Pak Ricky,Da Riri serta adi dunsanak kasadonyo,

Komentar saya di bawah bukan untuk menampakan sikap resistensi saya terhadap
potensi dampak negatif yang mungkin timbul dari sektor Pariwisata Sumbar.
Tetapi yang saya fokuskan adalah kurang bijaksana rasanya bila kita dari
awal2 telah memblow-up sisi2 negatif pariwisata.Saya kuatir dukungan
masyarakat apalagi pemerintah daerah untuk merawat objek2 wisata yang sudah
ada apalagi mengembangkan objek2 wisata yang baru di Sumbar akhirnya menjadi
menurun.Untuk apa Pariwisata Sumbar dikembangkan,toch pada akhirnya akan
berdampak buruk juga.Pemda dan masyarakat Sumbar berfikirnya sangat praktis
sekali.Makanya Pak Gubernur sendiri berkali2 mengatakan,ayo kita benahi
objek2 wisata Sumbar dan jangan ada yang mendua lagi/antipati terhadap
usaha2 untuk memajukan pariwisata Sumbar.

Sedangkan info yang baik2 saja yang kita informasikan kepada Pemda ataupun
masyarakat,responnya belum tentu positif,apalagi kalau kita sudah dari
sekarang sudah memberikan dampak2 yang negatif dari pariwisata,tentunya
mereka akan lebih negatif lagi responnya.Pemda dan masyarakat luas dapat
saja berkata, "Ya sudah kalau memang pariwisata banyak berdampak
negatifnya,tidak usah saja kita promosikan pariwisata Sumbar". Nah kalau ini
terjadi,maka pintu sudah tertutup rapat sebelum kita2 para pemerduli
Pariwisata Sumbar ini berbuat sesuatu.

Untuk itulah dibutuhkan kearifan,bijaksana dan pandai2 dalam
menginformasikan segala sesuatunya.Niat kita ingin berpartisipasi dan kalau
bisa memajukan potensi Pariwisata Sumbar,tetapi info yang kita lempar ke
forum adalah dampak2 negatif pariwisata itu sendiri.Ini sebuah hal yang
sangat kontra-produktif sekali tentunya.

Boleh jadi niat kita agar dilibatkan dalam membuat master plan (grand
design) pariwisata Sumbar,malah bisa2 ditolak dari pagi2 hari oleh Pemda dan
Masyarakat luas.

Wassalam,
Kurnia Chalik



.-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]]on
Behalf Of [email protected]
Sent: Wednesday, March 18, 2009 9:40 PM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Re: MARI KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Dua


  Dear Pak Riri, Pak Kurnia dan Dunsanak RN Yang Mulia,


  1. Terima kasih atas berbagai perspektif yg telah disampaikan utk merespon
pandangan saya ttg perlunya kehati-hatian dan ketelitian dlm mempromosikan
dan membesarkan pariwisata di Ranah Minang.

  2. Sesungguhnya saya SANGAT SEPAKAT utk kita bersama-sama mempromosikan
(dari berbagai sisi dan dgn berbagai cara yang tentunya HARUS BAIK dan
BENAR). Saya juga SANGAT SEPAKAT bahwa SEMUA PIHAK adalah mempunyai HAK
BERPARTISIPASI sesuai dengan kemampuan masing-masing.


  3. Pertanyaan yg muncul dlm fikiran saya adalah akan KEMANA ARAH
PEMBANGUNAN PARIWISATA SUMBAR sesungguhnya akan dibawa....yg dlm bhs Pak
Nofrins beliau sebut "bgmana GRAND DESIGN" nya.

  4. Mohon ijinkan saya utk mencuatkan beberapa fakta yg ada dlm beberapa
minggu terakhir ini tentang usaha kita bersama utk mempromosikan pariwisata
SUMBAR, yaitu ;


  a. Setelah kawan2 MPKAS berhasil menaikkan berbagai foto ttg seorang
CHRISTNE HAKIM (sbg salah seorang ASET nasional dlm perfileman) di SIKUAI,
maka beberapa hari kemudian naik pula foto2 ttg artis lain di Sikuai. Foto
ttg CH menunjukan totalitas dan citra tersendiri,...sdgkan foto artis lain
menunjukan 3/4 PAHA yg terbuka krn pakain BIKINI. Pertanyaannya adalah
APAKAH BENAR bhw CITRA PAHA BERBUKINI yang akan juga kita tampilkan
(meskipun itu dilokasi pantai dan di pulau pula). JIKA IYA, apakah kita
semua SIAP utk MELIHAT ANAK dan KEMANAKAN kita dlm 10 tahun mendatang sudah
BERBIKINI RIA PULA disepanjang pantai di Sumbar? Mhn maaf, secara pribadi
saya TIDAK MAU anak dan kemanakan kita BERBIKINI RIA di pantai
manapun,....apa lagi di SUMBAR.

  b. Contoh lain, saya anggap contoh berikut adalah sebagai SALAH SATU
KETERLANJURAN, ....yaitu tolong kumpulkan data ttg berapa WATERBOOM yang sdh
ada di SUMBAR saat ini, dimana saja,...dan berapa lagi yg sedang dibangun.
Jika tdk salah, saat ini SUMBAR sdh mempunyai EMPAT WATERBOOM dan masih akan
membangun SATU LAGI WATERBOOM. Jika data itu benar, maka mari sama2 kita
lihat SEBARAN GEIGRAFINYA, lalu kita sama-sama hitung GOLDEN DISTANCE AREA
nya,...lalu mari pula sama-sama kita prediksi POTENTIAL DEMAND dari setiap
waterboom yg ada. Sampai disini,...mohon maaf, saya menyimpulkan bahwa TELAH
TERJADI PERSAINGAN YG TDK SEHAT antar kabupaten/kota.

  Lebih lanjut, coba pula lihat lokasi2 yg dipilih utk membangun TAMAN
REKREASI TEMATIS (water boom, taman safari, kebun binatang dll),.....maaf
saya menyimpulkan bahwa pemilihan lokasi TAMAN TEMATIS DI SUMBAR adalah
CENDERUNG UTK MENGEKSPLOITASI KEINDAHAN ALAM,....sdgkan sesungguhnya salah
satu TUJUAN PEMBANGUNAN TAMAN REKREASI TEMATIS adalah UTK MENINGKATKAN
KUALITAS BENTANG ALAM (natural landscape) yg buruk agar menjadi baik,
bermanfaat dan mempunyai added value melalui cara investasi pembangunan yg
mempunyai nilai ekonomi cepat. Mari kita bayangkan jika itu semua kita
biarkan,......apakah sekian tahun mendatang kira2 kita masih akan bisa
melihat hamparan sawah dan bukit yg indah di sepanjang jalan di Sumbar?

  c. Jika saya masih boleh memberi contoh lain,...maka ijinkan saya utk
mencuatkan isu ttg TAGLINE Pariwisata Sumbar yg dlm beberapa hari terakhir
sama2 kita kumandangkan. Mohon maaf, saya ingin jujur mengatakan bhw dlm
pandangan saya masalah TAGLINE adalah bukan masalah yg sederhana,...yaitu
karena TAGLINE adalah salah satu ALAT dan MEDIA bagi kita semua utk
melakukan BRANDING. Pertanyaannya adalah,....jika Malaysia yg kecil itu saja
bisa melakukan klaim sepihak sebagai THE TRULY ASIA,...maka apakah kita
tidak pantas utk melakukan yg lebih besar dan mendalam dari itu? Dlm
perspektif lain, jika seorang anak terlalu banyak nama panggilannya (sbg
analogi dr tagline),.....kira2 apa kesan kita thd anak itu? Jika hal tsb
kita anggap sepele,...maka saya khawatir jangan2 kita hanya melakukan
teriakan2 spt pedagang kaki lima....sedangkan yg kita miliki sesungguhnya
adalah sangat berharga dan bernilai sangat tinggi.

  5. Saya sepakat dgn apa yg disampaikan Pak Nofrin bahwa kita semua perlu
menerjunkan para ahli dan pakar yg berkualitas dlm mewujudkan mimpi kita
semua,...seperti yg diinfokan Pak Nofrin bhw SUMSEL telah menerjunkan
HERMAWAN KERTAJAYA-cs utk mempersiapkan dsan mempromosikan Tahun Kunjungan
Wisata ke Sumsel. Namun demikian,... saya mohon maaf ingin mengajak kita
semua untuk melihat BILBOARD TAHUN KUNJUNGAN WISATA KE SUMSEL,...dan juga
melihat iklan2nya di TV. Pertanyaan saya adalah,...apakah hanya seperti itu
kualitas hasil kerja Hermawan-cs di Sumsel? Hermawan-cs yg separo hati (shg
dimata saya bilboard....dan iklan tsb saya anggap ....maaf....SANGAT
BURUK),....atau ada hal lain (misalnya keterbatasan kualitas SDM yg menjadi
decision maker) yg menjadi penyebab sesungguhnya? Secara PRIBADI,....maaf
....saya memberanikan diri utk mengatakan bhw hal tsb adalah SETALI MATA
UANG,....para pakarnya separo hati...dan decision makernya pun hanya
"segitu". Sungguh bnyk PAKAR yg separo hati dan jualan dgn cara HIT AND
RUN,....dan sangat banyak DECISION MAKER yg TIDAK TAHU apa yg harus
dikontrol ...apa lagi gimana cara mengontrolnya. Dengan demikian Pak
Nofrin,....siapa pakar yg kita butuhkan,...dan siapa yg sanggup mengontrol
hasil kerja dan kualitas pakar tsb juga adalah suatu persoalan tersendiri.
Mudah2an TIDAK ADA anak RANAH MINANG dimanapun berada yg oleh masyarakat
telah diGOLONGkan sebagai PAKAR yg IKUT MERUSAK RANAH MINANG.

  7. Saya mohon maaf utk kembali telah menulis dgn pola hiperbolis ini. Saya
tdk bermaksud utk mematahkan semangat, melainkan hanya mengajak kita semua
utk melakukan usaha bersama secara totalitas, hati2 dan teliti.
  Salam,
  ricky a.
  L, 45-, JKT.

  NB: Pak Nofrins, jika tdk keberatan saya minta tolong fwd kan posting ini
ke WSTB, karena saya mengalami kesulitan utk melakukan itu via BB di Tanah
Datar saat ini. Salam.









  Powered by Telkomsel BlackBerry®



----------------------------------------------------------------------------
--
  From: Riri Chaidir
  Date: Wed, 18 Mar 2009 18:49:42 +0700
  To: <[email protected]>
  Subject: [...@ntau-net] Re: MARI KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Satu


  2009/3/18 Kurnia Chalik [email protected]


    Menurut hemat saya rasanya kurang bijaksana ya kalau kita terlalu cepat
memblow-up "dampak2 negatif" dari Pariwisata Bali yang sebetulnya masih
memerlukan kajian2 lebih jauh dengan data yang lengkap untuk
membuktikannya,di saat kita semua lagi berusaha untuk memajukan sektor
Pariwisata Sumatera Barat,yang diharapkan akan dapat menjadi salah satu
sumber income daerah.


  Sanak Kurnia,

  Sebaiknya juga, kita jangan terlalu cepat untuk menunjukkan resistensi
jika ada yang menunjukkan "sisi lain dari pariwisata" (untuk tidak
mengatakan: dampak buruk).

  Saya tidak tahu apakah yang disampaikan sanak Ricky itu sudah memenuhi
kriteria "kajian2 lebih jauh"  sebagaimana yang Sanak Kurnia maksudkan
(kalau saya pribadi yakin dengan kompetensinya Ricky yang  "memang disitu).

  Tetapi yang jelas, ini - menurut saya - jangan diartikan sebaga "terlalu
cepat mem blow up ..."

  Bulan Pebruari 2008 (setahun yll) ada sederetan tulisan di Kompas. Dua
diantaranya masih bisa ditemukan di internet yaitu : "Surga Terakhir" yang
Hilang dan Surga untuk Siapa? Kedua link ke artikel ini pernah saya "bawa"
ke milis MAPPAS pada waktu itu. Jadi tidak terlalu cepat juga kan tuh?

  Juga, apakah memang "tidak cocok untuk membandingkan masyarakat
Minangkabau dengan Bali?". Entahlah, saya kira itu pendapat pribadi yang
bisa berbeda untuk setiap orang. Tetapi yang jelas, kedua artikel itu saya
bawa ke milis MAPPAS justru karena waktu itu kita diangankan untuk "meniru
Bali". (Link diskusi itu masih ada di
http://groups.yahoo.com/group/mappas/message/1719 , 1722 dan 1725).

  Bahwa pariwisata bisa menghasilkan income untuk daerah, itu harus diakui.
Tetapi dari dulu - kebetulan - saya termasuk orang yang tidak percaya dengan
"multiplier effect" yang menyederhanakan seluruh aspek positif (saja)
kedalam konstanta2 yang disederhanakan.

  Di bawah saya copykan salah satu artikel Kompas yang masih disimpan di
http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/kolom/artikel.php?aid=25281   Yang
satu lagi ada di
http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/fokus/artikel.php?aid=25280 .

  Riri
  Bekasi, L 46


  "Surga Terakhir" yang Hilang
        Tanggal :  22 Feb 2008
        Sumber :  Kompas


  Prakarsa Rakyat,
  Jumat, 22 Februari 2008 | 01:59 WIB

  Oleh: Khairina dan Ahmad Arif

  ”Museum hidup” atas eksotisme dunia Timur yang menjadi impian para
pelancong dari Barat selama berpuluh tahun itu sudah berubah. Bali tak lagi
seperti yang diinginkan oleh GP Rouffaer, Direktur Bali Insitut yang
mendapat tugas oleh Belanda pada tahun 1915-an untuk mengoptimalkan potensi
wisata pulau ini. Siapa paling kehilangan atas perubahan wajah Bali?

  Pada periode awal eksploitasi Bali sebagai obyek wisata, GP Rouffer
merekomendasikan agar pemerintah kolonial Belanda jangan mengusik pola
kehidupan masyarakat Bali. Pertanian, kehidupan pedesaan, aneka pemujaan,
kesenian religius, dan kesusasteraan harus dijaga. Tak boleh ada jalur rel
kereta api, perkebunan kopi Barat, dan terutama tak boleh ada pabrik gula. ”
...Bali sebagai suatu permata langka yang wajib dilindungi dan yang
keperawanannya harus dijaga utuh,” sebut Rouffer.

  Sebagai bagian dari program melestarikan Bali sebagai ”museum hidup” agar
laku dijual dalam bursa wisata, pada tahun 1920-an Belanda menerapkan
Baliseering atau Balinisasi Bali.

  Bali kemudian dikenal sebagai Pulau Dada Telanjang—mengacu pada kebiasaan
perempuan Bali yang tidak menutup dadanya— yang menurut penulis Perancis,
Michel Picard (1992), sebagai salah satu daya tarik utama dunia Barat pada
Bali masa lampau. Bali juga disebut sebagai surga terakhir karena keindahan
sawah dengan subaknya.

  Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, yang memiliki ribuan pura, yang sengaja
dilindungi dari pengaruh budaya dan agama lain oleh kolonial Belanda.

  Namun, Bali kini, bukan lagi ”museum hidup” yang perawan. Hampir semua
sudutnya sudah dijamah dan berubah. Perubahan yang paling mudah dilihat
adalah tata ruang.

  Tanah sawah dengan sistem subaknya yang menawan, dan pantai-pantai yang
menjadi tempat melasti (rangkaian perayaan nyepi yang bermakna mengambil air
suci dari laut) telah berubah menjadi hotel berbintang, vila mewah, kafe,
rumah makan, dan kios cenderamata. ”Tata ruang Bali sudah disetir pasar,”
kata Popo Danes, arsitek Bali.

  N Gelebed, pakar tata ruang dari Universitas Udayana, Denpasar,
mengatakan, kehancuran tata ruang Bali disebabkan pemerintah tidak konsisten
menerapkan rancangan yang sudah dibuat.

  Tiga puluh tahun lalu, Gelebed ikut merencanakan pengembangan tiga kawasan
wisata di Bali, yakni Kuta, Sanur, dan Nusa Dua. Dari tiga kawasan itu, Kuta
adalah kawasan yang perkembangannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

  Kuta ketika itu direncanakan sebagai wisata desa. Di tempat itu seharusnya
yang cocok dibangun adalah rumah penginapan atau homestay. Sebab, desa di
Kuta berada tepat di pinggir pantai.

  ”Tapi, sekarang yang terjadi justru di Kuta dibangun hotel berbintang dan
bertingkat. Konsep desa wisata justru tidak lagi kelihatan,” kata Gelebed.

  Salah satu ciri hilangnya desa di Kuta adalah hilangnya bale banjar
sebagai penanda desa. Pura memang masih ada, tetapi tenggelam oleh
bangunan-bangunan lain yang lebih megah.

  Kuta bagian utara, yang direncanakan tetap sebagai areal pertanian juga
tidak lepas dari perubahan. Daerah Renon dan Kerobokan yang dulu penghasil
beras kini diubah menjadi daerah wisata, berupa vila dan rumah tinggal.

  Membunuh ”angsa”

  ”Padahal, pembangunan Bali tanpa perencanaan tak ubahnya membunuh angsa
bertelur emas,” kata N Gelebed.

  Contoh nyata dari dampak hancurnya tata ruang adalah terjadinya banjir
yang melanda Kota Denpasar di penghujung tahun lalu. ”Tidak ada ceritanya
Denpasar banjir karena letaknya yang datar. Perubahan peruntukan lahan
mengakibatkan Denpasar kebanjiran,” kata Gelebed.

  Dalam kacamata pelancong dari dunia Barat, perubahan tata ruang Bali
menjadi seperti ”kota-kota” modern lainnya tentunya akan menghilangkan daya
tarik pulau ini. ”Eksotisme alam, tata ruang, dan budaya masyarakat adalah
daya tarik utama wisata Bali,” kata Popo Danes.

  Michael R White, warga Australia yang menetap di Bali sejak 1973,
menyesalkan perubahan tata ruang itu. Menurut White, pada era 1970-1980-an
vila hanya dibangun di daerah gersang dan bukan sentra pertanian seperti
Sanur. Kala itu, vila-vila juga selalu dibangun dengan konsep rumah Bali
yang terbuka, tidak bertingkat, dan ramah lingkungan.

  ”Tapi sekarang lihatlah, arsitek-arsitek membangun vila atau rumah tak
memedulikan lagi adat dan budaya Bali. Seenaknya membangun rumah tingkat dan
beton di tengah sawah,” kata White, yang kini menetap di Sanur dan mengubah
namanya menjadi I Made Wijaya.

  Adakah vila-vila yang tumbuh di atas sawah itu sebuah pertanda kemajuan?

  Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Denpasar, setiap tahun lahan
pertanian berkurang dua sampai tiga persen. Padahal, pertanian menyumbang
pendapatan asli daerah (PAD) hingga 20 persen. Kendati menyumbang PAD hingga
32 persen, pariwisata ternyata tidak serta-merta mengurangi kemiskinan.
Bahkan, ada tren baru, pengangguran semakin banyak terjadi di desa.

  ”Warga yang tidak mendapat pekerjaan di kota akhirnya kembali lagi ke
desa. Di sana pun mereka tidak bisa lagi bertani. Akhirnya, pengangguran
justru lebih banyak terjadi di pedesaan,” kata Pemimpin Bank Indonesia
Denpasar Viraguna Bagoes Oka.

  Desain ulang

  Ruang sebenarnya adalah wujud dari ekspresi terdalam masyarakat. Maka,
perubahan tata ruang Bali, menurut I Ketut Sumarta, budayawan Bali,
menunjukkan adanya perubahan cara pandang orang Bali.

  Upacara keagamaan di Bali saat ini memang makin meriah. ”Namun, ruhnya
sebenarnya sudah mulai luntur karena adanya perubahan orientasi masyarakat,”
kata I Ketut Sumarta, budayawan Bali.

  Dulu orientasi masyarakat Bali ke pusat air di gunung, sekarang masyarakat
berorientasi ke pantai. Dulu, air di hulu dan hilir tidak diganggu. Di hulu
ada sekaa, kelompok-kelompok yang mengamankan danau dan di hilir ada
bandega. Di bagian tengah ada subak, yang mengatur ke mana alur air dan
mengatur pemanfaatan air.

  ”Dulu, air peranannya untuk keagamaan, untuk digunakan masyarakat banyak,
dan untuk kepentingan ekonomi. Karena itu, air selalu dijaga oleh adat,”
kata Sumarta.

  Sekarang, dengan penyewaan dan penjualan tanah besar-besaran, peran pemuka
adat tak lagi diperhitungkan. Untuk membeli tanah di atas aliran subak,
misalnya, tak lagi diperlukan tanda tangan kelian subak atau kelian adat.
Konflik di masyarakat pun meluas. Tertutupnya saluran air, misalnya, akan
mengakibatkan saluran irigasi ke sawah tidak lancar.

  Konflik lain juga terjadi apabila tanah yang disewakan atau dijual adalah
tanah warisan. Padahal, di Bali, seperti air, tanah juga sesuatu yang
sakral.

  Menurut Smarta, peran pemuka adat dalam menjaga kelestarian alam dan
budaya Bali memang telah tergerus. Dulu, konsep hidup masyarakat Bali adalah
puri, pura, dan pasar. Puri maksudnya raja, pura artinya hubungan dengan
Tuhan, dan pasar adalah hubungan agraris.

  Belakangan, peran raja tergantikan oleh partai politik, pura digantikan
hiburan, dan fungsi pasar digantikan pemodal besar yang ekspansif.

  Untuk mengatasi berbagai permasalahan adat dan hukum adat, Sumarta
mengusulkan adanya redesain yang mendasar bagi Bali, yang dimulai dari
kelompok masyarakat terkecil, yakni desa. Sumarta dan beberapa orang lainnya
membentuk Majelis Utama Desa Pakraman (MDP) pada 2004.

  MDP menyusun konsensus-konsensus yang mengatur berbagai hal penting,
seperti masalah investasi di wilayah desa pakraman. ”Yang penting itu
perencanaan yang ditaati. Bali ke depan ini mau dibawa ke mana. Pemerintah
jangan hanya mengejar mass tourism. Bali ini dijual terlalu murah,” kata
Made Wijaya geram.

  Gelebed memiliki solusi lain untuk mengatasi masalah kependudukan dan alih
fungsi lahan di Bali. Menurut Gelebed, sudah saatnya pembangunan difokuskan
ke wilayah Bali bagian utara yang selama ini terkesan terabaikan. ”Padahal,
Belanda sudah merancang pelabuhan untuk menyeberang ke Lombok. Dari sana,
penyeberangan ke Lombok hanya dua jam dibandingkan dari Padang Bai yang
empat jam,” katanya.

  Perubahan memang suatu niscaya. Mencegah Bali berubah sama sekali dan
tetap menjadikannya ”museum hidup” sebagaimana ditawarkan GP Rouffer tentu
tidak adil bagi masyarakat Bali. Tetapi, perubahan yang bagaimana yang cocok
bagi Bali? (BEN)















  

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

  • ... Y. Napilus
    • ... Riri Chaidir
    • ... Aslim Nurhasan
    • ... Kurnia Chalik
      • ... Riri Chaidir
        • ... avenzora19
          • ... Kurnia Chalik
            • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
            • ... ricky avenzora
      • ... andikogmail

Kirim email ke