Assalamualaikum Warrahamatullahi wa barakatuh,
Sanak sudaro se alam minangkabau, Setelah menyimak topik yang menarik yang tengah berlangsung dalam beberapa minggu ini, marilah kita menarik suatu kesimpulan yang saya beri judul " Tambo - Silsilah kerajaan si Sumbar - Gelar Sangsako Adat - ABS -SBK ", sebagai berikut : 1. Tambo dan alam minangkabau: Tambo merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo bukan catatan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah. Terdapat dua jenis tambo yang menjadi tonggak adat dan budaya minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu : i. Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan , ii. Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak basa karena hujan.. Untuk ukuran masa sekarang, maka Tambo dapat dikatakan sebagai informasi budaya yang spektakuler. Bagi masyakakat minang, kisah asal usul suku bangsa minang yang dinukilkan dalam kaba maupun tambo, realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya minangkabau kuno. Walaupun, sumber informasi yang ada tentang keminangkabauan itu, merupakan ornamen mitologi, yaitu mengkisahkan asal usul dan migrasi suku bangsa minang kabau secara fiksi (dongeng), namun ia tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja pantun yang berbunyi, seperti ini : Dimana mulanya terbit pelita Dibalik tanglun nan berapi Dimana mulanya ninik kita Ialah di puncak gunung Merapi 2. Silsilah Kerajaan di Sumatera Barat ( Minangkabau Kuno): Berdasarkan postingan yang masuk maka : 1. cakupan wilayah minangkabau sesuai dengan apa yang tertuang dalam Tambo, adalah : "Jauah nan buliah ditunjuakkan, dakek nan buliah dikakokkan, sabarih bapantang lupo satitiak bapantang ilang, kok ilang tulisan di Batu, di Limbago tingga juo, nan Salareh Batang Bangkaweh, Salilik Gunuang Marapi Saedaran Gunuang Pasaman Sajajaran Sago jo Singgalang sahinggo Talang jo Gunuang Kurinci, 2. Didalam Wilayah Minangkabau terdapat Kelarasan - Luhak nan Tigo yang yang terbetuk sejak zaman Datuak Maharajo Dirajo yang menjadi asal usul manusia Minangkabau pada masa dahulunya. Kemudian selanjutnya oleh Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, membentuk fondasi bagi adat istadat di Minangkabau ; meliputi undang-undang dan Limbago serta pembagian suku ; bodi - chanioago – koto – piliang, dst nya. 3. Dalam kerangka ini, maka pembentukan kelompok masyarakat hukum adat yang berpayung dibawah panji alam minangkabau - yang asal usulnya sebagaimana tertuang didalam Tambo itu , maka tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok masyarakat itu - berkelompok dalam satu kepemimpinan /Penghulu. 4. Nagari – Nagari yang memiliki adat dan lembaga yang kemudian berkembang dan berkelompok menjadi kesatuan masyarakat hukum adat yang dipimpin oleh penghulu pucuknya – maka tetap saja yang menjadi acuan dalam hukum adat mereka itu adalah sesuai dengan duo adat di Minagkabau, yaitu : adat Dt Parapatiah nan Sabatang, nan barajo ka kato mufakat dan adat Dt Ketemangguangan nan Barajo ka Rajo. 5. Di wilayah minangkabau tidak semata hanya ada kerajaan Pagaruyung, melainkan terdapat kerajaan lainnya seperti Darmasyraya, Indera Pura, Sungai Pagu, Taraguang (seperti yang dilotarkan oleh Datuk Endang). Lebih-lebih Sungai Tarab yang juga harus menggali secara histori, karena disinilah bermula adanya cerita yang ada di dalam Tambo yang kita kenal. 6. Silsilah kerajaan – kerajaan di Minangkabau perlu disusun dalam dua tataran, yaitu tataran nagari sebagai infrastruktur yang tumbuh dari dalam, dan tataran kerajaan-kerajaan sebagai suprastruktur yang datang dari luar. Selayaknya, hubungan antara kedua tataran ini harus diperjelas oleh ahli sejarah. Bagaimana pun, eksistensi kerajaan-kerajaan tersebut merupakan bagian menyeluruh dari keseluruhan sejarah Minangkabau. III. Gelar Sasangko Adat : Pemberian gelar sasangko adat yang mengatas namakan pemangku adat alam minangkabau menimbulkan controversial bagi kalangan orang minangkabau sendiri. Pemberian gelar sasangko adat dalam Struktur adat minangkabau, menimbulkan perenungan yang panjang bagi kita. Terdapat kata-kata yang tidak pada patutnya, sehingga perlu dicek dan kroscek sehingga tidak menimbulkan masalah dan mengaburkan sejarah, antara lain : Pertama, istilah gelar sangsako 'adat', perlu dipertanyakan adat apa dan adat dimana. Sehingga seharusnya frasa itu berbentuk: sangsako adat ... [apa] ... [dimana]. Sangsakonya apa, sakonya apa, pusakonya apa. Kemudian lebih lanjut perlu dikenali sistem adatnya bagaimana. Apakah mengenal hukum nan ampek, apa cupak usalinya (saya kira ini bisa dijawab) dan apa saja cupak buatannya. Di dalam beberapa versi tambo belum ditemukan adat model begini. Kedua, Pemangku 'Daulat' Yang Dipertuan, ini juga perlu diperjelas makna 'daulat'. Daulat terhadap orang-orang yang mana, juga daulat terhadap wilayah apa. Karena 'daulat' adalah salah satu unsur dalam Konvensi Montevidio. Yang jelas dari sejarah yang pernah dikembangkan, daulat itu sudah habis pada masa Perang Paderi. Kalau terbentuk 'daulat' pada era generasi ke-3, kiranya perlu diperjelas mengenai siapa dan dimana itu. Ketiga, istilah 'mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau' perlu diperjelas, karena saya baru kali ini mendengar istilah ini. Raja terakhir Pagaruyung tidak pernah menggunakan istilah ini. Kemudian diperjelas apa itu Pucuak Adat, siapa-siapa saja orangnya. Klaim ini sangat berbahaya. Yang terpenting adalah kata-kata 'mewakili', ini mengingatkan saya dengan perjanjian penyerahan Minangkabau kepada Belanda; jaan sampai tuneh tumbuah di nan salah. Keempat, istilah 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau', belum pernah terdengar, termasuk LKAAM sepertinya tidak pernah menggunakan istilah ini. Apakah kemarin itu berlangsung di Bukit Marapalam?, kalau iya, 'sedikit' agak relevan. Dengan adanya pertanyaan ini, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa perberlakuan “ Adat salingka Nagari “ benar – benar telah dipraktekkan oleh pemangku kerajaan Pagaruyung. Akan tetapi pihak Kerajaan Pagaruyung hendaknya tetap bersedia menerima koreksi bahwa Apa yang dilakukan oleh kerajaan Pagaruyung dalam pemberian gelar sasangko adat sesungguhnya tidak membawa implikasi terhadap alam minangkabau itu sendiri, karena pemangku 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau' saat ini adalah LKAAM Demikian postingan yang masuk dapat saya simpulkan seperti yang diuraikan diatas seputar Tambo – Silsilah kerajaan di Minangkabau dan Gelar Sasangko Adat. Lebih kurang dalam menangkap apa yang tersurat dan apa yang tersirat dari perbincangan sanak-sanak mohon dimaafkan. Mengutip sebuah hadis - Rasulullah mengingatkan tentang penyelesaian masalah ini lewat sabdanya: “Apabila suatu urusan itu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” ... sepotong kalimat ini bermakna luas dimana kita