Assalamu'alikum warahmatullahi wabarakatuhu... Para Dunsanak kasadonyo, memang betul sekali yang disampaikan oleh bang Ramadhan: Bumi MInangkabau Dahsyat Tapi Kok Sepi Turis, sangat tidak sebanding memang dengan ragam dan kekayaan obyek wisata di ranah Minang. Tulisan uni Erlinda saya kira cukup bagus ulasannya, cukup banyak mengungkapkan fakta di downstream-nya, namun tidak banyak menyorot Lembaga & Otorita serta para Pelaku di upstream yang punya kapasitas untuk menggerakkan dan menjadikan ranah Minang sebagai salah satu primadona pariwisata dunia sehingga kelak bisa diharapkan menjadi primadona bagi sumber PAD dan peningkatan perekonomian serta taraf hidup masyarakat provinsi Sumatra Barat khususnya. Lembaga/Otorita/Pelaku pariwisata haruslah betul-betul memiliki jiwa entrepreneurship sehingga semua obyek wisata bisa dikembangkan, dikelola dan dipasarkan dengan prinsip ekonomi murni, dengan tetap memperhatikan bahkan ber-sinergi dengan keunikan budaya alam Minangkabau, sehingga bisa bertumbuh secara sustainable dan berkelanjutan. Yang pertama kali harus dibenahi adalah Lembaga & Otorita termasuk didalamnya aparat Pemda Provinsi/Kota/Kabupaten yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan pariwisata, mulai dari Gubernur// Bupati/Walikota sampai aparat terbawah. Mentalitas birokrat mereka harus dikikis habis; sikap ingin dilayani bukan melayani, pikiran singkek, nan kalamak diawak sajo, indak amuah barusaho, indak punyo perencanaan, kok indak kabarisi saku-saku den ambek cah, tidak punya idealisme untuk membangun nagari, dan segudang mentalitas yang sangat tidak mendukung bagi kemajuan negeri sendiri, padahal mereka punya kekuasaan dan kapasitas untuk berbuat. Sedangkan para Pelaku pariwisata baik domestik maupun pengusaha nasional, jika situasi & kondisi sudah kondusif, sarana & prasarana sudah tersedia, pelayanan prima, akan datang dengan sendirinya, bagi mereka yang penting Return On Investment yang bagus, ada gula ada semut. Bukan hanya sekedar dihimbau, tunjukkan secara nyata apa yang telah dan akan diperbuat oleh Lembaga & Otorita setempat. Kunci awalnya adalah di pembenahan mentalitas aparat Lembaga & Otorita atau character building, selama mentalitas mereka masih seperti sekarang, jangan mimpi kita bisa "mambangkik batang tarandam". Dari mana harus dimulai ? Pembenahan Lembaga & Otorita dulu atau para Pelaku yang aktif dan berinisiatif mendorong ? Keduanya harus berjalan secara paralel, saling mendukung dan mendorong kedepan. Saya pikir keterlibatan kalangan civitas academica, baik yang berdomisili di Sumatra Barat maupun anak Minang yang berkiprah di berbagai universitas terkemuka di tanah air sangat diperlukan baik untuk pembuatan blue-print pariwisata Sumatra Barat sampai ke studi kelayakan dari setiap proyek pariwisatanyang ingin digarap dan dikembangkan. Sementara itu gerakan-gerakan dan inisiatif yang sudah ada dan mulai berjalan sekarang harus terus didukung dan di- integrasikan kedalam blue-print dan rencana jangka panjang/menengah/ pendek pengembangan pariwisata Sumatra Barat. Sekian sajo sekedar sumbang saran dari ambo. Billahittaufiq walhidayah wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu...
Fauzy Ruskam On 25 Sep, 06:29, ajo duta <[email protected]> wrote: > Bumi Minangkabau Dahsyat, Tapi Kok Sepi Turis! > Share<http://www.facebook.com/ajax/share_dialog.php?s=4&appid=2347471856&p[]=1125233534&p[]=136165046628> > Yesterday at 1:46am <http://www.facebook.com/mobile/?uploads> > Uploaded via Facebook > Mobile <http://www.facebook.com/mobile/?uploads> > Di Tanah Air banyak sekali tempat wisata yg sangat indah. Tapi kenapa turis > yg datang sedikit sekali? Kenapa jumlah wisman kita pun minim. Kunjunganb > saya ke Minang pun begitu. Masygul karena tempat2 wisata yg begitu dahsyat > kok ngga bisa ngejual. Di mana salahnya? Apakah semua pihak terkait dah urun > rembug? > > Bumi Minangkabau memang sangat indah, dari Danau Di Atas, Danau Di Bawah, 2 > Lembah Harau, Jam Gadang, Pulau Sikuai yg alami di mana kita bisa melihat > jelas ribuan ikan dari atas dermaga. Di Pantai Air Manis, Padang penduduk > lokal meyakini bhw kapal dan Malinkundang yg bersujud membatu bukan sebatas > legenda, sebab ada peninggalan nyatanya. > Jas Bumi Minang kaya sumber alam nan elok, danau, bukit, pulau, laut, > pantai, lembah, ngarai dan banyak lagi. Semua dahsyat plus penduduknya ramah > tamah. Tapi kenapa wisatawan lokal dan nasional apalagi internasional hanya > sedikit berkunjung? Gara2 minim info dan promo? Infrastruktur yg minim dan > serba buruk? Kurangnya kepedulian pemprov? Atau apa? Saya sering ke Bali. > Saya mau katakan. Sumbar justru lebih memukau. Ada komen? > > (penulis bernama Ramadhan Pohan, pemred Jurnas, anggota DPR terpilih dari > PD) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
