Baiklah bapak, karena kasusnya sudah berlalu dan para pelakunya sudah meninggal, walaupun kasus ini tentu saja merusak hubungan anak pisang dan bako, terlepas dari apa adik yang tidak menyayangi kakak dan ibunya atau kakak yang tidak menyayangi adiknya karena lain ayah, tidak pantas lagi untuk di bahas. Sebagai anak sebaiknya bapak mengirim doa untuk ayah bapak, agar diampuni dosanya dan dilapangkan kuburannya. Kata ustadz, ayah yang saleh bisa terhalang masuk surga kalau anaknya tidak saleh, sebaliknya anak yang saleh bisa mengeluarkan ayahnya dari neraka. Persoalan perebutan harta akhir2 ini jadi topik di sinetron2 unggulan di TV. Saksikan saja SCTV. Wass. Hanifah
Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Nanda Iffah, Ayah saya terombang ambing antara adat dan Islam. Tapi dalam > hubungan dengan masalah pengadilan, yang membawa masalah harta pusaka itu ke > pengadilan itu kan justru Etek saya itu dan sepupu saya Wan Basyir, didukung > oleh pengacara dari Banten, suami anaknya Wan Basyir. Ayah saya sangat awam > dalam masalah pengadilan ini. > Yang diminta oleh Ayah saya hanyalah agar sawah yang sudah diwakafkan untuk > tiga mesjid tak ikut disertifikatkan atas nama pribadi. > Peranan saya? Saya ini kan hanya anak pisang, tak ada peran dalam sako dan > pusako, kan? Dan karena itu Ayah saya tak melibatkan saya adik beradik, dan > kami pun tahu diri. > Wassalam, Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, > Pariaman.) > "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" > Alternate e-mail addresses: > [email protected] ; > [email protected] > [email protected] > > From: hanifah daman <[email protected]> To: "[email protected]" > <[email protected]> Cc: "[email protected]" > <[email protected]> Sent: Wednesday, April 22, 2009 12:51:30 PM > Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo Bapak saaf yth. Papa hanifah > lahir th 1919, berarti papa lebih tua dari bapak. Di jaman papa, papa sudah > menjadi ayah menurut ajaran islam, termasuk papa ikut bantu mama di rumah. > Jadi kalau bikin randang, mamaruik karambia adalah tugas papa. Papa jg sangat > penyayang ke anak2 dan tak membedakan perlakuan pd anak laki2 dan perempuan, > dimana papa memberi kesempatan kepada uni untuk kuliah di kedokteran. Saat > itu anak perempuan kecil2 sudah > dinikahkan. Teman2 unipun umumnya lelaki. Papa jg tdk mencampuri rumah > tangga adiknya. Karena mereka orang kaya dan merantau. Ayah papa lebih hebat, > karena banyak istri maka dibelakang nama anaknya ditambahkan namanya. Makltm > kakek guru agama dan sudah haji. Ada masa mamak yang menaruko sawah untuk > kemenakan. Ada masa ayah berkuasa penuh sesuai ABSSBK. Trus kenapa kita > bertengkar ttg harta ?? Mestinya pertanyaan ini bapak ajukan ke ayah bapak > dulunya. Bukankah bapak sudah pejabat juga waktu itu ?? Kenapa ayah bapak > memilih memerangi adiknya hanya karena harta ? Nah akiirnya rugi banyak, > silaurahim dg adik terputus, harta yg di perebutkan di sikat orang lain. > Lahan yg mestinya jd ladang amal telah rusak jd petaka. Mohon maaf kalau > tidak berkenan. Wass. Hanifah Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Waalaikumsalam > w.w. Nanda Iffah, > Saya ikut prihatin dengan kondisi Bengkulu. > Tentang > harta pusaka, sejak kecil saya > sama sekali tak berminat, antara lain memang karena saya melihat harta > pusaka lebih banyak menjadi sumber sengketa. Oleh karena itulah, saya tak mau > 'basarigik' menanti pembagian harta pusaka yang tak banyak itu. Lebih baik > energi saya saya gunakan untuk meningkatkan pendapatan saya sendiri, untuk > keperluan keluarga. Hasilnya jelas bisa lebih banyak dari pembagian harta > pusaka yang makin lama makin kecil itu. > Dalam hidup berkeluarga, saya > memang berpegang pada ajaran Islam dan hukum nasional. Saya adalah kepala > keluarga yang memikul seluruh tanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga > saya. Tak terbetik sedikitpun dalam fikiran saya untuk meminta mamak saya -- > yang kebetulan sudah meninggal waktu saya kecil -- atau mamak dari anak-anak > saya untuk ikut membiayai kehidupan saya sekeluarga. Apalagi kelihatannya > para mamak dari anak-anak saya ini juga menanggung beban berat untuk > menghidupi keluarganya sendiri, dan tak ada > waktunya untuk memperhatikan apalagi membiayai para kemenakannya. > [Kelihatannya mereka malah gembira melihat saya memikul sendfiri beban mereka > menurut adat]. > Sudah barang tentu saya tidak berkeberatan jika para sanak > yang lain sudah nyaman dengan sistem sako dan pusako itu. Ini kan negara > merdeka.Hak-hak dijamin. > Saya juga ikut bertanya bersama Nanda Iffah: kok > kita ribut terus soal harta pusaka ini ? > Wassalam, Saafroedin Bahar > > (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, > Pariaman.) > "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" > Alternate > e-mail addresses: > [email protected] ; > [email protected] > > [email protected] > > From: hanifah daman < > [email protected] > To: " [email protected] " < [email protected] > Cc: " > [email protected] " < [email protected] > Sent: Wednesday, > April 22, 2009 7:07:19 AM Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo > Assalammualaikum p saaf. Kita doakan saja generasi yang akan datang lebih > baik dari jamannya bapak. Dengan menegakkan > disiplin yang tinggi di bangku sekolahan dg sangsi yang ketat akan terbentuk > generasi muda yang jujur dan tangguh.. Di bengkulu selatan 16 kepsek di tahan > krn mencoba membocorkan soal UAN. Oh ya ttg ABSSBK di bengkulu mungkin suatu > masa akan tinggal sejarah. Saat ini gereja sudah bertebaran dimana mana > mengalahkan jumlah > mesjid. Trus kejahatan yang terjadi di bkl sangat > jarang di angkat jd berita nasional kecuali berita yang memungkinkan turunnya > dana dari pusat. Menurut hanifah biar tdk berantam anak keturunan dengan > warisan, nggak usah aja numpukin harta. Nasib anak cucu ada di takdirnya > masing2. Kalau akan di tinggalkan jg u anak2 maka harta yg kita cari sendiri > bagikan menurut cara islam. Harta pusaka tinggi nggak usah di usik2. Kan udah > diniatkan nenek moyang itu untuk wanita yang waktu itu bertanggung jawab > mengurus anak2. Sekarang memang seorang bapaklah yg bertanggung jawab penuh > pada keluarga. Mestinya bpk2 tsb nyari sendiri, > jangan mengharapkan warisan. Dg begitu di bagi cara apapun harta istri > ortunya ya nggak ngaruh dong ?? Kok kita sibuk me usik2 terus ttg harta > pusaka ?? Wass. Hanifah Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Tarimo kasih kembali > Riri. Rumusan nan singkek padek itu timbua karano alah panek mancubo untuk > mencari konsistensi dan > koherensi dari iduik 'baminang-minang' -- bak kato > pak Fasli Jalal -- dan indak maju-maju, atau kalau maju, basiingsuik. > Ya > sudahlah.. Ruponyo dek urang awak salamoko memang indak paralu bana punyo > wawasan nan konsisten jo koheren doh. Nan saling batantangan pun oke-oke > sajo. 'Angguak anggak geleang amuah, dalam duo tangah tigo, unjuak nan indak > babarikan'. > Antah kok nan kadatang, baa ko lah. Wallahualambissawab. > > Wassalam, Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan > Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) > "Basuku > ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" > Alternate e-mail addresses: > > [email protected] ; > [email protected] > > [email protected] > > From: Riri Chaidir < > [email protected] > To: [email protected] Cc: > [email protected] Sent: Tuesday, April 21, 2009 4:41:07 PM > Subject: [...@ntau-net] Re: > ABS-SBK di Gorontalo > Pak Saaf, > > Tarimokasi banyak, Pak. > > > Posting pak Saaf nan iko pendek, tapi padek. Kadang2 memang tapikia dek ambo, > tapi salamoko alun > bisa merumuskannyo dalam statements pendek. > > Duo > hal nan ambo ambiak jadi pelajaran : kita kok kelihatannya bangga dengan > kontradiksi dan inkonsistensi itu d an tak usahlah diusahakan untuk > benar-benar mengerti secara logika, coba saja mengerti secara 'minang' … > (quotation marks nan manguruang kato ‘minang’ pun lakek di perhatian ambo) > > > Again, makasih, pak Saf > > Riri > Bekasi, L, 46 > > > From: > [email protected] [mailto: [email protected] ] On Behalf Of > Dr.Saafroedin BAHAR Sent: Tuesday, April 21, 2009 3:35 PM To: > [email protected] Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo > > > Riri, > Nah di situlah hebatnya, Riri. Perhatikanlah baik-baik -- > cukup dalam wacana di RN ini saja -- apa masalah yang selalu diperdebatkan dan siapa yang mendebat secara berkepanjangan setiap upaya untuk menjabarkan ABS SBK itu secara koheren dan konsisten, dan argumen apa yang selalu dikeluarkan.. > Dalam buku saya 'Masih Ada Harapan' (2004) saya mengutip pendapat Prof Amri Marzali yang mengatakan bahwa kehidupan kita orang Minangkabau memang penuh kontradiksi dan inkonsistensi, dan hebatnya, kita kok kelihatannya bangga dengan kontradiksi dan inkonsistensi itu. > Jadi > tak usahlah diusahakan untuk benar-benar mengerti secara logika, coba saja > mengerti secara 'minang', apapun artinya itu. Akar masalahnya terletak pada > disainnya, sejak 'dari > sono'-nya.. > Bagi saya pribadi, diterimanya -- > atau tak ditentangnya lagi -- 'Ranji ABS SBK' sudah cukup. > Mengenai > hal-hal lain yang lebih mendasar, saya serahkan saja kepada para pakarnya, > kepada para 'stakeholders' lain seperti pada kaum muda dan kaum perempuan > Minang, dan akhirnya kepada perkembangan zaman. > [Saya kan berkali-kali > mengatakan saya bukan ahli adat dan juga bukan ahli agama.] > Wassalam, > Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta ; Tanjuang, Soetan Madjolelo; > Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) > "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako > ka Mamak" > Alternate e-mail addresses: > [email protected] ; > > [email protected] > [email protected] > > > > > > From: Riri Chaidir < [email protected] > To: [email protected] Sent: Tuesday, April 21, 2009 3:02:31 PM Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo > Pak Saaf. > Kalau begitu, harusnya (dengan logika dangkal saya) segala issues yang tidak berkaitan dengan sistem kekerabatan harusnya ga ada masalah lagi. > > Jadi harusnya orang2 awam seperti saya bisa dengan jelas melihat “ini > adat > minangkabau” atau “ini bukan” … > Tapi rasanya kok belum2 juga ya … > > > Riri > > From: [email protected] [mailto: > [email protected] ] On Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR Sent: Tuesday, > April 21, 2009 11:45 AM To: [email protected] Subject: > [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo > > Riri dan para sanak sa > palanta, > Kebetulan, salah seorang mahasiswa saya pada Program Pascasarjana > UGM tahun 2007 yang lalu berasal dari Gorontalo, dan membenarkan bahwa > masyarakat di sana berpegang pada ABS SBK, seperti juga di Bengkulu, > > Riau, dan Brunai. > Hanya bagusnya, mereka tak menghadapi komplikasi seperti > di Sumatera Barat, karena baik masyarakatnya maupun agama islam mengajarkan > sistem kekerabatan patrilineal. Berbeda dengan kita di Sumatera Barat yang > menganut sistem kekerabatan matrilineal. > Dengan kata lain, masalah ABS SBK > di Sumatera Barat bukan pada Rukun Iman dan atau Rukun Islam, tetapi pada > sistem kekerabatan, dan seiring dengan itu, pada hukum waris. Dan -- susahnya > -- jika sudah bicara mengenai dua hal ini, maka berhentilah semua wacana, > kita akan berbicara berputar-putar tak habis-habisnya seperti dapat dibuka > kembali pada arsip Rantau Net ini. > Wassalam, Saafroedin Bahar > (L, > masuk 72 th, Jakarta ; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, > Pariaman..) > "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" > > Alternate e-mail addresses: > [email protected] ; > > [email protected] > [email protected] > > > > > > From: Riri Chaidir < [email protected] > To: > [email protected] Sent: Tuesday, April 21, 2009 10:59:48 AM Subject: > [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo > Kelihatannya masyarakat Gorontalo > Bukan hanya mengenal, tetapi malah lebih jauh. > > > > Ini juga dicantumkan dalam dokumen2 pemerintahan, ada yang > menyebutkan Adat bahkan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan .( > Profil Daerah Gorontalo di website Depdagri, > http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_provinsi&id_prov=13&dt=nilai&nm_prov=Gorontalo). > > > Nah, saya tidak tahu, apakah di Sumbar sikap masyarakat dan > pemerintahnya sampai kesini atau masih terbatas wacana2 di palanta > > > > Riri > Bekasi, L 46 > > > > -----Original Message----- From: > [email protected] [mailto: [email protected] ] On Behalf Of > Lies Suryadi > Sent: > Tuesday, April 21, 2009 7:57 AM To: [email protected] > Subject: [...@ntau-net] ABS-SBK di Gorontalo > > > > Dunsanak di > lapau sakalian, > Ambo baco di koran, liek di tipi, masyarakat Gorontalo juo > mengenal ABS-SBK. Ha...baa pulo konsep mereka tu? Mungkin lai ado sanak di > lapau nan tau. > > Wassalam. > Suryadi > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