dapat menyimpulkan bahwa kompetensi keilmuan dalam menyelesaikan suatu masalah - diyakini dapat mengurangi mis informasi yang tengah berlangsung dan yang sejarah akan yang akan digarap. Semoga kalangan sejarah yang akan menggarap seputar subyek ini tetap netral dalam menyajikan hasil penelitiannya. Wassalam, Hifni H. Nizhamul Kawasan Puspiptek - Serpong-Tangerang http://bundokanduang.wordpress.com --- On Sat, 1/17/09, datuk_endang <[email protected]> wrote: From: datuk_endang <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa. To: [email protected] Date: Saturday, January 17, 2009, 8:15 PM Wa'alaikum salam. Dek banyak urang di balai, kato nan katibo biasonyo kato bagalau. Tapi itu bana nan acok balaku di Minangkabau, lamak dikatokan lamak dikunyah. Baa kok tambah binguang, saroman manyaruak ka dalam rimbo, indak tantu isi kabanaran di dalamnyo. Kito indak salamonyo manyarahkan kabanaran kapado ahli, karono kok pun ado itupun berlaku sebagai opini, karono liang indak katabuak gantiang indak kaputui. Jadi memang tagantuang sia nan mahelo informasi, nan dapek mahawai sahabih raso marosok sahabih gawuoang, Saketek carito, daulu sasudah terbit buku 'Tuanku Rao' oleh MOP, bakumpua sado nan pakar sejarah dipimpin M.D. Mansoer untuak mambuek buku pengimbang, namonyo 'Sedjarah Minangkabau'. Namun hinggo kini nan banyak ditimbang urang manghado'i MOP iyolah buku Buya Hamka itu, walaupun beliau bukan ahli sejarah. Jadi opini harus lawan opini, walaupun dikaluakan institusi resmi. Itu nan kandak urang di balai. Daulu kutiko kami menghadapi masalah nan samo, diundang Buya HMA dari MUI dan Ketua LKAAM untuak bacarito di Jakarta. Karono kami tahu masalah nan dihado'i adolah kato bagalau, jadi memang harus dihadapi oleh opini. Salabiahnyo dilapehkan ka urang nan banyak. Kok iyo ikolah nan sabananyo masalah sekaligus potensi urang awak. Kalau dapek paralu dilakukan penelitian mengenai manajemen kato bagalau itu handaknyo. Wassalam, -datuk endang --- In [email protected], "Darul M" <dar...@...> wrote: > > > Assalamulaikum WW > > Dek alah banyak nan bakomentar, baa mangko malah ambo tambah binguang, > nan ambo binguangkan adolah pewaris kerajaan Minangkabau. Baa latak > pewarisno tu, manuruik keturunan tau manuruik pemilihan. Tadanga > diambo dulu, dek ambo iyo indak pernah baraja adat, salain mandanga jo > mamparatian ka ota urang sabalik sajo. > > Di Minagkabau ado duo adat, adat Dt Parapatiah nan Sabatang, nan > barajo ka kato mufakat dan adat Dt Ketemangguangan nan Barajo ka Rajo. > > Apo ado dari kaduo sistim nangko nan mamapunyoi rajo berdasarkan > keturunan? Jiko iyo bararti baa sisitim pamiliahnno. Kalau nan > Panghulu, nan nampak diambo sajono yo, iyo berdasarkan keturunan dari > mamak turun kakabanakan, tapi indak langsuang kabanakan nan pailang > tuo nan dapek doh, tapi dirapekan diurang nan saparuik atau sasuku tu. > Malah ado nan disapakati langsuang turun kacucu alias kamanakan dari > kamanakan. > > Iyo paralu bana kajian dan penjernihan sejarah Minangkabau ko, saroman > nan diajukan pak Saaf, bia awak indak binguang, bia generasi > seterusnyo tambah binguang, apo lai nan gadang dirantau. Kecuali > rantau Nagari Sembilan di Malaysia tantu. > > Mudahan Minangkabau indak jadi Minang Kabau (Minang is Kabau) hahaha hmmmm > > Mohon maaf salah jo jangga. Urang biaso dibalai > > > Wassalam WW > St. Parapatiah 55 jkt --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
