Dear Pak Kurnia dan Dunsanak RN Yang Mulia,

1. Mohon maaf baru reply, krn posting Bpk ini ternyata masuk ke dalam spam mail 
saya. Saya baru kembali membuka mail di PC, selama dua minggu terakhir saya 
keliling SUMBAR dan hanya monitor via BB.

2. Saya setuju dgn pandangan Pak Kurnia,....kita perlu MEMBANGUN ATMOSFIR yang 
BAIK  bagi semua.....disamping itu tentunya kita juga perlu untuk membuka diri 
untuk melihat "CERMIN" kita bersama. Saya sangat yakin bahwa kita semua ingin 
berbuat yang terbaik bagi negeri kita,.......saya juga sangat yakin bahwa kita 
berbuat dengan pola LILLAHI TA'ALA,.......sehingga dengan demikian saya pun 
menjadi "terlalu yakin" bahwa PUTIH nya  HATI  kita semua adalah ATMOSFIR 
TERBAIK dalam bersama-sama membangun kampung halaman kita. 

3. Apapupun itu, .....saya minta maaf jika gaya menulis saya dianggap terlalu 
vulgar. 

Salam,
r.a. 

--- On Thu, 3/19/09, Kurnia Chalik <[email protected]> wrote:
From: Kurnia Chalik <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: MARI KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Dua
To: [email protected]
Date: Thursday, March 19, 2009, 2:02 PM



 
Pak Ricky,Da Riri serta adi dunsanak 
kasadonyo,
 
Komentar saya di bawah bukan untuk 
menampakan sikap resistensi saya terhadap potensi dampak negatif yang 
mungkin timbul dari sektor Pariwisata Sumbar.
Tetapi yang saya fokuskan adalah kurang 
bijaksana rasanya bila kita dari awal2 telah memblow-up 
sisi2 negatif pariwisata.Saya kuatir dukungan masyarakat apalagi pemerintah 
daerah untuk merawat objek2 wisata yang sudah ada apalagi mengembangkan objek2 
wisata yang baru di Sumbar akhirnya menjadi menurun.Untuk apa Pariwisata 
Sumbar dikembangkan,toch pada akhirnya akan berdampak buruk juga.Pemda dan 
masyarakat Sumbar berfikirnya sangat praktis sekali.Makanya Pak Gubernur 
sendiri 
berkali2 mengatakan,ayo kita benahi objek2 wisata Sumbar dan jangan ada yang 
mendua lagi/antipati terhadap usaha2 untuk memajukan pariwisata 
Sumbar.
 
Sedangkan info yang baik2 saja yang kita 
informasikan kepada Pemda ataupun masyarakat,responnya belum tentu 
positif,apalagi kalau kita sudah dari sekarang sudah memberikan dampak2 
yang negatif dari pariwisata,tentunya mereka akan lebih negatif lagi 
responnya.Pemda dan masyarakat luas dapat saja berkata, "Ya sudah kalau memang 
pariwisata banyak berdampak negatifnya,tidak usah saja kita promosikan 
pariwisata Sumbar". Nah kalau ini terjadi,maka pintu sudah tertutup rapat 
sebelum kita2 para pemerduli Pariwisata Sumbar ini berbuat sesuatu.
 
Untuk itulah dibutuhkan kearifan,bijaksana 
dan pandai2 dalam menginformasikan segala sesuatunya.Niat kita 
ingin berpartisipasi dan kalau bisa memajukan potensi Pariwisata 
Sumbar,tetapi info yang kita lempar ke forum adalah dampak2 negatif pariwisata 
itu sendiri.Ini sebuah hal yang sangat kontra-produktif sekali 
tentunya.
 
Boleh jadi niat kita agar dilibatkan dalam 
membuat master plan (grand design) pariwisata Sumbar,malah bisa2 ditolak 
dari pagi2 hari oleh Pemda dan Masyarakat luas.
 
Wassalam,
Kurnia Chalik 
 
 
 
.-----Original Message-----
From: [email protected] 
[mailto:[email protected]]on Behalf Of 
[email protected]
Sent: Wednesday, March 18, 2009 9:40 
PM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Re: 
MARI KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Dua


Dear Pak Riri, Pak Kurnia dan Dunsanak RN Yang 
  Mulia,


1. Terima kasih atas berbagai perspektif yg telah 
  disampaikan utk merespon pandangan saya ttg perlunya kehati-hatian dan 
  ketelitian dlm mempromosikan dan membesarkan pariwisata di Ranah Minang. 
  

