Waalaikumsalam wr wb,

Z, kalau di ambo, untuak kareta di kampuang awah, rancak awak ndak baretong
rugi labo ataupu manggunokan bahasa ekonomi lainnyo. Tapi kalau ambo labiah
setuju untuak memandang amk itam ko dari sisi sejarah, nostalgia, atau ...
pokoknya nan nyaman2 di hati sajo lah.

Kecuali kalau ado angko proyeksi nan labiah akurat dari dunsanak lain, ambo
labiah picayo ko etong2an ambo bantuak di bawah ko.

Partamo, mudah2an iko bisa *mangurangi raso cameh* pak Suheimi. Keretaapi
adalah milik PT KAI, sehingga biaya operasionalnya ditanggung oleh KAI, atau
kalau KAI indak sanggup atau indak namuah, ado Departemen Perhubungan,

Sepanjang pengetahuan ambo, memang kapatang ado Sumbar mangaluakan biaya
perbaikan bantalan, tapi sasudah tu idak ado lai. Mudah2an infor ambo ko
batua. Jadi mudah2an iko indak ka manggaduah keuangan Sumbar do. Kecuali
untuak Sawahlunto, itu memang "deal" nyo bhw Sawahlunto akan menanggung
biaya tertentu untuak Mak Itam (Lok E1060).

Kaduo, keuntungan ekonomis, teoritis kan simpel caro maetongnyo, pokoknya,
kalau penambahan aktivitas (dari yang tadinya ada jalan kereta, tetapi tidak
ada keretanya) itu memberikan *penambahan pemasukan lebih besar daripada
penambahan pengeluaran.*

Nah, siapa yang akan memperoleh keuntungan itu? KAI? Rasanya tidak. Kalau
mau untung, mungkin lebih baik dia jual seluruh aset yang ada di Sumbar,
tapi kan ga mungkin. Apa kata dunia ntar.
Mungkin yang jelas2 untung itu cuma INKA, dapet orderan dari Dephub.
Untuk Dephub sendiri? Ya, mungkin itu ada kaitannya dengan penugasan
dekonsentrasi (walaupun rasanya PP 38/ 2007 tidak meminta itu)

*Multiplier effect?* Ya bisa saja, tapi saya ga punya angka2nya. Seberapa
besar perkeretaapian di Sumbar ini bisa menarik peningkatan perekonomian
Sumbar? Rasanya saya belum melihat adanya semacam angka2 proyeksi untuk itu.
Dan - maaf - saya termasuk orang yang tidak percaya dengan slogan multiplier
effect, apalagi trickle down effect yang sering didengung2kan itu.
Setidaknya untuk Indonesia, saya belum menemukan bukti itu, kecuali di buku
teori ekonomi.

Kalau saya cenderung berpikir - at least untuk saya sendiri - kehadiran Mak
Itam ini sebagai nostalgia, tapi belum sampai ke melankolis seperti yang
diistilahkan sanak Z. Kalau Ekonomis, mungkin memang tidak. Tapi Egois,
indak juo do. Anggaran Dephub untuak Sumbar ko indak gadang bana do,
dibandiangkan Aceh, misalnyo.

Riri
Bekasi, L 46

















2009/2/2 Z Chaniago <[email protected]>

> Assalamu'alaikum Ww
>
> Angku Doto y.a.m ..... dan adidunsanak sadoalahe.... rugi dan labo , pokok
> jo utang ea lah etongannyo tuh ambo yo indak ahlinyo doh...
> nan tau di ambo.... pitih halal masuak , dunsanak sanang , indak ado nan
> dirugikan doh........huahahahaha..........
>
> etong-etongan kombinasi rugi/labo jo kereta api ko sabananyo nan abeh itu
> Da Riri... yang sadang dibaeh ''' rinai pambasuah muko ""
>
> jadi ?  Ekomonis atau egois atau melankolis atau populis atau puitis atau
> apatis...
>
> Wassalam
>
> Z Chaniago - Palai Rinuak
>
>
>
>
>
> Pada tanggal 02/02/09, suheimi ksuheimi <[email protected]> menulis:
>>
>>    Kalau Gadang rugi dari labo, secara ekonomis tantu usaho itu indak di
>> taruihkan
>>
>> Kalau di etong galeh lai balabo, kironyo pokok nan tamakan, itu caro
>> maurusnyo nan di perbaiki.
>>
>> Tapi kalau akibat yg di timbulkannya  babahayo seperti  di lintasan yg
>> jarang di lalui itu orang tak menyangka Kereta akan lewat sehingga terjadi
>> Tabrakan.
>>
>> Atau kalau empang-empang tak ada di lintasan Kereta   itu namanya dhalim
>>
>> Agama kita mengajarkan  jika mudharatnya lebih besar dari manfaatnya
>>  sebaiknya pekerjaan itu ditinggalkan,
>>
>> Berilah pertimbangan yg benar pada pengambil keputusan  jangan sampai
>>  "arang habis besi binasa.  Minyak habis sambal tak enak".
>>
>> Pikir itu pelita hati. Pikir-pikir dahulu sebelum terlanjur , syair sebuah
>> lagu
>>
>> Jangan sampai kalau sudah jatuh korban bergelimpangan, nanti kita saling
>> menyalahkan satu sama lain
>>
>> Disaat uang sulit dan ekonomi susah, perlu kita perhitungkan , apa betul
>> yg sebenarnya yg dibutuhkan rakyat SUMBAR
>>
>> Agar setiap rupiah yg di keluarkan  seharusnya menambah rupiah yg
>> tersimpan.
>>
>> Saya setuju dg apa yg disampaikan sanak  Z Chaniago
>>
>> salam teriring do'a
>>
>> K Suheimi
>>
>> --- Pada *Ming, 1/2/09, Z Chaniago <[email protected]>* menulis:
>>
>> Dari: Z Chaniago <[email protected]>
>> Topik: [...@ntau-net] Re: Mak Itam, Ekonomis atu prestise
>> Kepada: [email protected]
>> Tanggal: Minggu, 1 Februari, 2009, 7:51 PM
>>
>>  Assalamu'alaikum Ww
>>
>> Ambo taringek ka salah satu keluh kesah 'REKAN SEPERJALANAN' di KRL
>> Jabotabek di website komunitas KRL Mania ... www.krlmania.com yang
>> beberapa hari ini down.... menanggapi Mak Itam dan teman-temannya di ranah
>> yang di danai sekian  rupiah yang hanya menghabiskan dana tersebut namun
>> hanya mengangkut penumpang dalam sebulan ekuivalen dengan HANYA satu Gerbong
>> KRL Lintas Bogor-Beos ataupun Bekasi-Beos dalan satu rit perjalanan....
>>
>>
>> Nah kini di zaman pra 9 April ini , saya ingin bertanya beberapa orang
>> yang mungkin nyaris pernah tiap hari mendengan sempoyan 35 antara Gerbatama
>> UI sampai Pondok Cina.... seperti Bung IJP, Kanda Andrinof, Kanda Miftah
>> Sabri,
>> ataupun anak kereta dan mantan anak kereta seperti Ronald P Putra dll ...
>> apo pandangan anda tentang Kereta Api di Sumbar ..
>>
>> Ekonomis atau Egois ?
>>
>> Wassalam
>>
>> Z Chaniago
>>
>>
>> Pada tanggal 30/01/09, Romi elang Fernando <[email protected]>
>> menulis:
>>>
>>>   Di Saat Krisis global yang makin mengikis perekonomian indonesia, dan
>>> kemajuan teknologi semakin maju sedangkan masyarakat Sumatera Barat di
>>> sibukkan dengan hiruk pikuk kedatangan "Mak Itam" Lokomotif kereta yang
>>> telah lama mengabdi di Sumatera Barat.dan dirindukan oleh masyarakat
>>> Sumatera Barat. Kereta Api Uap alias Mak Itam akan mulai beroperasi pada
>>> bulan januari ini dengan rute padang-Sawahlunto. Menikmati perjalanan Wisata
>>> bersama Mak Itam di Sawahlunto, sudah barang tentu sangat menyenangkan.
>>> Karena selain merasakan keunikan suasana di atas Kendaraan bersejarah itu,
>>> wisatawan sekaligus dapat menikmati keindahan alam daerah tersebut.
>>>
>>> Dengan penambahan lokomotof kereta ini benarkah memberikan tambahan
>>> harapan bagi perekonomian masyarakat atau malah memperbanyak subsidi yang
>>> harus dibayarkan pemerintahan di Sumatera Barat?
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>> ------------------------------
>> Firefox 
>> 3<http://sg.rd.yahoo.com/id/search/firefox/mail/signature/*http://downloads.yahoo.com/id/firefox/>:
>> Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis
>>
>> >>
>>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke