Bapak2 yang terhormat, permasalahan ini menjadi menarik tetapi kadang kala 
perlunya kita sebuah media untuk menjembatani. Saran saya ayo kita bikin matrik 
swot nya biar kita bisa lebih terukur. Kita sebuatkan semua potensi yang kita 
tahu, baik itu yang negatif maupun yang positif.
Sangat disayang kan bahwa banyak orang yang mempunyai kopetensi utk 
memdiskusikan permasalahan ini tetapi masih tercerai berai. Saya raasa 
bagaimana pak ketua sebagai nan dituakan di RN ini utk menjembatani, apo perlu 
pemanasan dulu di kubang saharjo dulu......................ba a nyo ketua, kami 
warga siap manunggu jadwal........................

Nanang,
prihatin juga nantinya diskusi disini berkembang dan bisa menjadi multitapsir 
nantinya, sebagai pancingan saya rasa sudah oke karena sudah ada perdebatan 
disini, sekarang mari kita diskusikan dilapau kubang saharjoooooooooooooooo.

Sangajo ndak dipotong pak mod. supayo bisa jaleh perdebatannyo


________________________________
Dari: Kurnia Chalik <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 19 Maret, 2009 14:02:02
Topik: [...@ntau-net] Re: MARI KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Dua


Pak Ricky,Da Riri serta adi dunsanak 
kasadonyo,
 
Komentar saya di bawah bukan untuk 
menampakan sikap resistensi saya terhadap potensi dampak negatif yang 
mungkin timbul dari sektor Pariwisata Sumbar.
Tetapi yang saya fokuskan adalah kurang 
bijaksana rasanya bila kita dari awal2 telah memblow-up 
sisi2 negatif pariwisata.Saya kuatir dukungan masyarakat apalagi pemerintah 
daerah untuk merawat objek2 wisata yang sudah ada apalagi mengembangkan objek2 
wisata yang baru di Sumbar akhirnya menjadi menurun.Untuk apa Pariwisata 
Sumbar dikembangkan,toch pada akhirnya akan berdampak buruk juga.Pemda dan 
masyarakat Sumbar berfikirnya sangat praktis sekali.Makanya Pak Gubernur 
sendiri 
berkali2 mengatakan,ayo kita benahi objek2 wisata Sumbar dan jangan ada yang 
mendua lagi/antipati terhadap usaha2 untuk memajukan pariwisata 
Sumbar.
 
Sedangkan info yang baik2 saja yang kita 
informasikan kepada Pemda ataupun masyarakat,responnya belum tentu 
positif,apalagi kalau kita sudah dari sekarang sudah memberikan dampak2 
yang negatif dari pariwisata,tentunya mereka akan lebih negatif lagi 
responnya.Pemda dan masyarakat luas dapat saja berkata, "Ya sudah kalau memang 
pariwisata banyak berdampak negatifnya,tidak usah saja kita promosikan 
pariwisata Sumbar". Nah kalau ini terjadi,maka pintu sudah tertutup rapat 
sebelum kita2 para pemerduli Pariwisata Sumbar ini berbuat sesuatu.
 
Untuk itulah dibutuhkan kearifan,bijaksana 
dan pandai2 dalam menginformasikan segala sesuatunya.Niat kita 
ingin berpartisipasi dan kalau bisa memajukan potensi Pariwisata 
Sumbar,tetapi info yang kita lempar ke forum adalah dampak2 negatif pariwisata 
itu sendiri.Ini sebuah hal yang sangat kontra-produktif sekali 
tentunya.
 
Boleh jadi niat kita agar dilibatkan dalam 
membuat master plan (grand design) pariwisata Sumbar,malah bisa2 ditolak 
dari pagi2 hari oleh Pemda dan Masyarakat luas.
 
Wassalam,
Kurnia Chalik 
 
 
 
.-----Original Message-----
From: [email protected] 
[mailto:[email protected]]on Behalf Of [email protected]
Sent: Wednesday, March 18, 2009 9:40 
PM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Re: 
MARI KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Dua

 
Dear Pak Riri, Pak Kurnia dan Dunsanak RN Yang  Mulia,


1. Terima kasih atas berbagai perspektif yg telah  disampaikan utk merespon 
pandangan saya ttg perlunya kehati-hatian dan  ketelitian dlm mempromosikan dan 
membesarkan pariwisata di Ranah Minang. 

2. Sesungguhnya saya SANGAT SEPAKAT utk kita bersama-sama  mempromosikan (dari 
berbagai sisi dan dgn berbagai cara yang tentunya HARUS  BAIK dan BENAR). Saya 
juga SANGAT SEPAKAT bahwa SEMUA PIHAK adalah mempunyai  HAK BERPARTISIPASI 
sesuai dengan kemampuan masing-masing.


3.  Pertanyaan yg muncul dlm fikiran saya adalah akan KEMANA ARAH PEMBANGUNAN  
PARIWISATA SUMBAR sesungguhnya akan dibawa....yg dlm bhs Pak Nofrins beliau  
sebut "bgmana GRAND DESIGN" nya. 

4. Mohon ijinkan saya utk mencuatkan  beberapa fakta yg ada dlm beberapa minggu 
terakhir ini tentang usaha kita  bersama utk mempromosikan pariwisata SUMBAR, 
yaitu ;


a. Setelah  kawan2 MPKAS berhasil menaikkan berbagai foto ttg seorang CHRISTNE 
HAKIM (sbg  salah seorang ASET nasional dlm perfileman) di SIKUAI, maka 
beberapa hari  kemudian naik pula foto2 ttg artis lain di Sikuai. Foto ttg CH 
menunjukan  totalitas dan citra tersendiri,...sdgkan foto artis lain menunjukan 
3/4 PAHA  yg terbuka krn pakain BIKINI. Pertanyaannya adalah APAKAH BENAR bhw 
CITRA PAHA  BERBUKINI yang akan juga kita tampilkan (meskipun itu dilokasi 
pantai dan di  pulau pula). JIKA IYA, apakah kita semua SIAP utk MELIHAT ANAK 
dan KEMANAKAN  kita dlm 10 tahun mendatang sudah BERBIKINI RIA PULA disepanjang 
pantai di  Sumbar? Mhn maaf, secara pribadi saya TIDAK MAU anak dan kemanakan 
kita  BERBIKINI RIA di pantai manapun,....apa lagi di SUMBAR. 

b. Contoh  lain, saya anggap contoh berikut adalah sebagai SALAH SATU 
KETERLANJURAN,  ....yaitu tolong kumpulkan data ttg berapa WATERBOOM yang sdh 
ada di SUMBAR  saat ini, dimana saja,...dan berapa lagi yg sedang dibangun.. 
Jika tdk salah,  saat ini SUMBAR sdh mempunyai EMPAT WATERBOOM dan masih akan 
membangun SATU  LAGI WATERBOOM. Jika data itu benar, maka mari sama2 kita lihat 
SEBARAN  GEIGRAFINYA, lalu kita sama-sama hitung GOLDEN DISTANCE AREA 
nya,...lalu mari  pula sama-sama kita prediksi POTENTIAL DEMAND dari setiap 
waterboom yg ada.  Sampai disini,...mohon maaf, saya menyimpulkan bahwa TELAH 
TERJADI PERSAINGAN  YG TDK SEHAT antar kabupaten/kota. 

Lebih lanjut, coba pula lihat  lokasi2 yg dipilih utk membangun TAMAN REKREASI 
TEMATIS (water boom, taman  safari, kebun binatang dll),.....maaf saya 
menyimpulkan bahwa pemilihan lokasi  TAMAN TEMATIS DI SUMBAR adalah CENDERUNG 
UTK MENGEKSPLOITASI KEINDAHAN  ALAM,....sdgkan sesungguhnya salah satu TUJUAN 
PEMBANGUNAN TAMAN REKREASI  TEMATIS adalah UTK MENINGKATKAN KUALITAS BENTANG 
ALAM (natural landscape) yg  buruk agar menjadi baik, bermanfaat dan mempunyai 
added value melalui cara  investasi pembangunan yg mempunyai nilai ekonomi 
cepat. Mari kita bayangkan  jika itu semua kita biarkan,......apakah sekian 
tahun mendatang kira2 kita  masih akan bisa melihat hamparan sawah dan bukit yg 
indah di sepanjang jalan  di Sumbar? 

