Pak Muchwardi Muchtar Kok apak lai ado CV dari sanak Junus iko, mohon jugo ditampilkan Tarimo kasih.
Salam Abraham Ilyas www.nagari.org 2009/12/27 muchwardi muchtar <[email protected]> > > > Indak dapek mambali & mambaco buku Si Jork (George) nan bakeh wartawan > TEMPO tahun 80-an tu, kutipan dari inilah.com pun jadilah paubek dan > panambah ilimu dunsanak di palanta RN ko,. > He he hee............ > > Salam............, > mm*** > > > mm*** > > > . > > *Inilah Isi Buku Membongkar Gurita Cikeas (1)* > > *INILAH.COM, Jakarta - Buku ini ditulis oleh George Junus Aditjondro. **Judul > lengkapnya: Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Kasus Bank Century. > Dilaunching hari Rabu (23/12) di Yogya. Hari Sabtu (26/12), buku yang > diedarkan melalui jaringan Toko Buku Gramedia ini ditarik dari peredaran. > Inilah cuplikan halaman pertama buku ini.* > > *“Apakah penyertaan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada > yang bocor atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula > desas-desus,rumor, atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana > itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres > SBY; fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan…. * > > *Sejauh mana para pengelola Bank Century yang melakukan tindakan pidana > diproses secara hukum, termasuk bagaimana akhirnya dana penyertaan modal > sementara itu dapat kembali ke negara?”* > > Begitulah sekelumit pertanyaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) > dalam pidatonya hari Senin malam, 23 November 2009, menanggapi rekomendasi > Tim 8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri, untuk mengatasi krisis > kepercayaan yang meledak di tanah air, setelah dua orang pimpinan Komisi > Pemberantasan Korupsi (KPK) – Bibit S Ryanto dan Chandra M Hamzah – > ditetapkan sebagai tersangka kasus pencekalan dan penyalahgunaan wewenang, > hari Selasa, 15 September, dan ditahan oleh Mabes Polri, hari Kamis, 29 > Oktober 2009. > > Barangkali, tanpa disadari oleh SBY sendiri, pernyataannya yang begitu > defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri > dengan skandal Bank Century, bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya > agak tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam menjadi populer dengan > julukan drama cicak melawan buaya. > > Memang, drama itu, yang begitu menyedot perhatian publik kepada tokoh > Anggodo Widjojo, yang dijuluki “calon Kapolri” atau “Kapolri baru”, cukup > sukses mengalihkan perhatian publik dari skandal Bank Century, bank gagal > yang mendapat suntikan dana sebesar Rp 6,7 trilyun dari Lembaga Penjamin > Simpanan (LPS), jauh melebihi Rp 1,3 trilyun yang disetujui DPR‐RI. > > Selain merupakan tabir asap alias pengalih isu, penahanan Bibit dan Chandra > oleh Mabes Polri dapat ditafsirkan sebagai usaha mencegah KPK membongkar > skandal Bank Century itu, bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). > > Soalnya, investigasi kasus Bank Century itu sudah didorong KPK (*Batam > Pos, 31 Agust 2009*). Sedangkan BPK juga sedang meneliti pengikutsertaan > dana publik di bank itu, atas permintaan DPR‐RI pra‐Pemilu > 2009.[bersambung/ims] > > > > *Inilah Isi Buku Membongkar Gurita Cikeas (2)* > > *INILAH.COM, Jakarta - Inilah cuplikan halaman 2 dan 3 dari buku Membongkar > Gurita Cikeas: di Balik Kasus Bank Century, yang ditulis oleh George Junus > Aditjondro, diterbitkan oleh Galang Pers, dilaunching Hari Rabu (23/12) di > Yogya dan ditarik dari peredaran hari Sabtu (26/12).