2. Sesungguhnya saya SANGAT SEPAKAT utk kita bersama-sama 
  mempromosikan (dari berbagai sisi dan dgn berbagai cara yang tentunya HARUS 
  BAIK dan BENAR). Saya juga SANGAT SEPAKAT bahwa SEMUA PIHAK adalah mempunyai 
  HAK BERPARTISIPASI sesuai dengan kemampuan masing-masing.


3. 
  Pertanyaan yg muncul dlm fikiran saya adalah akan KEMANA ARAH PEMBANGUNAN 
  PARIWISATA SUMBAR sesungguhnya akan dibawa....yg dlm bhs Pak Nofrins beliau 
  sebut "bgmana GRAND DESIGN" nya. 

4. Mohon ijinkan saya utk mencuatkan 
  beberapa fakta yg ada dlm beberapa minggu terakhir ini tentang usaha kita 
  bersama utk mempromosikan pariwisata SUMBAR, yaitu ;


a. Setelah 
  kawan2 MPKAS berhasil menaikkan berbagai foto ttg seorang CHRISTNE HAKIM (sbg 
  salah seorang ASET nasional dlm perfileman) di SIKUAI, maka beberapa hari 
  kemudian naik pula foto2 ttg artis lain di Sikuai. Foto ttg CH menunjukan 
  totalitas dan citra tersendiri,...sdgkan foto artis lain menunjukan 3/4 PAHA 
  yg terbuka krn pakain BIKINI. Pertanyaannya adalah APAKAH BENAR bhw CITRA 
PAHA 
  BERBUKINI yang akan juga kita tampilkan (meskipun itu dilokasi pantai dan di 
  pulau pula). JIKA IYA, apakah kita semua SIAP utk MELIHAT ANAK dan KEMANAKAN 
  kita dlm 10 tahun mendatang sudah BERBIKINI RIA PULA disepanjang pantai di 
  Sumbar? Mhn maaf, secara pribadi saya TIDAK MAU anak dan kemanakan kita 
  BERBIKINI RIA di pantai manapun,....apa lagi di SUMBAR. 

b. Contoh 
  lain, saya anggap contoh berikut adalah sebagai SALAH SATU KETERLANJURAN, 
  ....yaitu tolong kumpulkan data ttg berapa WATERBOOM yang sdh ada di SUMBAR 
  saat ini, dimana saja,...dan berapa lagi yg sedang dibangun. Jika tdk salah, 
  saat ini SUMBAR sdh mempunyai EMPAT WATERBOOM dan masih akan membangun SATU 
  LAGI WATERBOOM. Jika data itu benar, maka mari sama2 kita lihat SEBARAN 
  GEIGRAFINYA, lalu kita sama-sama hitung GOLDEN DISTANCE AREA nya,...lalu mari 
  pula sama-sama kita prediksi POTENTIAL DEMAND dari setiap waterboom yg ada. 
  Sampai disini,...mohon maaf, saya menyimpulkan bahwa TELAH TERJADI PERSAINGAN 
  YG TDK SEHAT antar kabupaten/kota. 

Lebih lanjut, coba pula lihat 
  lokasi2 yg dipilih utk membangun TAMAN REKREASI TEMATIS (water boom, taman 
  safari, kebun binatang dll),.....maaf saya menyimpulkan bahwa pemilihan 
lokasi 
  TAMAN TEMATIS DI SUMBAR adalah CENDERUNG UTK MENGEKSPLOITASI KEINDAHAN 
  ALAM,....sdgkan sesungguhnya salah satu TUJUAN PEMBANGUNAN TAMAN REKREASI 
  TEMATIS adalah UTK MENINGKATKAN KUALITAS BENTANG ALAM (natural landscape) yg 
  buruk agar menjadi baik, bermanfaat dan mempunyai added value melalui cara 
  investasi pembangunan yg mempunyai nilai ekonomi cepat. Mari kita bayangkan 
  jika itu semua kita biarkan,......apakah sekian tahun mendatang kira2 kita 
  masih akan bisa melihat hamparan sawah dan bukit yg indah di sepanjang jalan 
  di Sumbar? 

c. Jika saya masih boleh memberi contoh lain,...maka 
  ijinkan saya utk mencuatkan isu ttg TAGLINE Pariwisata Sumbar yg dlm beberapa 
  hari terakhir sama2 kita kumandangkan. Mohon maaf, saya ingin jujur 
mengatakan 
  bhw dlm pandangan saya masalah TAGLINE adalah bukan masalah yg 
  sederhana,...yaitu karena TAGLINE adalah salah satu ALAT dan MEDIA bagi kita 
  semua utk melakukan BRANDING. Pertanyaannya adalah,....jika Malaysia yg kecil 
  itu saja bisa melakukan klaim sepihak sebagai THE TRULY ASIA,...maka apakah 
  kita tidak pantas utk melakukan yg lebih besar dan mendalam dari itu? Dlm 
  perspektif lain, jika seorang anak terlalu banyak nama panggilannya (sbg 
  analogi dr tagline),.....kira2 apa kesan kita thd anak itu? Jika hal tsb kita 
  anggap sepele,...maka saya khawatir jangan2 kita hanya melakukan teriakan2 
spt 
  pedagang kaki lima....sedangkan yg kita miliki sesungguhnya adalah sangat 
  berharga dan bernilai sangat tinggi.

5. Saya sepakat dgn apa yg 
  disampaikan Pak Nofrin bahwa kita semua perlu menerjunkan para ahli dan pakar 
  yg berkualitas dlm mewujudkan mimpi kita semua,...seperti yg diinfokan Pak 
  Nofrin bhw SUMSEL telah menerjunkan HERMAWAN KERTAJAYA-cs utk mempersiapkan 
  dsan mempromosikan Tahun Kunjungan Wisata ke Sumsel. Namun demikian,... saya 
  mohon maaf ingin mengajak kita semua untuk melihat BILBOARD TAHUN KUNJUNGAN 
  WISATA KE SUMSEL,...dan juga melihat iklan2nya di TV. Pertanyaan saya 
  adalah,...apakah hanya seperti itu kualitas hasil kerja Hermawan-cs di 
Sumsel? 
  Hermawan-cs yg separo hati (shg dimata saya bilboard....dan iklan tsb saya 
  anggap ....maaf....SANGAT BURUK),....atau ada hal lain (misalnya keterbatasan 
  kualitas SDM yg menjadi decision maker) yg menjadi penyebab sesungguhnya? 
  Secara PRIBADI,....maaf ....saya memberanikan diri utk mengatakan bhw hal tsb 
  adalah SETALI MATA UANG,....para pakarnya separo hati...dan decision makernya 
  pun hanya "segitu". Sungguh bnyk PAKAR yg separo hati dan jualan dgn cara HIT 
  AND RUN,....dan sangat banyak DECISION MAKER yg TIDAK TAHU apa yg harus 
  dikontrol ...apa lagi gimana cara mengontrolnya. Dengan demikian Pak 
  Nofrin,....siapa pakar yg kita butuhkan,...dan siapa yg sanggup mengontrol 
  hasil kerja dan kualitas pakar tsb juga adalah suatu persoalan tersendiri. 
  Mudah2an TIDAK ADA anak RANAH MINANG dimanapun berada yg oleh masyarakat 
telah 
  diGOLONGkan sebagai PAKAR yg IKUT MERUSAK RANAH MINANG. 

7. Saya mohon 
  maaf utk kembali telah menulis dgn pola hiperbolis ini. Saya tdk bermaksud 
utk 
  mematahkan semangat, melainkan hanya mengajak kita semua utk melakukan usaha 
  bersama secara totalitas, hati2 dan teliti. 
Salam,
ricky a.
L, 45-, 
  JKT.

NB: Pak Nofrins, jika tdk keberatan saya minta tolong fwd kan 
  posting ini ke WSTB, karena saya mengalami kesulitan utk melakukan itu via BB 
  di Tanah Datar saat ini. Salam.









  Powered by Telkomsel BlackBerry®
  
  
  From: Riri Chaidir 
Date: Wed, 18 
  Mar 2009 18:49:42 +0700
To: 
  <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: MARI 
  KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Satu

  
  2009/3/18 Kurnia Chalik [email protected]

  
    
     
    Menurut hemat saya rasanya kurang 
    bijaksana ya kalau kita terlalu cepat memblow-up "dampak2 negatif" dari 
    Pariwisata Bali yang sebetulnya masih memerlukan kajian2 lebih 
    jauh dengan data yang lengkap untuk membuktikannya,di saat kita semua lagi 
    berusaha untuk memajukan sektor Pariwisata Sumatera Barat,yang diharapkan 
    akan dapat menjadi salah satu sumber income 
  daerah.
   
   
  Sanak Kurnia,
   
  Sebaiknya juga, kita jangan terlalu cepat untuk menunjukkan 
  resistensi jika ada yang menunjukkan "sisi lain dari pariwisata" 
  (untuk tidak mengatakan: dampak buruk). 
   
  Saya tidak tahu apakah yang disampaikan sanak Ricky itu 
  sudah memenuhi kriteria "kajian2 lebih jauh"  sebagaimana yang Sanak 
  Kurnia maksudkan (kalau saya pribadi yakin dengan kompetensinya Ricky yang 
   "memang disitu). 
   
  Tetapi yang jelas, ini - menurut saya - jangan diartikan sebaga "terlalu 
  cepat mem blow up ..." 
   
  Bulan Pebruari 2008 (setahun yll) ada sederetan tulisan di Kompas. Dua 
  diantaranya masih bisa ditemukan di internet yaitu : "Surga Terakhir" yang 
Hilang dan Surga untuk Siapa? Kedua link ke artikel ini pernah saya "bawa" ke 
milis MAPPAS 
  pada waktu itu. Jadi tidak terlalu cepat juga kan tuh? 
   
  Juga, apakah memang "tidak cocok untuk membandingkan masyarakat 
  Minangkabau dengan Bali?". Entahlah, saya kira itu pendapat pribadi 
  yang bisa berbeda untuk setiap orang. Tetapi yang jelas, kedua 
  artikel itu saya bawa ke milis MAPPAS justru karena waktu itu kita diangankan 
  untuk "meniru Bali". (Link diskusi itu masih ada di 
http://groups.yahoo.com/group/mappas/message/1719 , 
  1722 dan 1725).
   
  Bahwa pariwisata bisa menghasilkan income untuk daerah, itu harus diakui. 
  Tetapi dari dulu - kebetulan - saya termasuk orang yang tidak percaya dengan 
  "multiplier effect" yang menyederhanakan seluruh aspek positif (saja) kedalam 
  konstanta2 yang disederhanakan.
   
  Di bawah saya copykan salah satu artikel Kompas yang masih disimpan di 
http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/kolom/artikel.php?aid=25281   
  Yang satu lagi ada di 
http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/fokus/artikel.php?aid=25280 .  
  
   
  Riri
  Bekasi, L 46
   
   
  "Surga Terakhir" yang 
  Hilang

  
    
    
      Tanggal : 
      22 Feb 2008
    
      Sumber : 
      Kompas
  
  Prakarsa Rakyat, 
  
Jumat, 22 Februari 2008 | 01:59 WIB

Oleh: Khairina dan Ahmad 
  Arif

”Museum hidup” atas eksotisme dunia Timur yang menjadi impian para 
  pelancong dari Barat selama berpuluh tahun itu sudah berubah. Bali tak lagi 
  seperti yang diinginkan oleh GP Rouffaer, Direktur Bali Insitut yang mendapat 
  tugas oleh Belanda pada tahun 1915-an untuk mengoptimalkan potensi wisata 
  pulau ini. Siapa paling kehilangan atas perubahan wajah Bali?

Pada 
  periode awal eksploitasi Bali sebagai obyek wisata, GP Rouffer 
  merekomendasikan agar pemerintah kolonial Belanda jangan mengusik pola 
  kehidupan masyarakat Bali. Pertanian, kehidupan pedesaan, aneka pemujaan, 
  kesenian religius, dan kesusasteraan harus dijaga. Tak boleh ada jalur rel 
  kereta api, perkebunan kopi Barat, dan terutama tak boleh ada pabrik gula. 
  ”...Bali sebagai suatu permata langka yang wajib dilindungi dan yang 
  keperawanannya harus dijaga utuh,” sebut Rouffer.

Sebagai bagian dari 
  program melestarikan Bali sebagai ”museum hidup” agar laku dijual dalam bursa 
  wisata, pada tahun 1920-an Belanda menerapkan Baliseering atau Balinisasi 
  Bali.

Bali kemudian dikenal sebagai Pulau Dada Telanjang—mengacu pada 
  kebiasaan perempuan Bali yang tidak menutup dadanya— yang menurut penulis 
  Perancis, Michel Picard (1992), sebagai salah satu daya tarik utama dunia 
  Barat pada Bali masa lampau. Bali juga disebut sebagai surga terakhir karena 
  keindahan sawah dengan subaknya.

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, 
  yang memiliki ribuan pura, yang sengaja dilindungi dari pengaruh budaya dan 
  agama lain oleh kolonial Belanda.

Namun, Bali kini, bukan lagi ”museum 
  hidup” yang perawan. Hampir semua sudutnya sudah dijamah dan berubah. 
  Perubahan yang paling mudah dilihat adalah tata ruang.

Tanah sawah 
  dengan sistem subaknya yang menawan, dan pantai-pantai yang menjadi tempat 
  melasti (rangkaian perayaan nyepi yang bermakna mengambil air suci dari laut) 
  telah berubah menjadi hotel berbintang, vila mewah, kafe, rumah makan, dan 
  kios cenderamata. ”Tata ruang Bali sudah disetir pasar,” kata Popo Danes, 
  arsitek Bali.

N Gelebed, pakar tata ruang dari Universitas Udayana, 
  Denpasar, mengatakan, kehancuran tata ruang Bali disebabkan pemerintah tidak 
  konsisten menerapkan rancangan yang sudah dibuat.

Tiga puluh tahun 
  lalu, Gelebed ikut merencanakan pengembangan tiga kawasan wisata di Bali, 
  yakni Kuta, Sanur, dan Nusa Dua. Dari tiga kawasan itu, Kuta adalah kawasan 
  yang perkembangannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

Kuta 
  ketika itu direncanakan sebagai wisata desa. Di tempat itu seharusnya yang 
  cocok dibangun adalah rumah penginapan atau homestay. Sebab, desa di Kuta 
  berada tepat di pinggir pantai.

”Tapi, sekarang yang terjadi justru di 
  Kuta dibangun hotel berbintang dan bertingkat. Konsep desa wisata justru 
tidak 
  lagi kelihatan,” kata Gelebed.

Salah satu ciri hilangnya desa di Kuta 
  adalah hilangnya bale banjar sebagai penanda desa. Pura memang masih ada, 
  tetapi tenggelam oleh bangunan-bangunan lain yang lebih megah.

Kuta 
  bagian utara, yang direncanakan tetap sebagai areal pertanian juga tidak 
lepas 
  dari perubahan. Daerah Renon dan Kerobokan yang dulu penghasil beras kini 
  diubah menjadi daerah wisata, berupa vila dan rumah tinggal.

Membunuh 
  ”angsa”

”Padahal, pembangunan Bali tanpa perencanaan tak ubahnya 
  membunuh angsa bertelur emas,” kata N Gelebed.

Contoh nyata dari dampak 
  hancurnya tata ruang adalah terjadinya banjir yang melanda Kota Denpasar di 
  penghujung tahun lalu. ”Tidak ada ceritanya Denpasar banjir karena letaknya 
  yang datar. Perubahan peruntukan lahan mengakibatkan Denpasar kebanjiran,” 
  kata Gelebed.

Dalam kacamata pelancong dari dunia Barat, perubahan tata 
  ruang Bali menjadi seperti ”kota-kota” modern lainnya tentunya akan 
  menghilangkan daya tarik pulau ini. ”Eksotisme alam, tata ruang, dan budaya 
  masyarakat adalah daya tarik utama wisata Bali,” kata Popo 
  Danes.

Michael R White, warga Australia yang menetap di Bali sejak 
  1973, menyesalkan perubahan tata ruang itu. Menurut White, pada era 
  1970-1980-an vila hanya dibangun di daerah gersang dan bukan sentra pertanian 
  seperti Sanur. Kala itu, vila-vila juga selalu dibangun dengan konsep rumah 
  Bali yang terbuka, tidak bertingkat, dan ramah lingkungan.

”Tapi 
  sekarang lihatlah, arsitek-arsitek membangun vila atau rumah tak memedulikan 
  lagi adat dan budaya Bali. Seenaknya membangun rumah tingkat dan beton di 
  tengah sawah,” kata White, yang kini menetap di Sanur dan mengubah namanya 
  menjadi I Made Wijaya.

Adakah vila-vila yang tumbuh di atas sawah itu 
  sebuah pertanda kemajuan?

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) 
  Denpasar, setiap tahun lahan pertanian berkurang dua sampai tiga persen. 
  Padahal, pertanian menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) hingga 20 persen. 
  Kendati menyumbang PAD hingga 32 persen, pariwisata ternyata tidak 
serta-merta 
  mengurangi kemiskinan. Bahkan, ada tren baru, pengangguran semakin banyak 
  terjadi di desa.

”Warga yang tidak mendapat pekerjaan di kota akhirnya 
  kembali lagi ke desa. Di sana pun mereka tidak bisa lagi bertani. Akhirnya, 
  pengangguran justru lebih banyak terjadi di pedesaan,” kata Pemimpin Bank 
  Indonesia Denpasar Viraguna Bagoes Oka.

Desain ulang

Ruang 
  sebenarnya adalah wujud dari ekspresi terdalam masyarakat. Maka, perubahan 
  tata ruang Bali, menurut I Ketut Sumarta, budayawan Bali, menunjukkan adanya 
  perubahan cara pandang orang Bali.

Upacara keagamaan di Bali saat ini 
  memang makin meriah. ”Namun, ruhnya sebenarnya sudah mulai luntur karena 
  adanya perubahan orientasi masyarakat,” kata I Ketut Sumarta, budayawan 
  Bali.

Dulu orientasi masyarakat Bali ke pusat air di gunung, sekarang 
  masyarakat berorientasi ke pantai. Dulu, air di hulu dan hilir tidak 
diganggu. 
  Di hulu ada sekaa, kelompok-kelompok yang mengamankan danau dan di hilir ada 
  bandega. Di bagian tengah ada subak, yang mengatur ke mana alur air dan 
  mengatur pemanfaatan air.

”Dulu, air peranannya untuk keagamaan, untuk 
  digunakan masyarakat banyak, dan untuk kepentingan ekonomi. Karena itu, air 
  selalu dijaga oleh adat,” kata Sumarta.

Sekarang, dengan penyewaan dan 
  penjualan tanah besar-besaran, peran pemuka adat tak lagi diperhitungkan. 
  Untuk membeli tanah di atas aliran subak, misalnya, tak lagi diperlukan tanda 
  tangan kelian subak atau kelian adat. Konflik di masyarakat pun meluas. 
  Tertutupnya saluran air, misalnya, akan mengakibatkan saluran irigasi ke 
sawah 
  tidak lancar.

Konflik lain juga terjadi apabila tanah yang disewakan 
  atau dijual adalah tanah warisan. Padahal, di Bali, seperti air, tanah juga 
  sesuatu yang sakral.

Menurut Smarta, peran pemuka adat dalam menjaga 
  kelestarian alam dan budaya Bali memang telah tergerus. Dulu, konsep hidup 
  masyarakat Bali adalah puri, pura, dan pasar. Puri maksudnya raja, pura 
  artinya hubungan dengan Tuhan, dan pasar adalah hubungan 
  agraris.

Belakangan, peran raja tergantikan oleh partai politik, pura 
  digantikan hiburan, dan fungsi pasar digantikan pemodal besar yang 
  ekspansif.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan adat dan hukum adat, 
  Sumarta mengusulkan adanya redesain yang mendasar bagi Bali, yang dimulai 
dari 
  kelompok masyarakat terkecil, yakni desa. Sumarta dan beberapa orang lainnya 
  membentuk Majelis Utama Desa Pakraman (MDP) pada 2004.

MDP menyusun 
  konsensus-konsensus yang mengatur berbagai hal penting, seperti masalah 
  investasi di wilayah desa pakraman. ”Yang penting itu perencanaan yang 
  ditaati. Bali ke depan ini mau dibawa ke mana. Pemerintah jangan hanya 
  mengejar mass tourism. Bali ini dijual terlalu murah,” kata Made Wijaya 
  geram.

Gelebed memiliki solusi lain untuk mengatasi masalah 
  kependudukan dan alih fungsi lahan di Bali. Menurut Gelebed, sudah saatnya 
  pembangunan difokuskan ke wilayah Bali bagian utara yang selama ini terkesan 
  terabaikan. ”Padahal, Belanda sudah merancang pelabuhan untuk menyeberang ke 
  Lombok. Dari sana, penyeberangan ke Lombok hanya dua jam dibandingkan dari 
  Padang Bai yang empat jam,” katanya.

Perubahan memang suatu niscaya. 
  Mencegah Bali berubah sama sekali dan tetap menjadikannya ”museum hidup” 
  sebagaimana ditawarkan GP Rouffer tentu tidak adil bagi masyarakat Bali. 
  Tetapi, perubahan yang bagaimana yang cocok bagi Bali? (BEN)
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   










      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

  • ... Y. Napilus
    • ... Riri Chaidir
    • ... Aslim Nurhasan
    • ... Kurnia Chalik
      • ... Riri Chaidir
        • ... avenzora19
          • ... Kurnia Chalik
            • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
            • ... ricky avenzora
      • ... andikogmail

Kirim email ke