Tulisan ekonom Faisal Basri yang dimuat hr. Kompas 31 Desember 2009?

--- On Wed, 9/2/09, Andrinof A Chaniago <[email protected]> wrote:

From: Andrinof A Chaniago <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Pemerintah Pusat perlu belajar ke Sumbar
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 2, 2009, 2:09 AM

Untuk hal ini kita memang boleh ikut bangga. Tetapi, setahu ambo Bidang 
Pertanian memang satu dari amat sedikit bidang yg terus menunjukkan kemajuan 
berkat seorang Kepala Dinas Provinsi yang bergaya aktifis LSM, sangat tidak 
birokratis dan tidak mau memanfaatkan fasilitas jabatan untuk urusan pribadi. 
Faisal Basri selalu mampir ke markas Yayasan AFTA yang dibina Da John, Kadis 
Pertanian Sumbar ko. Si Bung Edy Utama tau tuh.

Wass,

Andrinof A Chaniago

2009/8/31 Abraham Ilyas <[email protected]>

Dunsanak di palanta nan ambo hormati.
Di tengah tengah kurangnya publikasi tentang prestasi/keberhasilan pemerintah 
propinsi Sumatera Barat, maka ada isi artikel yang sangat membanggakan ambo 
selaku urang awak.
Tulisan ekonom Faisal Basri yang dimuat hr. Kompas 31 Desember 2009 ambo 
kutipkan sbb: 
Sepatutnya pemerintah pusat belajar dari kasus Sumatera Barat. 
Provinsi ini ternyata mampu "memboikot" pengadaan benih padi hibrida impor yang 
dipasok oleh pusat. 
Kota Padang Panjang beberapa bulan lalu telah dideklarisikan sebagai kota 
organik. 
Gerakan-gerakan petani lokal mandiri yang tak pernah menikmati subsidi pupuk 
karena telah bertekad mengembangkan sistem  pertanian organik (bukan cuma 
menggunakan pupuk organik) tak kunjung disapa.


Artikel dari ekonom Faisal Basri yang berjudul Perangkap Pangan tsb. ambo raso 
sangat bagus. Bagaimana rentannya kebijaksanaan negara kita saat ini di dalam 
bidang pangan. Untuk yang belum sempat membaco ambo ringkaskan sbb.


1. Masalah kebebasan petani jaman reformasi sekarang, yang tak mungkin lagi 
dikomando untuk menanam padi, guna berkorban demi ketahanan pangan.
2. Pememerintah pusat melakukan liberalisasi produk-produk pertanian. Cabai 
merah, wortel dll. dari Cina membanjiri negara kita. 
3. Peningkatan produksi nasional tidak menjamin berkurangnya impor. Jagung dari 
Amerika di Lampung lebih murah dari jagung Gorontalo. Masalah ini karena 
hambatan transportasi, pungli dsb.
4. Salah urus pabrik (tidak adanya keterbukaan manajemen) untuk peningkatan 
produksi gula. Misalnya ttg kebijaksanaan impor gula.
5. Tidak (belum) ada perlakuan khusus, yang karena sifat memiliki peran 
strategis perlu dibuatkan. Perlu ada bank pertanian atau Skema-skema kredit 
inovatif perlu segera dihadirkan.
Kita yakin, urang awak nan tingga di kampuang nanti akan tetap mambuek samba 
lado indak dari lado nan diimpor dari Cino, kalau saja adagium adat salingka 
nagari tetap kita pakai.
 
Sesuai dengan dengan manfaat dan mudhoratnya, maka adat salingka nagari akan 
bisa menyelamatkan anak-kemenakan kita dari bujukan-rayuan pemerintah pusat 
yang tidak sesuai dengan budaya kita (saluanglah nan ka manyampaikannyo ...)


 
Maaf dan selamat berpuasa
Wallahualam
Abraham Ilyas 64 th.
www.nagari.org

 













      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke