Mampukah kita 
menjadi suri tauladan yang paripurna; yang mampu menjalankan keadilan dimana 
dan kapan saja? Mampukah kita memilih pemimpin-pemimpin bukan karena sanak 
saudara atau popularitas, tapi karena akhlak dan kompetensi yang dimilikinya? 
Mampukah pemimpin-pemimpin di Minangkabau menangkap intisari ajaran Islam dan 
mengamalkannya bahkan jika saat ini situasinya tidak ideal untuk itu? Mampukah 
kita menilai sesuatu bukan karena kepentingan dan kenikmatan sesaat atau 
kepentingan diri sendri tapi berdasarkan kemaslahatan bersama, kepentingan yang 
lebih besar, dan lebih daripada itu dengan mengharap ridha Allah? Wallahu 
a'lam. 
 
                                    
 
 
 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke