Assalamu'alaikum warrahmatullahi wa barrakatuh.
Suatu hal yang sangat di"ridhai" Allah adalah bila kita berbicara selalu
menyenangi hati lawan bicara kita. Memang apa yang dikemukakan oleh bahasa yang
lalu lalang benar adanya. Kita perlu mengemukakan apa adanya. Tapi,
kadang-kadang tidak semua kejujuran itu perlu diungkapkan. Kita berbicara
bertempat-tempat. Kalaulah hal itu akan menyinggung perasaan orang lain mungkin
akan lebih baik kita berucap memiringkan sedikit. Seperti kata-kata: "Oi, tadi
wak den mancaliak si A di kakinya ado tukak gadang. Wah, pokok e gadang tukak
tu". Bahasa yang seperti ini mungkin akan lain diterima oleh yang mendengar
bila diucapkan dengan: " Tadi wak den (walaupun memakai wak den juo) basobok jo
si A, ado luko agak saketek maleba di kakinyo (walaupun gadang)". Mungkin kita
perlu mengambil pelajaran dari orang-orang tua kita dulu, bagaimana berbahasa
yang baik. Memang ungkapan-ungkapan yang kita dengar benar-benar kita dengar
dari yang mengungkapkan. tapi, mungkin kita
perlu menyitir bahasa-bahasa tersebut. Karena ada petuah dari pewaris bahwa
Bahasa menunjukkan bangsa. Dalam kondisi yang begini-begini akhir-akhir ini,
kadang-kadang kita tidak lagi mengenal bahasa yang baik. Kita melihat kerjaan
TV-ONE terhadap petinggi kita, bagaimana TV ONE mengemas suatu komunikasi dua
belah pihak yang tadinya tidak bersinggungan se akan-akan berada dalam satu
moment. Begitu hebatnya kemasan yang dibuat sehingga kita tidak tau lagi
benar-salahnya. Bagi kita yang masih menganut ADAT KETIMURAN mungkin hal ini
masih sulit diterima. Karena kita masih menganut SOCIAL CULTURE yang berbeda
dengan paham barat. Tapi, mungkin inilah PENGARUH GLOBAL yang mungkin sudah
merasuk ke sendi-sendi kita yang tidak tau lagi KIBLAT kita. Apakah ini yang
dikatakan demokrasi? Saya rasa urang minang lah lamo bademokrasi. Mari kita
mainkan dengan cantik bahasa kita agar kita selalu diincar oleh bangsa lain
karena kita memiliki negara yang bermartabat.
Maaf, hal ini hanya merupakan sampel saja. Masih banyak bahasa-bahasa nan
bagalau yang kadang-kadang kita lupa bahwa kita masih berbudaya dan beretika,
dan lupa bahwa kita pernah menjadi anak SURAU.
Wassalam,
Tan Lembang basuku Piliang (L, 52+)
Lembang, Bandung
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---