Dunsanak di palanta nan ambo hormati.

Di tengah tengah kurangnya publikasi tentang prestasi/keberhasilan
pemerintah propinsi Sumatera Barat, maka ada isi artikel yang sangat
membanggakan ambo selaku urang awak.
Tulisan ekonom Faisal Basri yang dimuat hr. Kompas 31 Desember 2009 ambo
kutipkan sbb:
*Sepatutnya pemerintah pusat belajar dari kasus Sumatera Barat. *
*Provinsi ini ternyata mampu "memboikot" pengadaan benih padi hibrida impor
yang dipasok oleh pusat. *
*Kota Padang Panjang beberapa bulan lalu telah dideklarisikan sebagai kota
organik.
Gerakan-gerakan petani lokal mandiri yang tak pernah menikmati subsidi pupuk
karena telah bertekad mengembangkan sistem  pertanian organik (bukan cuma
menggunakan pupuk organik) tak kunjung disapa.*

Artikel dari ekonom Faisal Basri yang berjudul Perangkap Pangan tsb. ambo
raso sangat bagus. Bagaimana rentannya kebijaksanaan negara kita saat ini di
dalam bidang pangan. Untuk yang belum sempat membaco ambo ringkaskan sbb.

1. Masalah kebebasan petani jaman reformasi sekarang, yang tak mungkin lagi
dikomando untuk menanam padi, guna berkorban demi ketahanan pangan.

2. Pememerintah pusat melakukan liberalisasi produk-produk pertanian. Cabai
merah, wortel dll. dari Cina membanjiri negara kita.

3. Peningkatan produksi nasional tidak menjamin berkurangnya impor. Jagung
dari Amerika di Lampung lebih murah dari jagung Gorontalo. Masalah ini
karena hambatan transportasi, pungli dsb.

4. Salah urus pabrik (tidak adanya keterbukaan manajemen) untuk peningkatan
produksi gula. Misalnya ttg kebijaksanaan impor gula.

5. Tidak (belum) ada perlakuan khusus, yang karena sifat memiliki peran
strategis perlu dibuatkan. Perlu ada bank pertanian atau Skema-skema kredit
inovatif perlu segera dihadirkan.
Kita yakin, urang awak nan tingga di kampuang nanti akan tetap mambuek samba
lado indak dari lado nan diimpor dari Cino, kalau saja adagium *adat
salingka nagari* tetap kita pakai.

Sesuai dengan dengan manfaat dan mudhoratnya, maka adat salingka nagari akan
bisa menyelamatkan anak-kemenakan kita dari bujukan-rayuan pemerintah pusat
yang tidak sesuai dengan budaya kita (saluanglah nan ka manyampaikannyo ...)

Maaf dan selamat berpuasa
Wallahualam

Abraham Ilyas 64 th.

www.nagari.org

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke