Da Nal, Mambayangkan sajo ambo indak bisa Pak Djoni jadi gubernur. Iyo alah subana cocok baliau tu di Dinas Pertanian. Mungkin satu-satunya di Indonesia kepala dinas nan berani melawan 'pedagang' pupuak nonorganik.
Pak Djoni tu 'anti' formal-formalan, kalau Gubernur iduik di 'dunia formal' ampia 24 jam. Kalau jadi gubernur pasti stres beliau ko. Nan paralu disokong baa urang bantuak Pak Djoni ko bisa tetap jadi pimpinan dinas pertanian dan mandapek keleluasaan untuak malanjuikkan karajonyo. Kalau dapek Gubernur nan kongkalingkong jo tukang pupuak nonorganik, tantu paniang juo inyo. Apo nan dikarajoan Pak Djoni ko alah mandapek support pulo di Kota Payakumbuah nan bertekad mandapekkan PAD (pendapatan asli daerah) dari pupuak organik. Syof (39/Pdg) --- On Tue, 1/9/09, nal naldi <[email protected]> wrote: From: nal naldi <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Pemerintah Pusat perlu belajar ke Sumbar To: [email protected] Date: Tuesday, 1 September, 2009, 12:06 PM Salam kembali, sanak. Nagari Aia Angek yang dimukasuik adalah yang berada di pinggir jalan Padangpanjang-Bukittinggi, pintu gerbang sabalah suok, dekat pasar organik di Kotobaru. Ia masuk wilayah Kabupaten Tanahdata, di pinggang Gunuang Marapi. Saya sudah dua kali ka sinan dan mau ke sana lagi rencananya, melihat perkembangan terkini. terlampir laporan di KOMPAS: KOMPAS Sumbagut - Jumat, 27 Jan 2006 Halaman: 27 Penulis: Yurnaldi Ukuran: 3294 -------------------------------------------------------------------------------- Pertanian IPO AIA ANGEK, AGAR PETANI MERDEKA Petani, pejabat, pakar, peneliti, dan tokoh masyarakat adat dari beberapa daerah dan provinsi sampai Rabu (25/1) tak henti-hentinya berkunjung ke Institut Pertanian Organik di Aia Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Mereka yang berkunjung ke tempat itu dapat menyaksikan langsung bagaimana petani mengelola potensi lokal dengan biaya murah, dan hasil pertanian ramah lingkungan. "Di sini kami tidak berteori, tapi praktik nyata. Di sela-sela itu kami bisa langsung melakukan penelitian. Hasilnya pun langsung ditularkan kepada pengambil kebijakan, petani, dan pihak lainnya. Kalau ingin petani merdeka, ini mungkin sebuah model," kata Djoni, pemrakarsa dan sekaligus konsultan Institut Pertanian Organik (IPO) Aia Angek, Rabu. IPO hanya mengelola lahan seluas lebih kurang 1,5 hektar, di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Di areal itu terdapat tempat diskusi, pabrik pupuk alami yang ramah lingkungan, dan puluhan jenis sayuran dengan berbagai perlakuan. Sekali dalam tiga hari ada pembeli hasil panen yang datang ke kebun, dengan harga cukup tinggi, karena diproduksi tanpa menggunakan bahan kimia. Menurut dia, petani seharusnya tak perlu mengeluhkan kelangkaan pupuk, murahnya hasil panen, atau biaya pengolahan mahal, dan sebagainya. "Selama ini petani dijajah oleh pihak lain. Harga bibit ditentukan orang lain, harga pupuk ditentukan orang lain, dan setelah diolah beberapa bulan hasil panen pun orang lain yang mematok. Ini jelas tidak adil dan petani tidak merdeka. Kalau begini terus, kapan petani kita merdeka, bisa menentukan harga sendiri, bisa produksi pupuk, bibit sendiri, dan pemberantas hama sendiri, tanpa mengeluarkan uang," tutur Djoni. Lalu ia memberi contoh, bagaimana memanfaatkan tanaman semak di sekitar kebun. Tanaman pahit tithoni, misalnya, bisa diolah menjadi pupuk cair atau racun hama. Lalu bagaimana mengolah air dan tahi kambing jadi pupuk, menggantikan pupuk urea yang tak ramah lingkungan itu. Dari hasil penelitian, 2,5 liter urine kambing, kadar nitrogennya setara dengan dua kilogram pupuk urea. Semua ini, menurut Djoni, hasil uji coba petani sendiri di IPO Aia Angek, seperti dilakukan petani pakar, Andra dan Z Sutan Mancayo. "Kalau ingin menyejahterakan dan memerdekakan para petani di Tanah Air, rohnya ada si sini. IPO Aia Angek siap membina dan menularkan pertanian organik yang berkeadilan, berkerakyatan, dan biaya sangat murah dan hasil sangat tinggi. Kalau petani menyisihkan sedikit keuntungan untuk zakat, inilah sebenarnya pertanian nyang islami," ungkapnya. Gebrakan petani IPO mendorong petani di sekitarnya beralih dengan pertanian pola yang sama. Bahkan seorang petani dengan lahan seperempat hektar, yang semula setiap musim tanam memerlukan 400 kg pupuk kimia, kini tak lagi menggunakan pupuk kimia. Ia telah menggunakan pupuk ramah lingkungan hasil temuan IPO. "Ternyata, hasil panen luar biasa dengan pupuk alami ramah lingkungan temuan IPO. Jika selama ini saya gunakan pestisida untuk membunuh hama dan pupuk kimia untuk menyuburkan, kini tak dibutuhkan lagi," kata seorang petani. (YURNALDI) KOMPAS - Senin, 13 Feb 2006 Halaman: 16 Penulis: Yurnaldi Ukuran: 6013 Foto: 1 -------------------------------------------------------------------------------- Sosok REVOLUSI PERTANIAN HIJAU DI SUMBAR Oleh Yurnaldi Alam takambang jadi guru. Begitu filosofi orang Minangkabau. Namun, bagi Sutan Mancayo dan Andra, petani di lahan Institut Pertanian Organik Aia Angek, Kecamatan Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, ada tambahan kalimatnya: .Ladang terbentang jadi lautan ilmu. Sejak beberapa bulan terakhir, tak henti-hentinya berbagai kalangan, baik dari dalam maupun luar Sumatera Barat (Sumbar), berkunjung ke kebun yang dikelola Sutan Mancayo dan Andra di Institut Pertanian Organik (IPO) Aia Angek untuk menyelami lautan ilmu tersebut. Ada petani, penyuluh pertanian, pejabat dinas pertanian, wakil rakyat, akademisi dan pakar pertanian, guru besar bidang pertanian, peneliti, dan mahasiswa program doktoral (S3), bupati, gubernur, sampai pejabat USAID. Bulan Maret 2006, akan datang rombongan dari Departemen Pertanian, Jakarta. Dua petani tersebut, Sutan Mancayo dan Andra, dengan konsultan dan inisiator berdirinya IPO, Djoni, telah melakukan lompatan besar di bidang pertanian. Bahkan, mungkin sebuah revolusi di bidang pertanian hijau, revolusi pertanian ramah lingkungan. Pertanian tanpa pupuk kimia anorganik dan pestisida, yang selama ini telah meracuni petani dan masyarakat konsumen. Sutan Mancayo dan Andra menemukan berbagai ramuan pemberantas hama (agens hayati) dan pupuk yang ramah lingkungan. "Inilah wujud partisipasi kami untuk memerdekakan para petani agar tidak terus dijajah oleh permainan mata antara pengusaha dan penguasa. Misalnya soal bibit, pestisida, pupuk kimia, soal harga jual produksi, petani selama puluhan tahun sampai sekarang hanya manarimo se (menerima saja), tanpa bisa berkutik," kata Sutan Mancayo. Padahal, kata Sutan Mancayo, penggunaan pestisida selama lebih dari 40 tahun terakhir telah meninggalkan warisan berupa 500 spesies hama yang resisten terhadap pestisida, ratusan bahkan ribuan kasus keracunan setiap tahun, dan resurgensi hama-hama. "Target IPO Aia Angek, bagaimana meninggalkan pestisida dan pupuk kimia, lalu menggantikannya dengan ramuan alami dari alam sekitar," kata Andra dan Mancayo. Mereka memberi contoh tanaman brokoli. Untuk lahan seluas 400 meter persegi atau 0,04 hektar, untuk bibit (1.000 batang) hanya dibutuhkan uang Rp 70.000. Untuk pestisida perlu Rp 400.000, pupuk Rp 225.000. Total pengeluaran sekitar Rp 695.000. Setelah 3,5 bulan, tanah seluas itu hanya dapat memproduksi brokoli 300 kilogram. Jika biaya transportasi Rp 300.000 dan harga jual Rp 4.000 per kg, total uang yang didapat petani Rp 1,2 juta. Dipotong biaya produksi, petani hanya mendapatkan Rp 205.000. Dengan pertanian ramah lingkungan dan ramuan antihama dan pupuk alami, di lahan yang sama, semua pengeluaran bisa ditiadakan. Ketika brokoli siap panen, pembeli datang dan membeli dengan harga lumayan, bisa Rp 7.500 per kg. Dengan embel-embel produksi pertanian organik, brokoli bisa laku Rp 15.000 per kg. "Dengan harga Rp 7.500 per kg, petani mendapat hasil Rp 2.250.000 per 3,5 bulan. Bandingkan dengan pola anorganik, hanya memperoleh Rp 205.000. Dengan pertanian organik, di lahan yang sama, bisa ditanam tiga-empat macam jenis (tumpang sari), yang hasilnya juga jauh lebih lumayan daripada gunakan pupuk kimia dan pestisida," jelas Mancayo di sela-sela panen brokoli, Rabu (1/2). Andra melukiskan, pemanfaatan agens hayati Bx1-Cb-jenis ramuan alami pemberantas hama yang ditemukan-pada tanaman kubis dapat menekan serangan ulat krop sekitar 90 persen dan penyelamatan hasil yang hilang sekitar 74 persen. Banyak temuan Kalau ada petani yang pantas dapat penghargaan, mungkin Sutan Mancayo dan Andra orangnya. Bayangkan, mereka telah menghasilkan banyak jenis temuan di bidang pertanian, bukan dari uang proyek pemerintah. Paling banter sebagian dibantu dana pribadi dari konsultannya, Djoni, yang sekitar 20 tahun memperjuangkan pertanian organik di Sumbar. Mancayo (49) baru 13 tahun terjun ke bidang pertanian. Sebelumnya, lulusan STM jurusan mesin ini adalah konsultan pembangunan jalan dan jembatan. Setahun bertani, ia lalu mengikuti sekolah lapangan pengendalian hama terpadu sayuran dataran tinggi. Kemudian magang di Laboratorium Hama di Bukittinggi, sampai sekarang. Dari setengah hektar lahan sewaan yang ia garap, sejak tahun 1997 sampai 2002 ia telah menemukan lebih kurang 20 jenis agens hayati (musuh hama alami). Setahun kemudian, tahun 2003, ia menemukan pupuk dari bahan urine ditambah tahi kambing (pupuk cikam) dan pupuk cair dari tanaman tithonia. "Sejak 1998 jadi instruktur dan narasumber dalam seminar agens hayati, tampil di kampus sebagai panel diskusi. Saya juga memandu banyak mahasiswa pertanian, bahkan sekarang ada yang sedang ikuti program doktor," tandas Mancayo, yang hampir cerai gara-gara sibuk melakukan penelitian yang menguras uang dapur istrinya. Untung tidak jadi berpisah. Dengan lima anak, petani yang kehebatannya melebihi para akademisi ini hidup rukun dengan istrinya. Sementara Andra (28), anak mamak Mancayo, tahun 2004 menemukan pupuk cair dari tanaman kecubung. Lalu, pada tanaman cabai, kini ia tengah melakukan uji coba dengan dua perlakuan, dengan hanya pupuk cair kecubung dan pupuk cair kecubung ditambah air kelapa. "Hasilnya jauh lebih bagus dibanding tanaman cabai yang diberi pupuk kimia dan disemprot dengan pestisida. Panen bahkan bisa dua kali," katanya, bangga. Temuan pupuk cair oleh Mancayo dan Andra merupakan sebuah jawaban untuk pertanian masa depan, pertanian dengan biaya murah-karena tidak butuh pestisida dan pupuk kimia-hasil melimpah, dan keuntungan berlipat ganda serta pasti sehat dikonsumsi. "Yang jadi pertanyaan, apa gubernur atau menteri pertanian berani ambil kebijakan ini?" Foto: 1 Kompas/Yurnaldi Z Sutan Mancayo dan Andra --- On Tue, 9/1/09, Madahar (madahar) <[email protected]> wrote: > From: Madahar (madahar) <[email protected]> > Subject: [...@ntau-net] Re: Pemerintah Pusat perlu belajar ke Sumbar > To: [email protected] > Date: Tuesday, September 1, 2009, 11:49 AM > > Wa'alaikum salam Sanak Yurnaldi, > Kalo buliah dapek info tambahan dinagari ma Aia Angek ko > karano kalo > ndak salah nagari Aia Angek ko banyak di Ranah. > > Wassalam > Batuduang Ameh (42) > > -----Original Message----- > From: [email protected] > [mailto:[email protected]] > On > Behalf Of nal naldi > Sent: Tuesday, September 01, 2009 11:45 AM > To: [email protected] > Subject: [...@ntau-net] Re: Pemerintah Pusat perlu belajar ke > Sumbar > > > Sanak, sebagai info tambahan: > kebetulan saya dapat cerita langsung dari Pak Joni, urang > awak nan dapek > Kalpataru, bagaimana Faisal Basri tiga hari dua malam > "Baraja" dg pak > Joni dan Pak Tani anggota Pak Joni nan menggalakkan > Pertanian Organik. > Saya dulu sudah berkali-kali juga ekspos Pak Joni dan > menjadikannyo > sosok di KOMPAS. > gagasan dan ide Pak Joni begitu banyak. Mulai dari Institut > Pertanian > Organik, sekolah lapangan bagi petani dari berbagai kota di > Indonesia. > antara lain ide/penemuan yang dikembangkan oleh Pak Joni > dan kawan-kawan > adalah: > 1. ada 20-an agens hayati yang sudah ditemukan, predator > alami untuk > memberantas hama. > 2. Pupuk Cikam (cirik kambiang), yang membuat profesor dan > doktor di > Unand baraja dan malu hati jo petani. > 3. Padi Tanam Sabatang, yang bisa meningkatkan produksi > padi hingga 11 > ton per hektar, dan banyak nilai tambah lainnya. > 4. Dulu Pak Joni satu-satunya Kepala Dinas yg punya wakil > (atas > permintaan Pak Joni), Sebab ia ingin total bakarajo demi > pertanian. > 5, Kini, dengan berbagai caro, Pak Joni terus memotivasi > petani. Ado > koran petani, ado radio petani, sampai petani bisa mambuek > puisi bagai. > 6. Kalau sempat pulang kampuang Rayo ko, caliak makan > tangan Pak Joni di > Nagari Aia Angek, bagaimana ia membina dan > menumbuhkembangkan pertanian > organik. > Kalau kito ingin kamajuan di bidang pertanian, karena itu > sumberdaya > alam yang kito punyo, menurut saya, Pak Joni sangat layak > jadi Gubernur > Sumbar periode setelah gamawan. > > salam, yurnaldi > > > > New Email addresses available on Yahoo! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
