Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu Iyo sadiah go mah polusi bunyi ko Angku Lembang.
Mudah-mudahan sin tetangga nan kamalangan -- yah lebih tapek kematian -- itu, matino indak basabab taganggu dek Musik Kareh Orgen Tunggal tu... Kalau di Rantau ambo, kasus kematian tu akan diselidiki apo sababnyo. Kalau tanyato urang mati disababkan hiruak pikuak musik karen disabalah tampek tiduanyo tu, kamungkinan manjadi pakaro gadang. Hal iko dapek manambah konsiderasi untuak mangurangkan polusi musik kareh suaro, baiak di tempek parmukiman maupun di ateh oto kota bolak baliah maharuak-haruak jo stereo kareh mamakak talingo. Ambo sabana takuik naiak angkot jo polusi "musik" tu. --Nyiak Sunguik --- In [email protected], Muhammad Dafiq Saib <stlembang_a...@...> wrote: > > > Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu > > > (3) > > > Hari Sabtu pagi. > ......... Sedikit saja yang ingin aku komentari tentang perhelatan yang sedang 'in' di Ranah Minang, yaitu menghadirkan orgen tunggal. Orgen itu dihubungkan ke sistim pengeras suara yang entah berapa ukuran kekerasannya, tapi yang pasti sangat memekakkan telinga. Suara orgen itu bahkan lebih keras pula dari suara orang yang berlagu sehingga apa yang dinyanyikan tidak dapat disimak. Baitu caronyo kini. Di sela-sela suara musik yang antahlah maaak itu, terdengar olehku ungkapan seorang tamu, bahwa di Padang Panjang orgen tunggal itu sudah dilarang oleh Pemda. Aku berharap Pemda Sumatera Barat secara berjamaah akan melarangnya pula. > > Sekalian untuk menghindar dari suara musik yang memekak telinga, kami minta > izin kepada tuan rumah untuk pergi ke Koto Tinggi. Ini adalah kampung saudara > sebapak istriku yang hari itu memestakan anaknya tersebut. Kami pergi ke sana > dengan kakak perempuannya. Rumahnya di Koto Tinggi persis di hadapan lapangan > pasar Koto Tinggi tempat terletaknya monumen PDRI. Baru sekali itu aku ke > tempat ini. > > Sesudah maghrib kami kembali ke Limbanang. Suasananya sudah sunyi dari suara > orgen tunggal. Ternyata tetangga di sebelah tempat pesta itu sedang > kemalangan. Ada anggota keluarganya yang meninggal. 'Syukurlah, ada alasan > untuk menghentikan suara musik tadi,' kata istri kakak iparku. Rupanya dia > juga terpaksa menghadirkan acara itu. Yang kalau tidak dihentikan, biasanya > akan berlanjut sampai tengah malam. Dan konon, semakin larut semakin > aneh-aneh tingkah polah baik yang menyanyi maupun yang menonton. Dan konon > pula, pada saat yang sudah larut itu beredar bir dan sebangsanya yang bukan > disediakan oleh tuan rumah. > ........ > > *** > Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam > Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi > Lahir : Zulqaidah 1370H, > Jatibening - Bekasi -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