c. Jika saya masih boleh memberi contoh lain,...maka  ijinkan saya utk 
mencuatkan isu ttg TAGLINE Pariwisata Sumbar yg dlm beberapa  hari terakhir 
sama2 kita kumandangkan. Mohon maaf, saya ingin jujur mengatakan  bhw dlm 
pandangan saya masalah TAGLINE adalah bukan masalah yg  sederhana,...yaitu 
karena TAGLINE adalah salah satu ALAT dan MEDIA bagi kita  semua utk melakukan 
BRANDING. Pertanyaannya adalah,....jika Malaysia yg kecil  itu saja bisa 
melakukan klaim sepihak sebagai THE TRULY ASIA,...maka apakah  kita tidak 
pantas utk melakukan yg lebih besar dan mendalam dari itu? Dlm  perspektif 
lain, jika seorang anak terlalu banyak nama panggilannya (sbg  analogi dr 
tagline),.....kira2 apa kesan kita thd anak itu? Jika hal tsb kita  anggap 
sepele,...maka saya khawatir jangan2 kita hanya melakukan teriakan2 spt  
pedagang kaki lima....sedangkan yg kita miliki sesungguhnya adalah sangat  
berharga dan bernilai sangat tinggi.

5. Saya sepakat dgn apa yg  disampaikan Pak Nofrin bahwa kita semua perlu 
menerjunkan para ahli dan pakar  yg berkualitas dlm mewujudkan mimpi kita 
semua,...seperti yg diinfokan Pak  Nofrin bhw SUMSEL telah menerjunkan HERMAWAN 
KERTAJAYA-cs utk mempersiapkan  dsan mempromosikan Tahun Kunjungan Wisata ke 
Sumsel. Namun demikian,... saya  mohon maaf ingin mengajak kita semua untuk 
melihat BILBOARD TAHUN KUNJUNGAN  WISATA KE SUMSEL,....dan juga melihat 
iklan2nya di TV. Pertanyaan saya  adalah,...apakah hanya seperti itu kualitas 
hasil kerja Hermawan-cs di Sumsel?  Hermawan-cs yg separo hati (shg dimata saya 
bilboard....dan iklan tsb saya  anggap ....maaf.....SANGAT BURUK),....atau ada 
hal lain (misalnya keterbatasan  kualitas SDM yg menjadi decision maker) yg 
menjadi penyebab sesungguhnya?  Secara PRIBADI,....maaf ....saya memberanikan 
diri utk mengatakan bhw hal tsb  adalah SETALI MATA UANG,....para pakarnya 
separo hati...dan decision makernya  pun hanya
 "segitu". Sungguh bnyk PAKAR yg separo hati dan jualan dgn cara HIT  AND 
RUN,....dan sangat banyak DECISION MAKER yg TIDAK TAHU apa yg harus  dikontrol 
...apa lagi gimana cara mengontrolnya. Dengan demikian Pak  Nofrin,....siapa 
pakar yg kita butuhkan,...dan siapa yg sanggup mengontrol  hasil kerja dan 
kualitas pakar tsb juga adalah suatu persoalan tersendiri.  Mudah2an TIDAK ADA 
anak RANAH MINANG dimanapun berada yg oleh masyarakat telah  diGOLONGkan 
sebagai PAKAR yg IKUT MERUSAK RANAH MINANG. 

7. Saya mohon  maaf utk kembali telah menulis dgn pola hiperbolis ini. Saya tdk 
bermaksud utk  mematahkan semangat, melainkan hanya mengajak kita semua utk 
melakukan usaha  bersama secara totalitas, hati2 dan teliti. 
Salam,
ricky a.
L, 45-,  JKT.

NB: Pak Nofrins, jika tdk keberatan saya minta tolong fwd kan  posting ini ke 
WSTB, karena saya mengalami kesulitan utk melakukan itu via BB  di Tanah Datar 
saat ini. Salam.









Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
 From: Riri Chaidir 
Date: Wed, 18  Mar 2009 18:49:42 +0700
To:  <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: MARI  KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Satu

2009/3/18 Kurnia Chalik [email protected]

 
Menurut hemat saya rasanya kurang  bijaksana ya kalau kita terlalu cepat 
memblow-up "dampak2 negatif" dari  Pariwisata Bali yang sebetulnya masih 
memerlukan kajian2 lebih  jauh dengan data yang lengkap untuk membuktikannya,di 
saat kita semua lagi  berusaha untuk memajukan sektor Pariwisata Sumatera 
Barat,yang diharapkan  akan dapat menjadi salah satu sumber income  daerah.
 
 
Sanak Kurnia,
 
Sebaiknya juga, kita jangan terlalu cepat untuk menunjukkan resistensi jika ada 
yang menunjukkan "sisi lain dari pariwisata"  (untuk tidak mengatakan: dampak 
buruk). 
 
Saya tidak tahu apakah yang disampaikan sanak Ricky itu  sudah memenuhi 
kriteria "kajian2 lebih jauh"  sebagaimana yang Sanak  Kurnia maksudkan (kalau 
saya pribadi yakin dengan kompetensinya Ricky yang   "memang disitu). 
 
Tetapi yang jelas, ini - menurut saya - jangan diartikan sebaga "terlalu  cepat 
mem blow up ..." 
 
Bulan Pebruari 2008 (setahun yll) ada sederetan tulisan di Kompas. Dua  
diantaranya masih bisa ditemukan di internet yaitu : "Surga Terakhir" yang 
Hilang danSurga untuk Siapa? Kedua link ke artikel ini pernah saya "bawa" ke 
milis MAPPAS  pada waktu itu. Jadi tidak terlalu cepat juga kan tuh? 
 
Juga, apakah memang "tidak cocok untuk membandingkan masyarakat  Minangkabau 
dengan Bali?". Entahlah, saya kira itu pendapat pribadi  yang bisa berbeda 
untuk setiap orang. Tetapi yang jelas, kedua  artikel itu saya bawa ke milis 
MAPPAS justru karena waktu itu kita diangankan  untuk "meniru Bali". (Link 
diskusi itu masih ada di http://groups.yahoo.com/group/mappas/message/1719 ,  
1722 dan 1725).
 
Bahwa pariwisata bisa menghasilkan income untuk daerah, itu harus diakui.  
Tetapi dari dulu - kebetulan - saya termasuk orang yang tidak percaya dengan  
"multiplier effect" yang menyederhanakan seluruh aspek positif (saja) kedalam  
konstanta2 yang disederhanakan.
 
Di bawah saya copykan salah satu artikel Kompas yang masih disimpan di 
http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/kolom/artikel.php?aid=25281    Yang satu 
lagi ada di http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/fokus/artikel.php?aid=25280 
.  
 
Riri
Bekasi, L 46
 
 
"Surga Terakhir" yang  Hilang
 
Tanggal :  22 Feb 2008 
Sumber :  Kompas 
Prakarsa Rakyat,
Jumat, 22 Februari 2008 | 01:59 WIB

Oleh: Khairina dan Ahmad  Arif

”Museum hidup” atas eksotisme dunia Timur yang menjadi impian para  pelancong 
dari Barat selama berpuluh tahun itu sudah berubah. Bali tak lagi  seperti yang 
diinginkan oleh GP Rouffaer, Direktur Bali Insitut yang mendapat  tugas oleh 
Belanda pada tahun 1915-an untuk mengoptimalkan potensi wisata  pulau ini. 
Siapa paling kehilangan atas perubahan wajah Bali?

Pada  periode awal eksploitasi Bali sebagai obyek wisata, GP Rouffer  
merekomendasikan agar pemerintah kolonial Belanda jangan mengusik pola  
kehidupan masyarakat Bali. Pertanian, kehidupan pedesaan, aneka pemujaan,  
kesenian religius, dan kesusasteraan harus dijaga. Tak boleh ada jalur rel  
kereta api, perkebunan kopi Barat, dan terutama tak boleh ada pabrik gula.  
”...Bali sebagai suatu permata langka yang wajib dilindungi dan yang  
keperawanannya harus dijaga utuh,” sebut Rouffer..

Sebagai bagian dari  program melestarikan Bali sebagai ”museum hidup” agar laku 
dijual dalam bursa  wisata, pada tahun 1920-an Belanda menerapkan Baliseering 
atau Balinisasi  Bali.

Bali kemudian dikenal sebagai Pulau Dada Telanjang—mengacu pada  kebiasaan 
perempuan Bali yang tidak menutup dadanya— yang menurut penulis  Perancis, 
Michel Picard (1992), sebagai salah satu daya tarik utama dunia  Barat pada 
Bali masa lampau. Bali juga disebut sebagai surga terakhir karena  keindahan 
sawah dengan subaknya.

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata,  yang memiliki ribuan pura, yang sengaja 
dilindungi dari pengaruh budaya dan  agama lain oleh kolonial Belanda.

Namun, Bali kini, bukan lagi ”museum  hidup” yang perawan. Hampir semua 
sudutnya sudah dijamah dan berubah.  Perubahan yang paling mudah dilihat adalah 
tata ruang.

Tanah sawah  dengan sistem subaknya yang menawan, dan pantai-pantai yang 
menjadi tempat  melasti (rangkaian perayaan nyepi yang bermakna mengambil air 
suci dari laut)  telah berubah menjadi hotel berbintang, vila mewah, kafe, 
rumah makan, dan  kios cenderamata. ”Tata ruang Bali sudah disetir pasar,” kata 
Popo Danes,  arsitek Bali.

N Gelebed, pakar tata ruang dari Universitas Udayana,  Denpasar, mengatakan, 
kehancuran tata ruang Bali disebabkan pemerintah tidak  konsisten menerapkan 
rancangan yang sudah dibuat.

Tiga puluh tahun  lalu, Gelebed ikut merencanakan pengembangan tiga kawasan 
wisata di Bali,  yakni Kuta, Sanur, dan Nusa Dua. Dari tiga kawasan itu, Kuta 
adalah kawasan  yang perkembangannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

Kuta  ketika itu direncanakan sebagai wisata desa. Di tempat itu seharusnya 
yang  cocok dibangun adalah rumah penginapan atau homestay. Sebab, desa di Kuta 
 berada tepat di pinggir pantai.

”Tapi, sekarang yang terjadi justru di  Kuta dibangun hotel berbintang dan 
bertingkat. Konsep desa wisata justru tidak  lagi kelihatan,” kata Gelebed.

Salah satu ciri hilangnya desa di Kuta  adalah hilangnya bale banjar sebagai 
penanda desa. Pura memang masih ada,  tetapi tenggelam oleh bangunan-bangunan 
lain yang lebih megah.

Kuta  bagian utara, yang direncanakan tetap sebagai areal pertanian juga tidak 
lepas  dari perubahan. Daerah Renon dan Kerobokan yang dulu penghasil beras 
kini  diubah menjadi daerah wisata, berupa vila dan rumah tinggal.

Membunuh  ”angsa”

”Padahal, pembangunan Bali tanpa perencanaan tak ubahnya  membunuh angsa 
bertelur emas,” kata N Gelebed.

Contoh nyata dari dampak  hancurnya tata ruang adalah terjadinya banjir yang 
melanda Kota Denpasar di  penghujung tahun lalu. ”Tidak ada ceritanya Denpasar 
banjir karena letaknya  yang datar. Perubahan peruntukan lahan mengakibatkan 
Denpasar kebanjiran,”  kata Gelebed.

Dalam kacamata pelancong dari dunia Barat, perubahan tata  ruang Bali menjadi 
seperti ”kota-kota” modern lainnya tentunya akan  menghilangkan daya tarik 
pulau ini. ”Eksotisme alam, tata ruang, dan budaya  masyarakat adalah daya 
tarik utama wisata Bali,” kata Popo  Danes.

Michael R White, warga Australia yang menetap di Bali sejak  1973, menyesalkan 
perubahan tata ruang itu. Menurut White, pada era  1970-1980-an vila hanya 
dibangun di daerah gersang dan bukan sentra pertanian  seperti Sanur. Kala itu, 
vila-vila juga selalu dibangun dengan konsep rumah  Bali yang terbuka, tidak 
bertingkat, dan ramah lingkungan.

”Tapi  sekarang lihatlah, arsitek-arsitek membangun vila atau rumah tak 
memedulikan  lagi adat dan budaya Bali. Seenaknya membangun rumah tingkat dan 
beton di  tengah sawah,” kata White, yang kini menetap di Sanur dan mengubah 
namanya  menjadi I Made Wijaya.

Adakah vila-vila yang tumbuh di atas sawah itu  sebuah pertanda kemajuan?

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI)  Denpasar, setiap tahun lahan pertanian 
berkurang dua sampai tiga persen.  Padahal, pertanian menyumbang pendapatan 
asli daerah (PAD) hingga 20 persen.  Kendati menyumbang PAD hingga 32 persen, 
pariwisata ternyata tidak serta-merta  mengurangi kemiskinan. Bahkan, ada tren 
baru, pengangguran semakin banyak  terjadi di desa.

”Warga yang tidak mendapat pekerjaan di kota akhirnya  kembali lagi ke desa. Di 
sana pun mereka tidak bisa lagi bertani. Akhirnya,  pengangguran justru lebih 
banyak terjadi di pedesaan,” kata Pemimpin Bank  Indonesia Denpasar Viraguna 
Bagoes Oka.

Desain ulang

Ruang  sebenarnya adalah wujud dari ekspresi terdalam masyarakat. Maka, 
perubahan  tata ruang Bali, menurut I Ketut Sumarta, budayawan Bali, 
menunjukkan adanya  perubahan cara pandang orang Bali.

Upacara keagamaan di Bali saat ini  memang makin meriah. ”Namun, ruhnya 
sebenarnya sudah mulai luntur karena  adanya perubahan orientasi masyarakat,” 
kata I Ketut Sumarta, budayawan  Bali.

Dulu orientasi masyarakat Bali ke pusat air di gunung, sekarang  masyarakat 
berorientasi ke pantai. Dulu, air di hulu dan hilir tidak diganggu.  Di hulu 
ada sekaa, kelompok-kelompok yang mengamankan danau dan di hilir ada  bandega. 
Di bagian tengah ada subak, yang mengatur ke mana alur air dan  mengatur 
pemanfaatan air.

”Dulu, air peranannya untuk keagamaan, untuk  digunakan masyarakat banyak, dan 
untuk kepentingan ekonomi. Karena itu, air  selalu dijaga oleh adat,” kata 
Sumarta.

Sekarang, dengan penyewaan dan  penjualan tanah besar-besaran, peran pemuka 
adat tak lagi diperhitungkan.  Untuk membeli tanah di atas aliran subak, 
misalnya, tak lagi diperlukan tanda  tangan kelian subak atau kelian adat. 
Konflik di masyarakat pun meluas.  Tertutupnya saluran air, misalnya, akan 
mengakibatkan saluran irigasi ke sawah  tidak lancar.

Konflik lain juga terjadi apabila tanah yang disewakan  atau dijual adalah 
tanah warisan. Padahal, di Bali, seperti air, tanah juga  sesuatu yang sakral.

Menurut Smarta, peran pemuka adat dalam menjaga  kelestarian alam dan budaya 
Bali memang telah tergerus. Dulu, konsep hidup  masyarakat Bali adalah puri, 
pura, dan pasar. Puri maksudnya raja, pura  artinya hubungan dengan Tuhan, dan 
pasar adalah hubungan  agraris.

Belakangan, peran raja tergantikan oleh partai politik, pura  digantikan 
hiburan, dan fungsi pasar digantikan pemodal besar yang  ekspansif.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan adat dan hukum adat,  Sumarta mengusulkan 
adanya redesain yang mendasar bagi Bali, yang dimulai dari  kelompok masyarakat 
terkecil, yakni desa. Sumarta dan beberapa orang lainnya  membentuk Majelis 
Utama Desa Pakraman (MDP) pada 2004.

MDP menyusun  konsensus-konsensus yang mengatur berbagai hal penting, seperti 
masalah  investasi di wilayah desa pakraman. ”Yang penting itu perencanaan yang 
 ditaati. Bali ke depan ini mau dibawa ke mana. Pemerintah jangan hanya  
mengejar mass tourism. Bali ini dijual terlalu murah,” kata Made Wijaya  geram.

Gelebed memiliki solusi lain untuk mengatasi masalah  kependudukan dan alih 
fungsi lahan di Bali. Menurut Gelebed, sudah saatnya  pembangunan difokuskan ke 
wilayah Bali bagian utara yang selama ini terkesan  terabaikan. ”Padahal, 
Belanda sudah merancang pelabuhan untuk menyeberang ke  Lombok. Dari sana, 
penyeberangan ke Lombok hanya dua jam dibandingkan dari  Padang Bai yang empat 
jam,” katanya.

Perubahan memang suatu niscaya.  Mencegah Bali berubah sama sekali dan tetap 
menjadikannya ”museum hidup”  sebagaimana ditawarkan GP Rouffer tentu tidak 
adil bagi masyarakat Bali.  Tetapi, perubahan yang bagaimana yang cocok bagi 
Bali? (BEN)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 





      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

  • ... Y. Napilus
    • ... Riri Chaidir
    • ... Aslim Nurhasan
    • ... Kurnia Chalik
      • ... Riri Chaidir
        • ... avenzora19
          • ... Kurnia Chalik
            • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
            • ... ricky avenzora
      • ... andikogmail

Kirim email ke