Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu Talapeh dari sumarak pambagian gala, nan raso-rasono lai pado tampaikno pulo, dek mancaliak jaso baliau-baliau nan manarimo gala, iyo tatanyo-tanyo dihati ambo dek baru sakaliko upacara sarupo iko ambo dangaan. Sarupo ado nuansa nan agak balain pado nan biaso rasono.
Tarimo kasih Datuak. Samo tatanyo-tanyo di hati ambo sabagian dari nan Datuak sampaian. Tapi indak takecek-an, sampai ambo mambaco uraian Datuak. Wassalamu'alaikum Lembang Alam 2009/1/16 Datuk Endang <[email protected]> > Pak Abraham Ilyas dan Ibu Hifny yth. > Apa yang Pak Abraham sampaikan menimbulkan perenungan yang panjang bagi > saya. Terdapat kata-kata yang tidak pada patutnya, sehingga perlu dicek dan > kroscek sehingga tidak menimbulkan masalah dan mengaburkan sejarah. > > Pertama, istilah gelar sangsako 'adat', perlu dipertanyakan adat apa dan > adat dimana. Sehingga seharusnya frasa itu berbentuk: sangsako adat ... > [apa] ... [dimana]. Sangsakonya apa, sakonya apa, pusakonya apa. Kemudian > lebih lanjut perlu dikenali sistem adatnya bagaimana. Apakah mengenal hukum > nan ampek, apa cupak usalinya (saya kira ini bisa dijawab) dan apa saja > cupak buatannya. Di dalam beberapa versi tambo, saya belum menemukan adat > model begini. > > Kedua, Pemangku 'Daulat' Yang Dipertuan, ini juga perlu diperjelas makna > 'daulat'. Daulat terhadap orang-orang yang mana, juga daulat terhadap > wilayah apa. Karena 'daulat' adalah salah satu unsur dalam Konvensi > Montevidio. Yang jelas dari sejarah yang pernah saya kembangkan, daulat itu > sudah habis pada masa Perang Paderi. Kalau terbentuk 'daulat' pada era > generasi ke-3, kiranya perlu diperjelas mengenai siapa dan dimana itu. > > Ketiga, istilah 'mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau' perlu > diperjelas, karena saya baru kali ini mendengar istilah ini. Raja terakhir > Pagaruyung tidak pernah menggunakan istilah ini. Kemudian diperjelas apa itu > Pucuak Adat, siapa-siapa saja orangnya. Klaim ini sangat berbahaya. Yang > terpenting adalah kata-kata 'mewakili', ini mengingatkan saya dengan > perjanjian penyerahan Minangkabau kepada Belanda; jaan sampai tuneh tumbuah > di nan salah. > > Keempat, istilah 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau', belum > pernah saya dengar, termasuk LKAAM sepertinya tidak pernah menggunakan > istilah ini. Apakah kemarin acaranya berlangsung di Bukit Marapalam?, kalau > iya, 'sedikit' agak relevan. Namun tabuah larangan di tampek ambo indak > babuni. > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
