Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu Angku Lembang,

Agak tarumuak juo ambo mambaco kalau Sumbayang Jemaah Subuah di Mesjid
Raya tu kiro-kiro 20 urang lah dianggap banyak. Hari Jumaat lo lai.
Baralah biasono du kini du eh? Padohal Musajik Raya adolah sabagai Pusek
Kegiatan Islam di Tangah-tangah Kota Bukittinggi.

Tampakno Suaro Azan "Asshalatu khrirunmminannauum" jo panareh suaro tu
lah kurang tadanga di urang lai yo? Kalau sarak lah baitu lunak, baa lo
adat indak ka maluyuah. Yah mungkin baitulah, Bukittinggi Kota Wisata
.... nan dilagukan anak-anak babarih-barih dari nan ambo danga katu
ulang tahun Pertama Bukittinggi Kota Wisata 1985.

Waktu  itu ambo  banyak maambiak foto, mancigok dan manganangkan baa lah
nanti Kota Wisata ko nan dalam pandangan ambo ka manjadi Resort Area
dengan efek-efeknyo. Anak-anak sikola tampaknhyo tapaso babarih basuka
ria tapi ambo basadiah mambahyangkan baa lah nanti efek samping kota
wisata ko ...

Tampakno  jumlah jaamaah subuah nan tasurek dalam postiang Angku Lembang
ko baru marupokan salah satu satu segi fenomena. Segi nan lain rasono
lah banyak dipasenjangkan...

Salam,
--Nyiak Sunguik

--- In [email protected], Muhammad Dafiq Saib
<stlembang_a...@...> wrote:
>
> Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>
> Bukit Tinggi 17 - 21 Desember 2009
>
> (1)
>
> Ada lagi kesempatan pulang kampung. 'Keharusan' karena ada ipar mau
mantu, menikahkan puterinya. Dan karena ada rapat di Ma'had Tahfizhul
Quran Syekh Ahmad Khatib di kampung. Aku dan istriku berangkat hari
Kamis 17 Desember dengan pesawat Batavia. Sampai di Minangkabau
International Airport jam 12.30 siang. Sangat on time. Langsung menyewa
taxi untuk menuju Bukit Tinggi. Di bawah guyuran hujan rinai-rinai.
>
> Sampai di Bukit Tinggi, di mess PLN di Jalan Luruih sekitar jam tiga
sore lebih. Sengaja tidak mampir di jalan untuk makan siang, karena hari
hujan dan karena aku cinan, ingin makan di restoran Selamat di Kampung
Cino. Tapi hari hujan. Dan pilek istriku sedang menjadi-jadi. Aku lalu
meminjam payung dan berjalan kaki ke Selamat yang hanya sekitar dua
ratus langkah dari mess PLN. Dan kamipun makan nasi ramas Selamat.
>
> Di malam hari yang lambok karena hujan tidak kunjung berhenti, kami
tidak kemana-mana. Adik ipar yang datang mengunjungi kami.
>
> Hari Jumat subuh aku terbangun saat azan pertama. Di luar hujan sudah
berhenti. Begitu azan kedua (azan subuh yang sebenarnya berkumandang)
aku keluar sendirian. Istri masih flu berat. Aku berjalan kaki melintasi
jalan, mendaki jenjang dan menuju Masjid Raya. Ini hari Jumat. Dan
benar, di subuh hari Jumat ini imam membaca surat Sajadah di rakaat
pertama. Berbeda dengan kesempatan terdahulu yang mungkin sekitar dua
tahun yang lalu, ketika aku juga shalat subuh di masjid ini, maka pagi
ini jamaahnya lebih dari dua puluhan orang. Artinya cukup banyak. Harus
diingat bahwa lokasi masjid tidaklah di persekitaran rumah tinggal.
>
> Hari mulai agak cerah di sebelah pagi. Tadinya kami mengira bahwa ipar
yang dari Sawahlunto akan datang pagi ini. Soalnya nanti sore kami akan
ke Limbanang, ke tempat ipar yang akan menikahkan puterinya itu. Jam
sebelas seperempat, ipar yang di Sawahlunto memberi tahu bahwa mereka
(suami istri) akan datang sekitar waktu ashar. Kok penting betul ini
ditulis? Karena tadinya kami menunggu mereka untuk pergi makan nasi
Kapau uni Lis. Jadi, kami pergi berdua saja. Melintasi jalan, mendaki
jenjang. Padahal sudah hampir jam setengah dua belas, waktu untuk pergi
ke masjid untuk shalat Jumat. Kami sempatkan juga pergi mengunjungi uni
Lis. Nasi Kapau jo gulai tunjang. Melepas taragak. Jam dua belas kurang
lima ketika aku memasuki Masjid Raya. Tentu saja hanya kebagian saf di
belakang.
>
> Sore harinya, kami berempat berangkat menuju Payakumbuh untuk terus ke
Limbanang. Di perjalanan, menjelang Baso, terlepas ucapan pambayan
(suami dari ipar) bahwa mereka sudah mencicipi minuman kawa di Tabek
Patah. Dua bulan yang lalu, kami berempat lewat di Tabek Patah dalam
perjalanan ke Sawahlunto dan berbincang tentang minum kawa di galuak.
Sayang waktu itu lepaunya sudah tutup (ketika kami melintasi jalan waktu
itu sudah jam sembilan malam). Dan akhirnya, sore ini, kami berbelok ke
Tabek Patah. Alek di Limbanang itu nanti sesudah maghrib dan kami masih
punya waktu.
>
> Kami minum kawa di lepau di pinggir jalan. Minum air rebusan daun kopi
dari galuak (tempurung kelapa). Daun kawa yang disangai mengeringkannya.
Dengan rasa kalek-kalek tanggung. Memang begini rasanya dulu..... lebih
lima puluh tahun yang lalu. Bedanya sedikit, dibandingkan jaman entah
berantah dulu itu, kali ini pemanisnya bukanlah gula enau tetapi gula
biasa. Mungkin maksudnya untuk lebih praktis saja. Kami hirup kawa
hangat ditemani goreng pisang raja.
>
> ***
>
> Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
> Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
> Lahir : Zulqaidah 1370H,
> Jatibening - Bekasi


-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke