Salam kembali, sanak.
Nagari Aia Angek yang dimukasuik adalah yang berada di pinggir jalan
Padangpanjang-Bukittinggi, pintu gerbang sabalah suok, dekat pasar organik di
Kotobaru. Ia masuk wilayah Kabupaten Tanahdata, di pinggang Gunuang Marapi.
Saya sudah dua kali ka sinan dan mau ke sana lagi rencananya, melihat
perkembangan terkini.
terlampir laporan di KOMPAS:
KOMPAS Sumbagut - Jumat, 27 Jan 2006 Halaman: 27 Penulis: Yurnaldi
Ukuran: 3294
--------------------------------------------------------------------------------
Pertanian
IPO AIA ANGEK, AGAR PETANI MERDEKA
Petani, pejabat, pakar, peneliti, dan tokoh masyarakat adat dari
beberapa daerah dan provinsi sampai Rabu (25/1) tak henti-hentinya
berkunjung ke Institut Pertanian Organik di Aia Angek, Kecamatan X
Koto, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Mereka yang berkunjung ke
tempat itu dapat menyaksikan langsung bagaimana petani mengelola
potensi lokal dengan biaya murah, dan hasil pertanian ramah
lingkungan.
"Di sini kami tidak berteori, tapi praktik nyata. Di sela-sela
itu kami bisa langsung melakukan penelitian. Hasilnya pun langsung
ditularkan kepada pengambil kebijakan, petani, dan pihak lainnya.
Kalau ingin petani merdeka, ini mungkin sebuah model," kata Djoni,
pemrakarsa dan sekaligus konsultan Institut Pertanian Organik (IPO)
Aia Angek, Rabu.
IPO hanya mengelola lahan seluas lebih kurang 1,5 hektar, di
ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Di areal itu
terdapat tempat diskusi, pabrik pupuk alami yang ramah lingkungan,
dan puluhan jenis sayuran dengan berbagai perlakuan. Sekali dalam
tiga hari ada pembeli hasil panen yang datang ke kebun, dengan harga
cukup tinggi, karena diproduksi tanpa menggunakan bahan kimia.
Menurut dia, petani seharusnya tak perlu mengeluhkan kelangkaan
pupuk, murahnya hasil panen, atau biaya pengolahan mahal, dan
sebagainya. "Selama ini petani dijajah oleh pihak lain. Harga bibit
ditentukan orang lain, harga pupuk ditentukan orang lain, dan setelah
diolah beberapa bulan hasil panen pun orang lain yang mematok. Ini
jelas tidak adil dan petani tidak merdeka. Kalau begini terus, kapan
petani kita merdeka, bisa menentukan harga sendiri, bisa produksi
pupuk, bibit sendiri, dan pemberantas hama sendiri, tanpa
mengeluarkan uang," tutur Djoni.
Lalu ia memberi contoh, bagaimana memanfaatkan tanaman semak di
sekitar kebun. Tanaman pahit tithoni, misalnya, bisa diolah menjadi
pupuk cair atau racun hama. Lalu bagaimana mengolah air dan tahi
kambing jadi pupuk, menggantikan pupuk urea yang tak ramah lingkungan
itu. Dari hasil penelitian, 2,5 liter urine kambing, kadar
nitrogennya setara dengan dua kilogram pupuk urea. Semua ini, menurut
Djoni, hasil uji coba petani sendiri di IPO Aia Angek, seperti
dilakukan petani pakar, Andra dan Z Sutan Mancayo.
"Kalau ingin menyejahterakan dan memerdekakan para petani di
Tanah Air, rohnya ada si sini. IPO Aia Angek siap membina dan
menularkan pertanian organik yang berkeadilan, berkerakyatan, dan
biaya sangat murah dan hasil sangat tinggi. Kalau petani menyisihkan
sedikit keuntungan untuk zakat, inilah sebenarnya pertanian nyang
islami," ungkapnya.
Gebrakan petani IPO mendorong petani di sekitarnya beralih dengan
pertanian pola yang sama. Bahkan seorang petani dengan lahan
seperempat hektar, yang semula setiap musim tanam memerlukan 400 kg
pupuk kimia, kini tak lagi menggunakan pupuk kimia. Ia telah
menggunakan pupuk ramah lingkungan hasil temuan IPO.
"Ternyata, hasil panen luar biasa dengan pupuk alami ramah
lingkungan temuan IPO. Jika selama ini saya gunakan pestisida untuk
membunuh hama dan pupuk kimia untuk menyuburkan, kini tak dibutuhkan
lagi," kata seorang petani. (YURNALDI)
KOMPAS - Senin, 13 Feb 2006 Halaman: 16 Penulis: Yurnaldi Ukuran: 6013
Foto: 1
--------------------------------------------------------------------------------
Sosok
REVOLUSI PERTANIAN HIJAU DI SUMBAR
Oleh Yurnaldi
Alam takambang jadi guru. Begitu filosofi orang Minangkabau.
Namun, bagi Sutan Mancayo dan Andra, petani di lahan Institut
Pertanian Organik Aia Angek, Kecamatan Koto, Kabupaten Tanah Datar,
Sumatera Barat, ada tambahan kalimatnya: .Ladang terbentang jadi
lautan ilmu.
Sejak beberapa bulan terakhir, tak henti-hentinya berbagai
kalangan, baik dari dalam maupun luar Sumatera Barat (Sumbar),
berkunjung ke kebun yang dikelola Sutan Mancayo dan Andra di Institut
Pertanian Organik (IPO) Aia Angek untuk menyelami lautan ilmu
tersebut.
Ada petani, penyuluh pertanian, pejabat dinas pertanian, wakil
rakyat, akademisi dan pakar pertanian, guru besar bidang pertanian,
peneliti, dan mahasiswa program doktoral (S3), bupati, gubernur,
sampai pejabat USAID. Bulan Maret 2006, akan datang rombongan dari
Departemen Pertanian, Jakarta.
Dua petani tersebut, Sutan Mancayo dan Andra, dengan konsultan
dan inisiator berdirinya IPO, Djoni, telah melakukan lompatan besar
di bidang pertanian. Bahkan, mungkin sebuah revolusi di bidang
pertanian hijau, revolusi pertanian ramah lingkungan. Pertanian tanpa
pupuk kimia anorganik dan pestisida, yang selama ini telah meracuni
petani dan masyarakat konsumen.
Sutan Mancayo dan Andra menemukan berbagai ramuan pemberantas
hama (agens hayati) dan pupuk yang ramah lingkungan. "Inilah wujud
partisipasi kami untuk memerdekakan para petani agar tidak terus
dijajah oleh permainan mata antara pengusaha dan penguasa. Misalnya
soal bibit, pestisida, pupuk kimia, soal harga jual produksi, petani
selama puluhan tahun sampai sekarang hanya manarimo se (menerima
saja), tanpa bisa berkutik," kata Sutan Mancayo.
Padahal, kata Sutan Mancayo, penggunaan pestisida selama lebih
dari 40 tahun terakhir telah meninggalkan warisan berupa 500 spesies
hama yang resisten terhadap pestisida, ratusan bahkan ribuan kasus
keracunan setiap tahun, dan resurgensi hama-hama.
"Target IPO Aia Angek, bagaimana meninggalkan pestisida dan
pupuk kimia, lalu menggantikannya dengan ramuan alami dari alam
sekitar," kata Andra dan Mancayo.
Mereka memberi contoh tanaman brokoli. Untuk lahan seluas 400
meter persegi atau 0,04 hektar, untuk bibit (1.000 batang) hanya
dibutuhkan uang Rp 70.000. Untuk pestisida perlu Rp 400.000, pupuk Rp
225.000. Total pengeluaran sekitar Rp 695.000. Setelah 3,5 bulan,
tanah seluas itu hanya dapat memproduksi brokoli 300 kilogram. Jika
biaya transportasi Rp 300.000 dan harga jual Rp 4.000 per kg, total
uang yang didapat petani Rp 1,2 juta. Dipotong biaya produksi, petani
hanya mendapatkan Rp 205.000.
Dengan pertanian ramah lingkungan dan ramuan antihama dan pupuk
alami, di lahan yang sama, semua pengeluaran bisa ditiadakan. Ketika
brokoli siap panen, pembeli datang dan membeli dengan harga lumayan,
bisa Rp 7.500 per kg. Dengan embel-embel produksi pertanian organik,
brokoli bisa laku Rp 15.000 per kg.
"Dengan harga Rp 7.500 per kg, petani mendapat hasil Rp
2.250.000 per 3,5 bulan. Bandingkan dengan pola anorganik, hanya
memperoleh Rp 205.000. Dengan pertanian organik, di lahan yang sama,
bisa ditanam tiga-empat macam jenis (tumpang sari), yang hasilnya
juga jauh lebih lumayan daripada gunakan pupuk kimia dan pestisida,"
jelas Mancayo di sela-sela panen brokoli, Rabu (1/2).
Andra melukiskan, pemanfaatan agens hayati Bx1-Cb-jenis ramuan
alami pemberantas hama yang ditemukan-pada tanaman kubis dapat
menekan serangan ulat krop sekitar 90 persen dan penyelamatan hasil
yang hilang sekitar 74 persen.
Banyak temuan
Kalau ada petani yang pantas dapat penghargaan, mungkin Sutan
Mancayo dan Andra orangnya. Bayangkan, mereka telah menghasilkan
banyak jenis temuan di bidang pertanian, bukan dari uang proyek
pemerintah. Paling banter sebagian dibantu dana pribadi dari
konsultannya, Djoni, yang sekitar 20 tahun memperjuangkan pertanian
organik di Sumbar.
Mancayo (49) baru 13 tahun terjun ke bidang pertanian.
Sebelumnya, lulusan STM jurusan mesin ini adalah konsultan
pembangunan jalan dan jembatan. Setahun bertani, ia lalu mengikuti
sekolah lapangan pengendalian hama terpadu sayuran dataran tinggi.
Kemudian magang di Laboratorium Hama di Bukittinggi, sampai sekarang.
Dari setengah hektar lahan sewaan yang ia garap, sejak tahun 1997
sampai 2002 ia telah menemukan lebih kurang 20 jenis agens hayati
(musuh hama alami). Setahun kemudian, tahun 2003, ia menemukan pupuk
dari bahan urine ditambah tahi kambing (pupuk cikam) dan pupuk cair
dari tanaman tithonia.
"Sejak 1998 jadi instruktur dan narasumber dalam seminar agens
hayati, tampil di kampus sebagai panel diskusi. Saya juga memandu
banyak mahasiswa pertanian, bahkan sekarang ada yang sedang ikuti
program doktor," tandas Mancayo, yang hampir cerai gara-gara sibuk
melakukan penelitian yang menguras uang dapur istrinya. Untung tidak
jadi berpisah. Dengan lima anak, petani yang kehebatannya melebihi
para akademisi ini hidup rukun dengan istrinya.
Sementara Andra (28), anak mamak Mancayo, tahun 2004 menemukan
pupuk cair dari tanaman kecubung. Lalu, pada tanaman cabai, kini ia
tengah melakukan uji coba dengan dua perlakuan, dengan hanya pupuk
cair kecubung dan pupuk cair kecubung ditambah air kelapa.
"Hasilnya jauh lebih bagus dibanding tanaman cabai yang diberi
pupuk kimia dan disemprot dengan pestisida. Panen bahkan bisa dua
kali," katanya, bangga.
Temuan pupuk cair oleh Mancayo dan Andra merupakan sebuah jawaban
untuk pertanian masa depan, pertanian dengan biaya murah-karena
tidak butuh pestisida dan pupuk kimia-hasil melimpah, dan keuntungan
berlipat ganda serta pasti sehat dikonsumsi.
"Yang jadi pertanyaan, apa gubernur atau menteri pertanian
berani ambil kebijakan ini?"
Foto: 1
Kompas/Yurnaldi
Z Sutan Mancayo dan Andra
--- On Tue, 9/1/09, Madahar (madahar) <[email protected]> wrote:
> From: Madahar (madahar) <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Re: Pemerintah Pusat perlu belajar ke Sumbar
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, September 1, 2009, 11:49 AM
>
> Wa'alaikum salam Sanak Yurnaldi,
> Kalo buliah dapek info tambahan dinagari ma Aia Angek ko
> karano kalo
> ndak salah nagari Aia Angek ko banyak di Ranah.
>
> Wassalam
> Batuduang Ameh (42)
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[email protected]]
> On
> Behalf Of nal naldi
> Sent: Tuesday, September 01, 2009 11:45 AM
> To: [email protected]
> Subject: [...@ntau-net] Re: Pemerintah Pusat perlu belajar ke
> Sumbar
>
>
> Sanak, sebagai info tambahan:
> kebetulan saya dapat cerita langsung dari Pak Joni, urang
> awak nan dapek
> Kalpataru, bagaimana Faisal Basri tiga hari dua malam
> "Baraja" dg pak
> Joni dan Pak Tani anggota Pak Joni nan menggalakkan
> Pertanian Organik.
> Saya dulu sudah berkali-kali juga ekspos Pak Joni dan
> menjadikannyo
> sosok di KOMPAS.
> gagasan dan ide Pak Joni begitu banyak. Mulai dari Institut
> Pertanian
> Organik, sekolah lapangan bagi petani dari berbagai kota di
> Indonesia.
> antara lain ide/penemuan yang dikembangkan oleh Pak Joni
> dan kawan-kawan
> adalah:
> 1. ada 20-an agens hayati yang sudah ditemukan, predator
> alami untuk
> memberantas hama.
> 2. Pupuk Cikam (cirik kambiang), yang membuat profesor dan
> doktor di
> Unand baraja dan malu hati jo petani.
> 3. Padi Tanam Sabatang, yang bisa meningkatkan produksi
> padi hingga 11
> ton per hektar, dan banyak nilai tambah lainnya.
> 4. Dulu Pak Joni satu-satunya Kepala Dinas yg punya wakil
> (atas
> permintaan Pak Joni), Sebab ia ingin total bakarajo demi
> pertanian.
> 5, Kini, dengan berbagai caro, Pak Joni terus memotivasi
> petani. Ado
> koran petani, ado radio petani, sampai petani bisa mambuek
> puisi bagai.
> 6. Kalau sempat pulang kampuang Rayo ko, caliak makan
> tangan Pak Joni di
> Nagari Aia Angek, bagaimana ia membina dan
> menumbuhkembangkan pertanian
> organik.
> Kalau kito ingin kamajuan di bidang pertanian, karena itu
> sumberdaya
> alam yang kito punyo, menurut saya, Pak Joni sangat layak
> jadi Gubernur
> Sumbar periode setelah gamawan.
>
> salam, yurnaldi
>
> >
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---