* > > Dari berbagai pemberitaan di media massa dan internet, nama dua orang > nasabah terbesar Bank Century telah muncul ke permukaan, yakni Hartati > Mudaya, pemimpin kelompok CCM (Central Cipta Mudaya) dan Boedi Sampoerna, > salah seorang penerus keluarga Sampoerna, yang menyimpan trilyunan rupiah di > bank itu sejak 1998. > > Sebelum Bank Century diambilalih oleh LPS, Boedi Sampoerna, seorang cucu > pendiri pabrik rokok PT HM Sampoerna, Liem Seng Thee, masih memiliki > simpanan sebesar Rp Rp 1.895 milyar di bulan November 2008, sedangkan > simpanan Hartati Murdaya sekitar Rp 321 milyar. > > Keduanya sama‐sama penyumbang logistik SBY dalam Pemilu lalu. Beberapa > depositan kelas kakap lainnya adalah PTPN Jambi, Jamsostek, dan PT Sinar > Mas. Boedi Sampoerna sendiri, masih sempat menyelamatkan sebagian > depositonya senilai US$ 18 juta, berkat bantuan surat‐surat rekomendasi > Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri waktu itu, Komjen > (Pol) Susno Duadji, tanggal 7 dan 17 April 2009 (*Rusly 2009: Haque, 2009; > Inilah.com, 25 Febr 2009; Antara News, 10 Ag. 2009; Vivanews.com, 14 Sept. > 2009; Forum Keadilan, 29 Nov. 2009: 14*). > > *BANTUAN GRUP SAMPOERNA UNTUK HARIAN JURNAS* > > Apa relevansi informasi ini dengan keluarga Cikeas? > > Boedi Sampoerna ditengarai menjadi “salah seorang penyokong SBY, termasuk > dengan menerbitkan sebuah koran” (Rusly 2009: 48). > > Ada juga yang mengatakan” Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mendanai > penerbitan salah satu koran nasional (Jurnas/Jurnal Nasional) yang menjadi > corong politik Partai SBY” (Haque 2009). > > Dugaan itu tidak 100% salah, tapi kurang akurat. Untuk itu, kita harus > mengenal figur‐figur keluarga Sampoerna yang memutar roda ekonomi keluarga > itu, setelah penjualan 97% saham PT HM Sampoerna kepada maskapai > transnasional AS, Altria Group, pemilik pabrik rokok AS, Philip Morris, di > tahun 2005, seharga sekitar US$ 2 milyar atau Rp 18,5 trilyun. > > Liem Seng Tee, yang mendirikan pabrik rokok itu di tahun 1963 bersama > istrinya, Tjiang Nio, mewariskan perusahaan itu kepada anaknya, Aga > Sampoerna (Liem Swie Ling), yang lahir di Surabaya tahun 1915. Aga Sampoerna > kemudian menyerahkan perusahaan itu kepada dua orang anaknya, Boedi > Sampoerna, yang lahir di Surabaya, tahun 1937, serta adiknya, Putera > Sampoerna, yang lahir di Amsterdam, 13 Oktober 1947 (*PDBI 1997: A‐789 – > A‐796; Warta Ekonomi, 18‐31 Mei 2009: 43, 49*). > > Sesudah menjual pabrik rokoknya kepada Philip Morris, Putera menyerahkan > pengelolaan perusahaan pada anak bungsunya, Michael Joseph Sampoerna, yang > telah mengembangkan holding company keluarga yang baru, Sampoerna Strategic, > ke berbagai bidang dan negara. > > Misalnya, membeli 20% saham perusahaan asuransi Israel, Harel Investment > Ltd dan saham dalam kasino di London, dan berencana membuka sejuta hektar > kelapa sawit di Sulawesi, berkongsi dengan kelompok Bosowa milik Aksa > Mahmud, ipar Jusuf Kalla (*Investor, 21 Ag.‐3 Sept. 2002: 19; Prospektif, > 1 April 2005: 48; Globe Asia, Ag. 2008: 52‐53, Ag. 2009: 100‐101* > ).[bersambung/iaf/ims] > > > *Inilah Isi Buku Membongkar Gurita Cikeas (3)* > > *INILAH.COM, Jakarta - Inilah cuplikan halaman 3 dari buku Membongkar > Gurita Cikeas: di Balik Kasus Bank Century, yang ditulis oleh George Junus > Aditjondro, diterbitkan oleh Galang Pers, dilaunching Hari Rabu (23/12) di > Yogya dan ditarik dari peredaran hari Sabtu (26/12).* > > Namun ada seorang kerabat Boedi dan Putera Sampoerna, yang tidak pernah > memakai nama keluarga mereka. Namanya Sunaryo, seorang kolektor lukisan yang > kaya raya, yang mengurusi pabrik kertas Esa Kertas milik keluarga Sampoerna > di Singapura yang hampir bangkrut, dan sedang bermasalah dengan Bank > Danamon. > > Menurut sumber‐sumber penulis, sejak pertama terbit tahun 2006, Sunaryo > mengalirkan dana Grup Sampoerna ke PT Media Nusa Perdana, penerbit harian > *Jurnal Nasional* di Jakarta. > > Perusahaan itu kini telah berkembang menjadi kelompok media cetak yang > cukup besar, dengan harian *Jurnal Bogor*, majalah bulanan *Arti*, dan > majalah dwimingguan *Explo*. Boleh jadi, dwimingguan ini merupakan sumber > penghasilan utama perusahaan penerbitan ini, karena penuh iklan dari > maskapai-maskapai migas dan alat‐alat berat penunjang eksplorasi migas dan > mineral. > > Secara tidak langsung, dwi‐mingguan *Explo* dapat dijadikan indikator, > sikap Partai Demokrat – dan barangkali juga, Ketua Dewan Pembinanya – > terhadap kebijakan‐kebijakan negara di bidang ESDM. > > Misalnya dalam pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), yang > tampaknya sangat dianjurkan oleh Redaksi *Explo* (lihat tulisan Noor > Cholis,“PLTN Muria dan Hantu Chernobyl”, dalam Explo, 16‐31 Oktober 2008, > hal. 106, serta berita tentang PLTN Iran yang siap beroperasi, September > lalu dalam *Explo*, 1‐15 April 2009, hal. 79). > > Pemimpin Umum harian Jurnas berturut‐turut dipegang oleh Asto Subroto > (2006‐2007), Sonny (hanya beberapa bulan), dan N Syamsuddin Ch. Haesy (2007 > sampai sekarang). Kedua pemimpin umum pertama bergelar Doktor dari IPB, dan > termasuk pendiri Brighton Institute bersama SBY. > > Selama tiga tahun pertama, ada dua orang fungsionaris PT Media Nusa Perdana > yang diangkat oleh kelompok Sampoerna, yakni Ting Ananta Setiawan, sebagai > Pemimpin Perusahaan, dan Rainerius Taufik sebagai Senior Finance Manager > atau Manajer Utama Bisnis. > > Dalam Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Besar PT Media Nusa Perdana, yang > dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi DKI Jakartam 5 > Maret 2007, namanya tercantum sebagai Direktur merangkap pemilik dan > penanggungjawab. > > Sementara itu, kesan bahwa perusahaan media ini terkait erat dengan Partai > Demokrat tidak dapat dihindarkan, dengan duduknya > > Ramadhan Pohan, Ketua Bidang Pusat Informasi BAPPILU Partai Demokrat > sebagai Pemimpin Redaksi harian *Jurnal Nasional* dan majalah *Arti*, > serta Wakil Ketua Dewan Redaksi di majalah *Explo*. > > Sebelum menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Jurnas, Ramadhan Pohon merangkap > sebagai Direktur Opini Publik & Studi Partai Politik Blora Center, *think > tank* Partai Demokrat yang mengantar SBY ke kursi presidennya yang > pertama. > > Barangkali ini sebabnya, kalangan pengamat politik di Jakarta mencurigai > bahwa dana kelompok Sampoerna juga mengalir ke Blora Center . > > Soalnya, sebelum Jurnas terbit, Blora Center menerbitkan tabloid > dwi‐mingguan Kabinet, yang menyoroti kinerja anggota‐anggota Kabinet > Indonesia Bersatu. Sementara itu, Ramadhan Pohan baru saja terpilih menjadi > anggota DPR‐RI dari Fraksi Demokrat,mewakili Dapil VII Jawa Timur > (*Jurnalnet.com, > 25 Febr. 2005; Fajar, 21 Juni 2005; ramadhanpohan.com, 14 Okt. 2009* > ).[bersambung/iaf/ims > > > *Inilah Isi Buku Membongkar Gurita Cikeas (4)* > > *INILAH.COM, Jakarta - Inilah lanjutan cuplikan isi buku Membongkar Gurita > Cikeas: di Balik Kasus Bank Century, yang ditulis oleh George Junus > Aditjondro, diterbitkan oleh Galang Pers, dilaunching Hari Rabu (23/12) di > Yogya dan ditarik dari peredaran hari Sabtu (26/12). Kutipan ini diambil > dari halaman 5 dan 6:* > > Kembali ke kelompok *Jurnas* dan hubungannya dengan Grup Sampoerna, di > tahun 2008, Ting Ananta Setiawan mengundurkan diri darijabatan Pemimpin > Perusahaan, yang kini dirangkap oleh Pemimpin Umum, N. Syamsuddin Haesy. > > Namun nama Ananta Setiawan tetap tercantum sebagai Pemimpin Perusahaan, > sebagai konsekuensi dari SIUP PT Media Nusa Perdana. > > Mundurnya Ananta Setiawan secara de facto terjadi seiring dengan > mengecilnya saham Sampoerna dalam perusahaan media itu, dan meningkatnya > peranan Gatot Murdiantoro Suwondo sebagai pengawas keuangan perusahaan itu. > Isteri Dirut BNI ini, dikabarkan masih kerabat Ny. Ani Yudhoyono (McBeth > 2007). > > Berapa besar dana yang telah disuntikkan Grup Sampoerna ke kelompok Jurnas? > > > Menurut SIUP PT Media Nusa Perdana yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan > Perdagangan Provinsi DKI Jakarta, 5 Maret 2007, nilai modal dan kekayaan > bersih perusahaan itu sebesar Rp 3 milyar. > > Namun jumlah itu, hanya cukup untuk sebulan menerbitkan harian *Jurnal > Nasional*, yang biaya cetak, gaji, dan biaya‐biaya lainnya kurang lebih Rp > 2 milyar sebulan. Berarti biaya penerbitan tahun pertama (2006), sekitar Rp > 24 milyar. Tahun kedua (2007), turun menjadi sekitar Rp 20 milyar, setelah > koran dan majalah‐majalah terbitan PT Media Nusa Perdana mulai menarik > langganan dan iklan. > > Tahun ketiga (2008), sekitar Rp 18 milyar, dan tahun keempat (2009) sekitar > Rp 15 milyar. Berarti kelompok media cetak ini telah menyedot modal sekitar > Rp 90 milyar, mengingat Jurnal Bogor menyewa kantor sendiri di Bogor , dan > punya rencana untuk berdiri sendiri, dengan perusahaan penerbitan sendiri. > > Selain biaya cetak yang tinggi untuk seluruh Grup *Jurnas*, pos gaji > wartawan kelompok media ini tergolong cukup tinggi. Gaji pertama wartawan > *Jurnas* tahun 2006 mencapai Rp 2,5 juta sebulan, tiga kali lipat gaji > wartawan baru *Jawa Pos Group*. > > Kecurigaan masyarakat bahwa keluarga Sampoerna tidak hanya menanam modal di > kelompok media *Jurnal Nasional*, tapi juga di simpul-simpul kampanye > Partai Demokrat yang lain, yang juga disalurkan lewat Bank Century, bukan > tidak berdasar. Soalnya, Laporan Keuangan PT Bank Century Tbk Untuk Tahun > Yang Berakhir Pada Tanggal‐Tanggal 30 Juni 2009 dan 2008 menunjukkan bahwa > ada penarikan simpanan fihak ketiga sebesar Rp 5,7 trilyun. > > Selain itu, Ringkasan Eksekutif Laporan Hasil Investigasi BPK atas Kasus PT > Bank Century Tbk tertanggal 20 November 2009 menunjukkan bahwa Bank Century > telah mengalami kerugian karena mengganti deposito milik Boedi Sampoerna > yang dipinjamkan atau digelapkan oleh Robert Tantular dan Dewi Tantular > sebesar US$ 18 juta – atau sekitar Rp 150 milyar ‐‐ dengan dana yang berasal > dari Penempatan Modal Sementara LPS.[bersambung/iaf/ims] > . > > > > > > -- > . > Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat > lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E> > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama > =========================================================== > Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] > Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
