Waalaikumsalam w.w. Nanda Iffah,
Saya ikut prihatin dengan kondisi Bengkulu.
Tentang harta pusaka, sejak kecil saya sama sekali tak berminat, antara lain 
memang karena saya melihat harta pusaka lebih banyak menjadi sumber sengketa. 
Oleh karena itulah, saya tak mau 'basarigik' menanti pembagian harta pusaka 
yang tak banyak itu. Lebih baik energi saya saya gunakan untuk meningkatkan 
pendapatan saya sendiri, untuk keperluan keluarga. Hasilnya jelas bisa lebih 
banyak dari pembagian harta pusaka yang makin lama makin  kecil itu.
Dalam hidup berkeluarga, saya memang berpegang pada ajaran Islam dan hukum 
nasional. Saya adalah kepala keluarga yang memikul seluruh tanggung jawab 
terhadap kesejahteraan keluarga saya. Tak terbetik sedikitpun dalam fikiran 
saya untuk meminta mamak saya -- yang kebetulan sudah meninggal waktu saya 
kecil -- atau mamak dari anak-anak saya untuk ikut membiayai kehidupan saya 
sekeluarga. Apalagi kelihatannya para mamak dari anak-anak saya ini juga 
menanggung beban berat untuk menghidupi keluarganya sendiri, dan tak ada 
waktunya untuk memperhatikan apalagi membiayai para kemenakannya. [Kelihatannya 
mereka malah gembira melihat saya memikul sendfiri beban mereka menurut adat].
Sudah barang tentu saya tidak berkeberatan jika para sanak yang lain sudah 
nyaman dengan sistem sako dan pusako itu. Ini kan negara merdeka.Hak-hak 
dijamin.
Saya juga ikut bertanya bersama Nanda Iffah: kok kita ribut terus soal harta 
pusaka ini ?
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
Alternate e-mail addresses: 
[email protected];




________________________________
From: hanifah daman <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Wednesday, April 22, 2009 7:07:19 AM
Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo



Assalammualaikum p saaf. Kita doakan saja generasi yang akan datang lebih baik 
dari jamannya bapak. Dengan menegakkan disiplin yang tinggi di bangku sekolahan 
dg sangsi yang ketat akan terbentuk generasi muda yang jujur dan tangguh. Di 
bengkulu selatan 16 kepsek di tahan krn mencoba membocorkan soal UAN. Oh ya ttg 
ABSSBK di bengkulu mungkin suatu masa akan tinggal sejarah. Saat ini gereja 
sudah bertebaran dimana mana mengalahkan jumlah mesjid. Trus kejahatan yang 
terjadi di bkl sangat jarang di angkat jd berita nasional kecuali berita yang 
memungkinkan turunnya dana dari pusat. Menurut hanifah biar tdk berantam anak 
keturunan dengan warisan, nggak usah aja numpukin harta. Nasib anak cucu ada di 
takdirnya masing2. Kalau akan di tinggalkan jg u anak2 maka harta yg kita cari 
sendiri bagikan menurut cara islam. Harta pusaka tinggi nggak usah di usik2. 
Kan udah diniatkan nenek moyang itu untuk wanita yang waktu itu bertanggung 
jawab mengurus anak2. Sekarang
memang seorang bapaklah yg bertanggung jawab penuh pada keluarga. Mestinya bpk2 
tsb nyari sendiri, jangan mengharapkan warisan. Dg begitu di bagi cara apapun 
harta istri ortunya ya nggak ngaruh dong ?? Kok kita sibuk me usik2 terus ttg 
harta pusaka ?? Wass. Hanifah

Dr.Saafroedin BAHAR wrote: 
>  Tarimo kasih kembali Riri. Rumusan nan singkek padek itu timbua karano alah 
>panek mancubo untuk mencari konsistensi dan koherensi dari iduik 
>'baminang-minang' -- bak kato pak Fasli Jalal -- dan indak maju-maju, atau 
>kalau maju, basiingsuik.  
>  Ya sudahlah.. Ruponyo dek urang awak salamoko memang indak paralu bana punyo 
>wawasan nan konsisten jo koheren doh. Nan saling batantangan pun oke-oke sajo. 
>'Angguak anggak geleang amuah, dalam duo tangah tigo, unjuak nan indak 
>babarikan'. 
>  Antah kok nan kadatang, baa ko lah. Wallahualambissawab.   
>  Wassalam, Saafroedin Bahar 
>  (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
>Pariaman.) 
>  "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
>  Alternate e-mail addresses: 
>  [email protected] ; 
>  [email protected][email protected] 
>    
>  From: Riri Chaidir <[email protected]> To: 
>[email protected] Cc: [email protected] Sent: Tuesday, 
>April 21, 2009 4:41:07 PM Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo 
>  Pak Saaf, 
>    
>  Tarimokasi banyak, Pak. 
>    
>  Posting pak Saaf nan iko pendek, tapi padek. Kadang2 memang tapikia dek 
>ambo, tapi salamoko alun bisa merumuskannyo dalam statements pendek. 
>    
>  Duo hal nan ambo ambiak jadi pelajaran : kita kok kelihatannya bangga dengan 
>kontradiksi dan inkonsistensi itu d an tak usahlah diusahakan untuk 
>benar-benar mengerti secara logika, coba saja mengerti secara 'minang' … 
>(quotation marks nan manguruang kato ‘minang’ pun lakek di perhatian ambo) 
>    
>  Again, makasih, pak Saf 
>    
>  Riri 
>  Bekasi, L, 46 
>    
>    
>  From: [email protected] [mailto: [email protected] ] On 
>Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR Sent: Tuesday, April 21, 2009 3:35 PM To: 
>[email protected] Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo 
>    
>  Riri, 
>  Nah di situlah hebatnya, Riri. Perhatikanlah baik-baik -- cukup dalam wacana 
>di RN ini saja -- apa masalah yang selalu diperdebatkan dan siapa yang 
>mendebat secara berkepanjangan setiap upaya untuk menjabarkan ABS SBK itu 
>secara koheren dan konsisten, dan argumen apa yang selalu dikeluarkan. 
>  Dalam buku saya 'Masih Ada Harapan' (2004) saya mengutip pendapat Prof Amri 
>Marzali yang mengatakan bahwa kehidupan kita orang Minangkabau memang penuh 
>kontradiksi dan inkonsistensi, dan hebatnya, kita kok kelihatannya bangga 
>dengan kontradiksi dan inkonsistensi itu. 
>  Jadi tak usahlah diusahakan untuk benar-benar mengerti secara logika, coba 
>saja mengerti secara 'minang', apapun artinya itu. Akar masalahnya terletak 
>pada disainnya, sejak 'dari sono'-nya.. 
>  Bagi saya pribadi, diterimanya -- atau tak ditentangnya lagi -- 'Ranji ABS 
>SBK' sudah cukup. 
>  Mengenai hal-hal lain yang lebih mendasar, saya serahkan saja kepada para 
>pakarnya, kepada para 'stakeholders' lain seperti pada kaum muda dan kaum 
>perempuan Minang, dan akhirnya kepada perkembangan zaman. 
>  [Saya kan berkali-kali mengatakan saya bukan ahli adat dan juga bukan ahli 
>agama.]   
>  Wassalam, Saafroedin Bahar 
>  (L, masuk 72 th, Jakarta ; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang 
>Dalam, Pariaman.) 
>  "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
>  Alternate e-mail addresses: 
>  [email protected] ; 
>  [email protected][email protected] 
>    
>    
>    
>    
>  From: Riri Chaidir <[email protected]> To: 
>[email protected] Sent: Tuesday, April 21, 2009 3:02:31 PM Subject: 
>[...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo 
>  Pak Saaf. 
>  Kalau begitu,  harusnya (dengan logika dangkal saya) segala issues yang 
>tidak berkaitan dengan sistem kekerabatan harusnya ga ada masalah lagi. 
>  Jadi harusnya orang2 awam seperti saya bisa dengan jelas melihat “ini adat 
>minangkabau” atau “ini bukan” … 
>  Tapi rasanya kok belum2 juga ya … 
>    
>  Riri 
>    
>  From: [email protected] [mailto: [email protected] ] On 
>Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR Sent: Tuesday, April 21, 2009 11:45 AM To: 
>[email protected] Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo 
>    
>  Riri dan para sanak sa palanta, 
>  Kebetulan, salah seorang mahasiswa saya pada Program Pascasarjana UGM tahun 
>2007 yang lalu berasal dari Gorontalo, dan membenarkan bahwa masyarakat di 
>sana berpegang pada ABS SBK, seperti juga di Bengkulu, Riau, dan Brunai. 
>  Hanya bagusnya, mereka tak menghadapi komplikasi seperti di Sumatera 
>Barat, karena baik masyarakatnya maupun agama islam mengajarkan sistem 
>kekerabatan patrilineal. Berbeda dengan kita di Sumatera Barat yang menganut 
>sistem kekerabatan matrilineal. 
>  Dengan kata lain, masalah ABS SBK di Sumatera Barat bukan pada Rukun Iman 
>dan atau Rukun Islam, tetapi pada sistem kekerabatan, dan seiring dengan itu, 
>pada hukum waris. Dan -- susahnya -- jika sudah bicara mengenai dua hal ini, 
>maka berhentilah semua wacana, kita akan berbicara berputar-putar tak 
>habis-habisnya seperti dapat dibuka kembali pada arsip Rantau Net ini.   
>  Wassalam, Saafroedin Bahar 
>  (L, masuk 72 th, Jakarta ; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang 
>Dalam, Pariaman.) 
>  "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
>  Alternate e-mail addresses: 
>  [email protected] ; 
>  [email protected][email protected] 
>    
>    
>    
>    
>  From: Riri Chaidir <[email protected]> To: 
>[email protected] Sent: Tuesday, April 21, 2009 10:59:48 AM Subject: 
>[...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo 
>  Kelihatannya masyarakat Gorontalo Bukan hanya mengenal, tetapi malah lebih 
>jauh. 
>    
>  Ini juga dicantumkan dalam dokumen2 pemerintahan, ada yang menyebutkan Adat 
>bahkan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan .( Profil Daerah 
>Gorontalo di website Depdagri, 
>http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_provinsi&id_prov=13&dt=nilai&nm_prov=Gorontalo).
> 
>    
>  Nah, saya tidak tahu, apakah di Sumbar sikap masyarakat dan pemerintahnya 
>sampai kesini atau masih terbatas wacana2 di palanta 
>    
>    
>  Riri 
>  Bekasi, L 46 
>    
>    
>    
>  -----Original Message----- From: [email protected] [mailto: 
>[email protected] ] On Behalf Of Lies Suryadi Sent: Tuesday, April 
>21, 2009 7:57 AM To: [email protected] Subject: [...@ntau-net] 
>ABS-SBK di Gorontalo 
>    
>    
>    
>  Dunsanak di lapau sakalian, 
>  Ambo baco di koran, liek di tipi, masyarakat Gorontalo juo mengenal ABS-SBK. 
>Ha...baa pulo konsep mereka tu? Mungkin lai ado sanak di lapau nan tau. 
>    
>  Wassalam. 
>  Suryadi 
>    
>    
>    
> 


      



[email protected]
[email protected]
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke